USTADZ GALAK

USTADZ GALAK
54. Tidak Ada Bukti


__ADS_3

Setelah menerima laporan dari Ustadz Amar, pihak kepolisian langsung menggeledah kamar kos-kosan Kak Rama. Mereka menyita handphone, laptop, maupun alat elektronik lain yang dicurigai menjadi pusat penyimpanan video kamera tersembunyi. Sementara Kak Rama yang masih di rumah sakit berada di dalam pengawasan polisi.


Syahla dan Ustadz Amar setidaknya bisa bernapas sedikit lega, meskipun mereka juga belum tau apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Sayang," Ustadz Amar mendekati istrinya yang sedang berbaring. "Kamu sudah tidur?"


Mata Syahla yang sebelumnya masih terbuka cepat-cepat ia tutup. Meskipun ia mendengar secara langsung kata maaf dan penyesalan dari Ustadz Amar, hatinya masih merasa marah. Ia marah karena suaminya ternyata sempat meragukan kesuciannya. Maka beberapa hari ini ia memutuskan untuk menjaga jarak dari lelaki yang dicintainya itu.


Ustadz Amar akhirnya hanya bisa mengecup kening istrinya perlahan dan tidak berkata apa-apa lagi. Tentu saja ia merasakan dengan jelas perubahan sikap istrinya, tapi ia mewajari hal tersebut karena dirinya memang sudah keterlaluan. Dengan berat hati, ia menghormati kemauan sang istri yang ingin menjauhinya sejenak.


Sementara itu, suasana di kampus tidak kunjung membaik. Meskipun rektor sudah membantah fitnah kalau Syahla adalah simpanan Ustadz Amar dengan mengunggah bukti buku nikah, tetap saja sikap para mahasiswa masih sama. Mereka masih berasumsi bahwa bantahan itu hanya digunakan untuk memperbaiki citra kampus supaya tidak rusak.


Hari ini pun, Ustadz Amar kembali menelan kekecewaan karena tidak ada satupun mahasiswa yang datang ke kelasnya. Bahkan tiga orang yang tersisa waktu itu kali ini juga ikut pindah ke kelas lain. Otomatis hal tersebut membuat Ustadz Amar harus berbalik badan dan tidak jadi mengajar.


Bu Retno mengetahui fenomena itu, yang jelas membuat Ustadz Amar kembali dipanggil ke ruangannya.


"Ini surat izin cuti," ucap Bu Retno tanpa berbasa-basi. "Saya memberikan kebebasan kepada kamu untuk tidak mengajar sementara waktu sampai semuanya membaik."


Ustadz Amar menatap surat perintah yang disodorkan kepadanya. Ia tahu hal ini akan terjadi. Maka ia tidak banyak protes dan hanya mengucapkan terimakasih, lalu melangkah keluar dari ruangan.


Saat hendak melangkah ke arah parkiran, Ustadz Amar terlebih dulu menolehkan kepalanya pada fakultas sastra tempat istrinya belajar. Hari ini pun Syahla masih kuliah seperti biasa. Ustadz Amar benar-benar mengakui betapa kuatnya mental sang istri yang masih bersikap seperti biasa meskipun kehidupan mereka sedang diterjang badai.


Kebetulan, Syahla dan Anggika terlihat sedang berjalan keluar dari pintu masuk fakultas. Entah mereka mau kemana, yang jelas Syahla dan Ustadz Amar sempat bertatapan sejenak. Ustadz Amar tersenyum saat mata mereka bertemu, tetapi Syahla memilih untuk berpaling.


"Ah, aku memang tidak pantas dimaafkan," Ustadz Amar menghela napas panjang.


...----------------...

__ADS_1


"Syahla, kita mau kemana?" Anggika mencoba mengejar Syahla yang melangkah dengan terburu-buru. Sejak pertemuan mereka dengan Ustadz Amar tadi, entah kenapa Anggika merasa Syahla mencoba untuk menghindar.


"Kalian masih belum baikan?" tebak Anggika yang membuat Syahla seketika menghentikan langkahnya.


"La, Gue emang belum pernah menikah, dan Gue nggak tau masalah kalian itu apa. Tapi, menurut Gue, sekarang bukan waktu yang tepat untuk kalian berantem, karena ada masalah yang jauh lebih besar di depan mata!"


Syahla menundukkan kepalanya. "Aku tau nggi. Tapi, aku kecewa padanya. Aku kecewa karena Mas Amar nggak mempercayaiku. Aku pernah bilang padamu kan, apapun yang terjadi aku akan baik-baik saja selama orang-orang yang dekat denganku percaya padaku. Tapi, kalau suamiku sendiri yang sudah tidak percaya, aku harus bagaimana?"


Anggika menghela napas panjang. "Memangnya, suami Lo nggak percaya soal apa La?"


Syahla berusaha keras menahan air matanya sebelum menjawab. "Waktu itu, Kak Rama bilang pada Mas Amar kalau aku pernah tidur dengan dia."


"Hah?" Anggika membelalakkan matanya. "Wah, gila sih. Rama itu benar-benar definisi setan! Udah nggak pantas disebut manusia! Jadi, yang di kantor polisi dia cuekin kamu karena itu?"


Syahla menganggukkan kepalanya. "Sebenarnya dia udah minta maaf Nggi. Tapi, aku masih marah sekali padanya. Tega sekali dia meragukan aku seperti itu,"


Syahla menganggukkan kepalanya. Anggika mengusap-usap punggung Syahla dengan lembut.


"Kado apa ya yang menunggu kalian sampai diberi cobaan seberat ini?"


...----------------...


Ketika sedang dalam perjalanan pulang menuju apartemen, Ustadz Rama mendapatkan telepon dari kepolisian. Maka, ia segera membanting setir dan menuju kantor polisi.


"Maaf Pak, tapi kami tidak bisa menemukan bukti apa-apa dari barang-barang yang kami sita." Jelas Pak Polisi.


"Mustahil!" Ustadz Amar menggebrak meja. "Pak, sudah jelas-jelas boneka itu dikirim sama Rama!"

__ADS_1


"Iya, kalau itu benar. Kami sudah meminta informasi dari perusahaan ekspedisi, dan memang benar Rama lah yang mengirim boneka itu. Tapi ya hanya itu, tidak ada bukti kalau dia lah yang memasang kamera, maupun yang menyebarkan video kalian."


Ustadz Amar menyugar rambutnya ke belakang dengan frustasi. "Terus, sekarang bagaimana Pak?"


"Yah terpaksa, kami akan membebaskan terduga sampai mendapatkan bukti yang valid."


Ustadz Amar langsung terduduk lemas di atas kursi. Astaga, ternyata ini tidak mudah. Ia yakin Rama yang melakukannya, karena dia sudah mengakui perbuatannya secara langsung saat di kos-kosan waktu itu. Tapi, kenapa tidak ada bukti apapun? Terpaksa, Ustadz Amar keluar dari kantor polisi dengan tangan kosong.


Keluar dari kantor polisi, Ustadz Amar termenung di dalam mobilnya. Ia sibuk berpikir. Bagian mana yang salah? Adakah hal yang sempat ia lewatkan? Karena tidak kunjung menemukannya, Ustadz Amar segera tancap gas menuju rumah sakit.


Ustadz Amar segera melangkahkan kaki menuju kamar tempat Kak Rama dirawat. Ia butuh penjelasan. Atau kalau perlu, ia akan melakukan kekerasan meski harus menambah biaya perawatan laki-laki itu. Tapi tidak masalah. Dia harus memastikan Rama dijebloskan ke penjara sesuai hukum yang berlaku.


Kosong. Ustadz Amar mengernyitkan dahi. Ia mengetuk pintu kamar mandi, siapa tahu ada lelaki itu di dalam. Tapi tak ada jawaban, maka terpaksa ia membukanya tanpa bertanya, dan ternyata ruangan itu kosong.


Ustadz Amar merasa ada yang tidak beres. Ia segera berlari ke resepsionis rumah sakit.


"Sus!" tanyanya pada seorang suster yang berjaga. "Pasien di kamar VIP Melati atas nama Rama ada dimana ya?"


Suster itu tampak memeriksa komputernya sejenak. "Oh, dia sudah pulang Pak. Kami baru saja memulangkannya hari ini."


Ustadz Amar mengepalkan tangannya. Setelah mengucapkan terimakasih, ia lantas berlari ke mobilnya lagi, kali ini pergi ke kos-kosan Rama.


"Loh, Nak Rama sudah pindah. Waktu dia masuk rumah sakit, dia bilang mau keluar dari kos-kosan ini."


Ustadz Amar tercengang mendengar penjelasan Ibu Kos itu. Astaga, lelaki brengsek. Apa lagi yang sedang ia rencanakan sekarang? Ustadz Amar menggertakkan giginya dan spontan menggebrak gerbang kos sampai membuat Ibu Kos itu kaget.


"SIALAN!"

__ADS_1


__ADS_2