USTADZ GALAK

USTADZ GALAK
77. Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Syahla membuka pintu apartemen, dan Ustadz Amar yang berada di belakangnya mengikuti sambil membawa barang-barang mereka.


"Eng, karena kamar saya yang dulu dipakai Anggika, jadi Mas terpaksa tidur berdua sama saya." Syahla berucap ragu-ragu. Ustadz Amar tersenyum menggoda sang istri.


"Justru itu yang saya harapkan, istri.."


Pipi Syahla sontak bersemu merah. Ia kemudian membuka pintu kamar dan mempersilahkan Ustadz Amar masuk. Setelah masuk, Ustadz Amar menghirup napas dalam-dalam.


"Kamar saya jadi bau kamu semua," ujar Ustadz Amar yang membuat Syahla terbelalak.


"Memangnya saya bau?" Syahla sibuk mengendus tubuhnya sendiri. "Saya emang belum mandi sih,"


"Bukan itu maksudnya," Ustadz Amar meletakkan barang-barang ke pojok ruangan terlebih dulu sebelum kemudian menghampiri istrinya yang imut. "Maksud saya, aroma kamu ada di seluruh sudut ruangan ini."


"Ih, Mas bisa aja deh." Syahla membiarkan Ustadz Amar memeluk tubuhnya yang masih berkeringat. "Saya keringetan loh Mas, tak mandi dulu ya?"


"Mandi bareng mau nggak?"


Syahla spontan melepaskan pelukan Ustadz Amar sambil mengerucutkan bibir. "Saya masih capek loh Mas,"


"Hahahaha!" Ustadz Amar terkekeh melihat raut wajah sang istri yang terlihat lucu. "Saya cuma bercanda sayang, saya juga sebenarnya capek banget. Saya janji, malam ini saya cuma akan menggenggam tangan kamu saja. Ya?"


Syahla menyipitkan mata, mencoba mencari kebenaran dari perkataan sang suami. Sadar kalau sedang dicurigai, Ustadz Amar lantas membalik tubuh sang istri dan mendorongnya masuk ke kamar mandi.


"Sudah, sana masuk. Saya mau beresin baju-baju dulu."


"Jangan ikut ya," ancam Syahla sebelum pintu kamar mandi benar-benar tertutup rapat. Ustadz Amar tertawa terbahak-bahak.


...----------------...


Jam satu malam, Syahla dan Ustadz Amar sudah bersiap untuk tidur. Saat akan mulai merebahkan badan di atas kasur, tiba-tiba terdengar suara bel pintu berbunyi. Syahla dan Ustadz Amar lantas saling berpandangan heran.


"Siapa yang dateng ke apartemen kita malam-malam?" Ustadz Amar akhirnya beranjak dari tidurnya. Syahla buru-buru menahan tangan sang suami.


"Jangan Mas, siapa tau maling."

__ADS_1


"Nggak mungkin," geleng Ustadz Amar. "Saya pilih apartemen ini karena tingkat keamanannya yang tinggi. Nggak mungkin ada maling."


"Tapi kan.." Syahla menggigit bibir. Ia takut terjadi sesuatu yang buruk pada suaminya. Namun Ustadz Amar tersenyum sambil mengecup kening sang istri.


"Kamu tunggu di sini dulu ya. Sepuluh menit. Saya cuma keluar sepuluh menit. Kalau lebih dari itu, kamu bisa telepon polisi."


"Oke," Syahla menganggukkan kepala sambil menjawab lirih. Ia mengantarkan suaminya sampai di depan pintu kamar dan mengintip dari sana.


Sementara itu, Ustadz Amar bergegas melangkahkan kaki menuju pintu masuk apartemen. Ia terlebih dulu mengintip dari lubang pintu untuk melihat siapa sebenarnya yang mengganggu ketenangan mereka malam-malam. Terlihat di sana seorang laki-laki yang ia kenal. Ternyata Gian, tetangga baru mereka.


"Ada apa?" Tanpa basa-basi, Ustadz Amar langsung menodongkan pertanyaan setelah pintu terbuka. Gian terperanjat karena sebelumnya dia masih fokus dengan handphonenya.


"Eh, maaf ya Pak kalau saya mengganggu waktunya malam-malam,"


Ustadz Amar menyandarkan tubuhnya pada daun pintu. "Ya itu tau,"


Hening sejenak. Gian menggaruk tengkuknya canggung. "Eng, Syahla nya ada pak?"


"Mau ngapain ya jam satu malem cari ISTRI saya?" Ustadz Amar sengaja menekankan nada bicaranya pada kata 'istri'.


"Ah, saya cuma mau ngembaliin ini," Gian menunjukkan sebuah jaket berwarna merah muda di tangannya. "Tadi kebawa di tas saya."


"Sebenarnya, saya nggak yakin ini jaket milik siapa. Soalnya ada empat orang cewek yang ikut ke pendakian. Saya sekalian mau tanya ini punya Syahla apa bukan."


Ustadz Amar mengerutkan kening. "Yaudah nanti biar saya yang tanya."


"Nggak bisa, soalnya—"


"Gian?" Syahla tiba-tiba muncul dan hal itu menghentikan perdebatan mereka berdua. Wajah Gian langsung berubah sumringah kala melihat Syahla yang muncul dari arah kamarnya. Gadis itu mengenakan jilbab instan berwarna hitam dan tubuhnya ditutupi dengan selimut panjang, sepertinya untuk menutupi pakaiannya yang pendek.


"Ini loh, aku mau tanya, jaket ini punya kamu apa bukan? Kebawa di tas aku soalnya,"


"Oh?" Syahla lantas mengambil jaket itu dari tangan Gian dan mematut-matutnya dengan cermat. "Ini jaket kesayangannya Anggika. Makasih loh Gian udah mau anterin malem-malem begini." Syahla tersenyum lebar.


"Itu dia. Emangnya nggak bisa besok saja?" Ustadz Amar sudah melipat tangannya di depan dada dan menunjukkan raut wajah kesal.

__ADS_1


Syahla menyadari ekspresi suaminya mulai tidak enak dilihat, buru-buru ia berkata pada Gian. "Eh, anu Gian, kamu pasti capek kan? Terimakasih loh udah anterin ini, kamu cepetan istirahat, besok masih praktik kan?"


"Iya, besok aku praktik. Oh ya, jangan lupa besok Marla dibawa ya, soalnya mau aku vaksin rabies."


"Oh, oke, oke, siap." Syahla mengacungkan jempolnya dan melambaikan tangan pada Gian. Tanpa menunggu Gian beranjak pergi, Ustadz Amar terlebih dulu menutup pintu apartemen keras-keras dan menatap istrinya dengan penuh selidik.


"Dia emang sering kesini malem-malem?"


"Nggak!" Syahla buru-buru menggeleng. "Demi Allah, Gian nggak pernah kesini pas malem. Baru kali ini aja! Biasanya dia siang-siang kok!"


"Biasanya?" Mata Ustadz Amar melotot. "Jadi biasanya juga dia kesini?"


"Eh," Syahla menepuk mulutnya sendiri karena salah bicara. "Ya, sebagai tetangga, kadang-kadang kita minta tolong sama dia buat pasang tabung gas, benerin keran yang mampet, gitu-gitu. Nggak ada maksud lain kok!"


"Terus, kok dia bisa tau Marla?"


"Oh, kalau itu, dia kebetulan dokter hewan."


"Oh.." Ustadz Amar mengangguk-anggukkan kepala. Syahla hanya mampu menundukkan kepala menerima tatapan tajam dari sang suami. "Tapi, dia udah tau belum kalau kamu sudah nikah?"


"Sudah!" Syahla langsung menunjukkan jari manisnya. "Saya selalu pakai ini kemana-mana. Nggak pernah saya lepas walau mandi sekalipun. Saya juga udah bicara langsung ke Gian kalau saya udah nikah dan suami saya lagi di luar negeri!"


"Oke," Ustadz Amar menganggukkan kepala, lalu merebut jaket dari tangan Syahla. Secara sembarangan, Ustadz Amar melempar jaket itu ke lantai.


"Loh, Mas! Jaketnya Anggika jadi kotor dong!"


"Emang udah kotor, bekas tangan orang, besok biar saya yang cuci." Ustadz Amar lantas meraih tangan Syahla dan menggenggamnya erat-erat. "Udah yuk sayang, saya capek, mau tidur sambil dipeluk."


Syahla tersenyum kecil. Untunglah suaminya itu tidak gampang marah. Ia lalu dengan manja menyandarkan kepalanya pada bahu lebar Ustadz Amar.


"Tadi katanya cuma mau pegang tangan doang,"


"Eh, jadi kalau minta peluk nggak boleh?"


Syahla tertawa. "Nggak lah."

__ADS_1


"Kalau cium?"


"Nggak boleh juga!"


__ADS_2