USTADZ GALAK

USTADZ GALAK
61. Tertangkap


__ADS_3

Syahla terus berlari sekuat tenaga tanpa tau kemana kakinya membawa pergi. Tiba-tiba saja ia sudah berada di jalan raya, dan dengan nekat gadis itu lantas berdiri di tengah-tengah jalan sembari merentangkan tangan.


Jelas saja perbuatannya tersebut membuat lalu lintas seketika macet. Banyak Mobil-mobil yang membunyikan klakson keras-keras, berteriak menyuruhnya pergi, tapi gadis itu tetap tak bergeming.


"Tolong saya!" Teriaknya. "Saya baru diculik! Tolong bawa saya ketemu suami saya!"


Di sisi lain, mobil polisi yang terburu-buru menuju lokasi penculikan tampak kebingungan karena jalanan yang tiba-tiba macet. Ustadz Amar gelisah sembari melihat jam tangannya berkali-kali. Ia dikejar oleh waktu. Kalau terlambat, bisa-bisa istrinya celaka.


"Saya akan turun di sini," Tanpa meminta persetujuan pak polisi, Ustadz Amar sudah membuka pintu mobil.


"Tunggu! Bahaya!"para polisi mencoba mencegah, tapi Ustadz Amar berlari terlalu cepat. Ustadz Amar berniat untuk datang ke lokasi yang diberikan Kak Hasan dengan berlari secepat mungkin. Bagaimanapun caranya, ia harus menyelamatkan Syahla.


Alangkah terkejutnya Ustadz Amar ketika melihat siapa orang yang menyebabkan kemacetan itu. Syahla masih berdiri di tengah-tengah jalan sembari merentangkan tangan. Beberapa pengendara mencoba membujuknya agar minggir, tapi ia tetap tak bergeming. Sampai seorang pengemudi truk mengangkat tangannya, sepertinya ia ingin melakukan kekerasan. Dengan cepat, Ustadz Amar segera berlari menghampiri mereka untuk mencegah hal itu terjadi.


"Tunggu! Jangan sentuh dia!" Ustadz Amar langsung memeluk Syahla. "Dia istri saya!" teriaknya pada orang-orang yang berkumpul di sana.


"Makanya, kalau punya istri gila itu jangan dibiarkan keluar!" ucap seorang ibu-ibu dengan ketus.


"Masukkan ke rumah sakit jiwa saja!" tukas yang lain.


"Saya nggak gila! saya butuh pertolongan! saya barusan diculik!" Syahla mencoba membela diri, tapi Ustadz Amar menenangkan dengan memeluknya erat-erat.


"Sudah, sudah, ayo kita ke pinggir jalan dulu ya. Biarkan mereka lewat."


Syahla menganggukkan kepalanya lemah dan menyandarkan kepalanya pada Ustadz Amar yang menggendongnya.


...----------------...


"Kok kamu bisa sampai di sini? Bagaimana ceritanya?" Ustadz Amar mengelus-elus kepala sang istri saat mereka berdua sudah duduk di pinggir jalan. Para polisi segera mendekati mereka.


"Saya kabur. Mereka semua pergi ke gudang kosong yang dibuat untuk transaksi. Cuma disisakan satu orang untuk menyiksa saya. Tapi saya bisa kabur setelah menusuk dia," Syahla menjawab sambil menggigil ketakutan. Meskipun perbuatannya tadi memang ditujukan untuk membela diri, tetap saja tangannya bergetar karena tidak pernah dibuat untuk menyakiti orang sebelumnya. Ustadz Amar segera memeluk erat sang istri agar ia kembali tenang.


"Alhamdulillah, kamu selamat. Maafkan saya, kamu pasti ketakutan sekali."


Syahla menganggukkan kepalanya. "Saya takut sekali. Saya kira saya sudah mau mati. Tapi, bagaimana Mas bisa tau kalau saya diculik?"

__ADS_1


Ustadz Amar menghela napas panjang. "Satpam yang ada di kampus mendengar suara teriakan kamu, dan dia langsung bergerak cepat untuk menolong. Sayangnya sudah terlambat karena kamu sudah dibawa mereka. Untunglah dia sempat memfoto plat motor yang paling terakhir. Lalu, setelah saya datang, dia langsung bilang kalau kamu diculik."


Syahla mengangguk mengerti. Dia bersyukur karena sempat menyapa satpam itu, karena tidak ada yang tahu kalau satpam itu lah yang menjadi penyelamatnya sebelum semuanya terlambat.


"Terus, sekarang Anda mau bagaimana pak? Istri Anda sudah ketemu, apa Anda mau kembali saja sekarang dan menyerahkan semuanya pada kami?" tanya seorang petugas polisi pada Ustadz Amar.


"Tidak," Ustadz Amar menggeleng tegas. "Saya harus tetap ke sana. Geng samurai harus ditangkap kan? Saya akan membantu kalian untuk memancing Hasan dan komplotannya. Mereka harus mengira kalau saya benar-benar datang untuk memberi tebusan, dan saat waktunya tepat, kalian bisa mengepung dan menangkap mereka."


Syahla serta merta menahan tangan suaminya. "Jangan Mas, berbahaya. Jumlah mereka banyak sekali, dan mereka bawa senjata tajam. Bagaimana kalau Mas terluka?"


"Tenang sayang," Ustadz Amar tersenyum. "Saya tidak sendirian. Ada polisi yang jumlah dan senjatanya juga tidak kalah jauh. Saya pasti selamat. Sekarang, kamu lebih baik istirahat saja dan memenangkan diri dulu."


Syahla menghela napas panjang. Ia melihat para polisi yang sepertinya bisa dipercaya, maka ia menganggukkan kepala dan mengizinkan suaminya melakukan rencana itu.


...----------------...


Setelah memastikan Syahla aman bersama seorang polwan, Ustadz Amar dan para polisi segera menuju lokasi yang mereka tuju. Sesampainya di depan gudang kosong, Ustadz Amar melangkah masuk sendirian sembari menenteng koper. Sementara para polisi mengendap-endap mengelilingi seluruh gudang itu dengan pistol di tangan.


Dengan mengucap bismillah, Ustadz Amar membuka pintu gudang yang terbuat dari seng. Karena sudah berkarat, Ustadz Amar membukanya dengan susah payah, menimbulkan suara yang cukup bising. Setelah pintu dibuka sepenuhnya, Ustadz Amar memejamkan mata sebentar karena debu di dalam gudang yang mengepul keluar.


"Dimana istriku?" tanya Ustadz Amar bersandiwara. "Bukankah kalian janji tidak akan menyakitinya?"


"Yah, dia baik-baik saja kok," Kak Hasan tersenyum menyeringai. "Setidaknya nggak sampai mati, kan?"


"Jangan pernah berani-beraninya menyentuh istriku!"


"Oke, Oke, santai dong." Kak Hasan memasukkan tangan kirinya ke kantong celana, sementara tangan kanannya mengacungkan celurit. "Duitnya dulu, baru istri Lo Gue kasih."


"Istri saya dulu," Ustadz Amar menatap celurit yang berada tepat di depan matanya tanpa merasa takut. "Perjanjiannya begitu."


"Sial, Lo nggak bisa diajak bicara rupanya." Kak Hasan kemudian menggoyangkan kepala sebagai kode untuk anak buahnya. Tiga orang segera datang, dua orang memegangi Ustadz Amar dan satu orang merebut koper. Ustadz Amar berusaha memberontak, tapi kekuatan dua orang itu jelas lebih besar darinya.


Kak Hasan tersenyum penuh kemenangan saat koper itu berada di tangannya. Dengan cepat, dibukanya koper itu dan melihat isinya. Alis matanya segera bertaut melihat koper itu ternyata diisi oleh lembaran kertas koran.


"BRENGSEK!" umpat Kak Hasan sembari menendang perut Ustadz Amar kuat-kuat. Karena kedua tangannya dipegangi, Ustadz Amar tidak sempat membela diri. "LO MAU NIPU GUE? DUIT GUE MANA, ANJ*NG!"

__ADS_1


Kak Hasan terus menerus menghajar Ustadz Amar dengan membabi buta. Darah Ustadz Amar berceceran dimana-mana. Ia tidak sanggup melawan karena dua orang yang memegangi tangannya tidak melepaskannya sama sekali.


"SIALAN! SIALAN! SIALAN!" Nafas Kak Hasan memburu. "Jadi cara main Lo begitu? Oke! Gue juga bisa! Ri! Telepon Akmal!"


"Sekarang, Bos?" tanya seseorang di belakang.


"TAUN DEPAN! YA SEKARANG LAH, BEGO!"


Dengan cepat, salah satu anak buah Kak Hasan segera menghubungi Akmal yang dimaksud. Lalu dengan tangan bergetar, pemuda itu menempelkan handphone pada Kak Hasan sehingga lelaki itu bisa mendengar suara orang yang ditelepon.


"Mal!" ucap Kak Hasan setelah telepon tersambung. "Habisi cewek itu!"


"Gawat Bos," suara Akmal di seberang telepon terdengar lemah. "Cewek itu kabur, dan Gue sekarang lagi sekarat karena ditusuk sama pisau."


Mata Kak Hasan terbelalak. "BANGSAT! LO CUMA GUE SURUH JAGAIN SATU CEWEK DOANG NGGAK BECUS! AWAS AJA LO, SETELAH INI, NYAWA LO HABIS DI TANGAN GUE!" Kak Hasan lantas merebut handphone dan membantingnya ke lantai hingga layarnya hancur berkeping-keping. Dengan penuh emosi, laki-laki itu lantas mendekati Ustadz Amar.


"Lo udah tau ya, Sialan?" Kak Hasan memaksa Ustadz Amar menatapnya dengan menjambak rambutnya. Alangkah terkejutnya dia karena Ustadz Amar terlihat tersenyum mengejek.


"Surprise?" kata Ustadz Amar santai. Kemarahan Kak Hasan jelas memuncak. Ia lantas mengacungkan celuritnya.


"PEGANGIN DIA! JANGAN SAMPAI LEPAS! HARI INI, AKAN ADA KEPALA YANG TERPENGGAL!"


Kak Hasan mengangkat tinggi-tinggi celuritnya, sementara Ustadz Amar memejamkan matanya pasrah. Namun, belum sempat celurit itu turun, sebuah suara tembakan terdengar. Kak Hasan terjatuh ke lantai dengan kaki dan tangan yang sudah tertembak.


"ANGKAT TANGAN!" teriak seorang polisi. "KALIAN SUDAH DIKEPUNG!"


...----------------...


HALOOOO


Maaf ya buat kalian yang menunggu-nunggu update-an cerita ini. Beberapa hari ini Author lagi ada acara, pokoknya sibuk banget dan susah buat nulis walaupun cuma satu bab aja.


Mohon dimaklumi yaπŸ™


Thank you yang masih setia menunggu update an Author πŸ™πŸ˜“

__ADS_1


__ADS_2