USTADZ GALAK

USTADZ GALAK
52. Hari Esok Akan Lebih Baik


__ADS_3

Ustadz Amar melajukan mobilnya dengan ugal-ugalan. Ia tidak peduli lagi dengan rambu-rambu lalu lintas. Beberapa pengendara yang hampir ia serempet bersumpah serapah, tapi ia tidak peduli dan malah menambah kecepatannya. Lampu merah menyala di depannya, dan Ustadz Amar memutuskan untuk menerobos. Sayangnya, seorang nenek-nenek terlihat menyeberang di depan sana, membuat Ustadz Amar otomatis membanting setir dan menginjak rem.


Memang tidak ada korban jiwa dalam insiden itu. Hanya saja, perbuatan Ustadz Amar menimbulkan kemacetan dan seruan marah para pengguna jalanan. Klakson berbunyi bersahut-sahutan, beberapa orang malah sudah turun dari mobil dan mengetuk-ngetuk kaca mobil Ustadz Amar. Berteriak-teriak menyuruhnya turun. Sementara itu di dalam mobilnya, Ustadz Amar hanya bisa menatap orang-orang itu dengan tatapan kosong, sampai beberapa polisi yang sedang berpatroli memintanya membuka pintu dengan paksa.


Maka disinilah Ustadz Amar berada. Di ruangan interogasi polisi. Seorang polisi terus memberi pertanyaan pada Ustadz Amar, tapi sama sekali tidak digubris. Ustadz Amar tetap terdiam sembari memberi tatapan kosong.


Beberapa menit kemudian, Syahla datang bersama Anggika. Ia berlari dengan panik menghampiri sang suami yang sudah duduk di dalam jeruji besi.


"Mas! Mas kenapa?" Syahla berseru panik "Pak! Suami saya kenapa?" tanyanya pada beberapa polisi yang berada di sana.


"Suami Ibu menyebabkan kerusuhan di jalan raya, dan dia bersikap tidak kooperatif pada polisi. Saya curiga dia mengonsumsi alkohol, atau bahkan obat-obatan terlarang, jadi kami akan melakukan tes urine terlebih dulu." Jelas seorang polisi.


"Pak, suami saya nggak mungkin begitu! Kami memang sedang ada masalah, tapi saya yakin suami saya tidak akan mabuk-mabukan apalagi memakai narkoba!"


"Maaf Bu, tapi kami tetap akan melakukannya sesuai prosedur. Silahkan Ibu tunggu sampai proses itu selesai."


Syahla menarik napas dalam-dalam. Astaga, apa lagi ini. Apa sebenarnya yang sudah terjadi pada suaminya?


"La," Anggika menepuk lembut bahu Syahla. "Pak Amar babak belur,"


Syahla melihat wajah Ustadz Amar setelah mendengar perkataan Anggika. Ia tercekat karena baru menyadari wajah suaminya biru lebam. Bahkan ada darah segar yang mengalir di sudut bibirnya. Jelas Syahla tau luka itu bukan karena kecelakaan mobil, tapi lebih seperti hasil dari perkelahian.


Syahla mendekati sel penjara tempat suaminya ditahan dan ia berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Ustadz Amar yang duduk sambil menyandarkan punggung ke tembok.


"Mas," Panggil Syahla lirih. "Mas kenapa?"

__ADS_1


Ustadz Amar hanya memandang Syahla sekilas, kemudian ia menggelengkan kepalanya dan memalingkan muka.


"Mas," Air mata Syahla kembali merebak. "Apa yang terjadi?"


Ustadz Amar masih bergeming. Ia tetap terdiam dan malah menekuk lutut, lantas menyembunyikan wajahnya di antara lututnya itu. Syahla menghela napas frustasi.


"Mas! Jangan diam saja! Ayo beri penjelasan pada polisi! Katakan pada mereka kalau Mas nggak mabuk, apalagi memakai obat-obatan terlarang!"


"Maaf Syahla," Ustadz Amar berbicara dengan wajah yang masih menelungkup. "Saya mau sendiri,"


"Mas?" Syahla menggelengkan kepalanya. "Ini bukan waktu yang tepat! Mas bisa dipenjara kalau diam saja!"


"Saya butuh ketenangan, Syahla!" Ustadz Amar berkata dengan nada tinggi, tapi ia kemudian menyadari hal itu dan menundukkan kepalanya lagi. "Maaf, saya sedang terbawa emosi. Lebih baik sekarang kamu pulang. Anggika, tolong bawa Syahla keluar,"


Syahla tertegun mendengar bentakan dari sang suami. Ia belum pernah mendengar suaminya berkata seperti itu padanya. Selama ini, meski apapun yang ia lakukan, Ustadz Amar tidak pernah memarahinya dengan suara keras.


Ustadz Amar memandang kepergian istrinya dengan rasa yang campur aduk. Ada rasa bersalah, sedih, dan marah yang bercampur menjadi satu. Ia sangat ingin menahan Syahla untuk tetap di sisinya, tapi di sisi lain ia takut perbuatan atau perkataannya akan semakin menyakiti sang istri.


"Maaf," Hanya itu yang bisa ia ucapkan saat ini.


Sembari memandangi ukiran lantai penjara yang dingin, pikiran Ustadz Amar menerawang. Ia kembali teringat perkataan Kak Rama tadi.


"Pak, asal Anda tahu, Syahla itu sudah pernah tidur sama saya!"


"Sadarlah Amar," Ustadz Amar mengacak-acak rambutnya frustasi. "Si bajing*n itu pasti berkata sembarangan saja, tidak mungkin Syahla begitu." Ia kembali menelungkupkan wajahnya. Entahlah, ia tahu seharusnya dirinya tidak mempercayai begitu saja ucapan Kak Rama, tapi kenapa hatinya terasa sakit?

__ADS_1


...----------------...


Syahla dan Anggika duduk berdua di depan kursi supermarket yang letaknya tidak jauh dari kantor polisi. Anggika membukakan bungkus roti dan menyerahkannya pada Syahla.


"Lo belum makan kan? Setidaknya diganjal dulu perutnya pakai roti,"


Syahla menggelengkan kepalanya perlahan. "Aku nggak lapar Nggi,"


"Itu kan menurut Lo. Tapi lambung Lo nggak," Anggika memasukkan paksa roti itu ke mulut Syahla. Syahla hendak menolak, tapi Anggika menatapnya dengan tajam. "Kunyah! Jangan dilepeh! Kunyah sekarang!"


Terpaksa, Syahla akhirnya mengunyah potongan roti itu.


Anggika menghela napas lega. Ia mengedarkan pandangannya ke arah kantor polisi. "Gue yakin Pak Amar nggak bermaksud buat ngebentak Lo kaya tadi. Dia pasti ada alasan kenapa begitu. Lo yang sabar ya,"


Syahla menundukkan kepala. Membahas kembali perlakuan sang suami membuat dadanya terasa sesak. "Tapi kenapa dia nggak bilang apa-apa padaku Nggi? Aku kan istrinya, aku pasti mengerti apa pun itu. Tapi kenapa dia malah menyuruhku pergi?"


"Pasti ada alasannya," Anggika merangkul Syahla. "Pasti ada sesuatu yang nggak bisa langsung dia bahas sekarang."


"Hal apa yang membuat seorang suami tidak mau membahasnya dengan istrinya sendiri? Bukankah seharusnya sepasang suami dan istri harus bahu membahu membantu satu sama lain? Kenapa aku merasa tidak dianggap? Apa menurutnya aku tidak pantas menjadi seorang istri?"


"Sssttt..." Anggika mengisyaratkan Syahla untuk diam. "Lo udah mulai ngelantur. Lo harus istirahat. Masih ada hari esok. Gue yakin, hari esok akan jauh lebih baik dari hari ini."


Syahla menyandarkan kepalanya pada Anggika. "Gimana kalau besok sudah tidak ada kesempatan lagi? Bagaimana kalau besok sudah terlambat?"


"Apa Lo nggak percaya sama Kuasa Tuhan? La, Gue memang berbeda kepercayaan sama Lo. Tapi Gue pernah denger sebuah kalimat yang indah dari agama kalian. Bahwa Tuhan, tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Gue percaya, kalian berdua akan sanggup menghadapi ini semua, dan akan mendapatkan balasan yang indah setelahnya,"

__ADS_1


Syahla memejamkan matanya mendengarkan penjelasan Anggika. Ia lantas beristighfar banyak-banyak.


"Rabbanaa Aatinaa Min Ladunka Rahmatan Wa Hayyi' Lanaa Min Amrinaa Rasyadaa. Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu dan mudahkanlah bagi kami petunjuk untuk segala urusan kami." Do'anya sungguh-sungguh.


__ADS_2