USTADZ GALAK

USTADZ GALAK
67. Orang-orang baru


__ADS_3

"Marla, marla,"


Pagi-pagi, Syahla sudah sibuk mengitari seisi rumah, mencari-cari sesuatu di kolong-kolong meja dan lemari.


"Cariin apa sih, La?" Anggika keluar dari kamarnya sembari menguap lebar. Rambutnya mengembang acak-acakan.


"Marla," jawab Syahla tanpa menoleh ke arah Anggika.


"Marla siapa?" Anggika mengernyitkan dahi. "Emang ada ya temen kita yang namanya Marla?"


"Kucing putih yang kemarin dikasih sama Mas Amar itu loh," jawab Syahla lumayan kesal. "Kan namanya Marla."


"Bukannya dia jantan ya? Kenapa dikasih nama Marla?"


Syahla menolehkan kepalanya sejenak pada Anggika yang terlihat keheranan. "Simpel. Marla itu singkatan dari Amar dan Syahla,"


"Astaga," Anggika menepuk dahinya sendiri. "Terus, sekarang Lo lagi nyariin Marla? Emangnya dia kemana?"


"Kalau aku tau, nggak aku cariin Nggi," Syahla melongokkan kepalanya pada kolong meja dapur. "Kok nggak ada ya? Seingetku dari tadi pintu apartemen ditutup terus kan?"


"Ah.." Anggika menepuk dahinya sendiri setelah ia teringat sesuatu. "Sebenarnya tadi Gue buang sampah bentar ke luar, tapi lupa nggak nutup pintu. Gue pikir biar nggak ribet harus input kode dua kali,"


"Astaghfirullah, Anggi!" Syahla berseru kesal. "Kenapa nggak ngomong dari tadi sih? Marla pasti udah keluar dari apartemen deh!"


"Ya sorry.." Anggika menggaruk-garuk tengkuknya. "Tapi kayanya dia masih belum jauh deh, kita cariin di luar aja yuk!" Anggika segera menuju pintu keluar, tidak peduli kalau rambutnya masih mengembang berantakan. Syahla mengikutinya sambil bersungut-sungut kesal.


...----------------...


"Nis.. Ckckck.. Nis.."


Syahla dan Anggika mencari sosok berbulu itu di pelataran gedung apartemen. Mereka juga melaporkan pada satpam supaya nanti kalau ada penghuni yang menemukan bisa langsung melapor.


"Marla," Syahla menyibak semak-semak yang sudah dirapikan oleh tukang kebun dengan gusar. Tapi tidak ada tanda-tanda adanya mahluk berbulu itu di sana.


"Marla.." Syahla merasa frustasi. Bagaimana ini? Itu adalah hadiah spesial dari Ustadz Amar untuknya. Masa ia sudah menghilangkannya dalam satu hari?


"Permisi," suara seorang laki-laki membuat Syahla menoleh. Seorang laki-laki muda dengan badan tegap berdiri di belakangnya. Kedua tangannya memegang seekor kucing putih yang sangat dikenali Syahla.


"Marla!" Syahla terpekik girang melihat kucing itu. Ia serta merta meraih Marla dari gendongan sang lelaki.


"Ya ampun! Kamu kemana aja sih Nak? Mama cariin kemana-mana loh,"


"Dia tadi saya temukan waktu masih joging di sekitar apartemen. Kayanya dia tersesat. Jadi saya bawa dia ke apartemen saya sebentar buat dikasih makan. Awalnya mau saya laporin ke satpam, tapi untungnya saya langsung balik ke sini." jelas lelaki itu panjang lebar.


"Oh.." Syahla tersenyum kepada lelaki itu. "Terimakasih ya Mas,"


"Panggil saja Gian," ucap lelaki yang ternyata bernama Gian. "Lain kali, dipakein kalung aja kucingnya. Soalnya kucing bagus ini, harganya mahal. Takutnya nanti ada yang ngaku-ngaku,"


"Iya, baru saja saya mau belikan. Tapi ternyata bocah nakal ini udah kabur duluan. Pokoknya terimakasih banyak ya Mas Gian,"

__ADS_1


"Gian saja," koreksi Gian. "Kalau boleh tau, mbak namanya siapa?"


"Syahla," Syahla buru-buru memperkenalkan diri. "Saya tinggal di lantai empat."


"Oh ya? Nomor berapa? Saya juga di lantai empat loh,"


"Oh?" Syahla mengerutkan dahi. "Saya di nomor 22 Mas,"


"Saya di 20," Gian terkekeh. "Ternyata kita tetanggaan nih?"


"Loh, iya iya. Kok saya baru tau? Mas Gian baru pindah ya?"


"Iya," Angguk Gian. "Saya baru pindah seminggu yang lalu karena buka praktik di sekitar sini."


"Oh iya? Mas Gian dokter? Dokter apa?"


"Dokter hewan. Baru buka dua hari lalu. Kalau nggak keberatan, boleh banget mampir ke sana. Nanti saya kasih diskon,"


"Oh ya? Wah, kebetulan banget nih.. Besok saya memang rencananya mau vaksin si Marla,"


"Iya, besok dateng aja. Di sana juga ada beberapa kucing saya. Marla pasti suka kalau ketemu banyak teman,"


"Boleh, boleh," Syahla tersenyum sumringah. "Saya juga baru pertama kali pelihara kucing. Kayanya saya harus banyak-banyak belajar deh sama Mas Gian,"


"Gian saja," koreksi Gian untuk kesekian kalinya.


"La!" Teriakan Anggika menginterupsi percakapan mereka berdua. "Marla udah ketemu? Ya ampun, puji tuhan. Ketemu dimana? Eh, ini siapa?" Anggika reflek menunjuk ke arah Gian.


"Eh, Anggika," ucap Anggika canggung.


"Mas Gian ini yang nemuin Marla," jelas Syahla. "Dia ternyata tetangga kita loh Nggi, dia tinggal di apart nomor 20."


"Serius?" Anggika membelalakkan mata. "Kok baru lihat?"


"Saya barusan pindah seminggu yang lalu," jelas Gian. "Dan satu lagi, tolong panggil saya Gian aja, nggak usah pakai tambahan Mas."


"Hehe, maaf Mas, eh Gian, soalnya kebiasaan.." Syahla meringis kecil.


"Oke, no problem. Yaudah ya, aku mau balik dulu ke apart. Mau siap-siap kerja. Nice to meet you girls," ucap Gian sambil melambaikan tangannya. Syahla dan Anggika membalas lambaian tangan Gian sambil tersenyum lebar.


"Wah," tukas Anggika setelah kepergian Gian. "Ini sih tipeku banget,"


Syahla spontan memukul bahu sahabatnya itu keras-keras. "Heh! Inget! Ada Kak Ren!"


"Oh, iya ya.." Anggika meringis malu. Tapi kemudian ia menolehkan kepalanya pada Syahla dengan tatapan mengancam. "Lo inget juga! Lo udah punya suami!"


"La terus kenapa? Aku kan nggak ada rasa apa-apa sama Gian," kilah Syahla.


"Siapa yang tau kan? Hati-hati loh, inget kata orang Jawa. Witing tresno jalaran seko kulino, Cinta itu bisa datang karena terbiasa!"

__ADS_1


"Dih, anak jakarta sok-sokan bisa bahasa jawa!" Ledek Syahla. "Udah ah, aku mau siap-siap ngampus! Mending kamu ngaca dulu tuh, rambutmu udah kaya sarang burung."


Anggika membelalakkan mata mendengar perkataan Syahla. Ia kemudian cepat-cepat bercermin pada kaca jendela yang berada pada pintu masuk gedung apartemen.


"KYAAAA!!"


...----------------...


"Setelah ini jangan dimandikan dulu sampai dua minggu ke depan ya," Gian berkata sembari membuang suntikan bekas ke tong sampah. Syahla menganggukkan kepala.


"Oke, Pak Dokter!"


Gian menghela napas panjang mendengar panggilan itu. "Harus berapa kali ya saya bilang panggil saya Gian aja,"


"Hehe," Syahla meringis. "Habisnya kalau pakai jas dokter begini nggak enak rasanya kalau cuma panggil nama,"


Gian tersenyum. "Terserah kamu saja lah. Oh ya, malam minggu Ini kamu free nggak? Saya mau undang kamu sama teman sekamar kamu untuk mampir ke tempat saya. Saya mau adakan acara syukuran pindah kecil-kecilan,"


"Oh? Kalau saya sih bisa," Syahla lantas tampak berpikir sejenak. "Tapi kalau Anggika belum tau sih, coba nanti saya tanyakan ya,"


"Oke, saya tunggu." Gian tersenyum penuh arti.


Setelah Marla selesai divaksin, Syahla segera kembali ke apartemen dan menelepon Ustadz Amar. Dia berniat mengabari tentang Marla dan tentu saja juga untuk melepas rasa rindu karena sudah dua hari tidak saling berhubungan.


"Halo?" Syahla berkata sumringah saat melihat video call sudah tersambung, tapi alangkah terkejutnya ia saat melihat wajah sang penerima bukanlah sang suami, melainkan seorang wanita cantik berambut pirang.


"Oh, Amar! Your sister is calling!*" teriak gadis itu pada orang di belakangnya.


*(Amar! Adikmu telepon!)


"Who are you?*" Ucap Syahla dengan nada sedikit marah.


*(Kamu siapa?)


"Oh, I am Amar's girlfriend!*" Tukas gadis itu yang membuat Syahla sontak membelalakkan mata.


*(Aku pacarnya Amar!)


"Nooo!" Ustadz Amar tampak merebut handphone dengan terburu-buru. "Maaf sayang, dia Dasha, temanku. Dia tadi cuma bercanda. Kamu jangan salah paham,"


"Oh ya? Jadi Mas Amar masukin cewek ke dalam kamar itu juga bercanda?" Kemarahan Syahla sudah mencapai ubun-ubun.


"Loh, nggak sayang, ini nggak di kamar, ini di ruang tamu," Ustadz Amar mengalihkan mode kamera ke kamera belakang. "Kita juga nggak cuma berdua. Ada teman-temanku yang lain. Coba kamu lihat. Kami memang lagi kerja kelompok untuk proyek penelitian," Ustadz Amar kemudian menunjukkan kondisi ruangan itu yang memang dipenuhi beberapa orang lain. Ada tiga orang laki-laki dan tiga orang wanita.


"Oh," Syahla menanggapi dengan acuh tak acuh. "Tapi bukan berarti temen Mas bisa ngangkat telpon seenaknya kan? Mas kasih tau kode HP Mas ke dia?"


"Ya itu karena—"


"Oh, cukup tau aja sih Mas," Syahla yang sudah terlanjur kesal lantas menekan tombol reject. Mematikan panggilan video call. Beberapa detik kemudian Ustadz Amar kembali menelpon, tapi Syahla malah mematikan ponselnya.

__ADS_1


"Rasain!" ucapnya sembari bersungut-sungut.


__ADS_2