USTADZ GALAK

USTADZ GALAK
84. Jaga Jarak


__ADS_3

Dasha mendekatkan wajahnya pada Ustadz Amar. Ia berniat mencium bibir lelaki itu. Ia kira Ustadz Amar sama seperti lelaki lainnya, yang dengan senang hati akan membuka pakaiannya sendiri jika Dasha yang meminta. Tapi, tidak seperti harapannya, yang ia dapatkan malah sebuah dorongan kuat yang membuat tubuhnya tersungkur.


"Aw!" Dasha berteriak kesakitan karena lututnya menghantam tanah begitu keras. Ia lantas mendongakkan kepala, dan yang terlihat adalah wajah Ustadz Amar yang melihatnya dengan tatapan jijik.


"Kau tau, aku sama sekali tidak punya pikiran untuk menduakan istriku. Dan kalaupun aku harus melakukannya, aku tidak akan memilih kamu!" setelah berkata begitu, Ustadz Amar bergegas pergi meninggalkan Dasha begitu saja.


"DAMN IT!" teriak Dasha dengan penuh amarah.


...----------------...


"Syahla?" Anggika keheranan ketika melihat sahabatnya sudah berdiri di depan pintu apartemen mereka. "Kok Lo udah pulang? Katanya mau dua minggu? Terus, Pak Amar mana? Lo pulang sendirian?"

__ADS_1


Syahla tidak mampu menjawab semua pertanyaan Anggika. Ia malah memeluk sahabatnya itu sambil menangis tersedu-sedu.


Anggika sebenarnya masih tidak memahami apa yang terjadi. Banyak pertanyaan yang berputar di kepala, tapi rasanya belum tempat untuknya bertanya sekarang. Maka yang bisa ia lakukan hanyalah mengelus-elus punggung Syahla untuk menenangkan. Berharap hiburan kecilnya dapat meringankan rasa sakit hati sahabatnya itu.


...----------------...


"Pak Amar selingkuh? Lo yakin?" tanya Anggika setelah tangis Syahla reda dan akhirnya menceritakan semua kejadian di Amerika.


Masih sambil mengelap air matanya, Syahla menganggukkan kepala. "Aku nggak tau apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, aku liat dengan mata kepalaku sendiri. Mas Amar mesra-mesraan sama cewek seksi itu. Deket banget Nggi, pangku-pangkuan. Siapa yang nggak marah, coba?"


Syahla tertegun sejenak, lalu ia menggelengkan kepalanya. "Belum. Aku udah terlanjur marah. Jadi aku bilang mau langsung balik ke Indonesia. Aku juga spontan bilang sama dia, aku minta cerai.."

__ADS_1


Mata Anggika terbelalak mendengar kalimat terakhir Syahla. "Lo udah gila ya? Lo pikir cerai semudah itu? La, jangan gegabah deh! Lo kan belum denger penjelasan Pak Amar!"


"Iya Nggi, aku juga nyesel udah ngomong kaya gitu. Tapi, kalau kamu jadi aku, apa kamu bisa terima gitu aja? Kamu tau kan di sini aku mati-matian jaga jarak sama cowok manapun, eh tapi di sana dia malah seneng-seneng sama cewek bule."


Anggika terdiam. Ia memang tidak bisa menyalahkan Syahla sepenuhnya. Kalau saja dirinya yang berada di posisi Syahla saat itu, ia pasti akan melakukan hal yang sama.


"Yaudah, sekarang menurut Gue, lebih baik kalian saling jaga jarak dulu. Gue tau LDR-an itu berat. Apalagi jaraknya sejauh Indonesia-Amerika. Tapi, ikatan pernikahan kan nggak sesederhana pacaran La. Gue harap, kalian berdua bisa menemukan solusi dari masalah-masalah kalian. Gue juga berharap, semoga pernikahan kalian tetap langgeng sampai maut memisahkan."


"Iya Nggi, makasih. Sebenarnya, aku juga nggak sungguh-sungguh waktu bilang mau cerai. Aku cuma tersulut emosi waktu itu. Tapi, sekarang aku lagi nggak pengen ngomong dulu sama Mas Amar."


"It's Oke, Gue ngerti kok. Sekarang, lebih baik Lo istirahat dulu ya. Lo pasti capek," Anggika membimbing Syahla masuk ke kamar. Setelah itu ia menutup pintu kamar dengan perlahan.

__ADS_1


Sementara di dalam kamarnya, Syahla merebahkan badan di atas kasur sambil memandang langit-langit kamar. Pikirannya menerawang jauh. Meskipun dia marah pada sang suami, tak ayal jauh di lubuk hatinya ia merasa khawatir. Apa yang sedang dilakukan suaminya sekarang? Apa suaminya itu akan menyusul ke Indonesia? Atau malah menetap di Amerika bersama Dasha?


Mengingat nama perempuan itu membuat emosi Syahla kembali tersulut. Ia kemudian meraih selimut dan menutupi tubuhnya dari kepala sampai kaki.


__ADS_2