USTADZ GALAK

USTADZ GALAK
64. Ustadz Amar Pergi


__ADS_3

Hari H.


Syahla menarik koper besar yang berisikan pakaian sang suami dengan lesu. Anggika yang berada di sebelahnya menyenggolnya berkali-kali.


"Senyum," ucap Anggika mengingatkan. "Lo nggak mau kan Pak Amar liat wajah sedih Lo waktu dia mau pergi?"


Syahla mengalihkan pandangannya dari koper besar ke wajah sang suami yang menatapnya sambil tersenyum. Dengan lembut, Ustadz Amar memeluknya dengan erat.


"Baik-baik ya disini," ucap Ustadz Amar sembari berkali-kali mengecup kening sang istri.


"Mas yakin saya nggak perlu antar sampai bandara?" tanya Syahla berusaha membujuk. Ustadz Amar memang tidak memperbolehkannya mengantar sampai bandara. "Kenapa? Mas nggak mau lihat saya sampai akhir?"


"Iya," angguk Ustadz Amar. "Kalau saya lihat kamu yang menangis sebelum keberangkatan saya, saya pasti tidak jadi pergi."


Syahla memanyunkan bibir. "Padahal saya ingin lihat Mas sampai akhir biar tidak lupa."


"Saya pasti akan telepon," Ustadz Amar tersenyum, mengelus lembut wajah sang istri. "Saya akan telepon kamu setiap malam supaya kamu tidak melupakan wajah saya."


"Cih," Syahla memberengut. "Mas hati-hati ya di sana. Jangan lupakan saya, dan jangan berani-beraninya mendua." ancam Syahla yang membuat Ustadz Amar tertawa terbahak-bahak.


"Mana mungkin saya berani-beraninya menduakan kamu,"


Ustadz Amar mengecup lama kening sang istri, sebelum akhirnya berpamitan. Ustadz Amar lantas masuk ke dalam taksi dan melambaikan tangan pada Syahla yang tersenyum dengan getir.


...----------------...


Perjalanan dari Jakarta ke Amerika membutuhkan waktu 15 jam. Setiap lewat satu jam, Syahla sudah mengutak-atik handphone, mengirim chat pada sang suami. Memastikan Ustadz Amar segera mengabarinya jika sudah sampai. Untuk mengalihkan perhatian Syahla, Anggika sampai mengajaknya untuk berbelanja di supermarket. Meskipun itu percuma karena Syahla masih saja terlihat lesu sepanjang perjalanan.


"La! Bantuin Gue beres-beres dong!" Teriak Anggika dari dalam kamarnya. Memang, mulai hari ini Anggika akan tinggal di apartemen bersama Syahla. Anggika menempati kamar Syahla sebelumnya dan Syahla menempati kamar Ustadz Amar yang dulu.


"Iya," Syahla yang tengah menonton berita di televisi akhirnya beranjak, menghampiri Anggika untuk membantu.


"Sini," Anggika melambaikan tangan. "Tolong susunin buku-buku ini ya, gue mau pasang sprei dulu."

__ADS_1


"Oke," ucap Syahla datar.


Anggika menatap sahabatnya sejenak sebelum melanjutkan aktivitas nya. Wajah cantik Syahla terlihat lesu dan tidak bersemangat. Ia menghela napas berat dan mendekati Syahla perlahan.


"Udah dong sedihnya, kan kasihan Pak Amar di sana kalau Lo sedih terus."


"Aku pengennya juga nggak mau sedih Nggi, tapi ya gimana? Air mataku tiba-tiba ngalir sendiri," Syahla menjawab lesu. Air matanya tiba-tiba kembali mengalir.


"Waduh, udah dong, jangan nangis lagi, cup cup cup." Anggika memeluk sahabatnya erat-erat. "Kan ada Gue di sini. Udah ah, beres-beres lagi yuk, biar nggak sedih mulu."


Syahla menganggukkan kepala. Setelah menghapus air matanya, ia sibuk menata buku-buku milik Anggika di dalam rak.


..."Kabar terkini. Pesawat jenis Airbus A320, jatuh dalam perjalanan menuju bandara internasional Amerika Serikat. Kejadian ini terjadi pukul 12 waktu setempat. Sampai saat ini, belum ada informasi resmi tentang korban atau penyebab pasti kecelakaan ini. Tim penyelidik kecelakaan udara segera memulai penyelidikan untuk mencari tahu apa yang menyebabkan jatuhnya pesawat ini."...


Syahla dan Anggika sontak menoleh ke asal suara yang berasal dari televisi yang memang dibiarkan menyala. Tanpa memperdulikan buku-buku Anggika yang masih berserakan di lantai, Syahla terburu-buru berlari ke ruang televisi. Anggika turut menyusul dengan panik.


"Jangan berpikiran buruk dulu La, siapa tau itu bukan pesawat Pak Amar," Anggika berusaha menenangkan Syahla yang kelihatan shock.


"Gimana aku nggak berpikiran buruk, Nggi? Ini udah delapan jam sejak suamiku pergi dan belum ada kabar apa-apa. Gimana kalau suamiku.. Suamiku.." Syahla jatuh terduduk di atas lantai. Hatinya terasa hancur berkeping-keping. Belum sembuh rasa sedih karena ditinggal jauh oleh sang suami, Syahla sekarang harus menghadapi jikalau suaminya tidak selamat. "Nggi, suamiku gimana?


Dalam keadaan chaos, handphone Syahla berdering. Buru-buru Syahla mengangkat telepon, ternyata itu adalah Umi Zahra.


"Nduk!" Suara Umi Zahra juga terdengar panik dari seberang sana. "Umi kok denger di berita ada pesawat jatuh. Suamimu nggak apa-apa kan? Sudah bisa ditelepon?"


"Belum Umi.." Syahla kembali menangis. "Gimana ini Mi? Gimana kalau Mas Amar ada di dalam pesawat itu?"


"Ya Allah.." Umi Zahra menghembuskan napas berat. "Innalillahi wa innalillahi rojiun.."


"Jangan begitu Umi!" marah Syahla setengah berteriak. "Jangan mendoakan Mas Amar mati!"


"Bukan begitu Nduk, Umi cuma—"


Syahla sudah tidak mendengarkan lagi ucapan uminya karena telepon telah ia matikan. Dengan cepat, gadis itu segera menelepon Ustadz Amar berkali-kali, meski tentu saja tidak diangkat.

__ADS_1


"Angkat dong Mas, please.." Syahla berkomat-kamit berdzikir. Anggika berusaha menghubungi saudaranya yang bekerja di bandara internasional jakarta.


"Belum ada info ya Om? Oke, oke, tolong hubungi Anggi secepatnya kalau udah ada info ya," kata Anggika pada orang di seberang telepon. Setelah telepon mati, Anggika mengalihkan pandangan pada Syahla yang sedang sibuk menelepon Ustadz Amar berkali-kali.


"Mas, angkat Mas.." desis Syahla putus asa.


"La," Anggika mendekati sahabatnya yang terlihat kalut. "Tenang dulu ya, Pak Amar pasti baik-baik saja. Sekarang kita berdo'a aja ya?"


Syahla masih tetap menempelkan handphonenya pada telinga, berharap suara menyambungkan pada telepon itu akan berubah menjadi suara berat suaminya. Meskipun nihil karena lagi-lagi teleponnya tidak ada yang menjawab.


Kaki Syahla tiba-tiba merasa lemas, kepalanya berputar-putar, dan dunianya terlihat hitam seketika. Hal terakhir yang ia lihat adalah Anggika yang tampak meneriakkan namanya dengan panik.


...----------------...


Saat membuka mata, hal pertama yang Syahla cari adalah handphonenya. Ia meraba-raba kasurnya dengan gusar, dan merasa frustasi saat benda pipih itu tidak ada di sana.


"Nggi!" Teriaknya sambil berlari keluar dari kamar. "Handphone ku mana?"


Di depan kamar, tampak Anggika yang sedang membawa handphonenya sambil menelpon seseorang. Syahla buru-buru menghampiri dan merebut benda itu dari tangan Anggika.


"Halo?" Syahla berkata dengan suara gemetar. Jantungnya berdegup tak karuan. Dia tidak tahu siapa yang menelepon, tapi ia bersiap menerima kabar terburuk.


"Istri?"


Suara berat itu sontak membuat mata Syahla terbelalak kaget, air matanya merebak seketika. Suara itu, adalah suara yang ia rindukan sejak beberapa jam yang lalu. Meskipun baru berpisah sebentar, ia sudah sang rindu dengan suara itu.


"Mas.." Syahla menangis tersedu-sedu. "Mas nggak apa-apa kan?"


"Mas nggak apa-apa sayang.." Ustadz Amar terdengar menghela napas berat. "Maaf sudah membuat kamu khawatir. Sebenarnya saya sudah mau telepon sejak transit di Singapura, tapi kebetulan handphone saya mati. Saya baru bisa nelepon sekarang, dan malah mendengar berita kamu pingsan karena khawatir. Sekarang kamu nggak usah khawatir sayang, saya baik-baik saja.."


"Alhamdulillah.." Syahla tak henti-hentinya mengucap syukur. "Saya.. Saya sudah takut sekali kalau kehilangan Mas. Kalau sampai Mas meninggalkan saya, saya nggak tau lagi harus gimana.." suara Syahla tergagap.


"Mas jangan ilang-ilangan lagi ya? Tolong hubungi saya kapanpun Mas pegang handphone, tolong kabari saya supaya saya tidak khawatir."

__ADS_1


"Iya sayang, maaf.." Ustadz Amar merasa tidak tega mendengar suara istrinya yang tersendat-sendat. "Maafkan saya ya?"


Air mata Syahla kembali mengalir. Tapi kali ini bukan tangis sedih, melainkan rasa syukur karena suaminya masih diberikan keselamatan. Anggika yang berada di sebelahnya juga turut menghembuskan napas lega.


__ADS_2