USTADZ GALAK

USTADZ GALAK
72. Rencana Naik Gunung


__ADS_3

Tanpa terasa, bulan demi bulan berlalu dengan cepat. Kampus Syahla sudah selesai melaksanakan ujian akhir semester dan para mahasiswa tinggal menunggu nilai mereka keluar. Maka, sudah pasti akan ada libur panjang selama dua bulan sampai semester berikutnya kembali dimulai.


"Mas beneran nggak balik ke Indonesia?" Syahla menopangkan dagu pada telapak tangannya sambil memandangi sang suami yang berada di layar ponsel. "Dua bulan loh Mas. Aku mau ngapain aja selama itu coba?"


"Maaf sayang," sesal Ustadz Amar. "Di sini saya masih ada penelitian yang harus diselesaikan. Sabar ya, kalau bisa lebih cepat selesai, saya pasti akan pulang."


"Ya tapi kan," Syahla mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuknya. "Saya kesepian nih. Mana Umi, Abah, Mbak Hafsa sama Mas Sahil lagi pada umroh. Saya kan jadi nggak bisa pulang kemana-mana,"


Ustadz Amar memandangi wajah cemberut sang istri dengan raut menyesal. "Bulan besok mereka sudah pulang kan?"


"Iya Mas, tapi sebulan ini saya ngapain aja coba? Nggak ada suami, nggak ada keluarga, kasihan banget sih saya," Syahla masih berbicara dengan bibir manyun. "Mana suami saya sering sibuknya, jarang banget nelpon duluan."


Ustadz Amar menggigit bibir mendengar gerutuan sang istri. Akhir-akhir ini dirinya memang sedang disibukkan dengan berbagai tugas yang memusingkan, jadi kadangkala tidak sempat menghubungi sang istri duluan.


"Maaf ya," hanya itu yang bisa diucapkan Ustadz Amar untuk meredam kemarahan Syahla.


"Yaudah deh, saya mau tidur, udah capek. Mas masih ada kelas nggak hari ini?"


"Masih ada sampai sore sayang," Ustadz Amar melihat arlojinya yang terpasang di pergelangan tangan. "Aduh sayang, maaf ya, kita harus akhiri telepon kita. Soalnya lima menit lagi saya harus masuk."


"Tunggu, tunggu," Syahla buru-buru mencegah ketika melihat gestur suaminya yang hendak mematikan sambungan telepon. "Saya aja yang matiin!"


"Memang apa bedanya?"


"Pokoknya beda! Saya nggak mau merasa ditinggalkan karena Mas matiin telepon duluan,"


"Hah? Memangnya bisa begitu?"


"Bisa! Udah ya Mas, Assalamu'alaikum!"


"Waalaikumsalam.."

__ADS_1


Klik, Syahla terlebih dulu menekan ikon merah. Setelah sambungan telepon terputus, tiba-tiba Syahla merasa sedih. Sekarang apa yang harus ia lakukan sendirian? Apa iya dirinya harus berdiam diri di dalam kamar selama satu bulan?


"La!" Sedang sibuk menggalaukan nasibnya, Syahla mendengar teriakan Anggika dari ruang tengah. Ia pun segera menghampiri sahabatnya itu sebelum terbit panggilan kedua dengan suara yang lebih keras.


"Gue bawa udang nih," Anggika mengangkat tinggi-tinggi sebuah kotak makanan yang berlogo restoran favorit Syahla. Tanpa berlama-lama, Syahla langsung bergabung dengan Anggika di meja makan.


"Darimana aja sih? Tega banget ninggalin aku sendirian," Meski sambil mengomel, Syahla tetap membuka kotak makanan yang dibawa Anggika.


"Astaga, Gue cuma keluar satu jam doang La," Anggika menepis tangan Syahla yang hendak mengambil udang dengan tangannya. "Pake sendok, kalau nggak cuci tangan dulu," perintahnya kemudian. Syahla memberengut sebal, tapi ia menuruti perkataan Anggika.


"Ya habisnya, aku kan kesepian nggak ada temen. Temen aku satu-satunya di sini cuma kamu doang. Tapi kamunya ilang-ilangan," Syahla kembali lagi ke meja makan setelah mencuci tangan dan mengambil sendok.


"La, jujur deh. Ini bukan cuma gara-gara Gue kan? Lo ngomel-ngomel kaya begini pasti karena ada hubungannya sama Pak Amar,"


Syahla menatap Anggika sejenak, kemudian tersenyum tipis. Sahabatnya itu tahu saja kalau ada hal yang membuatnya tidak mood, itu pasti karena Ustadz Amar.


"Ya bayangin aja Nggi, masa suamiku nggak pulang ke Indonesia liburan ini? Terus keluargaku semuanya berangkat umroh. Terus, diriku ini harus pulang kemana coba? Masa cuma tidur-tiduran aja di apartemen sampai liburan selesai?" Syahla mulai mengomel lagi, bibirnya kembali manyun karena menceritakan hal yang membuatnya kesal.


"Apaan?" Syahla mulai tertarik.


"Naik gunung aja gimana?"


"Hah? Nggak usah ngadi-ngadi deh!" sergah Syahla.


"Yeee, dengerin dulu! Lo tau kan, kalo Kak Ren itu punya hobi naik gunung? Nah, kebetulan Gue diajak nih. Masalahnya, Gue kan nggak ada temen, jadi sementara Gue tolak dulu. Tapi kalau Lo mau ikut, Gue juga ikut."


Syahla mengernyitkan dahi sejenak mendengar penjelasan Anggika. "Bahaya nggak sih naik gunung itu? Aku belum pernah sama sekali soalnya."


"Ya sama aja lah, Gue juga belum pernah. Tapi kalau kata Kak Ren, gunung yang kita naikkin kali ini nggak setinggi itu kok, dan medannya mudah buat para pemula kaya kita."


"Hmmm.." Syahla tampak berpikir sejenak. "Aku tanya dulu sama Mas Amar deh,"

__ADS_1


"Oke, ntar kabarin Gue ya. Biar Gue kabarin Kak Ren."


"Oke," Syahla menganggukkan kepalanya.


...----------------...


"Naik gunung?" Ustadz Amar memastikan telinganya tidak salah dengar. "Sejak kapan sayangku punya hobi naik gunung?"


Syahla menghela napas. Wajar saja kalau Ustadz Amar punya pemikiran seperti itu. Karena selama menikah dengannya, Ustadz Amar paling tahu kalau Syahla ini adalah tipe orang yang malas bergerak, bahkan lapar pun bisa ditahan kalau sedang malas. Lalu sekarang, tiba-tiba naik gunung?


"Saya diajakin sama Kak Ren, pacarnya Anggika. Kata Kak Ren, gunungnya nggak tinggi-tinggi banget kok, dan medannya mudah buat para pemula." ucap Syahla menirukan penjelasan Anggika.


Ustadz Amar menganggukkan kepalanya ragu. "Boleh sih, tapi hati-hati ya. Kalau bisa nggak usah nginep-nginep segala, langsung pulang hari itu juga."


"Nanti saya coba bilang Kak Ren deh," Syahla tersenyum karena akhirnya mendapatkan lampu hijau dari sang suami. "Mas lagi ngapain sih?"


"Baca buku," Ustadz Amar memamerkan buku dengan judul berbahasa Inggris pada Syahla. "Sambil ngelatih bahasa Inggris juga,"


"Oh.." Syahla menganggukkan kepalanya. "Eh Mas, jangan dimatiin dulu ya, saya mau tidur sambil dibacain buku."


"Dibacain? Tapi ini buku fisika sayang,"


"Nggak papa, makin nggak ngerti makin cepat ngantuk." Syahla kemudian mengambil posisi berbaring di atas kasur, dengan handphone bersandar pada gulingnya sehingga Ustadz Amar bisa melihat wajah Syahla yang sedang bersiap untuk tidur.


"Ayo Mas, bacanya yang keras," ucap Syahla saat dilihat suaminya itu hanya terbengong-bengong di sana.


Ustadz Amar hanya terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Kadangkala perilaku istrinya itu sama sekali tidak bisa ditebak. Meskipun begitu, Ustadz Amar mengakui kalau itu adalah sisi istrinya yang menggemaskan, yang membuat Ustadz Amar semakin menyukainya.


"Oke, saya mulai ya," Ustadz Amar berdehem sejenak sebelum mulai membaca materi fisika dalam bahasa Inggris. Sementara Syahla mendengarkan sambil memejamkan mata.


Tidak sampai sepuluh menit, Syahla sudah melayang-layang di alam mimpi. Sementara Ustadz Amar masih membacakan rumus fisika dari seberang sana dengan semangat, seperti memberikan kuliah pada mahasiswanya secara online.

__ADS_1


__ADS_2