USTADZ GALAK

USTADZ GALAK
39. Kak Rama Menyerah


__ADS_3

Kak Rama hanya bisa membulatkan mulutnya sembari menunjuk mereka berdua dengan tatapan tidak percaya. "Dek Lala, Lu lagi bercanda kan?"


"Saya nggak ada waktu buat bercanda sama kamu," Ustadz Amar kemudian beranjak dari duduknya dengan masih menggenggam tangan Syahla. "Sekarang kamu sudah tahu, jadi jangan dekati istri saya lagi."


Ustadz Amar kemudian menarik Syahla keluar dari ruangan itu, meninggalkan Kak Rama yang masih ternganga di atas ranjang pasien.


Di dalam mobil, Ustadz Amar masih menggenggam tangan istrinya dengan erat. Napasnya terdengar naik turun, sepertinya dia berusaha keras menahan emosi.


"Om Suami," panggil Syahla lembut. "Jangan marah-marah lagi ya?"


Ustadz Amar tersenyum sekilas. "Saya nggak marah. Cuma, laki-laki seperti itu nggak akan paham kalau kita tidak bicara tegas,"


"Iya," Syahla menganggukkan kepala. "Maafkan saya karena tidak tegas padanya selama ini,"


"Kalau itu benar," Ustadz Amar bersungut-sungut. "Kamu terlalu menganggap semua laki-laki baik, makanya dia jadi ngelunjak begitu. Nanti kalau ada yang mendekati kamu lagi, cepat-cepat ngomong ke saya,"


"Iya, iya.." Syahla mendekati suaminya dan mencium pipinya lembut. "Maaf ya.."


Ustadz Amar tertegun ketika bibir lembut itu menyapa pipinya. Ia kemudian menyentuh pipi bekas ciuman Syahla dengan wajah bengong.


"Kalau cuma satu, nanti yang lain iri," Ustadz Amar menunjuk pipi sebelahnya lagi. "Nanti yang sebelah sini nangis,"


"Dih!" Syahla tergelak. "Mana ada pipi nangis?"


"Kamu nggak tau kalau perasaan mereka itu sangat sensitif. Saya bisa merasakannya, makanya sekarang saya sedih,"


Syahla tertawa terbahak-bahak. "Alasan!"


Meski berkata demikian, Syahla akhirnya menuruti permintaan suaminya. Ia kemudian mendekatkan bibirnya untuk mengecup pipi sebelah kanan sang suami, tapi ia tidak tahu kalau Ustadz Amar ternyata punya rencana lain.


Saat bibir Syahla mendekat, Ustadz Amar dengan cepat menghadang dengan bibirnya sendiri. Pada akhirnya, bibir mereka berdua bersentuhan.


"Ups, ternyata bibir saya jauh lebih iri," Ustadz Amar menyengir kuda.

__ADS_1


"Dasar!" Syahla mengerutkan bibirnya. "Cari-cari kesempatan aja!"


"Nggak papa dong, kan halal," Ustadz Amar kemudian mendekatkan wajahnya kembali. "Lagi, yuk?"


"Apa? apa?" Syahla memukuli dada bidang sang suami. "Jangan di sini, ramai orang! Ayo pulang saja!"


"Siap, istri!" Ustadz Amar sontak langsung menghidupkan mesin mobil dan menancap gas dalam-dalam. Berusaha sampai ke rumah mereka secepat mungkin.


...----------------...


Satu minggu sejak kejadian itu, Syahla kembali menikmati masa kuliahnya seperti biasa. UAS sudah di depan mata, dan ia disibukan dengan berbagai tugas yang harus diselesaikan secepatnya.


"Duh, pusing," Anggika menjatuhkan dahinya ke atas meja. Mereka saat ini sedang belajar sekaligus menikmati minuman di dalam kafe. "Kenapa sih harus ada ujian di dunia ini?"


"Ini baru semester satu loh," Syahla terkekeh. "Gimana kalau sudah mulai skripsi?"


"Nggak tahu, jangan tanya," Anggika menghembuskan napas berat. "Kayanya Gue salah jurusan deh. Apa Gue pindah ke pendidikan aja, ya?"


"Heh!" Syahla mengibaskan tangan di depan Anggika. "Berusaha dulu, jangan menyerah gitu!"


"Eh, itu kan?"


Syahla mengikuti arah pandang Anggika dengan penasaran. Seorang mahasiswa tampak memasuki kafe. Di wajahnya masih ada beberapa bekas lebam yang memudar, tapi sepertinya sudah membaik karena lelaki itu sudah bisa tertawa bersama beberapa temannya.


"Dih, masih bisa-bisanya dia ketawa? Apa nggak malu setelah ngehamilin anak orang?" Seperti biasa, Anggika selalu tidak senang dengan kehadiran Kak Rama. "Nggak tahu malu banget,"


"Hush, jangan ikut-ikutan kemakan hoax deh," Syahla mengingatkan. "Kan belum jelas beritanya bener apa nggak,"


"Yeee, nggak perlu dijelasin juga udah kelihatan kok,"


Syahla menghela napas. Memang, sejak Kak Anne datang ke kampus untuk melabrak Kak Rama, banyak desas-desus yang beredar. Katanya Kak Rama memang benar-benar ayah biologis dari anak yang dikandung Kak Anne, tapi tidak mau mengakui. Hanya saja, rumor itu tidak setenar dengan gosip kalau Kak Anne selama ini sudah menjadi wanita simpanan para om-om, alias bahasa kasarnya ayam kampus.


"Kenapa sih?" Syahla mengerutkan dahi melihat ekspresi Anggika yang seperti memberi kode padanya. Karena tidak paham, Syahla akhirnya menoleh ke belakang, dan Kak Rama sudah berdiri di sana.

__ADS_1


"Eh, Kak," Syahla menyapa dengan canggung. Sejak kejadian seminggu yang lalu, Ustadz Amar memang melarangnya untuk dekat-dekat dengan Kak Rama dengan alasan apapun. Dia bahkan menghapus nomor lelaki itu dan memutuskan untuk mengabaikan pesan darinya.


"Hai," Kak Rama membalas sapaan Syahla dengan senyum tipis. "Makasih ya buat waktu itu," Kak Rama menunjuk wajahnya, yang berarti dia merujuk saat Syahla membawanya ke rumah sakit.


"Sama-sama Kak," Syahla menganggukkan kepala. "Oh iya, saya mau ngembaliin boneka yang Kak Rama kirim waktu itu. Besok saya bawakan ya,"


"Eh, nggak usah," Kak Rama menggelengkan kepalanya. "Gue bakalan makin sedih kalau Lu ngelakuin itu. Lu simpen aja, anggap aja kenang-kenangan."


"Kak, tapi saya—"


"Iya, Gue tau. Gue nggak akan ganggu Lu lagi, tenang aja. Tapi, perasaan orang nggak bisa diatur seenaknya kan? Seenggaknya, Gue pengen boneka itu mengingatkan ke Lu kalau Gue ada,"


Teriakan teman-teman Kak Rama menginterupsi percakapan mereka. Kak Rama melambaikan tangan dan berteriak, "Iya bentar!"


Kak Rama kemudian menoleh lagi ke arah Syahla sambil tersenyum. "Gue pergi dulu. Jangan lupain Gue ya, Dek Lala.."


Syahla tidak sempat menjawab karena Kak Rama sudah berlari menyusul teman-temannya. Syahla hanya bisa melihat kepergian Kak Rama sambil menghela napas panjang.


"Wah, ada apaan nih? Jadi sekarang dia udah nyerah?" Anggika bertanya-tanya. Syahla sepenuhnya lupa kalau dia belum menceritakan kejadian minggu lalu pada teman karibnya itu.


"Aku udah ngaku sama Kak Rama kalau aku dan Pak Amar sudah nikah,"


"Hah? Serius?" Ekspresi terkejut Anggika terlihat senang. "Terus respon dia gimana?"


"Ya dia kaget sih. Tapi Pak Amar langsung bilang untuk nggak dekati aku lagi, dan yah, sekarang Kak Rama beneran menyerah."


"Alhamdulillah, eh salah, puji Tuhan.." Anggika mengatupkan kedua tangannya seperti berdoa. "Gue lega banget karena Lo akhirnya lepas dari cowok problamatik itu," Anggika mengacungkan kedua jempolnya.


"Pak Amar beneran top, deh!"


Syahla tertawa melihat reaksi Anggika. Entah kenapa, sepertinya Anggika sangat mendukung hubungannya dengan Ustadz Amar, dan dia bersyukur untuk itu.


"Eh, jadi sekarang kalian sudah siap punya anak dong? Duh, nggak sabar deh pengen gendong ponakan," Anggika memejamkan mata sembari kedua tangannya membayangkan sedang menggendong bayi.

__ADS_1


Syahla terbelalak mendengar pertanyaan frontal Anggika, segera saja ditepisnya tangan gadis itu sambil menahan malu.


"Anggika!"


__ADS_2