USTADZ GALAK

USTADZ GALAK
73. Naik Gunung


__ADS_3

H-7 sebelum keberangkatan naik gunung, Ren mengajak Syahla dan Anggika untuk berkumpul di kafe demi memastikan persiapan mereka sudah siap. Tentu saja Syahla dan Anggika menurut. Karena dibandingkan peserta yang lain, mereka adalah para pemula yang belum pernah naik gunung sama sekali.


"Di sini!" Syahla dan Anggika dapat melihat Kak Ren melambaikan tangan dari salah satu meja kafe yang berada di tengah ruangan. Mereka berdua langsung berjalan mendekati Kak Ren dan teman-temannya.


"Hai, maaf telat. Dari tadi nungguin Syahla nih, dia dandannya lama banget." ucap Anggika memberi alasan.


"Ih, apaan? Kok jadi salah aku?" Syahla melotot tidak terima.


"Udah, udah, sini duduk dulu. Kenalan dulu sama anggota yang lain," Kak Ren melerai perdebatan mereka berdua.


Syahla dan Anggika lantas menyalami semua orang yang ada di sana. Ada dua orang wanita dan satu orang laki-laki. Sepertinya mereka adalah teman seangkatan Kak Ren.


"Fina," salah seorang wanita memperkenalkan diri.


"Vilo," wanita yang lain mengikuti.


"Kenny," ucap laki-laki yang duduk di sebelah Kak Ren saat Anggika menyalaminya. "Lo pacarnya Ren ya?"


"Iya Kak," Anggika menganggukkan kepala sambil tersenyum malu-malu.


"Cantik. Lo pinter juga nyari cewek," Tukas Kenny sambil menyenggol Kak Ren seolah menggodanya. Kak Ren hanya tersenyum simpul sambil menarikkan kursi untuk Anggika duduk.


"Oke, jadi sekarang mulai?" tanya Fina kepada Kak Ren yang dibalas dengan gelengan ringan.


"Nungguin satu orang lagi," jawab Kak Ren sambil melihat arlojinya. "Katanya dia telat sedikit."


"Siapa?" Anggika penasaran. "Teman kamu juga?"


"Kakak tingkat. Udah alumni sekarang. Tapi dulu kita dekat banget karena satu organisasi,"


"Oh.." Anggika menganggukkan kepalanya.


"Nah, itu dia. Sini kak!" Kak Ren melambaikan tangan ke arah pintu masuk. Hal itu jelas membuat semua orang di meja itu mengalihkan pandangan ke arah pintu masuk kafe.

__ADS_1


Baik Syahla maupun Anggika terbelalak saat melihat siapa orang yang ditunggu mereka.


"Gian?" Anggika bertanya memastikan. Sama halnya dengan reaksi kedua gadis itu, Gian juga turut mengerutkan kening heran.


"Loh kalian? Mau ikut naik gunung juga?"


"Kalian kenal?" Kak Ren tak kalah bingung. "Kok bisa kenal?"


"Lah, Gian ini kan tinggal satu lantai sama apartemen kita," Anggika yang menjawab.


"Oh ya?" Kak Ren kini gantian membelalakkan mata. "Wah, gila sih. Udah kaya takdir banget. Jadi gue nggak perlu kenalin kalian lagi ya sama Kak Gian."


"Udah berapa kali Gue bilang untuk hilangkan kata 'Kak' waktu manggil Gue Ren," Gian menarik kursi kosong di sebelah Syahla dan duduk di atasnya. "Udah sampai mana rapatnya?"


"Belum mulai. Kita kan nunggu kamu Gian," Vilo yang menjawab.


"Serius? Yaampun, gue nggak enak banget. Yaudah, yuk mulai,"


"Oke," Kak Ren memukul pelan meja kafe untuk mendapatkan atensi semua orang. Setelah semua orang melihat ke arahnya, Kak Ren mulai memberikan arahan tentang rencana naik gunung mereka.


Hari yang ditunggu tiba.


Karena mereka menyesuaikan keinginan Syahla untuk tidak menginap di gunung, mereka mulai mendaki saat pagi hari supaya bisa langsung kembali sore harinya. Perjalanan mereka untuk sampai ke puncak sekitar dua jam. Namun, baru tiga puluh menit perjalanan, Syahla dan Anggika yang memang jarang berolahraga sudah mengeluh beberapa kali.


"Ya ampun, kapan sih nyampenya?" Keluh Anggika sembari membenarkan posisi tas ransel di punggungnya. Di belakangnya ada Kak Ren yang memang sengaja berjalan paling belakang untuk mengawasi. Sementara di depannya ada Anggika, lalu Gian, Syahla, Fina, Vilo dan Kenny.


"Ayo semangat sayang, nanti rasa capek kamu akan terbayar setelah sampai ke puncak dan lihat pemandangan indah!" Kak Ren mencoba menyemangati sang pacar.


"Bodo amat lah sayang, ini kakiku udah capek banget!" Anggika bersusah payah melangkah dengan nafas ngos-ngosan. "Bisa istirahat bentar nggak sih?"


Kak Ren melihat kembali arlojinya dan menghela napas panjang. "Yaudah, kita istirahat bentar. Tapi jangan lama-lama. Lima menit saja. Guys, istirahat bentar ya!" teriak Kak Ren pada anggota di depannya.


"Seriously? Ini bahkan baru tiga puluh menit Ren," Vilo menyuarakan protesnya.

__ADS_1


"Kasihan, cewek gue capek." jawab Kak Ren yang membuat Vilo melipat kedua tangannya kesal. Kenny yang berada di depan berbalik ke arah mereka dan menepuk pundak Vilo.


"Santai Vi, kita kan nggak ngejar sunset juga."


"Halah. Kalian berdua sama aja, lemah kalau sama cewek cakep!" Ketus Vilo sambil meninggalkan mereka begitu saja. Kak Ren dan Kenny berpandangan sejenak, kemudian saling mengangkat bahu.


"Kamu nggak papa La? Capek?" Gian menyodorkan sebotol air mineral pada Syahla yang sudah duduk dengan menyelonjorkan kaki. Syahla menerima botol minum itu tanpa berkata apa-apa dan menenggak isinya sampai tandas.


"Capek banget kayanya," Gian terkekeh. "Jangan kebanyakan minum. Nanti susah kalau di jalan kebelet pipis."


"Oh, iya ya," Syahla langsung mengurungkan niatnya yang hendak membuka botol kedua.


"Mending kamu lihat pemandangan di sini," Gian menunjuk pepohonan yang tinggi di sekitar mereka. "Hirup napas dalam-dalam, dan rasakan udara murni dari bumi kita. Beda banget sama kondisi udara di Jakarta kan?"


Syahla menuruti saran Gian. Ia menghirup napas dalam-dalam, memasukkan oksigen banyak-banyak ke dalam paru-parunya. Lalu dihembuskannya perlahan. Udara yang murni tanpa polusi benar-benar suatu anugerah yang tidak terkira. Rasa capek yang sejak tadi ia keluhkan terasa langsung terangkat.


Sementara itu, Anggika tampak menyandarkan kepalanya dengan manja pada bahu Kak Ren. Dengan sabar, Kak Ren memijit kaki Anggika yang terasa sakit. Sesekali Kak Ren mengusap dan mencium kening pacarnya itu dengan mesra. Tanpa disadari kegiatan mereka berdua memancing kekesalan seorang wanita yang sedang memperhatikan mereka.


"Nggak usah dilihatin terus kali," Fina menyenggol Vilo yang masih kelihatan kesal. "Malah makin dongkol kan?"


"Apaan sih?" sahut Vilo galak. "Gue nggak ngeliat apa-apa kok."


"Oh ya? Tapi kok kayanya Gue liat-liat mata Lo hampir copot ya dari tadi ngeliatin mereka terus?"


"Rese Lo," Vilo melemparkan pandangan tidak suka, lalu segera saja ia berjalan meninggalkan Fina dan berdiri di depan Anggika dan Kak Ren. "Woy! Udah lima menit nih, ayo jalan! Kalau lelet begini kapan nyampenya coba?"


Mata Anggika yang semula terpejam langsung terbuka. Sebenarnya ia masih merasa belum puas dengan istirahat yang sangat singkat itu, tapi ia merasa tidak enak hati karena membuat perjalanan mereka jadi terhambat.


"Yaudah yuk," Anggika bangkit dari duduknya. Kak Ren membantunya untuk berdiri.


"Serius nih? Kamu udah baik-baik aja?" tanya Kak Ren cemas.


"Iya," angguk Anggika. "Yuk ah, ntar malah jadinya nginep di sini. La, Lo oke kan?" Anggika mengalihkan pandangannya pada Syahla yang sudah bersiap-siap berdiri.

__ADS_1


"Iya," Syahla menganggukkan kepalanya. "Yuk,"


"Oke," Kak Ren berkata kepada semua orang. "Kita lanjutkan perjalanan kita."


__ADS_2