USTADZ GALAK

USTADZ GALAK
76. Mas Suami Pulang


__ADS_3

"APA-APAAN?" Gian sontak mencengkram kerah baju lelaki itu, menatapnya dengan sengit. "Jangan sentuh-sentuh temanku!"


"Teman?" Lelaki itu menaikkan sebelah alis. "Aku belum pernah melihat kamu di sekitar istriku."


"Istri?" Kening Gian berkerut. Ia lantas menoleh pada Syahla, meminta penjelasan. Syahla kemudian mendekati mereka berdua dan berusaha melepaskan cengkeraman Gian pada leher suaminya.


"Gian, tolong lepasin. Kenalin, ini Mas Amar, suamiku."


Jelas saja hal itu membuat Gian membelalakkan mata. Siapa yang menyangka kalau saat ini dirinya akan bertemu dengan suami Syahla secara langsung?


"Eh, maaf," Gian buru-buru melepaskan cengkeramannya, sementara Ustadz Amar menepuk-nepuk pakaiannya seolah sentuhan Gian adalah sesuatu hal yang kotor.


"Mas, Mas kok udah ada di sini? Bukannya tadi pagi masih di Amerika?" Syahla mendekati suaminya sambil bertanya keheranan.


"Saya tiba-tiba kangen banget sama kamu sayang, jadinya saya langsung pesan penerbangan paling cepat ke Jakarta. Saya sengaja nggak ngabarin kamu karena mau kasih kejutan, tapi malah jadi saya yang terkejut. Saya bingung karena kamu maupun Anggika nggak ada di apartemen padahal sudah malem. Akhirnya saya cek lokasi handphone kamu dan ternyata ada di sini." jelas Ustadz Amar panjang lebar. "Kamu nggak apa-apa kan?"


"Saya baik-baik saja," Syahla tersenyum. "Cuma, pacarnya Anggika sekarang harus di rawat karena habis jatuh ke jurang."


"Innalillahi.." Ustadz Amar mengusap wajahnya sambil memandangi gedung rumah sakit. "Tapi kamu sendiri baik-baik saja kan?"


"Mas bisa lihat sendiri," Syahla memutar tubuhnya untuk memastikan keadaannya. Ustadz Amar menghela napas lega dan memeluk istrinya erat-erat.


"Saya kangen sama kamu."


"Saya juga."


Lama mereka berpelukan, membuat Gian hanya mampu memalingkan muka melihat pemandangan di depannya. Padahal, baru seminggu yang lalu ia yakin bisa melepaskan Syahla, tapi ternyata melihat kemesraan Syahla dengan laki-laki lain secara langsung bisa membuatnya sesakit ini.

__ADS_1


"Eng, kalau gitu, aku pulang duluan ya," Gian akhirnya menyela pembicaraan pasutri itu, dia tidak mau berada di sana lebih lama.


"Eh, bareng kita aja Gian," Syahla menawarkan. "Malam-malam begini mana ada bus yang lewat."


"Bareng?" Ustadz Amar mengerutkan kening. "Memangnya dia searah sama kita?"


"Oh iya, saya belum pernah bilang ya, Gian ini tetangga apartemen kita loh!"


"Oh.." Ustadz Amar mengangguk-anggukkan kepala, matanya memperhatikan Gian dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Kalau kamu nggak keberatan, kebetulan bangku belakang mobil saya kosong." ujar Ustadz Amar kemudian.


Gian hanya mampu tersenyum masam sembari melirik ke arah Syahla. Sebenarnya ia ingin sekali menolak, tapi melihat tatapan penuh harap gadis itu membuatnya luluh juga.


Pada akhirnya, Syahla, Ustadz Amar dan Gian kembali ke apartemen mereka dengan menggunakan mobil yang sama. Syahla dan Ustadz Amar duduk di barisan depan, dan Gian duduk bersama barang-barang bawaan mereka di bangku belakang. Ia hanya mampu menghela napas panjang sembari melihat-lihat pemandangan jalan yang gelap demi mengalihkan perhatiannya dari kemesraan dua sejoli di depannya itu.


"Mas memang segitunya kangen sama saya?" Syahla menggoda sang suami. Tangannya menggenggam sebelah tangan Ustadz Amar yang bebas.


"Mas, jangan begitu, malu sama Gian." ucap Syahla sambil melirik ke belakang lewat kaca yang berada di depannya.


"Biarin, dia tidur." jawab Ustadz Amar yang membuat Gian mau tidak mau terpaksa menutup matanya. Dia sebenarnya masih ingin membuka mata, hanya saja pemandangan di depannya tidak cukup indah untuk dilihat.


"Kalau gitu.." Syahla menggigit bibir dan mulai berhitung di dalam hati. Setelah dirasa waktunya cukup tepat, gadis itu lantas mendaratkan sebuah ciuman ringan di pipi sang suami. "Saya juga kangen sama Mas suami,"


Ustadz Amar terkaget-kaget karena tidak menyangka dirinya akan mendapatkan hadiah itu. Jarang-jarang istrinya berinisiatif memberi ciuman terlebih dulu. Sepertinya ada bagusnya juga mereka LDR-an sementara waktu.


"Kamu hampir saja bikin kita celaka," Ustadz Amar menggeleng-gelengkan kepala. "Kalau saya nggak fokus gara-gara ciuman kamu, mobil kita bisa oleng loh."


"Ih, jangan ngomong begitu dong Mas!" Syahla bersungut-sungut. "Yaudah deh, saya nggak bakal cium lagi!"

__ADS_1


"Bukan begitu sayangku," Ustadz Amar buru-buru menggenggam kembali tangan sang istri. "Maksudnya nanti, saya ingin kita mesra-mesraan nanti, saat kita sudah sampai rumah."


"Memangnya Mas nggak capek?"


"Capek sih, tapi kalau sama kamu nggak capek."


"Halah, gombal!" Syahla tertawa geli mendengar ucapan sang suami. Berbeda halnya dengan Gian yang berada di belakang. Laki-laki itu sedang bersikeras untuk tidur.


Ayolah mimpi, cepat datang! Aku nggak sanggup dengerin obrolan mesra mereka! teriaknya di dalam hati.


...----------------...


Mereka sampai di apartemen saat waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Di dalam mobil itu hanya tersisa Ustadz Amar yang masih terjaga, sementara Syahla dan Gian sudah tertidur lelap. Meskipun perjalanan yang ditempuh Ustadz Amar lumayan jauh, tetapi badannya yang bugar membuatnya bisa tetap menyetir tanpa ngantuk sama sekali.


"Sayang," Ustadz Amar menepuk lembut bahu istrinya. "Bangun, sudah sampai."


Syahla mengerjap-ngerjapkan mata. Dia masih linglung karena masih setengah sadar. Sambil menunggu sang istri sadar sepenuhnya, Ustadz Amar keluar dari mobil terlebih dulu. Tanpa membangunkan Gian, Ustadz Amar langsung saja membuka pintu belakang. Gian yang sedang tertidur pulas sembari kepalanya bersandar pada pintu mobil tentu hampir jatuh, dan itu membuat kesadarannya kembali seketika.


"Ups, aku kira kamu nggak tidur." celetuk Ustadz Amar tanpa merasa bersalah. Segera saja, dikeluarkannya semua barang-barang yang ada di dalam mobil untuk dibawa ke apartemen masing-masing.


"Kamu nggak usah bawa apa-apa, nanti capek." Ustadz Amar merebut tas ransel Syahla dan menyangkutkan di bahunya. Tangan kanannya kemudian menyeret koper berisi pakaiannya dan tangan kirinya menggenggam tangan Syahla. Sambil bergandengan tangan, kedua pasangan suami istri itu kemudian berjalan beriringan menuju lift.


"Apesnya diriku," gerutu Gian sambil berjalan mengikuti Syahla dan Ustadz Amar. "Udah patah hati, sendirian, dipanas-panasin pula." Matanya kemudian terbelalak saat melihat pintu lift sudah hampir tertutup, padahal dirinya masih susah payah membawa tasnya.


"Eh, tunggu!"


Terlambat. Pintu lift sudah tertutup. Gian mau tidak mau hanya bisa meratapi nasib. Ia menyandarkan badannya pada tembok sambil menunggu lift kembali dari lantai atas dan menjemputnya.

__ADS_1


__ADS_2