
Untunglah, Tim SAR bergegas datang dan berhasil mengangkat tubuh Kak Ren dari dalam jurang. Meski penuh luka, dadanya yang bergerak naik turun menandakan kalau dia masih hidup.
Sejak turun dari gunung, Syahla dan Anggika sudah berada di rumah sakit demi memastikan keadaan laki-laki itu baik-baik saja. Gian ikut menemani mereka, sementara Kenny dan Fina sedang lapor polisi karena Vilo belum ditemukan.
"Sabar ya.." Syahla mengusap punggung Anggika. "Kak Ren pasti baik-baik saja,"
Anggika hanya mampu menyandarkan kepalanya pada bahu Syahla. Ia menangis tersedu-sedu sejak kali pertama Kak Ren ditemukan. Meski begitu, ia merasa lega karena Kak Ren berhasil selamat.
"La, Nggi," Gian menghampiri mereka dengan wajah pucat. Syahla dan Anggika lantas mengalihkan pandangan mereka pada Gian dengan raut muka penasaran.
"Kenapa Kak? Kak Vilo udah ditemukan?"
Gian mengangguk kecil untuk menjawab pertanyaan Syahla. "Dia baik-baik saja. Tapi.."
"Tapi?"
"Dia mengaku kalau dialah yang mendorong Ren ke jurang."
Syahla dan Anggika saling berpandangan. "Jadi, maksudnya Kak Ren nggak kecelakaan? Vilo sengaja dorong dia? Tapi kenapa?"
"Dari awal, aku udah curiga kalau Ren jatuh bukan karena kecelakaan. Kalian harus ingat, Ren itu adalah pendaki gunung profesional. Dia bahkan sudah sering naik turun gunung dengan jalur pendakian yang lebih sulit. Hanya mendaki gunung sekecil itu tidak akan membuatnya terluka. Jadi, aku, Fina dan Kenny sebenarnya sudah berpikir kalau ada yang mendorong dia ke dalam sana."
"Dan orang itu Kak Vilo?" Syahla memperjelas ucapan Gian yang dibalas dengan anggukan kepala.
"Wah.." Anggika menggelengkan kepalanya. "Udah gila tuh cewek. Dari awal, Gue udah mengira dia itu cewek nggak bener. Lagaknya itu loh songong banget! Terus, sekarang apa coba maksudnya dia mau mencelakai Kak Ren?"
"Sabar Nggi," Syahla kembali mengusap punggung sahabatnya. "Itu bisa kita urus nanti. Yang paling penting, sekarang kondisi Kak Ren dulu."
Anggika menghela napas panjang. Ia berusaha menenangkan emosinya yang mulai tersulut. Beberapa saat kemudian, pintu ruangan dibuka, dan dokter yang memeriksa Kak Ren keluar.
"Dokter!" Anggika langsung beranjak dari duduknya dan menghampiri sang dokter. "Gimana keadaan pacar saya?"
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Pasien hanya mengalami patah tulang ringan di kakinya, tidak ada yang serius. Hanya saja, tolong pastikan pasien tidak banyak bergerak sampai kakinya benar-benar sembuh."
__ADS_1
"Alhamdulillah.." Syahla mengucap syukur. "Jadi, sekarang kita bisa langsung menjenguk pasien kan dok?"
"Silahkan," ucap sang dokter. "Pastikan untuk tidak membuat keributan karena pasien masih belum sembuh betul."
"Siap dok," jawab Syahla patuh, sementara Anggika lebih dulu masuk ke ruangan dimana Kak Ren dirawat di dalam sana.
"Sayang!" Anggika langsung memeluk kekasihnya dengan perasaan lega. Kak Ren tersenyum dan menyambut pelukan Anggika dengan mesra.
"Kamu pasti khawatir sekali ya?" tanya Kak Ren yang membuat Anggika serta menunjukkan wajah kesal.
"Menurut kamu? Siapa coba orang yang nggak khawatir saat ngeliat pacarnya jatuh ke jurang?"
Kak Ren terkekeh. "Maaf ya, aku juga nggak tau kalau bakalan jadi seperti ini."
"Memangnya, apa yang sebenarnya terjadi Ren?"
Kak Ren terdiam sejenak. Ia menatap satu persatu wajah orang di dalam ruangan itu. Gian, Syahla dan Anggika. Semua orang tampak menatapnya dengan wajah cemas dan penasaran.
"Sebenarnya.." Kak Ren menghela napas panjang sebelum memulai ceritanya. "Aku bohong waktu pamit sama kamu untuk buang air kecil. Sebenarnya waktu itu aku ketemu sama Vilo."
"Aku mencintai kamu Ren," begitu kalimat pertama yang dilontarkan Vilo kepada Kak Ren saat itu. Mendengar itu, Kak Ren jelas terkejut. Selama ini ia hanya menganggap Vilo sebagai teman biasa seperti yang lainnya. Ia tak menyangka kalau Vilo ternyata sudah memendam rasa kepadanya.
"Maaf," ucap Kak Ren tulus. "Aku tidak bisa menerima perasaan kamu. Kamu tau sendiri aku sudah punya Anggika."
"Aku tidak peduli," Vilo menatap laki-laki itu dengan tatapan tajam. "Aku akan memilikimu Ren."
"Apa maksud kamu? Vi, selama ini aku menganggap kamu sebagai sahabatku. Aku tidak pernah menganggap kamu lebih dari itu. Sudahlah Vi, masih banyak laki-laki di luar sana. Laki-laki yang jauh lebih baik dari aku."
"Tidak ada," Vilo menggelengkan kepalanya. "Tidak ada yang lebih baik dari kamu."
Tanpa meminta persetujuan Kak Ren, Vilo mendadak memeluk laki-laki itu dengan erat.
"Vilo! Lo gila ya! Lepasin!"
__ADS_1
"Kalau kamu masih nggak mau menerima aku, ayo kita mati bersama!"
"Vilo! Lepasin Gue!"
Dengan sekuat tenaga, Kak Ren mendorong Vilo dari pelukannya. Gadis itu langsung tersungkur karena perbedaan kekuatan mereka yang cukup jauh.
"Vi, sorry banget, Gue nggak bermaksud dorong Lo sama sekali. Kalau Lo nggak meluk Gue dari awal, Gue nggak bakal ngelakuin ini." Kak Ren merasa menyesal saat melihat Vilo yang jatuh kesakitan. "Ayo, gue bantu berdiri. Gue harap, setelah ini kita akan jadi teman seperti sebelumnya. Ayo kita lupakan kejadian hari ini."
"Lupakan?" Vilo menepis uluran tangan Kak Ren dengan kesal. "Kalau gitu, Lo aja yang mati!"
Dengan cepat, dan tanpa sempat Kak Ren mempersiapkan diri, Vilo sudah mendorong tubuh laki-laki itu. Jelas saja Kak Ren langsung kehilangan keseimbangan, dan tubuhnya jatuh begitu saja ke dalam jurang yang curam. Melihat Kak Ren terjatuh, bukannya langsung berteriak minta tolong, Vilo malah merasa ketakutan dan memilih kabur. Ia memutuskan untuk turun gunung terlebih dulu dan bersembunyi di rumah temannya yang berada di daerah sana.
"Astaga," Gian menghela napas panjang setelah mendengar cerita Kak Ren. "Gue nggak nyangka kalau Vilo bakalan ngelakuin hal seekstrem itu."
Anggika menganggukkan kepalanya. "Kalau gitu semuanya jadi masuk akal. Alasan kenapa Vilo judes banget sama kita ya karena dia ngincer Kak Ren." Anggika lalu mengalihkan pandangannya pada sang pacar.
"Kok bisa dia seobsesi itu sama kamu? Kamu pernah baperin dia?" tuduh Anggika yang langsung membuat Kak Ren panik.
"Astaga sayang, kamu bisa tanya deh sama semua temen-temen aku. Aku sama Vilo itu nggak pernah ada apa-apa. Sumpah! Kalau kamu nggak percaya, aku bisa telepon teman aku satu-satu!"
"Halah! Tapi kamu pasti pernah ngelakuin sesuatu yang istimewa kan buat dia? Makanya dia jadi sebucin itu!"
"Yaampun, sayangku, cintaku, aku nggak pernah begitu!"
Syahla hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar perdebatan dua sejoli di depannya. Gian lalu menepuk kecil pundak Syahla dan memberi isyarat agar mereka keluar saja dan membiarkan pasangan kekasih itu menyelesaikan urusan mereka.
"Kenapa jadi drama begini ya?" ucap Gian saat mereka keluar dari area rumah sakit. "Niatnya mau liburan bareng, eh malah berakhir masuk rumah sakit."
Syahla menghela napas berat. "Orang kalau sudah terlalu bucin memang bahaya."
Gian mengangguk-anggukkan kepala setuju. Diam-diam, ia mencuri-curi pandang ke arah Syahla sambil tersenyum salah tingkah. Entahlah, meski mengetahui kalau gadis itu sudah menikah, tetap saja Gian merasakan ada debaran-debaran aneh di dalam dadanya.
"Kamu pernah merasa bucin banget sama seseorang?" Pertanyaan Gian membuat Syahla menoleh dan pandangan mereka seketika saling bertatapan.
__ADS_1
"Hmm.."
"Istri!" belum sempat Syahla menjawab, suara seorang pria membuat mereka seketika mengalihkan pandangan. Gian mengerutkan kening saat melihat seorang pria yang tidak ia kenal. Lalu, dengan setengah berlari, laki-laki itu berjalan mendekati mereka dan memeluk Syahla dengan erat.