USTADZ GALAK

USTADZ GALAK
81. Menjemput Suami


__ADS_3

Syahla terlanjur merasa kesal, ia beranjak dari duduknya untuk pergi dari tempat itu. Tapi Ustadz Amar segera mencegahnya dengan menggenggam pergelangan tangannya kuat-kuat.


"Apa sih Mas? saya mau masuk kamar!" Syahla mencoba mengibaskan tangan melepaskan diri, sayangnya kekuatannya tidak ada apa-apanya dibanding kekuatan sang suami.


"Duduk dulu," Ujar Ustadz Amar lembut, membuat Syahla mau tidak mau menuruti perintah sang suami.


"Silahkan," Dasha meletakkan segelas jus strawberry di hadapan Ustadz Amar, Syahla sudah memasang wajah dongkol, mau dipaksa seperti apapun hatinya sudah terlanjur panas.


"Terimakasih. Tapi sepertinya kamu salah paham. Aku tidak sesuka itu dengan strawberry," ujar Ustadz Amar sambil tersenyum.


"Oh? Tapi bukannya kamu sering minum susu strawberry?"


"Iya, kamu benar. Tapi, ada alasan kenapa aku melakukan itu. Asal kamu tau, saat istriku tersenyum malu, pipinya akan berubah merah seperti warna strawberry. Makanya aku sering meminum susu strawberry karena teringat dengan istriku," Ustadz Amar mencubit gemas pipi sang istri. Syahla jelas terkejut dengan ucapan suaminya.


"Yang benar Mas? Ah, Mas pasti cuma mengada-ngada."


"Loh, kamu kok nggak percaya sama saya sih? Saya serius. Memang selama kita menikah, kamu pernah melihat saya beli buah strawberry?"


Syahla menggeleng-gelengkan kepalanya. Seingatnya memang ia tak pernah melihat sang suami membeli buah itu.


"Tuh, kan? Saya nggak mengada-ngada. Saya memang selalu beli itu, karena teringat terus sama kamu."

__ADS_1


"Ah, Mas bisa aja." Syahla menangkup kedua pipinya yang memerah.


"Tuh kan? Benar apa saya bilang, pipi kamu jadi mirip strawberry kalau sedang malu begini." Ustadz Amar malah semakin menggoda Syahla dengan menoel-noel pipi sang istri.


"Aduh, udah ah Mas! Jangan begitu!"


Melihat kemesraan pasangan suami istri di depannya, Dasha hanya bisa menghela napas kesal. Tapi ia berusaha tersenyum untuk menutupi perasaan cemburu yang muncul di hatinya.


"Ah, sepertinya aku mengganggu kegiatan kalian deh. Kalau begitu aku pulang dulu ya?" Pamit Dasha sembari beranjak dari duduk.


"Oke," jawab Ustadz Amar tanpa mengalihkan perhatiannya dari sang istri sama sekali, membuat Dasha mau tidak mau hanya bisa tersenyum dongkol dan berjalan menuju pintu keluar. Tapi tepat sebelum membuka pintu, gadis bule itu berbalik badan dan berbicara pada Ustadz Amar.


"Oh ya, nanti malam jangan lupa rapat proyek kita ya. Aku tunggu di rumahku,"


...----------------...


Malamnya, Ustadz Amar bersiap pergi ke rumah Dasha. Sebenarnya dia enggan sekali, apalagi kalau mengingat istrinya akan berada di rumah sendirian. Tapi karena deadline proyek penelitian mereka sudah semakin dekat, mau tidak mau Ustadz Amar harus bertanggung jawab sebagai ketua proyek itu.


"Kamu benar tidak apa-apa saya tinggal sendirian?" Ustadz Amar kembali memastikan keadaan Syahla. "Apa kamu ikut saja sama saya?"


"Jangan lah Mas," tolak Syahla cepat. "Nanti malah ganggu. Nggak enak sama yang lain,"

__ADS_1


"Beneran? Kamu nggak apa-apa kalau saya ada di tempat yang sama dengan Dasha? Tadi saja waktu dia disini, muka kamu sudah masam sekali seperti jeruk nipis. Kamu yakin tidak apa-apa kalau saya ke rumah dia?"


"Ya sebenarnya kenapa-kenapa sih," Syahla kemudian dengan kesal mengacak-acak rambut sang suami. "Makanya jangan ganteng-ganteng jadi suami! Ini rambut nggak udah disisir segala! Terus, jangan senyam-senyum sama cewek lain di sana!"


Ustadz Amar terkekeh mendengar celotehan sang istri. "Tuh kan? Kamu saja sedang cemburu berat begini, masa saya tega ninggalin kamu sendirian? Ikut saja ya?"


"Nggak mau," Geleng Syahla. "Saya nggak mau kecemburuan saya menghambat pekerjaan Mas Suami. Saya bakalan menahan diri kok. Tapi, Mas jangan sampai tergoda ya!"


"Iya sayang, tenang saja, di mata dan di hati saya, kamu satu-satunya yang paling cantik." Ustadz Amar lantas mengecup kening sang istri sebelum akhirnya keluar dari apartemen.


"Assalamu'alaikum istri.."


"Waalaikumsalam suami.." Syahla melambaikan tangan.


Sepeninggal Ustadz Amar, Syahla jadi bingung sendiri mau berbuat apa. Ia akhirnya memutuskan menonton televisi, tapi kemudian segera menyerah karena tayangan televisi Amerika memakai bahasa Inggris. Pada akhirnya Syahla membuka kembali handphonenya dan membaca komentar dari para pembaca novelnya yang protes karena dia tidak segera update akhir-akhir ini.


"Nulis buat satu bab aja deh," ujarnya kemudian sambil mulai memainkan jari-jemarinya pada keyboard ponsel.


Keasyikan menulis membuat Syahla tidak sadar waktu sudah berputar cukup lama. Saat ia akhirnya mengalihkan pandangan dari handphone, Syahla terkejut karena jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam waktu setempat. Segera saja ia mencari kontak ponsel Ustadz Amar dan berniat menelponnya. Tapi, belum sempat niatnya terlaksana, telepon dari Dasha lebih dulu masuk.


"Halo? Sorry Syahla, sepertinya rapat kita masih lama, jadi Amar belum bisa pulang. Amar minta aku buat sampaikan ke kamu. Kamu mau tidak datang kesini? Aku akan kirim alamatnya. Atau supaya cepat, aku akan kirimkan taksi untuk mengantarkan kamu kesini. Ya?"

__ADS_1


"Eng, sepertinya tidak usah— Halo?" Belum sempat Syahla menjawab, telepon sudah terputus. Ia kemudian cepat-cepat menelepon Ustadz Amar, tapi sampai beberapa menit berlalu, panggilannya tidak dijawab. Jelas saja Syahla merasa kesal, ia lantas segera bersiap-siap untuk pergi ke rumah Dasha tempat suaminya berada.


"Kalau suamiku belum mau pulang, biar aku saja yang jemput!"


__ADS_2