USTADZ GALAK

USTADZ GALAK
82. Kita Cerai


__ADS_3

Sementara itu, di rumah Dasha, Ustadz Amar tengah sibuk berdiskusi bersama anggota kelompoknya. Karena pembahasan mereka lumayan banyak, Ustadz Amar sampai tidak menyadari kalau malam sudah semakin larut. Ia baru sadar saat melihat jam yang tertera pada wallpaper handphone temannya.


"Loh, sudah jam setengah dua belas?" Ustadz Amar buru-buru meraih handphone dari sakunya. Ia lantas menepuk dahi menyadari kebodohannya ketika melihat benda pipih itu tidak menyala. "Astaghfirullah, mana lupa isi baterai lagi. Syahla pasti sudah ngomel-ngomel ini,"


Ustadz Amar kemudian mengalihkan pandangannya pada anggota kelompok yang duduk di depannya. "Guys, aku harus pulang. Istriku sedang menunggu di rumah. Handphoneku mati, aku takut dia khawatir." ucapnya sambil terburu-buru membereskan barang-barangnya yang tergeletak di atas meja.


"Eh, kamu mau kemana Amar? Jangan pergi dulu, aku sudah siapkan kopi untuk kamu." Dasha muncul dari dalam rumahnya sembari membawa sebuah nampan berisi kue dan beberapa gelas kopi.


"Tidak usah. Aku harus cepat pulang, istriku sudah menunggu." Ustadz Amar sudah akan beranjak dari kursinya, sampai tiba-tiba gelas kopi yang sedang dibawa Dasha tumpah ke arahnya.


"Astaga!" Semua orang terpekik kaget. Ustadz Amar meringis karena air kopi yang mengenai tubuhnya terasa panas.


"Oh my god! Maafkan aku, Amar! Aku tidak sengaja!" Dasha dengan cepat mengambil tisu dari atas meja, dengan cekatan mengelap tumpahan air di pakaian Ustadz Amar.


"Sudah, Dasha! Tidak usah! Biar aku saja yang bersihkan!" Ustadz Amar berusaha menjauh dari Dasha karena tiba-tiba saja gadis itu terlalu menempel padanya.


"Tunggu sebentar Amar, biar aku bersihkan dulu!" Dasha dengan sengaja semakin menempelkan tubuhnya, Ustadz Amar berusaha keras mendorong gadis itu agar menjauh.


"Mas?" Suara seorang wanita meredam keributan di rumah itu. Ruang tamu mendadak lengang. Semua orang menoleh ke asal suara. Terlihat seorang wanita dengan hijab di kepalanya memandang ke arah mereka dengan ekspresi terkejut.


"Syahla?" Ustadz Amar terbelalak. "Kamu ngapain di sini?" Ustadz Amar lantas menyadari kalau posisinya dengan Dasha terlihat ambigu. Segera saja didorongnya gadis itu sampai terjatuh.

__ADS_1


"Ini nggak seperti yang kamu pikirkan!"


Kedua tangan Syahla terkepal. Lalu, dengan menahan air matanya yang sudah siap keluar, ia berjalan menghampiri mereka. Dengan kasar, diraihnya gelas minuman di atas meja dan ia siramkan ke wajah Ustadz Amar. Dengan mata berkaca-kaca, ia berkata dengan sungguh-sungguh.


"Kita cerai,"


Perkataan Syahla bagaikan petir di siang bolong yang menyambar Ustadz Amar bertubi-tubi. Belum sempat laki-laki itu menjelaskan, Syahla sudah berbalik pergi meninggalkan tempat itu.


"Syahla!" Ustadz Amar mengejar Syahla dengan frustasi. "Tunggu! Ini nggak seperti yang kamu lihat! Kamu salah paham! Tadi posisi saya seperti itu karena Dasha nggak sengaja menyiram kopi ke badan saya! Saya sudah meminta dia untuk menjauh, tapi dia tetap tidak mau! Sayang, dengarkan aku! Kamu mau kemana? Bahaya malam-malam begini di Amerika! Banyak orang jahat! Sayang!"


Syahla tidak menggubris Ustadz Amar yang berusaha menjelaskan dengan panjang lebar. Ia terus saja berjalan tak tentu arah, tentunya dengan air mata yang terus mengalir di pipinya. Hatinya bagaikan tertusuk pisau, menelan sebuah kekecewaan yang sangat dalam.


Jelas, bagaimana mungkin Syahla tidak kecewa? Tadi, sebelum sampai di rumah Dasha, Syahla sudah mati-matian menata hati. Ia tidak ingin kecemburuan membuatnya buta, dan dia ingin percaya kalau suaminya memang mencintainya dan tidak akan melirik wanita lain. Tapi, apa yang dia dapat saat sampai di sana? Syahla malah melihat suaminya sedang bermesraan dengan seorang wanita cantik dengan pakaian yang sangat minim, yang tak lain adalah Dasha.


Mereka berdua terus berjalan dalam diam, entah sudah berapa jam berlalu. Syahla merasa kakinya sakit, dan ia berhenti sejenak untuk melihat. Saat sepatunya dilepas, terlihat kakinya terluka dimana-mana.


Syahla berjongkok untuk melihat kakinya lebih dekat, rasa sakit dari luka di kaki ditambah dengan luka di hatinya membuat air matanya kembali mengalir. Syahla merasakan sakit yang teramat dalam, ia menangis tersedu-sedu.


"Sakit banget ya?" Ustadz Amar menghampiri Syahla dan ikut berjongkok di depannya. "Kita pulang dulu ya. Biar saya obatin,"


"Kamu jahat," Syahla berucap demikian sambil memukul-mukul tubuh sang suami.

__ADS_1


"Iya," Ustadz Amar membiarkan Syahla meluapkan emosinya. "Maafkan saya."


"Kamu sudah janji nggak akan ngehianatin saya. Tapi mana buktinya? Kamu malah mesra-mesraan sama cewek lain."


"Iya, saya minta maaf. Saya memang salah."


"Memang kamu yang salah! Kamu yang jahat! Kamu yang—" Syahla tidak dapat melanjutkan ucapannya karena air matanya sudah kembali mengalir. Ustadz Amar dengan lembut memeluk sang istri, mengusap-usap kepala Syahla sambil tak henti-hentinya meminta maaf.


"Saya mau pulang,"


"Iya, ayo kita pulang."


"Bukan pulang ke situ, tapi pulang ke Indonesia."


Ustadz Amar terkesiap. Tapi kemudian ia menganggukkan kepalanya. "Iya. Tapi nggak sekarang. Besok pagi saya akan langsung pesan tiket."


"Saya sendiri saja. Mas nggak usah."


Ustadz Amar terdiam beberapa saat, ia sebenarnya merasa berat mengabulkan keinginan sang istri, tapi ia terpaksa menganggukkan kepala.


"Oke. Tapi sekarang kita pulang dulu ya?"

__ADS_1


Ustadz Amar membimbing Syahla agar naik ke punggungnya. Tidak mungkin bagi Ustadz Amar untuk membiarkan istrinya berjalan lebih jauh dengan keadaan kakinya yang seperti itu. Ia kemudian melangkah menuju halte bus sambil menggendong sang istri. Sepatu Syahla ia tenteng dengan tangannya. Ustadz Amar terus berjalan dengan mulut bungkam, sambil mendengarkan isak tangis sang istri yang terdengar pilu.


__ADS_2