
“UMI!” Syahla langsung menghambur ke pelukan Umi Zahra saat kakinya akhirnya menapak di pelataran Darul Quran. Umi Zahra yang menunggu bersama Abah Baharuddin di teras rumah merentangkan tangannya, bersiap menyambut kedatangan sang putri.
“Syahla kangen banget sama Umi,” ujar Syahla di dalam pelukan ibundanya. Setelah dua minggu bepergian ke rumah mertua dan pesantrennya dulu, Syahla baru merasa lega setelah sampai di rumahnya sendiri.
“Kangennya sama Umi aja tuh, sama Abah nggak?” Abah Baharuddin pura-pura merajuk. Syahla tertawa dan beralih memeluk abahnya. “Syahla juga kangen banget sama Abah,”
“Woy, ini barang-barangnya diangkutin dulu dong!” protes Gus Sahil yang menenteng beberapa tas dari bagasi mobil. Sebagai kakak, Gus Sahil memang bertugas menjemput kedatangan Syahla dan Ustadz Amar di bandara.
Syahla menatap kakak satu-satunya itu sengit. “Aku capek lo Mas!”
“Memangnya kamu doang yang capek, suamimu juga tuh!” Gus Sahil menunjuk Ustadz Amar yang berjalan ke arah mereka dengan menyeret koper besar.
“Suamiku aja nggak protes, tuh!” Syahla menjulurkan lidahnya. “Emang dasarnya aja Mas Sahil itu lemah.”
“Kamu ya!” Gus Sahil hendak menjitak kepala adiknya yang super cerewet itu, tapi Syahla keburu kabur ke dalam rumah.
“AISHA!” seru Syahla saat Hafsa, kakak iparnya keluar sambil menggendong putrinya yang masih kecil. “Aunty kangen berat!”
Syahla serta merta mengulurkan kedua tangannya dan menggendong Aisha di dalam pelukannya. Ia kemudian sibuk menciumi pipi gembul Aisha, padahal gadis kecil itu sepertinya masih setengah sadar karena baru bangun dari tidur.
“Aduh, anakku rusak nanti,”Gus Sahil berkata dramatis. “Coba lihat wajahnya Aisha itu lo, nggak tertarik blas sama kamu!”
Syahla berdecih, ia memandangi wajah keponakannya yang memang terlihat datar-datar saja. Tapi ia tidak peduli dan terus menciumi pipi Aisha dengan gemasnya.
“Eh, Aunty bawa oleh-oleh loh buat Aisha,” Syahla kemudian mengalihkan pandangan pada Ustadz Amar yang baru memasuki rumah. “Oleh-olehnya mana Mas?” tanyanya kemudian.
__ADS_1
“Ini,” Ustadz Amar tampak kerepotan dengan semua barang bawaannya. “Ada di dalam koper.”
“Mbok ya dibantuin to suaminya,” Umi Zahra mengambil alih Aisha dari gendongan Syahla. “Kasihan itu suamimu repot.”
Syahla tersenyum nyengir. Baiklah, kalau ibu negara yang sudah memerintah, dia tidak bisa menolak kecuali mau dikutuk menjadi batu. Pada akhirnya ia menghampiri sang suami dan mengambil beberapa tas kecil untuk membantu membawakannya.
Selesai membereskan barang-barang dan membersihkan diri, Syahla dan Ustadz Amar bergabung dengan keluarganya yang sedang berkumpul di balkon lantai dua. Beberapa jenis makanan disusun di tengah-tengah mereka.
“Kursi makannya nggak cukup, jadi Abah ngide untuk makan di sini saja sekalian menikmati angin sepoi-sepoi.”
Syahla mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan Hafsa. Yah, dia sih tidak peduli mau makan dimana, yang penting sekarang dirinya sudah tidak sabar untuk memakan hasil masakan rumah yang sudah lama ia rindukan.
“MasyaAllah, enak banget!” Syahla berseru setelah memasukkan satu suap opor ayam ke dalam mulut. “Ayamnya empuk, bumbunya pas!” komentarnya lagi seperti seorang juri Master Chef.
“Dih, nggak usah songong ya Mas! Meskipun aku emang nggak jago-jago banget masak, tapi kalau dibandingkan sama sampeyan sih, sudah pasti aku yang menang!” Syahla berlagak. “Iya kan Mas?” Syahla meminta dukungan dari Ustadz Amar yang hanya mampu tersenyum sambil mengangguk.
“Oh ya? Kalau gitu gimana kalau besok kita berlomba buat menentukan?” tantang Gus Sahil.
“Ayo! Siapa takut!”
“JANGAN!!!” Hafsa dan Ustadz Amar berteriak berbarengan. Sejenak, mereka saling bertatapan karena terkejut, tapi segera saja mereka saling mengerti kalau kemampuan memasak kakak beradik itu sepertinya tidak jauh berbeda.
“Eh, jadi sebenarnya saya sama mbak-mbak ndalem sudah buat rencana apa saja yang akan dimasak sampai satu minggu ke depan. Mereka juga sudah saya kasih catatan apa saja yang harus dibelanjakan. Takutnya kalau nanti kalian yang masak, mereka jadi kecewa.” Hafsa berusaha memberi penjelasan apapun yang kelihatannya masuk akal. “Syahla pasti juga capek kan? Jadi gunakan saja waktu satu minggu ini untuk istirahat ya?”
“Oke deh, kalau mbak Hafsa bilang begitu.” Untungnya, Syahla sangat lunak pada kakak iparnya. “Aku juga kangen banget sama kasurku yang disini,”
__ADS_1
Sontak, Ustadz Amar, Hafsa, Umi Zahra dan Abah Baharuddin menghela napas lega. Mereka sangat bersyukur karena tidak harus mencicipi masakan kematian dari Gus Sahil maupun Syahla. Diam-diam Ustadz Amar memuji kemampuan kakak iparnya yang bisa membuat alasan masuk akal dalam waktu singkat.
“Eh, tapi kalian ini sudah ada rencana untuk punya anak belum?” pertanyaan Umi Zahra membuat Ustadz Amar seketika tersedak. Syahla langsung memberikan segelas air pada sang suami dan menjawab uminya dengan bersungut-sungut.
“Duh Umi, kok pertanyaannya begitu sih? Kan Umi sendiri yang bilang kalau aku harus fokus kuliah dulu biar cepat selesai. Kalau misalnya aku punya anak, bisa jadi pendidikanku jadi terbengkalai kan? Lagipula kan pernikahanku sama Mas Amar tujuannya bukan Cuma buat dapat anak, tapi karena mau menjaga aku yang sedang kuliah di Jakarta.”
“Iya, Umi ngerti. Umi kan cuma tanya, kalian berdua sudah ada rencana punya anak apa belum? Kalau belum kan tinggal jawab saja belum. Justru Umi itu mau memberi nasihat sama kalian kalau jangan cepat-cepat punya anak dulu. Pertama, Syahla kan masih kecil, sepertinya mentalnya belum terlalu mampu untuk jadi Ibu. Kedua, Syahla juga masih kuliah. Yang ketiga, kalian itu rumahnya jauh sekali di Jakarta, takutnya nanti Syahla malah stress karena nggak ada yang bantu.”
“Oh…” Syahla menggaruk tengkuknya malu. “Habisnya Syahla kira Umi mau jadi netizen rese yang nanya-nanya ‘kapan punya anak, kapan punya anak’ begitu. Maaf ya Mi. Kalau soal anak sih, kita berdua memutuskan buat menunda dulu. Kita mau menikmati masa-masa pacaran setelah menikah. Iya kan Mas?”
Ustadz Amar menganggukkan kepalanya. “Itu benar Mi. Saya dan istri saya sudah membicarakan tentang hal ini. Dan seperti kata Umi, kami juga mengkhawatirkan tiga poin itu. Takutnya kalau kita berdua belum siap, nanti anak kita malah kekurangan kasih sayang.”
“Bagus itu,” sahut Abah Baharuddin. “Karena punya anak itu tidak hanya soal melahirkannya saja. Tapi tanggung jawabnya seumur hidup. Kalau merasa belum siap, lebih baik ditunda dulu. Kalian nikmati dulu lah masa-masa jadi pengantin baru. Kalau sudah punya anak mana bisa mesra-mesraan dengan bebas?”
“Aduh, bener banget.” Gus Sahil menghela napas panjang. “Sekarang aku kalau mau mesra-mesraan sama Hafsa harus nungguin Aisha tidur dulu.”
“Mas Gus,” Hafsa mencubit pinggang sang suami yang langsung mengundang gelak tawa semua orang di ruangan itu.
“Eh, tapi ngomong-ngomong, sekarang kalian tidurnya sudah sekamar ya?” goda Hafsa setelah tawa semua orang mereda. Syahla dan Ustadz Amar langsung membelalakkan matanya.
“Loh, memangnya kalian tidak tidur sekamar?” Umi Zahra bertanya-tanya. “Kenapa? Masih malu-malu ya?”
Syahla langsung menyembunyikan wajahnya di balik punggung sang suami. “MBAK HAFSA!”
Balkon kecil itu kembali dipenuhi gelak tawa semua orang.
__ADS_1