USTADZ GALAK

USTADZ GALAK
57. Cucu yang Dibanggakan


__ADS_3

Berkat informasi yang didapatkan dari pihak kampus, Ustadz Amar dapat menemukan alamat rumah Kak Anne yang ternyata berada di Depok. Mereka pun segera meluncur dari Bogor dengan secepat kilat. Setelah sampai, mereka segera mengetuk pintu. Saat pintu dibuka, keluar seorang nenek-nenek berbadan bungkuk yang sepertinya sudah berusia sekitar 70 tahun.


"Nyari siapa Nak?" Tanya nenek itu dengan wajah keheranan.


"Kami temannya Kak Anne nek," Syahla menjawab ramah. "Kak Anne nya ada?"


"Loh, Anne itu ya masih kuliah. Dia kan ngekos di Jakarta. Memangnya dia nggak ada di sana?"


Syahla dan Ustadz Amar berpandangan sejenak. Sepertinya nenek ini tidak mengetahui apa yang sudah terjadi pada cucunya. Tapi, tidak mau membuat sang nenek khawatir, Syahla akhirnya menjawab dengan tersenyum.


"Ah, kami ini temannya dari luar kota Nek. Kami kira Kak Anne masih tinggal di sini sama Nenek. Kalau gitu, Nenek tau nggak alamat kos-kosannya?"


Nenek itu tampak terdiam sejenak. "Ayo masuk dulu. Biar Nenek catatkan alamatnya," ucapnya sembari masuk ke dalam rumah. Syahla dan Ustadz Amar kemudian mengikuti nenek itu dan duduk di sebuah sofa reyot yang berada di ruang tamu.


Sembari menunggu nenek itu keluar, Syahla tampak memperhatikan sekeliling ruangan. Terdapat beberapa foto anak kecil perempuan yang cantik, dari wajahnya sepertinya itu adalah Kak Anne. Ada juga foto Kak Anne bersama sang nenek ketika masih muda. Yang membuat Syahla penasaran, kenapa tidak ada foto orangtua Kak Anne?


"Itu fotonya Anne waktu masih kecil," Nenek tiba-tiba muncul dari dalam. "Cantik sekali ya? Dia ini adalah cucu nenek yang paling pintar. Meskipun orangtuanya sudah meninggal sejak dia masih kecil, dia nggak pernah merepotkan nenek. Dia selalu juara kelas, bahkan sekarang dia kuliah karena dapat beasiswa. Apalagi sekarang ketika nenek sudah tidak bisa bekerja lagi, Anne malah rutin mengirim uang untuk Nenek."


Syahla dan Ustadz Amar saling berpandangan mendengar penjelasan si nenek. Jelas Kak Anne tidak memberitahukan kondisinya pada neneknya sendiri, karena sepertinya si nenek masih belum tau kalau Kak Anne hamil dan di drop out dari kampus.


"Ini, catatan alamatnya." Nenek menyodorkan selembar kertas. "Maaf nenek nggak bisa menyuguhkan apa-apa. Cuma teh manis ini yang nenek punya."


"Tidak papa Nek," Syahla tersenyum, lantas ia mengambil gelas teh itu dan menyesap isinya perlahan-lahan. "Begini juga enak kok,"


Berbeda dengan Syahla, Ustadz Amar malah sudah menghabiskan teh itu dalam sekali teguk. "Yaampun Nek! Ini adalah teh terenak yang pernah saya minum!"


"Yaampun! Ada-ada saja kamu Nak," Nenek tertawa malu. Sementara Syahla ikut tertawa sembari memandangi suaminya bangga.

__ADS_1


Setelah mengobrol lama, Syahla dan Ustadz Amar berpamitan. Sebelum pulang, nenek memberikan satu sisir pisang yang masih hijau kulitnya kepada Syahla.


"Nenek cuma bisa ngasih ini. Ini sebagai tanda terimakasih karena sudah mau menemani nenek tua yang sebatang kara ini. Nenek juga berharap kalian bisa menjaga cucu nenek di sana ya,"


Syahla menghela napas panjang, ia lantas memeluk sang nenek erat-erat. "Saya berjanji Nek. Nenek yang tenang ya di sini,"


Nenek tersenyum, lantas ia melambaikan tangannya pada mobil yang ditumpangi Syahla dan Ustadz Amar yang sudah melaju meninggalkan rumahnya.


...----------------...


Selama perjalanan, Syahla dan Ustadz Amar hanya bisa saling terdiam. Mereka disibukkan dengan isi pikiran masing-masing. Tentang Kak Rama, Kak Anne, dan neneknya Kak Anne.


"Bagaimana kalau sampai Nenek tahu cucunya hamil di luar nikah dan di DO dari kampus?" Syahla menyuarakan kegelisahannya. "Kalau sampai dia ditangkap polisi, nenek pasti akan tau."


"Sebenarnya nenek memang harus tau," Jawab Ustadz Amar dengan pandangan tetap fokus ke jalanan. "Cucunya tidak sebaik yang ia kira selama ini."


"Tapi, memangnya Mas tega? Nenek begitu membanggakan cucunya. Dan sepertinya, Kak Anne sangat menyayangi neneknya karena ia masih sering mengirim uang setiap bulan. Kak Anne pasti sengaja tidak menceritakan masalahnya pada Nenek karena takut beliau khawatir."


Syahla menganggukkan kepalanya. Ia setuju dengan ucapan sang suami, tapi di lubuk hatinya ia merasa sangat simpatik dan tidak tega.


"Apa jangan-jangan Kak Anne diancam oleh Kak Rama? Waktu itu kan Kak Anne pernah bilang kalau ayah dari bayi yang dikandungnya adalah Kak Rama,"


"Bisa jadi. Tapi kita masih belum tau kebenarannya. Jawabannya ada pada Anne nanti."


Syahla lagi-lagi hanya bisa menghela napas panjang.


...----------------...

__ADS_1


Syahla dan Ustadz Amar sampai di depan gerbang sebuah kos-kosan. Rupanya kos-kosan tersebut adalah kos-kosan campur, dimana laki-laki dan perempuan bebas untuk tinggal bersama. Hal ini tentunya membuat Syahla merasa kaget, karena ketika di pondok dulu, ia selalu diajarkan untuk memisahkan lokasi antara perempuan dan laki-laki. Ia tidak menyangka kalau di sini laki-laki dan perempuan yang bukan mahram bahkan bisa tidur di bawah atap yang sama.


Ustadz Amar langsung menuju kamar yang tercatat pada kertas yang ia bawa. Kos-kosan itu cukup bebas karena tidak ada penjaga maupun induk semang yang tinggal di sana. Jadi bisa terlihat para muda-mudi yang tengah berduaan di dalam kamar. Syahla dapat melihatnya dari jendela-jendela besar yang berada di sana.


Ustadz Amar mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Diketuknya lagi pintu itu dan akhirnya terdengar suara seorang wanita dari dalam sana. "Iya, sebentar!"


Sembari menunggu pintu terbuka, Syahla dapat merasakan jantungnya yang berdegup cepat. Apa yang harus ia katakan saat melihat Kak Anne tepat di depan matanya? Apalagi pertemuan mereka yang terakhir kali juga tidak baik. Apa Kak Anne akan marah-marah lagi?


Pintu dibuka. Kak Anne muncul dengan daster yang panjangnya di bawah lutut. Rambutnya di gulung asal-asalan, sementara perutnya sudah terlihat membesar. Saat melihat siapa yang datang, Kak Anne cepat-cepat menutup pintu, namun Ustadz Amar menahannya sekuat tenaga.


"Jangan menghindar. Kami tidak akan melakukan apapun. Kami hanya akan bertanya." ucap Ustadz Amar.


"Gue nggak tau menahu tentang video itu!" Teriak Kak Anne panik.


"Loh, kami belum membicarakan tentang video kok?" tukas Syahla yang langsung membuat Kak Anne terdiam. Beberapa saat kemudian, muncul seorang laki-laki dari dalam kamar yang ternyata adalah Kak Hasan.


"Kenapa Ne? Loh, kalian? Ngapain lagi kalian kesini?!" Kak Hasan sudah berteriak emosi. Tapi Syahla mengabaikannya dan malah menunjukkan sesisir pisang di hadapan Kak Anne.


"Kata Nenek, saya disuruh menjaga Kak Anne selama di sini."


"Nenek?" Kak Anne tercekat. "Kalian udah ketemu nenek Gue? Lo bilang apa soal Gue?"


"Kalau Kak Anne penasaran, biarkan saya masuk ke dalam. Saya ingin bicara berdua dengan Kak Anne."


"Nggak, nggak, apa-apaan?" Kak Hasan memprotes. "Pergi kalian dari sini!"


"San," Kak Anne menahan Kak Hasan. "Biarin dia masuk. Ada hal yang harus Gue bicarain sama Syahla,"

__ADS_1


"Tapi, An?"


"Please," Kak Anne menatap Kak Hasan dengan penuh permohonan. "Gue harus tau apa aja yang udah mereka bicarakan sama Nenek."


__ADS_2