
"Berani-beraninya!" Ustadz Amar mengepalkan tangannya membuat kertas ucapan itu kusut. "Harus dikasih pelajaran!"
"Sabar Om Suami," Syahla mengelus punggung suaminya lembut. "Biar saya yang ngomong sama Kak Rama,"
"Kamu mau ngomong apa?" Ustadz Amar menatap istrinya frustasi. "Laki-laki seperti itu tidak akan mengerti kalau cuma dikasih tahu!"
"Sabar, sabar," Syahla akhirnya memeluk suaminya untuk menenangkan. "Saya akan mengaku sama Kak Rama kalau saya sudah menikah. Kalau tahu saya sudah menikah, Kak Rama pasti akan menyerah."
Ustadz Amar mengeratkan pelukannya pada Syahla. "Kali ini kamu harus bicara dengan tegas Istri,"
"Iya, Om Suami tenang saja, saya akan melakukannya dengan baik."
"Aku percaya padamu," Ustadz Amar menenggelamkan wajahnya pada bahu sang istri.
"Istri," Panggil Ustadz Amar kemudian.
"Hm?"
"Sarapannya sudah selesai belum?"
"Sudah, kenapa?"
"Soalnya saya mau makan kamu," Ustadz Amar tiba-tiba sudah mengangkat Syahla tinggi-tinggi sampai gadis itu berseru kaget.
"Masih pagi, loh!" protes Syahla. Tapi tampaknya Ustadz Amar tidak peduli. Ia malah mengecup leher sang istri sampai Syahla terdiam kaget.
"Nakal," ucap Syahla sambil merangkulkan kedua tangannya ke leher sang suami. Segera saja, mereka berdua kembali menyatukan bibir mereka dengan mesra. Ustadz Amar kemudian melangkah masuk ke kamar dengan tetap menggendong Syahla dan menutup pintu rapat-rapat.
...----------------...
Hari senin biasanya selalu menjadi hari yang menyebalkan bagi seluruh mahasiswa. Karena setelah libur di hari sabtu dan minggu, mereka harus kembali berkutat pada kuliah yang membosankan. Tidak terkecuali dengan Syahla. Ia melangkahkan kakinya lesu menuju kelas saat matanya menangkap keramaian di depan lobi fakultasnya.
"Ada apa?" tanya Syahla pada salah satu mahasiswi yang sepertinya sudah berdiri di sana dari tadi.
"Kak Anne ngelabrak Kak Rama. Katanya bayi yang dia kandung itu anaknya Kak Rama,"
"Hah?" Syahla terbelalak kaget. Ia kemudian berusaha menyelipkan tubuhnya melewati kerumunan orang yang sedang menonton.
"Permisi, permisi," ucapnya pada beberapa mahasiswa yang tak sengaja ia senggol. Setelah sampai di barisan paling depan, Syahla menutup mulutnya melihat pemandangan di depannya.
__ADS_1
"Ini anak Lo, b*ngs*t!" Kak Anne melemparkan apa saja yang ada di sekitarnya pada Kak Rama. "Lo yang udah nidurin Gue, Rama!"
"Nggak usah ngada-ngada! Gua nggak pernah nyentuh Lu ya! Karena kalaupun Gua nidurin Lu, belum tentu anak itu anak Gua, kan? Kenapa Lu nggak tanya sama om-om yang sering nyewa Lu itu?"
Seluruh pasang mata terbelalak mendengar penuturan Kak Rama.
"Om-om? Jadi selama ini Kak Anne disewa Om-om? Dih, Gue nggak nyangka,"
"Jangan-jangan selama ini nilai dia selalu bagus karena itu?"
"Anne itu 'A'-nya ani-ani! Hahahaha!"
Syahla mengepalkan tangannya mendengar cemoohan orang-orang pada Kak Anne. Kak Anne sendiri sudah menangis tersedu-sedu dengan wajah kebingungan.
"Lo tega, Rama! Lo tega!" Kak Anne hendak berlari menyerang Kak Rama, tapi sebuah tangan menahannya.
"Udah, An! Udah! Gue bilang juga apa! Dia nggak bakal mau tanggungjawab!" Kak Hasan membentak Kak Anne dan memeluk wanita itu ke pelukannya. "Mendingan Lo pergi sama Gue,"
Kak Hasan kemudian menoleh ke arah Kak Rama dengan tatapan tajam. "Urusan kita belum selesai Ram,"
"Maksud Lo apa, heh? Oh, Jangan-jangan bapaknya anak si*l*n itu Lo ya? Pantesan Lo ngebela dia sampai segitunya!"
Emosi Kak Hasan sudah memuncak. Dalam sepersekian detik, tinjunya sudah mendarat ke pipi Kak Rama.
"Heh! Ada apa ini? Bubar! Bubar semua!" Tiga orang satpam mendatangi tempat itu dan langsung mengusir kerumunan. "BUBAR!"
"Huuuu!!!" Seru para mahasiswa yang sepertinya sangat menikmati tontonan itu. Mungkin mereka menganggap kejadian baku hantam itu adalah adegan nyata dari video game.
Syahla sendiri segera kabur dari kerumunan. Kejadian tadi membawa kembali trauma pada saat dirinya hampir dicelakai Geng Samurai. Saat sedang berlari menjauh, sebuah tangan tiba-tiba menahannya.
Syahla menoleh dan Kak Rama menatapnya dengan sebelah matanya yang bengkak karena terkena pukulan.
"Jangan pergi!" Kak Rama memohon. "Gua bisa jelasin!"
"Maaf Kak!" Syahla berusaha melepaskan diri, tapi cengkeraman Kak Rama terlalu kuat. "Lepasin saya!"
"Gua nggak akan lepasin Lu sampai Lu dengerin Gua!"
"Kak, please! Lepasin saya! Sakit!" Syahla meringis kesakitan.
__ADS_1
"Dengerin Gua, Gua sama Anne nggak ada hubungan apa-apa!"
"Iya Kak, Iya!" Syahla merasa dadanya sesak karena bayangan lelaki yang memakai helm malam itu kembali berkelebat di kepalanya. Keringat dingin mulai menetes deras dari pelipis. Dengan sekuat tenaga, Syahla berusaha melepaskan diri, dan untungnya berhasil. Segera saja gadis itu berlari pergi, tapi baru beberapa langkah, ia mendengar ada suara jatuh di belakangnya. Saat menoleh, terlihat Kak Rama yang sudah jatuh tersungkur tidak berdaya.
"Kak Rama!"
...----------------...
Syahla berdiri di dekat ranjang pasien sambil melihat Kak Rama yang sedang diperiksa dengan wajah cemas.
"Nggak ada yang gawat kan, Dok?" tanya Syahla khawatir. Ustadz Amar yang berdiri di sampingnya berdecak.
"Nggak bakal kenapa-kenapa. Kamu tenang saja,"
Syahla menatap suaminya yang tampak menunjukkan wajah tidak senang. Saat melihat Kak Rama pingsan, hal pertama yang dilakukan Syahla adalah menelepon Ustadz Amar untuk meminta tolong. Meskipun kesal, suaminya tetap bersedia menggendong Kak Rama dan membawanya ke rumah sakit.
"Pasien baik-baik saja," Perkataan dokter membuat Syahla menghela napas lega.
"Tuh, denger kan? Dia sudah nggak papa, jadi ayo pergi," Ustadz Amar menarik tangan Syahla, tapi Syahla menahannya.
"Sebentar Om Suami. Karena kita sudah terlanjur ada di sini, saya sekalian mau bilang soal pernikahan kita ke Kak Rama,"
Ustadz Amar sebenarnya sudah sangat jengah melihat wajah mahasiswa kurang ajar yang mengejar-ngejar istrinya itu, tapi ia menahan diri karena perkataan Syahla ada benarnya juga. Pada akhirnya, dia menuruti Syahla untuk duduk di kursi yang berada di samping ranjang pasien.
...----------------...
"Yo," sapa Ustadz Amar saat dilihatnya Kak Rama sudah membuka mata. "Masih hidup kamu?"
Syahla memukul pelan punggung sang suami. "Jangan kasar-kasar ngomongnya," ucapnya memperingatkan. Ustadz Amar hanya memutar bola matanya kesal.
"Dek Lala," Kak Rama menatap Syahla yang berdiri di samping ranjangnya. "Lu yang anter Gua kesini?"
"Kamu buta ya? Ada saya di sini," Ustadz Amar menjawab ketus. Kak Rama menatapnya dengan tatapan heran.
"Pak Amar ngapain disini?"
"Wah, benar-benar," Ustadz Amar menyugar rambutnya ke belakang menahan amarah. "Justru saya yang gendong kamu dari kampus ke sini, dan kamu masih tanya saya ngapain?"
Syahla menepuk-nepuk pundak Ustadz Amar untuk meredakan emosi suaminya, lalu ia menoleh ke arah Kak Rama sambil tersenyum. "Tadi Kak Rama pingsan, jadi saya minta tolong suami saya buat nganterin Kak Rama kesini,"
__ADS_1
"Oh..." Kak Rama sepertinya sangat kesal dengan fakta itu sampai tidak menyadari ada sesuatu yang salah dari ucapan Syahla. Sesaat kemudian, ia membelalakkan mata karena menyadari sesuatu. "Apa? Suami? Bentar-bentar, Gua nggak salah denger kan?"
Ustadz Amar meraih tangan Syahla dan mengaitkan jari jemari mereka berdua, setelah itu diangkatnya tangan mereka persis di depan wajah Kak Rama. "Kuping kamu benar-benar masih berfungsi dengan baik. Yang kamu dengar tidak salah. Saya memang suaminya Syahla,"