
Malam minggu.
Syahla dan Anggika sudah duduk manis di rumah Gian. Mereka sibuk melihat-lihat seisi rumah sementara Gian menyiapkan makanannya.
"Perlu bantuan nggak?" tanya Anggika menawarkan diri. Syahla juga sudah beranjak dari kursi, hendak bangkit membantu Gian, tapi lelaki itu buru-buru mencegah.
"No, no, nggak usah. Kalian di sini kan sebagai tamu. Jadi kalian duduk yang manis aja. Oke?"
Syahla dan Anggika saling berpandangan, mereka merasa tidak enak hati, tapi kemudian memilih kembali mendaratkan pantat mereka di atas kursi.
Setengah jam kemudian, Anggika dan Syahla sudah saling melirik. Makanan di depan mereka sudah siap santap. Bau udang gorengnya juga sudah menggoda hidung Syahla sejak tadi. Masalahnya, kenapa tidak ada orang lain yang datang?
"Eh, memangnya yang diundang ke rumah Lo cuma kita berdua aja ya, Gian?" tanya Anggika mulai tak sabar. Sejujurnya perutnya juga sudah memprotes minta diisi sejak tadi. Dia memang sengaja mengosongkan perut sejak sore demi memenuhi undangan Gian.
"Aku sebenarnya udah undang yang lain loh, tapi kenapa belum dateng ya? Coba aku cek dulu," Gian akhirnya bangkit dari duduknya dan keluar apartemen. Menyisakan Syahla dan Anggika yang terdiam di kursi mereka masing-masing.
"Omong-omong, meskipun yang tinggal di sini cowok, tapi rapi juga ya?" Anggika berbisik pada Syahla. "Lihat tuh, piring-piringnya aja disusun berdasarkan warna dan diurutkan dari besar ke kecil. Wah, kalau kaya gini sih kita udah kalah La,"
Syahla hanya tersenyum tipis dan mengangguk singkat. Pertengkarannya dengan Ustadz Amar membuatnya malas bicara.
"Eh, kenapa Pak Amar nelpon aku?" Anggika mengernyitkan dahi heran. "La, kenapa ya?"
"Nggak usah diangkat," Syahla merebut handphone Anggika dan langsung me-reject panggilan telepon dari Ustadz Amar.
"Loh, loh, kenapa sih? Kenapa Lo matiin? Bisa jadi penting kan? Siniin hape Gue," protes Anggika sambil berusaha merebut ponselnya kembali, tapi Syahla malah meletakkannya di dalam tas.
"Nggak, nggak ada yang penting. Udah, nggak usah diangkat pokoknya."
"Apa sih? Lo lagi marahan sama Pak Amar? Ada apa lagi? Kemarin-kemarin aja Lo marah-marah karena Pak Amar nggak chat Lo sama sekali. Sekarang waktu di telepon, eh malah nggak diangkat. Aneh banget Lo, dasar labil!" Manyun Anggika sembari melipat tangannya kesal. Dia jadi kesal karena handphonenya malah disita oleh Syahla. "Lagian, bisa aja Pak Amar nelpon Gue karena ada urusan sama Gue! Bukan sama Lo aja kali!"
Syahla tidak menanggapi celotehan Anggika dan malah memilih sibuk dengan es buah di gelasnya. Anggika berdecak sebal. Percuma dia bicara panjang lebar tapi tidak didengar.
Untunglah, beberapa saat kemudian Gian muncul dan meredam keheningan di antara dua wanita itu.
"Gimana? Mereka jadi dateng?" tanya Anggika karena melihat Gian kembali sendirian.
"Sayangnya, mereka lagi sibuk semua," Gian menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Saya lupa kalau penghuni apartemen ini semuanya orang kota yang sibuk. Mereka rata-rata sedang ada kerjaan, jadi terpaksa cuma kita bertiga."
"Dengan semua makanan ini?" Anggika terbelalak. "Ini banyak banget loh!"
__ADS_1
"Iya, makanya," Gian menghela napas panjang. "Harus diapain coba?"
"Kita bagi-bagiin aja," Syahla memberi ide. "Kalau penghuni apartemen sibuk, kita bagikan saja sama Pak satpam di bawah, tukang kebun, atau penjual kaki lima yang ada di sekitar gedung. Mereka pasti menerima dengan senang hati," Syahla kemudian menggigit bibir ketika melihat dua orang di depannya hanya menatapnya dengan bengong.
"Eh, saya cuma kasih saran aja kok," Syahla berkata canggung.
"Bagus itu!" Gian mengacungkan jempol. "Karena lama tinggal di kota begini, Gue lupa kalau ada budaya berbagi. Yaudah, kita makan aja dulu, terus kita sisihkan untuk dibagiin ke orang-orang," Gian lantas mengambil beberapa mangkok besar dan mulai memisahkan sayur dan lauk pauk. Anggika menepuk pundak Syahla dengan bangga.
"Gue nggak nyangka punya temen malaikat," Anggika berseloroh.
"Apa sih!" Syahla menggeleng-gelengkan kepala mendengar ucapan Anggika. "Geli tau!"
...----------------...
Usai makan bersama, Gian, Syahla dan Anggika mulai membagi-bagikan makanan yang sudah mereka sisihkan sebelumnya pada orang-orang yang ada di sekitar apartemen. Mulai dari tukang bersih-bersih, Pak satpam, sampai penjual sate yang sering mangkal di depan komplek. Sesuai ucapan Syahla, mereka menerima pemberian Gian dengan senang hati dan malah memberi bonus doa untuk Gian.
"Ya Alloh, terimakasih ya Mas Ganteng. Semoga dilancarkan segala urusannya, dan dipercepat ketemu jodohnya," Ucap pak penjual sate pada Gian.
"Aamiinnn!" Gian menjawab keras-keras. "Tambahin pak doanya. Semoga jodohnya yang ini gitu,"
"Semoga jodohnya yang ini Ya Allah.. Eh, yang mana mas?" Penjual sate melongok penasaran. Gian hanya tersenyum sembari menempelkan telunjuknya pada bibir.
Pak penjual sate mengernyitkan dahi sejenak saat melihat siapa wanita yang dimaksud Gian. "Neng Syahla? Loh, bukannya dia itu sudah—"
"Gian!" Syahla melambaikan tangan ke arah Gian sebagai tanda agar lelaki itu mendekat. Tanpa menunggu pak penjual sate menyelesaikan ucapannya, Gian langsung melesat menghampiri Syahla. Sementara itu, pak penjual sate melihat mereka dengan tatapan heran.
"Bukannya Neng Syahla sudah menikah?"
...----------------...
"Thankyou ya, kalau bukan karena kalian, pasti makanannya kebuang sia-sia," Gian mengantarkan kedua gadis itu sampai di depan pintu apartemen mereka.
"Iya Gian, Sama-sama. Terimakasih juga karena sudah mengundang kami," ucap Syahla sembari tersenyum dengan tulus.
"Oke, kalau gitu selamat istirahat ya. Good night, girls!" Gian melambaikan tangan dan melangkah pergi menuju apartemennya sendiri. Sementara Syahla dan Anggika balas melambaikan tangan sambil tersenyum lebar.
"Jangan sampai aja dia jatuh cinta sama Lo," tukas Anggika setelah Gian menghilang dari pandangan. Syahla menghela napas panjang.
"Ya nggak lah, mana mungkin sih?" Syahla memutuskan untuk mengabaikan ucapan Anggika dan memilih membuka kode pintu apartemennya.
__ADS_1
"Soalnya, matanya tuh keliatan bersinar gitu,"
"Lampu kali ah, bersinar." Syahla membuka pintu dan menatap Anggika kesal. "Mau masuk nggak, nih?"
"Ya mau dong, dih nggak sabaran amat sih," Anggika melangkah masuk terlebih dulu. "Lagian, kalian suami istri tuh ada masalah apa lagi sih? Kenapa? Lo marah karena Pak Amar nggak hadir di ulang tahun lo? Kan Pak Amar udah ngasih effort dengan menghadirkan kedua kakak Lo kesini. Mereka sampai bela-belain pulang pergi di hari yang sama demi Lo. Apa lagi yang bikin Lo marah sih?"
"Bukan ulang tahun masalahnya Nggi," Syahla melangkah gontai dan mendaratkan pantatnya ke atas sofa. "Masalahnya, Mas Amar bawa cewek!"
"Hah? Yang bener? Cewek gimana maksudnya?" Anggika mendekati Syahla dan ikut duduk di atas sofa.
"Jadi, kemarin kan aku nelpon Mas Amar. Aku mau ngabarin kalau Marla udah divaksin, sama aku kan juga kangen sama dia. Tapi kamu tau nggak, masa yang angkat teleponnya malah cewek cantik banget dengan rambut pirang! Gimana aku nggak marah coba?"
Anggika membulatkan mulutnya lebar-lebar. "Serius Lo? Eh, tunggu, tunggu. Konteksnya, mereka cuma berdua doang atau ada yang lain nih? siapa tau mereka bareng karena ada tugas kampus kan?"
Syahla menatap Anggika dengan wajah muram. "Ya, sebenarnya, Mas Amar udah jelasin sih kalau mereka emang lagi kerja kelompok. Dan emang rame banget di sana. Tapi kan, kenapa cewek itu pegang hapenya Mas Amar coba? Apa urgensinya? Terus, kenapa dia kurang ajar banget ngangkat telepon orang lain?" tangan Syahla terkepal saat mengingat-ingat kembali kejadian tempo hari. "Duh, bikin kesel aja!"
"Tapi wajar sih kalau Lo kesel," Anggika mengangguk-anggukkan kepala mengerti. "Tapi, Lo udah denger penjelasan Pak Amar sampai selesai belum? Ya, siapa tau memang ada urgensinya sampai cewek itu pegang hape suami Lo kan?"
"Belum," Syahla menggelengkan kepala pelan. "Udah keburu aku matiin teleponnya,"
"Tuh, kan.." Anggika menepuk dahinya frustasi. "Denger ya La, kunci dari sebuah hubungan itu ya komunikasi. Kalau Lo menghindari komunikasi, Lo tuh cuma akan memperburuk keadaan kalian doang! Sekarang, Lo dengerin Gue. Sekarang juga, ambil hape Lo, dan telpon balik Pak Amar."
"Nggak ah," Syahla menggelengkan kepalanya. "Gengsi lah masa nelpon duluan,"
"Satu.."
Syahla terbelalak mendengar ucapan sahabatnya. "Kenapa Lo ikut-ikutan Mas Amar sih?"
"Dua.."
"Ih, Anggi!"
"Ti—"
"Oke, Oke! Aku ambil handphone sekarang!" Syahla menyerah. Entah kenapa, metode hitungan itu selalu berhasil membuatnya mengalah. Sepertinya Ustadz Amar sengaja menurunkan Ilmu itu kepada Anggika demi menghadapi Syahla.
Anggika menunggu Syahla dengan sabar. Sampai beberapa saat kemudian, jantungnya serasa melompat keluar karena Syahla berteriak dengan kencang dari dalam kamarnya
"KENAPA LA?!" teriak Anggika khawatir.
__ADS_1
"CEWEK ITU DM AKU!"