
Ustadz Amar berlari sekuat tenaga sembari menggendong Syahla pada kedua tangannya. Wajahnya terlihat panik dan ia langsung berteriak pada satpam yang berdiri di pintu rumah sakit untuk membantu istrinya pergi ke ruang persalinan.
Kondisi rumah sakit mendadak kacau. Para perawat segera menindaklanjuti kondisi Syahla. Setelah diperiksa, ternyata Syahla sudah memasuki bukaan tiga.
"Kok bisa ya dok? Usia kandungan istri saya kan baru delapan bulan, apa mungkin ini adalah kelahiran prematur?" tanya Ustadz Amar setelah Syahla selesai ditangani. Dirinya yang semula panik pun sudah mulai tenang setelah memastikan istrinya baik-baik saja.
"Mohon maaf pak, sepertinya ada kesalahan dari hitungan usia kandungan. Jadi sebenarnya Nyonya Syahla sekarang usia kandungannya sudah sembilan bulan Pak, bukan delapan bulan."
"Astaghfirullah.." Ustadz Amar menyibak rambutnya ke belakang dengan wajah gusar. "Kok bisa? Jadi sekarang bagaimana dok?"
"Sekali lagi kami mohon maaf Pak. Untuk sekarang, kita harus menunggu sampai bukaan sepuluh, baru bayinya bisa dilahirkan."
Ustadz Amar menganggukkan kepala meski sebenarnya ia merasa kesal karena kesalahan perhitungan itu membuat mereka jadi kurang siap dalam menghadapi persalinan. Orangtua Syahla bahkan baru akan datang dua minggu lagi, jadi terpaksa mereka harus menghadapi hal ini berdua saja.
Setelah pembicaraan dengan dokter selesai, Ustadz Amar lantas menghampiri Syahla yang sudah berbaring di atas ranjang rumah sakit. Tangannya sudah tertusuk jarum infus. Melihat kedatangan sang suami, Syahla langsung menunjukkan senyum terbaiknya, meski wajahnya tidak bisa berbohong sedang menahan rasa sakit dari dalam perutnya.
"Sakit banget?" Ustadz Amar mengelus lembut perut sang istri. "Saya mau kabari Abah sama Umi. Menurut kamu gimana?"
Syahla buru-buru menggelengkan kepala. "Jangan. Nanti mereka malah panik. Kita kabari kalau bayinya sudah lahir saja,"
Ustadz Amar menganggukkan kepalanya. Sekarang kalau dilihat-lihat, istrinya itu terlihat sangat dewasa. Hal itu terlihat dari senyumnya yang masih berusaha merekah meski ia merasakan sakit yang amat sangat. Padahal kalau dulu, istrinya itu bisa mengeluh hampir seminggu penuh hanya karena kakinya tak sengaja tersandung kaki meja. Sepertinya, jiwa keibuan Syahla mulai muncul.
Selama beberapa jam, Ustadz Amar dan Syahla menunggu dengan harap-harap cemas. Untuk membantunya mengambil barang-barang dari apartemen, Ustadz Amar sudah menghubungi Anggika. Anggika dengan senang hati membantu, meski ia agak shock karena tidak mengira Syahla akan melahirkan lebih awal.
Dua jam setelah mereka masuk rumah sakit, akhirnya dokter menyatakan pembukaan jalan lahir Syahla sudah lengkap. Dokter dan beberapa perawat kemudian membantu Syahla, sementara Ustadz Amar berdiri di samping ranjang menggenggam tangan sang istri.
"Ayo Bu, setelah hitungan ketiga, mengejan yang kuat ya. Satu, Dua, tiga!"
__ADS_1
"Aaakkkhhhh!" Syahla mengejan sambil berteriak sekuat tenaga. Dokter kemudian mengarahkan agar Syahla menghirup napas dalam-dalam, sebelum mengejan kembali. Setelah bergulat dengan maut, akhirnya suara nyaring seorang bayi pecah di ruangan kecil itu.
"Oekkk.. Oekkk.. Oekkk.."
"Alhamdulillahirobbil'alamin..." Ustadz Amar menciumi wajah sang istri sebagai bentuk rasa syukur dan ucapan terimakasih karena istrinya telah bekerja keras. Syahla menangis tersedu-sedu. Rasa sakit yang membuatnya merasa hampir mati seketika menghilang, tatkala mendengar tangisan putranya.
Dokter lantas menyerahkan sang jabang bayi pada sang ayah. Ustadz Amar dengan hati-hati menggendong putra kecilnya, kemudian dengan lembut mengumandangkan adzan dan iqomah pada kedua telinga sang putra.
"MasyaAllah.." Syahla tak henti-henti menyebut Asma Allah. Dokter kemudian meletakkan bayi kecil itu di atas dada Syahla, dan dengan lucunya, bayi mungil itu menggeliat mencari sumber kehidupannya.
"Terimakasih sayang," Ustadz Amar menggenggam tangan sang istri. "Terimakasih karena sudah berjuang untuk melahirkan anak kita."
"Terimakasih juga Mas," Syahla mengecup tangan sang suami. "Terimakasih karena selalu setia mendampingi saya hingga akhir."
...----------------...
Beberapa hari setelah melahirkan, Syahla dinyatakan sehat dan bisa langsung pulang ke rumah. Mereka berdua kembali ke apartemen dengan senyuman merekah, merasa kebahagiaan keluarga mereka telah lengkap karena kehadiran sang buah hati.
"Hati-hati sayang," Ustadz Amar dengan sigap membantu sang istri menekan tombol lift, kemudian memastikan tidak ada bahaya apapun yang bisa menimpa bayi dan sang ibu.
"Saya bukain pintunya," Ustadz Amar kembali dengan sigap membuka pintu apartemen. Kondisi apartemen yang gelap gulita jelas membuat Ustadz Amar segera mencari-cari tombol saklar lampu yang berada di dekat pintu.
"Bukannya Umi, Abah, Papa sama Ibu sudah pergi ke apartemen duluan ya Mas? Kok masih gelap sekali?" Tanya Syahla sambil menepuk-nepuk putranya yang mulai menggeliat gelisah. "Cepetan Mas, ini anak kita udah kegerahan kayanya."
"Iya sayang, sebentar. Aduh, mana sih tombolnya? Nah, ini dia!"
Klik!
__ADS_1
"SURPRISE!!!"
Baik Syahla maupun Ustadz Amar mematung sejenak. Mereka tidak menyangka kalau di depan mereka telah berkumpul satu keluarga besar. Orangtua Syahla, Orangtua Ustadz Amar, Hafsa, Gus Sahil, Anggika, Kak Ren, bahkan Mama Ida. Mereka tampak semangat menyambut kedatangan Syahla dan bayinya sambil membawa kue dan balon-balon lucu.
"Ya Allah! Apa-apaan ini? Kok aku disambut segala," Syahla mengusap sudut matanya yang terasa berair karena terharu.
"Loh, loh, kok nangis to nduk? Kita kan menyambut kamu dengan gembira, ya kamu harus gembira dong!" Umi Zahra yang pertama kali menghampiri Syahla dan memeluk sang putri dengan penuh kasih sayang.
"Iya loh. Kamu tau nggak kalau demi menyambut kamu, Mas sampai harus niup balon pakai mulut. Aduh, capek banget kalau dipikir lagi," Gus Sahil seperti biasa berkata dengan jahil.
"Aduh Mas Gus, jangan lebay begitu. Kan Mas juga nggak niup sendiri tadi. Ada Ren juga. Jangan merasa paling capek sendiri lah!" Hafsa sang istri, menyenggol lengan suaminya.
"Huhuhu.. Aku nangis karena terharu...Makasih ya.. Karena kalian sudah bela-belain bikin kejutan buatku.." Syahla berkata sambil mengusap air mata.
"Aduduh sayangku.." Mama Ida memeluk sang menantu. "Iya sama-sama. Kami melakukan ini karena sayang sama kamu. Kami juga mau mengucapkan selamat karena mulai hari ini, kamu sudah sah dipanggil ibu."
"Bener tuh," celetuk Gus Sahil. "Duh, nggak nyangka ya. Anak kecil yang dulunya ingusan, sering nangis karena masih suka ngompol, eh sekarang malah sudah punya bayi. Yang penting nanti kalau anaknya nangis jangan ikut nangis ya!" ucap Gus Sahil meledek. Mendengar hal itu, Syahla langsung melirik ke arah kakaknya dengan tatapan kesal.
"Sudahlah Hil, jangan digoda terus itu adikmu. Dia pasti capek, biarkan istirahat dulu." Tukas Abah Baharuddin yang membuat Gus Sahil langsung membungkam mulutnya.
"Betul itu kata Abah. Kamu istirahat dulu nduk, biar bayinya Mbah Uti yang gendong," Umi Zahra membahasakan panggilannya sendiri, kemudian mengulurkan tangan demi meraih sang cucu lelaki.
"Eh, eh, biar sama Oma aja ya," Mama Ida bergerak lebih cepat dari Umi Zahra, sudah merebut bayi mungil itu dari gendongan ibunya. Umi Zahra jelas langsung protes.
"Gantian lah mbak, sama Mbah Uti dulu yuk Le,"
"Nenek juga mau gendong," Ibu Ustadz Amar yang semula banyak diam tiba-tiba ikut berbicara, menjadi peserta ketiga yang memperebutkan cucu lelaki mereka.
__ADS_1
Melihat perdebatan itu, Syahla dan Ustadz Amar langsung saling pandang. Sepertinya bayi mereka sudah punya satu masalah dalam kehidupannya, yaitu jadi rebutan tiga nenek yang overprotektif!