
"Hai Di," Dasha langsung menduduki kursi kosong di sebelah Adi setelah ia sampai di kelas. "Amar belum pulang?"
Adi menghela napas berat. "Kenapa sih yang kau tanyakan setiap hari itu si Amar? Kenapa tidak cari aku saja?"
Dasha terkekeh. "Buat apa mencari orang yang jelas-jelas ada di depan mata, Adi? Lagipula kan aku bertanya karena penasaran dengan progress penelitian kita. Kalau dia tidak cepat pulang, nanti semuanya jadi terhambat."
"Iya, iya," Adi menopangkan dagunya pada telapak tangan. "Dia sudah pulang kok,"
"Yang benar?" Wajah Dasha sontak berubah cerah, matanya berbinar-binar. "Lalu, sekarang dia dimana? Kenapa nggak masuk kuliah?"
"Masih ngurus istrinya," jawab Adi sambil menunjuk wajahnya sendiri. "Kamu nggak lihat kantong mataku sehitam ini? Ini gara-gara Amar yang ngusir aku dari apartemen!"
"Istrinya?" Dasha tampak berpikir sejenak. "Maksud kamu Syahla?"
"Yah, istrinya Amar memang ada berapa? Pokoknya ya satu itu!"
Dasha mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian ia tiba-tiba bangkit dari duduk. Membuat Adi mengernyitkan dahi penasaran.
"Eh, kamu mau kemana? Kelas sudah mau dimulai!"
"Hari ini aku izin!" jawab Dasha sambil berlari keluar ruangan.
...----------------...
Sementara itu, di dalam apartemen Ustadz Amar sudah tercium aroma masakan yang lezat. Secara khusus, hari ini Ustadz Amar memasakkan masakan khas Indonesia untuk sang istri, sebagai pengobat rindu karena selama ini sudah berpisah lama. Biasanya selama di Amerika Ustadz Amar juga tak serajin itu, dia lebih baik memesan makanan dari restoran halal demi menghemat waktu. Tapi, demi istrinya, dia rela bangun pagi-pagi meski sebenarnya masih merasa lelah.
"Pagi," Syahla muncul dari kamar sambil mengucek mata, dengan manja kemudian ia peluk sang suami dari belakang.
"Pagi sayang," Ustadz Amar menoleh sekilas, lalu kembali fokus pada masakan yang sedang ia buat.
__ADS_1
"Saya bantuin apa nih?" Syahla mengintip dari balik bahu suaminya yang lebar, tentunya sambil berjinjit karena tinggi mereka yang berbeda cukup jauh.
"Kamu duduk saja. Saya sebentar lagi selesai kok."
"Oke." Syahla melepaskan pelukannya dan beranjak menuju kursi makan. Tapi belum sampai ia mendaratkan pantatnya di atas kursi, bel pintu ditekan dengan keras.
"Siapa ya? Apa jangan-jangan bang Adi ya mas?"
"Bisa jadi. Saya minta tolong kamu pakai jilbab ya sayang, tolong bukain pintunya dulu." pinta Ustadz Amar sambil tetap mengolah masakannya. Syahla menganggukkan kepala.
"Siap Mas," ujarnya sembari berlari menuju kamar untuk mencari jilbab.
Setelah memakai kain panjang itu, Syahla lantas membuka pintu apartemen. Tapi ia terkejut karena bukan Adi yang ia lihat, melainkan seorang wanita bule yang sangat cantik.
"Hai," sapa gadis itu saat melihat Syahla. Syahla hanya tersenyum canggung sambil membalas sapaannya.
"Hei, tidak usah pakai bahasa Inggris. Aku bisa bahasa kamu kok. Kamu tidak ingat aku ya Syahla? Aku Dasha, sahabat kamu!"
Syahla terkesiap mendengar penjelasan Dasha. Tidak ia sangka Dasha begitu cantik, dua kali lipat lebih cantik dari yang terpampang di foto media sosialnya.
"Ah.." Syahla menganggukkan kepalanya. "Apa kabar?"
"Aku baik! Eh, bau apa ini? Kenapa enak sekali! Boleh aku masuk?"
Tidak! Syahla ingin sekali meneriakkan kalimat itu, sayangnya yang ia lakukan malah sebaliknya. Ia menganggukkan kepala sambil tersenyum manis kepada Dasha, mempersilahkan masuk.
"Wah, kau masak apa Mar?" Dasha berkata antusias saat melihat Ustadz Amar sedang menata piring berisi lauk pauk ke atas meja makan. Melihat kedatangan Dasha, Ustadz Amar jelas terbelalak keheranan.
"Dasha! Ngapain kamu kesini?"
__ADS_1
"Kenapa ekspresimu begitu sih? Aku kan mau bertemu Syahla, teman baikku. Lagipula ini bukan pertama kalinya kan? Aku kan juga sudah sering kesini,"
Sering? Syahla melotot mendengar ucapan Dasha. Jadi cewek ini sering datang ke apartemen suamiku?
"Oh ya, aku bawakan oleh-oleh untukmu. Ini strawberry kesukaan Amar," ujar Dasha sembari menaruh sekantong paper bag ke atas meja.
"Kesukaan Mas Amar?" Syahla mengulangi ucapan Dasha sambil mengalihkan pandangan kepada sang suami. "Memangnya sejak kapan Mas suka strawberry?"
"Lho? Memangnya kamu tidak tau? Amar kan kalau disini selalu beli susu strawberry setiap hari! Katanya itu kesukaan dia!"
Syahla melirik sang suami yang hanya mampu terdiam. Ustadz Amar tidak mampu menjawab apapun karena yang dikatakan Dasha memang benar adanya. Sementara itu Syahla hanya bisa tersenyum canggung, lantaran dia merasa aneh karena ternyata selama ini dirinya tidak mengetahui kesukaan sang suami.
Dalam waktu yang lama, suasana meja makan terasa canggung. Untuk mencairkan suasana, Syahla akhirnya berinisiatif menawarkan duluan. "Kamu mau ikut sarapan bersama kami Dasha?"
"Memang boleh? Aduh, aku tidak enak hati karena mengganggu kegiatan kalian pagi-pagi."
"Tidak kok," Lagi-lagi Syahla berucap berkebalikan dengan isi hatinya. "Aku malah senang karena punya teman di Amerika."
"Aku juga senang kok karena punya teman dari Indonesia!" Dasha meraih tangan Syahla dengan mata berbinar. Syahla hanya mampu membalas senyuman Dasha dengan tersenyum tipis.
Pada akhirnya, Ustadz Amar, Dasha dan Syahla sarapan bersama. Selama kegiatan menyantap hidangan buatan Ustadz Amar itu, Syahla merasa janggal karena berulangkali ia merasa Dasha terlalu mencampuri urusan sang suami.
"Eh, Amar, jangan minum dingin pagi-pagi, lebih baik minum hangat saja, lebih sehat!" ujarnya suatu kali, lalu tanpa diminta Dasha segera beranjak menuju dapur dan mengambil air putih hangat untuk Ustadz Amar tanpa kebingungan, seolah-olah dirinya sudah hapal betul keadaan rumah itu.
"Habis makan, kita perlu snack. Aku buatkan jus strawberry ya!" Lagi-lagi Dasha berinisiatif, cepat-cepat melangkahkan kaki menuju dapur, menyisakan Ustadz Amar yang melirik takut-takut ke arah sang istri dan Syahla yang memperhatikan gerak-gerik wanita bule itu dengan tatapan tajam.
Syahla berulangkali menghela napas panjang. Dia mencoba berpikir positif, mungkin apa yang dilakukan Dasha sekarang adalah bentuk sopan-santun ala Amerika. Tapi semua kesabarannya runtuh saat ia mendengar teriakan Dasha dari arah dapur.
"Amar, kamu biasanya suka yang manis kan?"
__ADS_1