USTADZ GALAK

USTADZ GALAK
59. Diculik?


__ADS_3

Usai menerima laporan kedua dari Ustadz Amar, polisi langsung bergerak cepat menangkap Kak Rama dan Kak Anne. Selama proses interogasi, Kak Anne bersikap kooperatif dan mengakui semua perbuatannya. Sedangkan Kak Rama sudah tidak bisa mengelak lagi karena bukti rekaman sudah dipegang pihak kepolisian. Pada akhirnya, kasus itu akan berlanjut ke persidangan. Saat persidangan pertama, Syahla berharap dengan sungguh-sungguh agar tidak bertemu dengan nenek nanti.


Sayangnya, tepat di depan ruang persidangan, Syahla dapat melihat nenek yang tengah menangis sambil memeluk Kak Anne. Ketika melihat kedatangan Syahla dan Ustadz Amar, nenek langsung bersimpuh di hadapan mereka berdua.


"Nak, tolong cucu nenek nak. Anne pasti nggak bersalah. Dia pasti difitnah sama orang lain. Anne nggak mungkin melakukan itu. Tolong Nak,"


Syahla menghela napas panjang. Ia lantas memegang kedua bahu nenek dan membimbingnya agar berdiri. "Maaf Nek, tapi Kak Anne sudah mengakui perbuatannya sendiri. Kita serahkan semua keputusan pada pengadilan ya Nek,"


"Ya Allah..." Tubuh Nenek merosot dan ia jatuh terduduk dengan lutut menyangga tubuhnya. "Kenapa Anne sampai melakukan itu..."


Syahla hendak membantu nenek untuk berdiri, tapi Ustadz Amar mencegahnya dan ia malah duduk berjongkok di hadapan sang nenek.


"Nek," ucap Ustadz Amar sembari menepuk pundak nenek. "Saya tau nenek sangat menyayangi cucu nenek. Tapi, apa yang dilakukan Anne adalah sebuah kesalahan nek, dan itu sudah merugikan kita berdua. Saya harap, nenek tidak akan membenarkan perbuatan cucu nenek itu."


Nenek mengangguk-anggukan kepalanya cepat. "Nenek juga nggak akan membenarkan hal itu Nak, cuma nenek merasa gagal mendidik cucu nenek selama ini. Ini semua salah nenek, lebih baik nenek mati saja!" Nenek mulai memukuli dadanya sendiri. Ustadz Amar dengan sigap menahan tangan nenek, sementara Kak Anne sudah merangkul neneknya dari belakang.


"Nenek! Jangan begini! Kalau nenek mati, Anne sudah nggak punya siapa-siapa lagi!"


"Kalau kamu nggak mau melihat nenek mati, kenapa kamu lakukan ini!" nenek memukuli punggung Kak Anne. "Kenapa sampai hamil dan memfitnah temanmu sendiri?"


"Maaf Nek, maaf," Kak Anne tak henti-hentinya meminta maaf. Ia biarkan saja nenek yang masih memukulinya. Hal itu tidak seberapa sakit dibandingkan rasa sesal karena mengecewakan nenek yang paling disayanginya.


"Kamu! Bocah brengsek, kamu!" Nenek tiba-tiba saja berlari menghampiri Kak Rama yang dituntun untuk masuk ke ruang persidangan. Kakinya masih pincang sebelah dan wajahnya kelihatan babak belur. Maka saat nenek menyerangnya, ia tidak bisa melawan karena tangannya diborgol.


"Kamu apakan cucuku, hah? Gara-gara kamu, hidup cucuku hancur!" ucap Nenek sambil terus memukul dengan membabi buta. Untunglah para polisi dan petugas pengadilan segera menarik nenek sebelum Kak Rama masuk rumah sakit lagi akibat babak belur untuk ketiga kalinya.


...----------------...

__ADS_1


Sidang pertama berjalan dengan lancar. Karena masing-masing pelaku sudah mengakui perbuatan mereka, serta adanya bukti-bukti yang cukup, sidang berlanjut untuk yang kedua. Di sidang yang kedua ini Syahla memutuskan untuk tidak ikut, karena ia tidak tega untuk melihat nenek lagi. Maka ia memilih untuk berangkat kuliah seperti biasa sedangkan Ustadz Amar berada di pengadilan.


Selama di kampus, Syahla bisa menghela napas lega karena tatapan-tatapan menghakimi yang sebelumnya selalu menyertainya akhirnya sirna perlahan-lahan. Antara orang-orang itu sudah menyadari kalau Syahla tidak bersalah, atau karena topik itu sudah tidak seru lagi untuk dibahas. Apapun alasannya, Syahla merasa senang karena kehidupan kuliahnya sudah kembali seperti sedia kala.


Yang membuatnya tiba-tiba merasa kesal hanya satu, yakni saat Pak Wahyu, dosen killer yang sialnya kembali mengajar di semester dua harus merubah jadwal kuliah ke pukul lima sore. Alasannya karena saat pagi beliau harus menjaga cucunya yang sudah masuk TK.


"Kalau cucunya emang masuk TK, kenapa nggak sewa babysitter aja sih?" keluh Anggika kesal. Bukan hanya Anggika saja, semua mahasiswa yang berada di kelas itu juga mengeluhkan hal yang sama. Pasalnya, jika semula mereka bisa pulang dari kampus pukul lima, sekarang bisa saja mereka pulang saat adzan magrib tiba.


Mas Suami: 'sudah mau pulang?'


Syahla tersenyum melihat pesan teks dari sang suami, cepat-cepat diketiknya pesan balasan.


Syahla : 'belum😓 pak wahyu minta pindah kelas jam 5.'


Mas Suami : 'waduh, bisa-bisa pulang magrib dong?'


Mas Suami : 'yaudah, yg semangat. Nanti jangan pergi-pergi sebelum saya jemput.'


Syahla : 'oke mas sayang 🥰'


Mas Suami : 'Love you❤'


Syahla : 'you too 😘'


"Yuk," Ajak Anggika sambil beranjak dari duduknya. Mereka kali ini harus berpindah ke kelas lain dan bersiap menerima kuliah dari Pak Wahyu. Syahla menganggukkan kepala dan menyimpan handphonenya di dalam tas sebelum mengikuti Anggika yang sudah berjalan duluan.


...----------------...

__ADS_1


Pukul 17:30.


Para mahasiswa terlihat sudah terkantuk-kantuk, berbeda dengan Pak Wahyu yang masih bersemangat menjelaskan mata kuliahnya. Anggika sendiri sudah menguap beberapa kali, dan Syahla menghilangkan rasa suntuknya dengan mencoret-coret kertas.


Tepat pukul 18:10 petang, Pak Wahyu mengakhiri sesi kuliahnya. Syahla buru-buru mengemasi buku-bukunya dan segera mengirim pesan teks pada Ustadz Amar.


"Suamimu sudah jemput belum La?" Tanya Anggika sembari melihat jam tangannya "Buset, udah jam enam aja! Ayo La, kalau suamimu belum jemput, gue anterin aja!"


"Eh, nggak usah," Syahla merasa tidak enak hati. Arah rumah Anggika berlawanan arah dengan rumahnya, jadi kasian kalau gadis itu harus bolak-balik untuk mengantarkan dirinya seorang. "Aku tunggu aja di depan."


"Beneran? Gue temenin deh, eh ini kenapa Mama telpon segala sih? Halo Ma? Iya, ini udah mau pulang. Iya Ma, dosennya minta ganti jam.


Iya, iya, ini bentar lagi mau otw kok. Ya udah, kalau gitu Anggi mau ke parkiran dulu." Anggika lantas mematikan telepon dan menoleh kepada Syahla dengan tatapan menyesal. "Sorry banget La, gue disuruh cepet-cepet pulang."


"Nggak papa loh Nggi," Syahla tersenyum. "Lagian aku udah chat Mas Amar kok. Sana, kamu cepetan pulang! Ntar tambah diomelin lagi,"


"Oke, kalau gitu gue duluan ya La!" Anggika berlari sembari melambaikan tangan. Syahla balas melambaikan tangannya. Setelah kepergian Anggika, ia melihat lagi pesan teks yang sudah ia kirimkan kepada Ustadz Amar. Ternyata belum dibaca.


"Apa Mas Amar sholat dulu ya?" Syahla menerka-nerka. "Kalau gitu aku mau sholat juga ah," ujarnya sembari berjalan menuju mushola kampus. Meskipun sudah maghrib, kampus masih terlihat terang karena banyaknya lampu-lampu yang dihidupkan. Terlihat juga beberapa mahasiswa dan dosen yang sepertinya juga menuju mushola yang sama.


Setelah melaksanakan sholat, Syahla kembali melihat handphone. Ternyata Ustadz Amar membalas kalau dia sudah berada dalam perjalanan dan sesuai dugaannya tadi suaminya itu melaksanakan sholat maghrib terlebih dahulu. Syahla membalas dengan emoticon jempol dan hati berwarna merah.


Supaya Ustadz Amar tidak bingung mencari setelah sampai di kampus, Syahla memutuskan untuk menunggu suaminya itu di depan gerbang. Ia menyapa pak satpam yang sedang berjaga di posnya, lantas menunggu dengan sabar di dekat pagar kampus.


Lima menit kemudian, sebuah sorotan lampu kendaraan mendekat. Syahla tersenyum, mengira itu adalah mobil suaminya. Tapi, setelah ia perhatikan lagi, ternyata cahaya itu berasal dari lampu-lampu motor yang sangat banyak.


Seorang pengendara motor dengan helm yang Syahla kenal mendekat. Syahla membelalakkan matanya. Mana mungkin ia melupakan helm dan motif jaket itu, karena itu adalah milik geng Samurai yang dulu pernah mengejarnya.

__ADS_1


"Tolong!" Teriak Syahla sembari berusaha kabur. Sayangnya itu semua terlambat karena tiba-tiba sebuah kain menutup hidungnya, dan ia merasa dunianya menjadi gelap total.


__ADS_2