USTADZ GALAK

USTADZ GALAK
71. Aku Sudah Menikah


__ADS_3

Syahla duduk termenung di dalam kamarnya dalam waktu yang lama. Air matanya serasa sudah terkuras habis karena menangis terus menerus. Ia merasa sakit hati dengan ucapan Anggika kepadanya.


Meski begitu, perlahan pikiran Syahla sedikit terbuka. Omongan Anggika membuatnya mau tidak mau mulai memikirkan kesalahannya.


Setelah ia pikir-pikir, sepertinya perkataan Anggika ada benarnya juga. Dulu, masalahnya dengan Kak Rama dan Kak Anne juga berawal dari Kak Rama yang mulai tertarik kepadanya. Sebenarnya Syahla sendiri merasa tidak pernah melakukan tindakan yang dapat memicu hal tersebut, tapi memangnya dia bisa mengatur perasaan orang lain? Bahkan masalah perasaan itu sampai membuat dirinya dan suami terkena fitnah besar.


"Sepertinya memang salahku," Syahla menundukkan kepalanya. "Apa tanpa sadar aku sudah mempermainkan perasaan orang?" Ia kemudian membuka handphone dan kembali melihat foto yang dikirimkan Dasha kepadanya.


"Melihat mereka foto bareng saja aku sudah kepanasan, apalagi kalau Mas Amar tau aku masuk apartemen berduaan saja dengan Gian? Kalau Mas Amar yang melakukan itu, aku pasti marah besar." Syahla menggigit bibir, ia kemudian menghapus air matanya dan mengepalkan tangannya kuat-kuat.


"Aku harus selesaikan secepatnya supaya nggak ada yang salah paham." ucapnya sembari keluar dari kamar dengan tergesa-gesa.


Syahla melangkahkan kaki menuju kamar Anggika yang tertutup rapat. Meski masih merasa sakit hati dengan ucapan sang sahabat, ia memberanikan diri untuk mengetuk pintu itu. Sebenarnya, dia juga sangat berterimakasih pada Anggika karena sudah berani mengatakan kesalahannya secara langsung.


Syahla mengetuk pintu dua kali. Anggika keluar dari kamar dengan raut muka heran. "Kenapa? Masih mau marah?"


Syahla menggelengkan kepala kuat-kuat. "Aku mau minta tolong sama kamu."


Anggika mengernyitkan dahi. "Untuk?"


"Temani aku besok buat traktir Gian ke restoran. Jangan dijawab dulu, biar aku jelasin," Syahla buru-buru menjelaskan saat melihat Anggika sudah bersiap membuka mulutnya untuk memprotes.


"Aku terlanjur buat janji sama Gian untuk traktir dia sebagai ucapan terimakasih karena sudah meriksa Marla. Aku nggak mungkin melupakan janji itu begitu saja. Tapi, seperti kata kamu, aku nggak mau membuat kesalahpahaman yang serupa seperti Kak Rama dulu. Jadi, aku mau minta kamu buat temani kami supaya tidak berdua saja."


"Oke," Anggika menganggukkan kepalanya. "Dengan syarat Lo harus ngaku di depan dia kalau Lo udah nikah."


"Itu memang sudah rencana aku kok," Syahla menggigit bibir. "Aku akan bicara soal ini sama dia besok."


Anggika menghela napas panjang mendengar penuturan Syahla. Tanpa disangka-sangka, gadis itu malah memeluk Syahla dengan erat.

__ADS_1


"Maafin gue ya," bisik Anggika. "Omongan Gue emang udah keterlaluan banget sama Lo. Tapi Lo harus tau kalau yang Gue lakuin itu demi kebaikan Lo."


"Aku ngerti kok," Syahla menepuk-nepuk punggung Anggika. "Aku malah bersyukur karena dipertemukan dengan sahabat sebaik kamu. Jarang loh ada orang yang mau langsung menegur sahabatnya ketika ada salah."


Anggika menguraikan pelukan mereka dan menatap Syahla sambil tersenyum. "Gue bener-bener berharap hubungan Lo sama Pak Amar baik-baik aja. Karena Gue tau kalian berdua itu sangat saling mencintai. Gue nggak mau ada satu orangpun yang akan menghancurkan kehidupan rumah tangga kalian berdua."


Syahla tersenyum. "Aku akan berusaha untuk menjaganya Nggi,"


"Bagus, ini baru Syahla, sahabat Gue yang paling keren."


Syahla tertawa. "Kamu sahabat terbaikku Nggi."


...----------------...


"Sorry, udah nunggu lama ya?" Gian menghampiri Syahla dan Anggika yang sudah duduk duluan di meja restoran. Meskipun datang dengan terburu-buru, kemeja Gian terlihat sangat rapi. Rambutnya juga seperti baru dicukur dan diberi minyak rambut. Para wanita yang berada di dalam restoran itu pun sesekali melirik ke arah Gian.


"Belum kok," Syahla tersenyum ramah. "Kita baru aja mau pesen. Kamu mau pesen apa?"


"Loh, kamu lupa? Kan aku udah janji sama kamu buat traktir makan sebagai ucapan terimakasih karena udah meriksa Marla," Syahla mengerutkan keningnya.


"Astaga, kenapa sampai traktir segala sih? Meriksa doang nggak bikin aku rugi kok," Gian menepuk dahinya sendiri.


"Biarin aja kali Yan, toh Syahla memang nggak suka berhutang budi sama orang lain." Anggika menjawab sambil tersenyum. "Lo baru pulang dari klinik nih?"


"Iya," Angguk Gian. "Kebetulan tadi banyak banget pasien yang datang. Jadi sorry banget nih jadi sedikit telat."


"It's okay. Tapi, baju sama rambut Lo masih kelihatan rapi deh? Lo orangnya memang menjaga kerapian banget ya?"


Gian hanya mampu tersenyum canggung mendengar pertanyaan Anggika. Yah, tentu saja dia tidak mau ketahuan kalau dirinya memang sengaja pulang dulu ke apartemen untuk berganti baju setelah mendapatkan undangan makan dari Syahla. Mana mungkin dia menemui orang yang dia sukai dengan baju penuh keringat kan? Untungnya kemarin dia sempat cukur rambut, jadi kali ini ia hanya tinggal mengoleskan sedikit minyak rambut untuk merapikan penampilannya.

__ADS_1


"Ups," Syahla tak sengaja menjatuhkan tasnya, membuat barang-barangnya berhamburan keluar dan berserakan di lantai restoran. Segera saja gadis itu berjongkok untuk memungut barang bawaannya yang jatuh, dan Gian berinisiatif membantu gadis itu.


Gian tersenyum sumringah kala jemari mereka hampir bersentuhan. Tapi, ia tercekat sejenak saat menyadari jari manis Syahla terpasang sebuah cincin emas.


"Makasih," ucap Syahla saat barang-barangnya sudah berhasil diambil semuanya. Gian hanya tersenyum kecil sambil terus menatap jari manis Syahla yang dilingkari cincin.


"Cantik kan?" celetuk Anggika yang membuat Gian seketika tergagap dan langsung mengalihkan pandangan pada Anggika. Anggika menunjuk cincin yang dipakai Syahla dengan telunjuknya. "Cincinnya loh,"


"Oh," Gian meringis. "Itu cincin apa ya?"


"Oh, ini cincin pernikahan aku. Bagus kan?"


Pernyataan Syahla jelas membuat Gian seolah tersambar petir di siang bolong. "Per..ni..ka..han?"


"Iya!" Syahla menganggukkan kepalanya. "Aku belum bilang ya? Aku sudah menikah Gian,"


Gian membelalakkan matanya. "Aku nggak pernah denger kalau kamu sudah menikah. Terus, suami kamu sekarang dimana?"


"Masih di Amrik, kuliah S3, di Harvard University." Anggika sengaja memperjelas kalimat terakhir dengan nada pamer. "Keren kan?"


"Ah, pantes.." Gian menganggukkan kepala. "Tapi kamu masih kelihatan muda banget untuk orang yang sudah menikah,"


"Jarak umur kami berdua memang cukup jauh," Jelas Syahla. "Tapi kami bahagia sekali karena bisa bersama."


Gian manggut-manggut. Ia terdiam sejenak untuk mencerna berita yang baru saja ia dengar, sekaligus menetralkan perasaannya yang remuk redam. Anggika dan Syahla saling pandang sesaat, mereka menebak-nebak bagaimana reaksi Gian kali ini. Akankah sama seperti Kak Rama dulu?


"Tapi.. Kita masih berteman kan?" Gian menghela napas panjang. "Meskipun agak mengecewakan, tapi aku turut senang. Semoga saja pernikahan kalian selalu dipenuhi kebahagiaan selama-lamanya,"


"Amin.." Syahla dan Anggika mengaminkan perkataan Gian secara berbarengan.

__ADS_1


"Terimakasih atas doanya ya Gian," Syahla tersenyum lebar. Gian membalas senyuman itu dengan sedikit terpaksa. Ah, mulai sekarang, dia tidak bisa lagi mengharapkan senyum itu hanya tertuju untuknya seorang.


__ADS_2