USTADZ GALAK

USTADZ GALAK
37. Masakan Syahla


__ADS_3

Hari minggu, dan Syahla yang sudah berkutat di dapur sejak pagi adalah pemandangan yang langka. Gadis itu tampak serius melihat tutorial memasak dari handphonenya, sementara kedua tangannya mengikuti dengan kikuk.


"Tambahkan gula secukupnya," Syahla mengikuti ucapan sang tutor masak sebelum kemudian memegang kepalanya frustasi. "Secukupnya itu seberapa?"


Pada akhirnya, Syahla menuangkan bumbu-bumbu sesuai instingnya saja.


"Asalkan jadi, tidak masalah kan?" begitu tekadnya menghibur diri sendiri. Setelah satu menu selesai, Syahla segera beralih ke menu berikutnya.


Ustadz Amar membuka pintu apartemen dengan terburu-buru. Seperti biasa, setiap hari minggu dirinya selalu menyempatkan diri berolahraga meski hanya sekedar berlari keliling komplek. Saat ini kedatangannya yang tergesa-gesa adalah karena mencium bau aneh dari unit apartemennya.


"Istri? Ada apa? Ada kebakaran?" Tanya Ustadz Amar panik. Ia segera menghampiri istrinya yang sedang sibuk di dapur dan terheran-heran melihat keadaan dapur yang sudah seperti kapal pecah.


"Istri masak?" tanya Ustadz Amar yang sebenarnya ia tujukan pada dirinya sendiri, lantaran saking tidak percayanya. "Kenapa tiba-tiba pingin masak? Ada apa? Apa kiamat sudah dekat?"


Syahla melirik suaminya dengan tatapan kesal. "Apaan sih! Lebay banget, deh! Saya kan cuma mau melakukan kewajiban saya sebagai istri!"


Ustadz Amar mengangguk-anggukkan kepalanya sembari melihat ke seluruh isi dapur yang sudah tidak terbentuk dapur lagi. "Kamu masak apa saja sampai seperti ini?"


"Tuh, ada capcay, cah kangkung, tempe goreng, dan sekarang saya lagi goreng ikan!"


Ustadz Amar bergidik ngeri melihat keadaan ikan yang sangat memprihatinkan di atas penggorengan. Warnanya sudah sangat hitam dan bau gosong menguar ke segala penjuru ruangan.


"Kecilin apinya," Ustadz Amar bergerak memutar knop kompor gas. "Ada yang bisa saya bantu, nggak?"


"Eng, udah selesai sih," Syahla memutarkan kepalanya melihat ke sekeliling. "Tapi kalau mau bantu beres-beres juga boleh,"


"Oke..." Ustadz Amar menghela napas panjang. Harus mulai dari mana ia membereskan dapur yang super berantakan itu?


Lima belas menit kemudian, dapur sudah kembali bersih seperti sedia kala. Ustadz Amar membaringkan badannya di atas lantai yang dingin. Keringat membasahi sekujur tubuh. Membersihkan dapur hasil kekacauan istrinya ternyata lebih melelahkan ketimbang berlari keliling komplek sepuluh kali.


"Om Suami," Syahla duduk berjongkok sembari memandangi wajah suaminya. "Ayo bangun, mandi. Setelah ini kita sarapan bareng,"

__ADS_1


Ustadz Amar membuka mata, dan wajah Syahla menjadi yang pertama ia lihat. Ustadz Amar tersenyum, rasa lelahnya tiba-tiba menghilang seketika. Ia mengulurkan tangan ke atas dan meraih pipi sang istri.


"Terimakasih, istri yang baik,"


Syahla tersenyum. "Terimakasih juga, suami yang baik,"


...----------------...


Selesai mandi, Syahla dan Ustadz Amar duduk berhadapan di kursi meja makan. Berbagai makanan hasil masakan Syahla tertata dengan rapi di depan mereka. Meskipun ikan gorengnya sudah menghitam, setidaknya makanan yang lain masih layak untuk dilihat.


"Bismillahirrahmanirrahim," Ustadz Amar berdoa terlebih dahulu sebelum mengambil suapan pertamanya. Menu yang dicicip pertama kali adalah capcay, yakni makanan hasil campuran berbagai sayuran seperti wortel, kembang kol, jamur, dan lain-lain. Kali ini Syahla juga menambahkan potongan bakso yang dibagi menjadi dua untuk menambah sedap masakan.


Lidah Ustadz Amar langsung terasa terbakar saat makanan itu menyentuh indera pengecapnya. "Heup! Pedes!" Serunya sambil tangannya menggapai-gapai minta diambilkan minum. Dengan sigap, Syahla segera menuangkan air putih ke dalam gelas dan ia serahkan pada suaminya.


"Memangnya sepedes itu, ya?" Syahla mencicipi sendiri hasil masakannya dan langsung melepehkan makanan itu. "Kok bisa pedes banget, sih?"


Syahla membuka handphone dan mencari video tutorial untuk menu capcay yang tadi ia ikuti. Setelah membacanya baik-baik, Syahla meringis. "Ah, pantesan... Ternyata ini menu buat sepuluh orang,"


Ustadz Amar hanya bisa melongo mendengar penjelasan sang istri.


Ustadz Amar menurut meski lidahnya masih merasa kebas karena rasa pedas yang tidak wajar. Dengan ragu, ia menyendok sayur kangkung buatan sang istri dan ia suapkan pada mulutnya.


Ustadz Amar mengernyitkan dahi ketika butiran garam ikut terkunyah dalam mulutnya. Tapi ia memilih tidak berkomentar karena takut Syahla akan merasa kecewa.


"Enak kan?" Syahla bertanya antusias. Ia kemudian menyendok sayur kangkung itu dan memakannya dengan percaya diri. "Kalau cuma kangkung sih, saya pinter!"


"Huek!" Belum lima detik sejak sesumbarnya, Syahla sudah memuntahkan makanannya. "Apaan nih? Kenapa asin banget!"


Ustadz Amar mengulum senyum melihat reaksi sang istri. "Enak kan?"


Syahla meraih piring kangkung dari meja makan dengan bibir cemberut. "Nggak enak!"

__ADS_1


"Eh, mau dibawa kemana? Siniin, biar saya makan," Ustadz Amar merebut kembali piring sayur itu. "Nggak papa, namanya juga belajar. Lain kali kalau masak garamnya diulek dulu biar halus. Atau kalau susah, beli saja garam halus,"


Syahla mengangguk-anggukkan kepalanya. "Saya kira garam bisa meleleh sendiri kalau kena api,"


"Nilai IPA mu yang bagus itu dimana sih?" Ustadz Amar menyentil lembut dahi Syahla. "Setidaknya tempe gorengnya enak kok,"


Syahla kembali tersenyum sumringah mendengar pujian tidak seberapa dari suaminya itu. "Makasih suami,"


"Sama-sama," Ustadz Amar tersenyum lebar.


Sedang asyik mengobrol, bel pintu apartemen berbunyi. Syahla dan Ustadz Amar otomatis menolehkan kepalanya.


"Apa paket pesenan saya sudah sampai ya?" Ustadz Amar mengecek handphonenya. "Seharusnya memang dikirim hari ini sih,"


"Saya saja yang buka," Syahla beranjak mendahului Ustadz Amar. "Om Suami makan saja,"


Ustadz Amar akhirnya mendudukkan kembali pantatnya ke atas kursi, dan Syahla melangkahkan kaki membuka pintu.


"Paket ya Mas?" Tanya Syahla kepada seorang kurir yang berdiri di depan pintu apartemen. "Atas nama siapa?"


"Syahla," Jawab kurir itu sambil menyerahkan sebuah kotak besar dan menyodorkan selembar kertas. "Silakan tanda tangan dulu di sini,"


"Saya?" Syahla merasa tidak percaya. Ia mengecek nama penerima dari paket itu dan ternyata memang benar namanya yang tercantum di sana. Meski kebingungan, Syahla tetap menerima barang itu dan menandatangani bukti pengiriman barang.


"Paket saya, kan?" Tanya Ustadz Amar saat istrinya masuk. Syahla menggelengkan kepala sambil menunjukkan kotak paket di tangannya.


"Ini buat saya, tapi saya nggak merasa pesan apa-apa tuh,"


"Oh, mungkin kiriman dari Umi?" Tebak Ustadz Amar. "Kalau penasaran dibuka saja, toh nama penerimanya memang kamu."


Syahla menurut. Ia kemudian menyobek plastik yang membungkus kotak itu menggunakan gunting. Setelah terbuka, tampak sebuah boneka beruang dengan kartu ucapan di dalamnya.

__ADS_1


...Semoga boneka ini bisa mengingatkan Lu ke Gua terus ya, Dek Lala ^_^...


...Salam Sayang, Rama Aditia♡...


__ADS_2