
“LAKSMI!” Syahla sengaja masuk ke dalam asrama dengan mengendap-endap dan menepuk pundak sahabatnya itu untuk membuatnya terkejut. Ternyata rencananya berjalan mulus. Laksmi yang sedang sibuk membaca kitab langsung terlonjak kaget.
“Astaghfirullah! Ayam! Ayam!” Entah kenapa, hewan itu yang selalu disebut Laksmi setiap kali ia terkejut. Dalam beberapa saat, Laksmi tampak mematung sambil menatap Syahla lamat-lamat. Mungkin benaknya sibuk berpikir, apa sekarang ini dirinya sedang bermimpi?
“SYAHLA?” ucap Laksmi setelah kesadarannya kembali. “Beneran Syahla?”
Syahla menganggukkan kepala dan memeluk sahabatnya. “Iya, Laksmi! Ini aku! Sahabatmu yang paling cantik!”
“Yaampun! Aku kangen banget!” Laksmi balas memeluk Syahla erat-erat. Meskipun waktu sudah berlalu, kebiasaan mereka tidak berubah. Selalu saja heboh kalau sudah bertemu satu sama lain.
“Kesini sama siapa? Sama Ustadz Amar?”
“Iya,” Syahla menganggukkan kepala. “Sama suamiku,”
“UWAAAAA!!!” Laksmi langsung berseru heboh. “Suamiku nggak, tuh!”
“Apa sih Mi? kenapa teriak-teriak?” teman seasrama Laksmi berdatangan karena mendengar seruan Laksmi. Sejenak, mereka tidak menyadari adanya Syahla di sana. Setelah sadar, mereka malah ikut-ikutan berteriak heboh seperti Laksmi sebelumnya.
“Yaampun! Ada Mbak Syahla! Istrinya Ustadz Amar!”
“Mana? Mana?”
Pada akhirnya, kamar Laksmi penuh dengan anggota asrama yang penasaran dengan keberadaan Syahla. Syahla sendiri berada di tengah-tengah mereka sambil menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan kepadanya.
“Mbak, gimana rasanya menikah sama orang ganteng?”
“La, kalau di rumah, Ustadz Amar masih galak nggak?”
“Kalian panggilan kesayangannya apa?”
“Niat punya anak berapa?”
“Ustadz Amar buka lowongan istri kedua, nggak?”
Pertanyaan terakhir itu membuat Syahla membelalakkan mata. “Nggak! Nggak ada istri kedua! Cuma Aku satu-satunya yang jadi istri suamiku!”
__ADS_1
“Cieee!!!” kemarahan Syahla malah membuat para santri putri semakin heboh. Syahla langsung menutup mukanya malu.
Untunglah, beberapa saat kemudian, bel tanda mengaji akan dimulai berbunyi. Para santri putri yang semula mengerubungi Syahla langsung bubar sendiri-sendiri menuju kelas masing-masing. Menyisakan Syahla dan Laksmi yang kebetulan tidak ada jadwal mengajar hari ini.
“Yaampun, capeknya…” Syahla menghela napas lega setelah mereka pergi. Dirinya sudah seperti artis yang sedang diwawancara para wartawan saja. “Memangnya kabar pernikahanku dengan Ustadz Amar seheboh itu ya?”
“Bukan Cuma heboh, La. Tapi viral! Semua santri menobatkan hari pernikahan kalian sebagai hari patah hati sedunia!”
“Dih lebay,” Syahla mencibir. “Padahal segalak itu, tapi banyak banget yang ngefans.”
“Halah.. galak-galak begitu juga kamu tetep cinta to?” sindir Laksmi. “Makanya, jadi orang itu jangan terlalu benci sama orang lain. Karena benci sama cinta itu beda tipis,”
Syahla terkekeh. “Bisa aja kamu. Udah ah, nggak usah bahas aku lagi. Kamu sendiri gimana? Kuliah lancar?”
“Alhamdulillah, lancar. Eh tahu nggak La, dosen di kampusku itu ya…”
Seperti kebiasaan mereka sejak dulu, Syahla dan Laksmi saling bercerita tentang keseharian mereka masing-masing. Sesekali, mereka tampak mengenang kembali masa-masa saat mereka masih belajar di pondok. Begitu seru sampai lupa waktu.
...----------------...
"Suamimu sama Abahku," Gus Adil tiba-tiba muncul entah dari mana. "Yah, berdoa saja kamu bisa bertemu suamimu hari ini."
Syahla hanya tersenyum tipis mendengar perkataan ketus Gus Adil. Ia sudah niat berbalik untuk kembali ke kamar, sebelum Gus Adil melanjutkan perkataannya.
"Bagian mana sih, dari Kang Amar yang lebih baik dari aku?"
Syahla membalikkan badannya sambil mengernyitkan dahi heran. Apa dia tidak salah dengar?
"Bukannya kamu juga putri dari Kyai kondang di daerahmu? Apa kamu tidak merasa sia-sia kalau menikah dengan orang keturunan biasa saja?" Gus Adil berjalan mendekati Syahla. "Apa yang membuat Kang Amar lebih istimewa?"
Syahla menghela napas panjang. Rupanya ia tidak salah dengar. Gus Adil sepertinya mulai terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya pada Ustadz Amar.
"Maaf Gus," Syahla menjawab tegas, tapi nadanya lembut. "Saya tidak bisa menilai siapa yang lebih baik. Karena seyogyanya penilaian itu hanya Allah yang berhak menentukan. Lagipula, saya sama sekali tidak merasa sia-sia karena sudah menikah dengan suami saya. Karena suami saya jelas lebih bermartabat ketimbang seorang putra Kyai yang membicarakan orang lain di belakang,"
Gus Adil tertawa. Perkataan Syahla terdengar sopan, tapi menusuk. "Kamu itu tipe orang yang mengucapkan semua isi kepalamu ya? Apa kamu tidak merasa sungkan kepadaku yang adalah putra dari kyaimu?"
__ADS_1
"Tentu saja saya merasa sungkan, makanya sekarang saya berkata sopan. Njenengan tidak tau saja apa yang akan saya katakan kalau orangnya bukan njenengan,"
Gus Adil tertawa lagi. "Kamu menarik. Pantas saja para santri putra sering membicarakan tentang kamu,"
"Oh ya? saya merasa tersanjung. Saya harap njenengan tidak termasuk dari orang-orang yang membicarakan saya."
"Kalau dulu sih, aku tidak tertarik," Syahla ingin sekali menampar wajah Gus Adil yang terlihat songong. "Tapi sekarang aku tertarik sekali. Apa kamu mau memutuskan hubungan dengan suamimu dan bersamaku saja?"
Syahla melotot. "Maaf Gus, tapi saya punya selera dalam memilih pasangan saya. Rasa-rasanya, njenengan sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan suami saya."
"Maksudnya, aku lebih rendah dari suamimu begitu?" Tanya Gus Adil merasa tersinggung. "Memangnya apa sih kelebihannya si Amar itu? Kenapa semua orang memuji dia? Kenapa Abahku selalu menyebut-nyebut tentang dia sepanjang waktu? Abah bahkan nggak pernah membahas tentang program pondok apapun padaku, tapi pada Amar yang baru datang Abah langsung cerita semuanya."
"Kalau soal itu, kenapa njenengan tidak tanya langsung saja sama Abah?" Syahla sebenarnya sudah merasa kesal bukan main. "Saya sebenarnya sudah memperhatikan Njenengan sejak kita makan bersama tadi. Bukannya njenengan sendiri yang tidak tertarik dengan pembahasan program pondok? Setiap Abah mulai membahas tentang itu, wajah njenengan kelihatan masam dan tidak peduli. Beda halnya dengan suami saya yang menyambut dengan antusias. Tentu saja Abah akan memilih berbicara dengan orang yang sefrekuensi dengan beliau. Kalau njenengan merasa tidak terima, kenapa tidak langsung bilang ke Abah saja? Njenengan saat ini mengeluh sama saya juga percuma," Syahla menarik napas dalam-dalam untuk memenangkan diri.
"Mohon maaf atas kelancangan saya Gus. Saya undur diri," Syahla langsung saja melangkahkan kakinya menjauh. Tapi baru beberapa langkah, ia terkejut karena melihat seseorang berdiri di depannya.
"Om Su—ah, Mas Amar?" Syahla masih sempat-sempatnya memperbaiki panggilan. "Sejak kapan sampeyan disini?"
"Baru saja," Ustadz Amar tersenyum. "Aku baru mau melihat apakah kamu sudah pulang dari asrama."
"Oh, saya juga baru datang kok." Syahla kemudian menggamit lengan suaminya dan mengalihkan topik. "Sampeyan sudah bertemu sama teman-teman?"
"Sudah, tadi ketemu sama Yasir. Temanku selama di pondok kan cuma Yasir,"
Syahla tergelak. "Apa kata Ustadz Yasir?"
"Katanya dia cemburu karena aku sudah menikah sementara dia masih jomblo,"
"Ahahaha! Masa sih?"
"Iya, makanya aku sok menasehati dia untuk banyak berpuasa dan sholat malam," Ustadz Amar kemudian mengalihkan pandangannya pada Gus Adil. "Eh, assalamu'alaikum Gus Adil,"
"Waalaikumsalam," Gus Adil menganggukkan kepala singkat.
"Eh, semuanya ada disini! Yuk, makan dulu!" Ibu Nyai Siti muncul dari arah dapur sambil melambaikan tangan. Syahla buru-buru menggandeng suaminya memasuki ruang makan. Dia harus mencegah terjadinya perang antara Ustadz Amar dengan Gus Adil.
__ADS_1