
Gian menutup pintu apartemennya sambil mengatur napasnya yang terengah-engah. Dia mengutuk dirinya sendiri. Kenapa coba tadi dirinya bersikap impulsif dengan datang ke apartemen Syahla jam satu malam? Dan alasannya, mengembalikan jaket? Konyol. Sejujurnya, Gian merasa tidak rela jika Syahla berada di dalam ruangan yang sama dengan laki-laki lain, meskipun itu adalah suami Syahla sendiri.
"Aku kenapa sih?" Gian menyandarkan dahinya pada tembok apartemen. "Kenapa aku begitu?"
Gian menggeleng-gelengkan kepala cepat. Tiba-tiba sebuah sentuhan lembut menyentuh kakinya. Gian terlonjak, tapi ia tersenyum setelah melihat kedua kucingnya berada di sana.
"Halo anak-anak, kalian lapar ya? Maaf ya, Papa lagi kalut banget, makanya jadi lupa. Kita makan dulu yuk?"
Gian lantas menggendong dua anak bulu itu dan pergi ke tempat mangkok makanan mereka berada. Dia berharap kehadiran dua kucing kesayangannya itu akan menghibur rasa sakit hatinya.
...----------------...
Sementara itu, Syahla dan Ustadz Amar tidur dengan saling berpelukan. Meskipun hawa udara malam hari di Jakarta sama panasnya dengan siang, tetap saja tidak membuat pelukan mereka mengendur satu sama lain. Syahla malah makin menyusupkan kepalanya pada dada bidang sang suami, sementara Ustadz Amar membiarkan lengan tangannya menjadi bantal.
Pukul setengah lima pagi, pasangan pasutri itu bangun dengan bahagia. Ustadz Amar yang sudah bangun terlebih dulu memandangi wajah sang istri sambil tersenyum. Ia mengecup wajah istrinya berkali-kali untuk membangunkan wanita kesayangannya itu.
"Ehm.." Syahla menggeliat. Kelopak matanya terbuka, dan pemandangan pertama yang ia lihat adalah wajah Ustadz Amar yang menatapnya sambil tersenyum. Syahla spontan menutup wajah dengan telapak tangannya.
"Ah, kenapa ditutup?" Ustadz Amar berseru kecewa. Ia kemudian meraih tangan sang istri dan mencoba menurunkan telapak tangan Syahla. "Saya kan mau lihat wajah kamu yang baru bangun tidur,"
__ADS_1
"Saya jelek!" Syahla masih berusaha mempertahankan kedua tangannya. "Saya pasti ngiler ya?"
Ustadz Amar terkekeh. "Iya, ngorok lagi,"
"Serius?" Syahla shock. "Gimana dong? Mas pasti udah nggak suka lagi sama saya. Aduh, nggak bisa begini, saya harus cepat-cepat cuci muka!"
Syahla bergegas bangkit dari kasur dan mencoba kabur, tapi Ustadz Amar sudah terlebih dulu melingkarkan tangan besarnya pada pinggang sang istri. Lalu dengan manja, Ustadz Amar menyandarkan dagunya pada bahu Syahla.
"Jangan pergi dulu. Saya mau seperti ini sebentar. Saya mau memastikan kalau ini semua bukan mimpi."
Syahla terdiam mendengar perkataan sang suami. Ia lalu tersenyum dan mengelus kepala Ustadz Amar dengan lembut. "Saya juga merasa kalau sekarang sedang bermimpi."
Ustadz Amar mengangkat dagunya, kemudian ia menarik tubuh sang istri sampai terbanting di atas kasur. "Mau saya buktikan kalau ini nyata?"
Ustadz Amar terkekeh. "Habis sholat berarti boleh, ya?"
...----------------...
Menjelang siang, Syahla dan Ustadz Amar pergi ke klinik hewan tempat Gian praktik. Karena klinik hewan itu berada di tempat yang strategis, tak ayal jika keadaannya selalu ramai. Sebenarnya Syahla bisa saja pergi ke sana lebih pagi, mengingat lokasi klinik yang tidak terlalu jauh dari apartemen. Tapi, karena ulah sang suami yang menahannya untuk tetap berada di kasur, alhasil mereka baru bisa pergi setelah pukul sebelas siang.
__ADS_1
Syahla melirik kesal ke arah Ustadz Amar. Gara-gara suaminya itu, dirinya saat ini harus mengantre untuk mengatur janji temu dengan Gian. Untunglah Marla tidak terlalu rewel. Kucing putih itu tertidur pulas dalam gendongan sang suami.
"Tau aja si Marla kalau lagi sama bapaknya," Syahla mengerucutkan bibir. "Biasanya kalau sama saya, baru mau masuk klinik aja udah ngereog."
"Kalau itu tergantung amal perbuatan sih," ledek Ustadz Amar. "Marla kan sayang sama Papa, iya kan nak?"
Syahla mencibir. Dasar kucing gendut, padahal selama ini yang ngasih makan kan aku!
Setelah menunggu selama setengah jam, Marla akhirnya dipanggil masuk ke ruangan. Gian tersenyum sumringah menyambut kedatangan Syahla, tapi senyumnya jadi memudar saat ia melihat Marla masuk bersama Ustadz Amar.
"Kenapa wajah dokter masam begitu?" Ustadz Amar duduk dengan santai di kursi yang sudah disediakan. "Kecewa karena bukan istri saya yang datang?"
Gian berusaha tersenyum setulus mungkin, walaupun sebenarnya dia enggan sekali. "Mana mungkin saya begitu? Halo Marla, sudah lama ya kamu nggak kesini? Masih ingat Papa?"
"Papa?" Kening Ustadz Amar berkerut. "Kenapa dokter yang jadi papanya Marla? Marla kan punya saya."
"Oh iya," Gian menepuk jidatnya sendiri. "Suka kebiasaan soalnya,"
Ustadz Amar memutar bola matanya kesal. Selanjutnya, Gian memeriksa Marla dan memberikan beberapa suntikan kepada kucing itu. Marla mengeong karena kesakitan.
__ADS_1
"Aduh, sakit ya? Tahan dulu ya nak, ini untuk kesehatan kamu. Sini, Papa eh dokter kasih snack kesukaan kamu ya.." Gian menggendong Marla dengan terampil dan menyuapkan sebungkus snack kucing kepada Marla.
Ustadz Amar melihat pemandangan di depannya dengan menahan kesal. Sok sekali dia, padahal kan aku bapaknya Marla!