USTADZ GALAK

USTADZ GALAK
88. Anything For You


__ADS_3

"Kamu serius mau pergi?" Syahla menyandarkan tubuhnya pada daun pintu dan melihat Anggika yang sedang membereskan pakaiannya. "Kenapa nggak tinggal di sini aja sih? Kan kamar ini juga bakalan kosong,"


"Ya kali La," Anggika menutup risleting koper sebelum melanjutkan. "Gue juga nggak mau kali jadi obat nyamuk kalian berdua waktu lagi mesra-mesraan."


"Ya tapi kan, kamu sekarang mau tinggal dimana?"


"Yaelah, Gue kan punya rumah, ya Gue pulang ke rumah lah! Lagian kan tugas Gue buat nemenin Lo udah selesai, jadi ya Gue pulang deh,"


"Jadi, kemarin-kemarin kamu terpaksa tinggal di sini demi aku gitu? Atau karena disuruh Mas Amar aja?" tanya Syahla penuh selidik. Anggika menghela napas panjang, lantas ia mendekati sang sahabat yang pipinya menggembung karena cemberut.


"Karena Gue khawatir sama sahabat Gue," Anggika mencubit gemas pipi Syahla. "Yakali Gue sebagai sahabat ngebiarin Lo tinggal sendirian di sini padahal baru aja diculik,"


Syahla mengelus pipinya yang terasa sakit. "Makasih banyak loh, karena selama ini udah mau nemenin aku di sini. Dan maaf ya, kalau selama kamu tinggal di sini, aku selalu ngerepotin kamu dengan semua keluh kesahku, dan sifat manjaku yang merepotkan."


"Baru sadar ya?" ujar Anggika dengan nada mengejek. "Udah La, Lo santai aja. Gue juga berterimakasih karena Lo dan Pak Amar udah ngebolehin Gue tinggal di sini secara gratis. Dan Gue harap, meskipun tanpa ada Gue, hubungan kalian bakalan baik-baik aja. Lo jaga diri baik-baik ya, biar Gue bisa menyaksikan kelahiran calon keponakan Gue."


Syahla tersenyum sambil mengelus-elus perutnya yang datar. "Nanti aunty ikut jagain dedek bayi ya kalau sudah lahir,"


"Asiappp," Anggika memberi sikap hormat ala militer yang disambut gelak tawa keduanya.


...----------------...

__ADS_1


Setelah Anggika benar-benar pindah, kini Ustadz Amar dan Syahla mulai menyusun ulang tatanan perabotan mereka. Mereka berdua memilih tidur berdua di satu kamar, sedangkan kamar yang lain dipersiapkan sebagai kamar bayi mereka kelak.


Maka mulai hari ini, pasangan suami istri itu mulai berburu barang-barang perlengkapan bayi. Padahal mereka juga belum tahu jenis kelamin anak mereka. Tapi yang jelas, mereka ingin mempersiapkannya sebaik mungkin.


Tidak lupa, Ustadz Amar juga mengabari keluarga besar mereka. Jelas saja mereka menjadi heboh. Keluarga Syahla apalagi. Umi Zahra bahkan sudah merencanakan nama untuk calon cucu keduanya itu.


Saking hebohnya, satu hari setelah kepulangan mereka dari umroh, keluarga besar Syahla datang ke Jakarta untuk membesuk. Sebenarnya niat awalnya adalah untuk menjemput Syahla, karena nantinya di Ponpes Darul Quran akan diadakan tasyakuran demi mendoakan Syahla dan si jabang bayi. Namun, mengingat kondisi kehamilan Syahla yang masih di bawah satu bulan, jelas sangat riskan bagi sang ibu untuk pergi jauh.


"Jaga diri baik-baik. Kalau bisa, semester depan cuti dulu nggak papa. Yang penting kamu sehat, bayimu juga sehat." Nasihat Umi Zahra berkali-kali sebelum pergi. Syahla selalu mengiyakan ucapan uminya dan mengingat-ingatnya dengan sepenuh hati.


Sayangnya, bukan hanya kebahagiaan saja yang menyelimuti berita itu. Ada pula seseorang yang merasa tidak bahagia mendengar kehamilan Syahla. Siapa lagi kalau bukan Gian. Laki-laki itu berusaha keras menyembunyikan perasaannya setiap kali melihat Syahla dan suaminya pulang dan pergi berdua. Meski begitu, ia sama sekali tidak mau mengganggu keharmonisan keluarga itu. Ia cukup melihat orang yang dicintainya bahagia meski bersama orang lain.


...----------------...


"Iya, sayang?"


"Saya laper Mas," ucap Syahla dengan manja.


"Oh, oke, sayangku mau makan apa? Biar Mas belikan. Kalau nggak, biar Mas masakkin,"


Syahla menghela napas panjang, lalu menggelengkan kepalanya. "Tapi nggak mau makan,"

__ADS_1


"Loh, terus gimana?" Ustadz Amar bertanya dengan sabar. Saat ini usia kandungan istrinya sudah memasuki tiga bulan, dan dirinya sudah siap sedia menghadapi segala keinginan sang istri saat hamil.


"Emangnya aku nggak kelihatan gendut, Mas?" Syahla bangkit dari posisi berbaringnya dan duduk sambil memegangi kedua pipinya. "Aku udah naik sepuluh kilo loh Mas,"


Memang, sejak usia kehamilannya semakin bertambah, berat badan Syahla juga meningkat dengan drastis. Meskipun perutnya belum terlalu besar, tapi pipi, paha, lengan dan seluruh bagian tubuhnya membesar. Beberapa pakaiannya bahkan ada yang sudah tidak muat. Hal itu membuat Syahla insecure dan jadi uring-uringan setiap kali melihat cermin dan timbangan.


"Memangnya kenapa kalau gendut? Kalaupun kamu gendut, saya masih tetap sayang kok," Ustadz Amar berkata lembut sambil mengelus-elus rambut sang istri.


"Jadi, menurut Mas saya beneran gendut?" Syahla mulai kesal. Ustadz Amar langsung menutup mulut. Aduh, salah ngomong lagi..


"Ekhem! Jadi begini.. Menurut saya, nggak ada salahnya kok kalau ibu hamil bertambah gen— eh maksudnya bertambah berat badannya. Soalnya kan kata dokter, ibu hamil itu memang bagusnya berat badan naik, karena berarti bayi yang ada di dalam kandungan juga sehat. Memangnya sayangku mau badannya kurus tapi bayinya nggak sehat?"


Syahla terdiam. Dia sebenarnya juga tahu akan hal itu. Tapi, dia juga tidak suka kalau dibilang gendut secara terang-terangan!


"Tauk ah! Saya males ngomong sama Mas suami!" Syahla menghentakkan kaki dan beranjak dari ruang televisi. Mengerti kode dari sang istri, Ustadz Amar langsung memeluk Syahla dari belakang dan berbisik lembut.


"Gendut maupun kurus, kamu tetap jadi wanita paling cantik di mata saya. Jadi, jangan takut untuk makan hanya karena takut gendut. Saya malah sedih kalau kamu menahan lapar demi terlihat cantik di depan saya," Ustadz Amar mencium puncak kepala sang istri dengan penuh kasih sayang. "Sekarang, bilang sama saya. Istri mau makan apa? Mau udang? Bakso? Sate?"


Syahla membalikkan tubuhnya dan memeluk sang suami dengan manja. "Mau sate kambing yang restorannya ada di dekat kampus itu. Boleh Mas?"


Ustadz Amar tersenyum. "Anything for you darling,"

__ADS_1


__ADS_2