
"Hah, serius?" Anggika menghampiri Syahla dengan tergesa-gesa. "Coba Gue liat."
Anggika merebut handphone dari tangan Syahla dan langsung terbelalak takjub setelah melihat foto profil wanita bule itu.
"Gila! Cantik banget!"
Anggika langsung membungkam mulutnya setelah menerima lirikan maut Syahla yang merasa tidak terima dengan reaksi Anggika. "Eh, ya meskipun secantik apapun, jangan ganjen sama suami orang dong!"
Syahla melipat tangannya kesal. Mengingat kembali kejadian tempo hari membuat darahnya terasa mendidih.
"Coba Gue liat ya dia bilang apa, nih Gue bacain:
'Halo Syahla, aku Dasha, teman Amar yang kemarin menerima telpon kamu. Aku minta maaf yang sebesar-besarnya karena membuat kamu salah paham. Sejujurnya, aku cuma bercanda waktu itu. Amar itu sudah seperti kakakku sendiri, jadi kamu jangan khawatir. Lagipula, aku benar-benar mengira kamu adik Amar karena kamu terlihat masih sangat muda. Omong-omong, saat ini aku sedang suka belajar bahasa Indonesia. Kalau tidak keberatan, kamu mau tidak jadi temanku? Aku ingin belajar darimu. Tolong reply kalau sudah dibaca ya,'
Gitu katanya." Anggika mengalihkan pandangannya dari layar ponsel ke pemiliknya. "Mau dibales apa nih?"
"Nggak tau, nggak usah dibales," Syahla masih memberengut kesal. "Enak aja ngatain aku kelihatan masih sangat muda. Aku udah dua puluh tahun, kali!"
Anggika menggigit bibir. Sebenarnya dia tidak masalah dengan perkataan Dasha, soalnya kan, Syahla memang betulan masih muda, dua puluh tahunnya saja baru dua hari yang lalu. Tapi Anggika memilih tetap diam karena takut semakin diamuk oleh Syahla.
"Eh, Pak Amar nih!" Anggika langsung menekan tombol hijau dan mengarahkan layar pada wajah Syahla. Syahla sama sekali belum siap menerima telepon itu, tapi Anggika segera berlari kabur setelah menyerahkan ponsel itu pada yang bersangkutan.
"Alhamdulillah.." Itu adalah kata-kata pertama yang Syahla dengar dari sang suami. "Akhirnya kamu angkat juga sayang,"
Syahla berdehem beberapa kali sebelum menjawab perkataan sang suami. Dia memilih diam sembari menunjukkan wajah bete.
"Saya benar-benar khawatir karena istri nggak bisa dihubungi sama sekali. Oke, saya ngerti istri marah. Dan saya akan jelasin sama istri sejelas-jelasnya," Wajah Ustadz Amar terlihat panik sekaligus lega.
Syahla mengangkat alis. "Apa yang mau Mas jelaskan?"
"Oke, jadi begini," Ustadz Amar terlebih dulu menarik napas. "Saya sama Dasha sama sekali nggak ada hubungan apa-apa. Kami ketemu beberapa kali di kelas yang sama, dan kemarin adalah kali pertama dia datang ke apartemen kami karena kerja kelompok. Waktu itu kebetulan saya sedang mengerjakan tugas di meja ruang tamu saat kamu telepon. Dasha yang posisinya lebih dekat dengan ponsel saya berinisiatif mengangkat telepon dari kamu dan membuat candaan kalau dia adalah pacar saya. Tapi demi Allah sayang, saya sama sekali nggak ada hubungan apa-apa sama dia," Ustadz Amar menjelaskan panjang lebar.
"Tapi, kok dia bisa ngangkat telepon saya gitu aja? Emangnya Mas kasih sandi ponsel Mas ke dia?" Syahla bertanya penuh selidik.
__ADS_1
"Sayang, kamu nggak perlu buka kunci ponsel buat ngangkat telepon dari orang."
"Oh ya?" Syahla mengerutkan keningnya. "Masa sih?"
"Kamu coba aja deh," Ustadz Amar mengangguk yakin. Membuat Syahla seketika merasa malu karena dia sudah salah paham.
"Ya tapi kan, bukan berarti dia bisa pegang hape orang seenaknya!"
"Iya sayang, itu memang salah. Saya sudah marahi dia langsung kemarin. Jadi, kamu jangan marah lagi ya?"
Syahla menatap wajah Ustadz Amar yang terlihat benar-benar tulus meminta maaf. Yah, melihat wajah suaminya itu, mana mungkin Syahla tega? Ia lantas menganggukkan kepalanya lemah.
"Maafin saya juga ya Mas, karena sering marah-marah,"
"Saya ngerti kok. Nggak apa-apa sayang, saya juga pasti akan marah kalau ada di posisi kamu." Ustadz Amar tersenyum lega. "Kamu apa kabar? selama beberapa hari kita nggak berhubungan, kamu baik-baik saja kan?"
Syahla menganggukkan kepala. "Iya Mas. Saya baik kok. Mas gimana?"
"Kalau saya.. Sampai nggak doyan makan karena mikirin kamu,"
"Ya Allah sayang.. Kamu nggak ngerti ya betapa takutnya saya waktu kamu nggak angkat telepon saya? Saya sampai mikir apa kamu kecelakaan sampai handphonenya rusak? Bahkan saya sudah coba nelepon Anggika, tapi nggak diangkat juga sama dia. Gimana saya bisa makan dalam kondisi begitu coba?"
Syahla menundukkan kepalanya. "Maaf, yang Anggika itu memang saya yang minta dia matikan handphone. Soalnya saya masih marah sama Mas,"
"Astaghfirullahalazim," Ustadz Amar mengusap wajahnya. "Lain kali jangan begitu lagi ya sayang. Kalau kamu marah, silahkan marah. Tapi angkat telepon saya. Kita selesaikan masalah kita dengan kepala dingin. Jangan hilang-hilangan begitu. Saya bingung kalau nggak bisa hubungi kamu kaya kemarin."
"Iya.." jawab Syahla lirih. "Makanya Mas jangan suka bikin saya jengkel dong,"
"Hahhaha.." Ustadz Amar terkekeh. "Kamu itu imut kalau lagi ngambek. Tapi kalau sudah marah, waduh.. rasanya presiden aja bisa kalah sama kamu."
Alis Syahla seketika bertaut. "Maksudnya apa Mas?"
"Maksudnya sayangku cantik banget," kilah Ustadz Amar. "Kalau senyum pasti makin cantik. Coba, mana senyumnya?"
__ADS_1
Syahla memalingkan wajahnya untuk menutupi ekspresinya yang salah tingkah. Ia bersikeras menahan bibirnya agar tidak mengembang. Tapi itu sia-sia karena senyumnya langsung tercetak lebar setelah mendengar ucapan Ustadz Amar.
"Nah gitu dong, cantiknya sayangku.. Coba diam dulu ya, mau saya screenshot."
"Apa sih Mas, malu ah!" Syahla menutup wajahnya.
"Loh, loh, jangan ditutupin wajah cantiknya. Saya tuh pengen liat wajah kamu setiap kali buka hape. Biar bikin semangat waktu mau ngampus,"
"Heleh," Syahla kali ini tidak bisa mengontrol senyumnya sama sekali. "Memangnya foto saya yang ada di hape Mas sudah habis?"
"Masih banyak, nggak ada yang saya hapus satu pun. Tapi saya bosen, saya butuh foto terbaru. Makanya, kamu seharusnya peka dan ngirim foto kamu setiap hari."
"Kalau setiap hari, memori hape Mas bisa penuh dong!"
"Nanti saya simpan di sini," Ustadz Amar menunjuk pada dadanya dan membuat gestur hati pada jarinya. Syahla terkekeh.
"Ada-ada aja sih, Mas. Yaudah deh, mulai sekarang saya akan kirim foto saya yang paling cantik,"
"Bener ya? Saya tunggu loh,"
"Siap sayangku,"
Ustadz Amar tersenyum sumringah. Hatinya dipenuhi perasaan lega yang tak berujung. Hal ini tentunya berbanding terbalik dengan keadaannya kemarin yang terasa seperti berada di neraka. Rasa cemas, marah, dan menyesal akhirnya menguap begitu saja setelah melihat senyum cerah sang istri.
Peristiwa kemarin sebenarnya berawal dari Adi, teman serumah Ustadz Amar yang juga orang Indonesia yang berkuliah di Harvard seperti dirinya. Adi adalah tipe laki-laki yang sangat mendambakan punya pacar seorang bule, karena dia memang sudah jomblo sejak lahir. Maka, saat ada kesempatan membuat tugas kelompok bersama cewek-cewek bule, Adi langsung berinisiatif mengajak mereka ke apartemen. Ustadz Amar awalnya tentu menolak, tapi mau bagaimana lagi karena semua orang setuju kecuali dirinya.
Awalnya, tidak ada kejadian apa-apa. Ustadz Amar juga sebisa mungkin menghindari kontak fisik dengan cewek-cewek bule itu. Sampai pada akhirnya, Dasha mengangkat telepon dari Syahla dan mengaku sebagai pacarnya. Tentu saja Ustadz Amar marah karena gadis itu menyentuh ponselnya sembarangan, apalagi sampai membuat istrinya marah besar.
"Keluar kamu dari rumah saya," usir Ustadz Amar pada Dasha setelah Syahla tidak mengangkat teleponnya berkali-kali. "Get out, please!"
"Amar, come on! Saya cuma bercanda! Istri kamu terlalu berlebihan!" Dasha berseru panik.
"Candaan kamu tidak lucu sama sekali." Ustadz Amar lantas membuka pintu dan menunjuk keluar dengan marah. "Get out!"
__ADS_1
"Hei, calm down Mar. Dasha cuma bercanda kali, nggak usah dibawa serius," Adi ikut menenangkan Amar. Sejujurnya dia merasa kaget karena belum pernah melihat Amar semarah itu sebelumnya.
"Aku udah bilang kan Di, ngundang mereka ke rumah kita itu adalah ide buruk! Sekarang, kamu mau tanggung jawab apa kalau istriku sudah marah kaya gini, Hah? Kalian semua, keluar dari rumah ini sekarang. Kalau tidak, biar aku yang pergi." tanpa menunggu jawaban dari orang-orang itu, Ustadz Amar segera bergegas keluar dari rumah dan membanting pintu kuat-kuat. Meninggalkan Adi, Dasha dan teman-temannya yang melihatnya dengan tatapan bingung.