USTADZ GALAK

USTADZ GALAK
40. Pulang Ke Rumah Mertua


__ADS_3

Malam ini adalah jadwal Syahla untuk bersih-bersih kamarnya. Mumpung mood-nya sedang bagus, dan dia juga sudah bosan belajar untuk persiapan UAS, maka membersihkan ruangan tempatnya menghabiskan waktu setiap hari itu menjadi satu-satunya pilihan. Untuk menambah semangat, diputarnya playlist lagu-lagu hits Indonesia dari handphonenya.


Pintu kamar terbuka. Ustadz Amar muncul dari balik pintu. “Istri,” panggilnya lembut. “Ngapain sih? Dari tadi saya panggil-panggil nggak nyahut,”


Syahla yang sedang menyusun buku-buku kuliah di atas meja belajarnya menoleh, tersenyum melihat kedatangan sang suami. “Saya lagi beres-beres, Om Suami,”


“Tumben banget,” Ustadz Amar melihat ke sekeliling ruangan, dan matanya kemudian terpaku pada seonggok boneka di atas kasur. “Benda laknat itu kenapa masih ada di sini?”


Syahla mengikuti arah pandang sang suami dan mendapati benda yang dimaksud adalah boneka pemberian Kak Rama. Ia lalu mengambil boneka itu sambil menggaruk-garuk tengkuknya. “Oh, ini saya putuskan untuk disimpan saja,”


“Kenapa?” Ustadz Amar sudah memasang raut muka bete. “Kenapa kamu nyimpen hadiah dari laki-laki lain?”


“Bukan gitu,” Syahla kemudian menyerahkan boneka itu kepada suaminya. “Saya cuma mau menghargai hadiah yang saya terima dari orang lain. Sayang kan kalau boneka seimut ini dibuang? Tapi kalau Om Suami keberatan, Om Suami bisa simpan,”


“Dih, ngapain saya simpan boneka dari laki-laki itu?” Ustadz Amar kemudian mengambil boneka dari tangan Syahla dengan gestur jijik. “Ya sudah, tidak apa-apa kalau mau kamu simpan. Tapi jangan di kamar kamu, saya nggak rela. Saya taruh di ruang tengah saja,”


“Oke,” Syahla tersenyum. “Terserah Om Suami saja,”


Ustadz Amar kemudian melangkah pergi sebelum membalikkan badannya lagi. “Saya kan sekarang lagi marah. Nggak mau kasih cium?”


“Hah?”


“Pipi saya nganggur nih. Atau, kalau nggak, bibir saya juga boleh,” ucap Ustadz Amar sembari melangkah mendekati Syahla.


“Apa, sih? Jangan ganggu saya! Saya lagi mau beres-beres!”


“Sebentar saja, sayang? Ya?” Ustadz Amar memeluk mesra istrinya dari belakang.


“Nggak mau! Kamar saya masih berantakan!”


“Kalau gitu ke kamar saya saja,” Ustadz Amar sudah membopong tubuh istri kecilnya yang meronta-ronta minta dilepaskan.


“OM SUAMI!!!”

__ADS_1


...----------------...


Minggu-minggu UAS sudah berakhir, dan Syahla sudah tidak sabar untuk mendapatkan ketenangan selama masa liburan kuliahnya. Berada di atas kasur sembari maraton drama korea sepanjang hari sepertinya seru.


"Kita akan pulang kampung besok,"


Syahla hanya bisa menghela napas berat mendengar ucapan Ustadz Amar. "Harus besok banget? Nggak bisa ditunda minggu depan saja?"


"Loh, kita ini membagi waktu. Minggu pertama di rumah saya, minggu kedua di pesantren Al-Raudhah, dan minggu ketiga di rumah kamu. Orangtua kita sudah menelpon sejak kemarin, mereka bilang kangen sama kita berdua."


Syahla lagi-lagi hanya bisa menghela napas. Bukannya dia tidak suka pulang ke rumah orangtuanya, hanya saja dia ingin menikmati liburan dengan sedikit bersantai di kamarnya sendirian.


Esoknya, Ustadz Amar dan Syahla benar-benar berangkat ke bandara. Selama perjalanan, Syahla sibuk menonton video di handphonenya, tentang bagaimana cara menaklukkan hati mertua. Meskipun mereka sudah menikah beberapa bulan, tetap saja Syahla belum pernah merasakan tinggal di rumah mertuanya sama sekali.


"Kenapa sih? Sibuk banget kayanya," Ustadz Amar menyandarkan kepalanya di bahu sang istri. "Nggak bosan apa lihat handphone terus?"


"Sstttt..." Syahla menyuruh Ustadz Amar diam. "Saya sedang fokus belajar,"


Ustadz Amar mengintip layar handphone Syahla dan tertawa geli. "Kiat-kiat menaklukkan hati mertua?"


"Masa sih?" Ustadz Amar menggesek-gesekkan kepalanya pada bahu Syahla dengan manja. "Saya nggak begitu tuh sama mertua saya,"


"Ya beda! Om Suami kan menantu laki-laki!"


"Sudahlah," Ustadz Amar merebut handphone Syahla. "Tidak perlu nonton tutorial segala. Papa sama Ibu pasti sayang kok sama kamu,"


"Sayang sih sayang," Syahla masih merasa gundah gulana. "Cuma saya nggak bisa tenang sekarang,"


Ustadz Amar kemudian mengangkat kepalanya dan gantian menyandarkan kepala Syahla pada bahunya. "Sudah, relax, kalau nggak tenang, kamu bisa peluk saya."


"Dasar, cari-cari kesempatan aja," meski berkata demikian, Syahla memeluk sang suami dan berusaha memejamkan mata.


...----------------...

__ADS_1


Keluar dari bandara, Syahla dan Ustadz Amar sudah dijemput oleh mobil Papa. Kedua orangtua Ustadz Amar ikut menjemput. Seperti perkataan Ustadz Amar, kedua mertuanya itu sangat menyukai Syahla, dan itu membuat Syahla bisa menghela napas barang sejenak.


Tentu saja hanya sejenak, karena sebenarnya Syahla baru menghadapi tantangan ketika mereka sampai di rumah. Rupanya, di rumah orangtua Ustadz Amar tidak hanya tinggal mereka berdua saja, tapi ada juga Simbah dan Bulek, yang merupakan ibu dan adik dari ibu tiri Ustadz Amar.


Saat baru sampai di rumah itu, Syahla bisa merasakan tatapan mereka melihatnya dari ujung kepala sampai ujung kaki, yang jelas membuat siapapun yang ditatap seperti itu tidak akan merasa nyaman.


"Istrinya Amar masih kecil ya," begitu komentar Bulek yang entah kenapa suaranya keras sekali, sehingga sudah pasti Syahla bisa mendengarnya. "Masih muda banget. Laki-laki zaman sekarang sukanya memang yang daun muda,"


Telinga Syahla sebenarnya cukup panas mendengar celotehan itu. Tapi ia berusaha untuk mengabaikannya. Ia malah mengulurkan tangan dan menyalami Bulek sambil mencium tangannya.


"Apa kabar bulek? Ini ada oleh-oleh dari Jakarta,"


"Aduh, ya ampun, pakai repot-repot segala," Bulek menerima bingkisan itu sambil tertawa palsu. "Terimakasih ya Nduk,"


"Sama-sama Bulek. Nah, ini untuk Simbah," Syahla mengulurkan bingkisan lain pada wanita tua yang hanya diam saja dari tadi.


"Alah, makanan beginian Simbah nggak doyan," tukas Simbah menolak pemberian Syahla.


"Jangan begitu Mak, kan kasihan Syahla sudah jauh-jauh bawa dari Jakarta," Ibu pada akhirnya yang menerima bingkisan dari Syahla. "Maafkan Simbah ya Nduk, beliau memang sudah tua, jadi begitu."


"Nggak papa Bu," Syahla berusaha mempertahankan senyumannya.


"Yasudah, kalau begitu kita istirahat dulu ya," Ustadz Amar menggamit tangan Syahla. "Ayo sayang,"


"Eh, eh, mau kemana?" Bulek tiba-tiba menepis tangan mereka berdua. "Mumpung masih di sini, Nduk Syahla harus bantuin masak dong di dapur. Masa mau enak-enakan tidur sementara kita yang tua-tua masak?"


"Eng, tapi Bulek, kita barusan turun dari pesawat dan istri saya pasti capek," Ustadz Amar berusaha membela istrinya. "Biarkan Syahla istirahat dulu,"


"Saya nggak papa kok," Syahla menggelengkan kepalanya sebagai isyarat agar Ustadz Amar tidak melawan kehendak sang bibi. "Benar kata Bulek, saya bantu-bantu dulu,"


"Tapi—" Ustadz Amar menunjukkan raut wajah keberatan.


"Tenang saja," Syahla mendorong suaminya untuk masuk ke kamar terlebih dulu. "Sampean istirahat saja ya,"

__ADS_1


Ustadz Amar sebenarnya merasa tidak tega, tapi melihat tekad istrinya yang kekeuh ingin membantu, akhirnya ia mengalah dan memilih masuk ke dalam kamar.


Yah, pasti tidak akan terjadi apa-apa kan?


__ADS_2