
Esok harinya, Ustadz Amar berangkat ke kampus dengan perasaan gembira. Ia sudah berbaikan dengan istrinya, bahkan hari ini Syahla sudah mengirimkan foto selfienya yang sedang tersenyum manis.
"Cantik sekali," puji Ustadz Amar sembari kembali memandangi foto sang istri. Belum puas dengan itu, Ustadz Amar mengatur foto itu sebagai wallpaper handphonenya.
"Hai Amar,"
Ustadz Amar seketika mendongakkan kepala dari layar ponselnya ketika mendengar sapaan dari seorang wanita. Saat melihat siapa yang datang, Ustadz Amar langsung melengos malas.
"Wait, wait, biarkan aku bicara," Dasha mensejajarkan langkahnya dengan Ustadz Amar. "Aku mau minta maaf soal waktu itu,"
"Ya," jawab Ustadz Amar singkat, bahkan sama sekali tidak menoleh pada Dasha.
"Serius? Kamu benar-benar sudah memaafkan aku? Aku benar-benar tidak menyangka kalau istrimu akan marah. Aku benar-benar cuma bercanda waktu itu. Aku harap kita bisa tetap berteman seperti sebelumnya."
Ustadz Amar menghentikan langkah dan menoleh ke arah Dasha dengan alis bertaut. "Berteman seperti sebelumnya? Memangnya kita pernah berteman?"
Dasha menghela nafas panjang. "Ayolah Mar, aku sangat kagum dengan kamu. Aku hanya ingin berteman denganmu sebagai sesama mahasiswa Harvard. Memangnya itu saja tidak boleh?"
"Aku tidak tertarik." sahut Ustadz Amar cuek. "Aku lebih memilih menjaga perasaan istriku ketimbang berteman dengan kamu."
"Tapi," Dasha berjalan mendahului Ustadz Amar dan mencegatnya sampai langkah laki-laki itu terhenti. "Istrimu sudah memaafkan aku kok,"
"Bagaimana kamu bisa tau?"
"Ini," Dasha menunjukkan layar handphonenya. "Istrimu sudah balas DM ku,"
Kening Ustadz Amar mengerut. "Kamu stalking istriku?"
"Aku cuma cari nama dia di instagram dan aku lihat kamu follow dia. Kenapa? Apa aku juga tidak boleh berteman sama istrimu? Dia saja mau kok berteman denganku,"
Ustadz Amar menghela napas panjang. Yah, mau bagaimana lagi kalau istrinya saja sudah memaafkan. Dia akan mengalah kali ini.
"Oke,"
"Jadi kamu memaafkan aku kan?" Mata Dasha berbinar-binar.
"Hm," Ustadz Amar menjawab cuek sembari berjalan mendahului Dasha.
"Kalau gitu, cisss," Tanpa menunggu persetujuan Ustadz Amar, Dasha terlebih dulu mengarahkan kamera pada Ustadz Amar. Ustadz Amar jelas terkejut dengan kejadian yang begitu cepat.
__ADS_1
"Apa-apaan kamu? cepat hapus!" Marah Ustadz Amar.
"Aku mau kirim untuk istrimu!" Dasha terlebih dulu berlari menjauhi Ustadz Amar. Ustadz Amar hanya bisa memandangi gadis itu sambil menghela napas panjang.
"Seharusnya tidak apa-apa kan?"
...----------------...
Di sisi lain, Syahla sedang berada di dalam apartemen sambil menonton sinetron di televisi saat notifikasi handphonenya berbunyi. Tanpa mengalihkan pandangan dari adegan romantis di layar besar itu, tangannya menggapai-gapai sofa dimana handphone ia letakkan. Saat sudah dapat, ia membuka notifikasi instagram dan matanya langsung terbelalak.
'Kamu pasti sudah bilang pada suamimu. Terimakasih, berkat kamu, dia memaafkanku.'
Kata-kata itu dilengkapi dengan foto selfie Dasha dengan Ustadz Amar. Sepertinya foto itu diambil saat mereka sedang berangkat menuju kampus.
"Oh, jadi berangkatnya barengan?" Syahla serta merta menghempaskan benda pipih itu ke atas sofa dengan kasar. "Kaya gitu bilangnya nggak ada apa-apa."
Sedang kesal-kesalnya, Syahla tiba-tiba dikejutkan dengan suara ngeongan Marla yang sangat keras. Langsung saja Syahla melonjak dari duduknya dan menghampiri Marla yang berada di dalam kamarnya.
"Astaghfirullah!" Syahla kaget bukan main karena kasurnya sudah dipenuhi muntahan kucing. "Kamu kenapa nak?" Syahla langsung menggendong Marla yang terlihat lesu.
Merasa khawatir, Syahla bergegas keluar dari apartemen sambil menggendong Marla. Dengan agak tergesa-gesa, ia menggedor-gedor pintu apartemen Gian. "Assalamu'alaikum! Gian! Gian! Tolong buka pintunya!"
"Kenapa? Ada apa?"
"Marla muntah-muntah! Tolong kamu periksa!"
Gian langsung mengalihkan pandangannya pada kucing putih yang berada dalam gendongan Syahla. Segera saja diraihnya kucing itu dan masuk ke dalam apartemen. "Yuk masuk dulu,"
Tanpa berpikir panjang, Syahla segera masuk mengikuti Gian.
Di dalam apartemen, Gian langsung memeriksa keadaan Marla. Raut wajah Gian yang terlihat serius membuat Syahla semakin cemas. "Nggak ada apa-apa kan?"
Gian tersenyum lebar. "Nggak ada apa-apa kok. Marla kayanya memuntahkan hairball, yaitu bulu-bulu kucing yang masuk ke dalam perutnya. Itu bisa sering terjadi untuk kucing yang memang berbulu lebat. Cara mengatasinya cukup dengan rajin menyisir bulunya sesering mungkin."
"Alhamdulillah," Syahla menghela napas lega. "Jadi nggak perlu diberi obat apapun kan?"
"Nggak perlu kok. Cuma kalau dia muntah lebih sering lagi, harus cepat-cepat diperiksa ke dokter."
"Oke, siap Pak Dokter." Syahla menganggukkan kepala mengerti. Gian terkekeh. Tapi kemudian tawanya memudar karena ia baru menyadari kalau saat ini mereka hanya berdua saja di dalam apartemen.
__ADS_1
"Eh, eng, kamu mau minum dulu?" tawar Gian kemudian.
"Huh?" Syahla merasa bingung, tapi kemudian ia terbelalak setelah menyadari kalau saat ini dirinya sedang berada di apartemen laki-laki seorang diri. "Yaampun, Aku nggak sadar sudah masuk rumah kamu karena saking cemasnya! Anu, aku minta maaf, tapi kayanya aku harus menolak tawaran minum kamu. Lain kali aku traktir saja sebagai ucapan terimakasih ya," Syahla lantas bergegas keluar dari apartemen itu sambil menggendong Marla. Sementara Gian hanya mampu melihat kepergian gadis itu sambil mematung.
Saat akhirnya berhasil keluar dari apartemen Gian, Syahla memukul dahinya sendiri karena merasa sangat bodoh. Dalam keadaan segenting apapun, seharusnya Syahla mengetahui bahwa seorang wanita tidak boleh masuk begitu saja ke rumah laki-laki yang bukan muhrim. Apalagi dirinya sudah berstatus sebagai istri orang. Memang ada Marla sih, tapi kan, Marla bukan manusia.
Baru saja hendak melangkahkan kaki kembali ke apartemennya sendiri, Syahla dikejutkan dengan kemunculan Anggika yang langsung menatapnya dengan tatapan penuh selidik.
"Lo ngapain malem-malem ke rumah Gian sendirian?" Anggika mulai menginterogasi. Syahla langsung meraih tangan Anggika dan cepat-cepat menuntunnya agar menjauh dari situ.
"Aku nggak ngapa-ngapain, demi Allah! Aku cuma meriksain Marla karena dia habis muntah-muntah!"
"Terus?"
"Terus apa? Yaudah, habis periksa aku keluar!"
Anggika masih menatap Syahla dengan curiga sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Lo udah bilang sama Gian kalau Lo udah nikah?"
Syahla mengerjapkan matanya sebentar, tapi kemudian menggelengkan kepalanya. "Gian nggak pernah nanya."
"Terus, Lo bakal biarin kejadian Kak Rama terulang lagi karena kebodohan Lo?"
Syahla membelalakkan mata. "Kebodohan aku?"
"Iya, kebodohan Lo yang udah bikin cowok-cowok salah paham dan bikin mereka mengharap lebih." Anggika menelengkan kepalanya. "Apa Lo emang seneng dikejar-kejar cowok begitu?"
"Astaghfirullah! Kok kamu ngomong begitu sih Nggi?"
"Terus Gue harus ngomong gimana coba? La, sebagai sahabat, Gue tu punya kewajiban buat mengingatkan kalau Lo ada salah. Dan sekarang Gue bilang dengan jujur dan gamblang, kalau yang Lo lakuin sekarang tuh salah besar!"
"Oke, aku memang salah karena masuk gitu aja ke rumah Gian. Tapi, aku kan nggak sengaja melakukannya Nggi. Aku ngelakuin itu karena khawatir sama Marla," Syahla mencoba membela diri.
"Yah, itu memang benar. Lo punya alasan, dan Pak Amar di sana juga punya alasan. Jadi, kalau semisal Pak Amar di sana ada bareng cewek, Lo nggak boleh marah, karena di sini juga Lo gatel sama cowok!"
"Nggi!" nada suara Syahla sedikit meninggi mendengar ucapan Anggika. "Omongan kamu udah keterlaluan."
"Nggak masalah kan? Karena yang Gue omongin sekarang itu fakta!"
Syahla membungkam mulutnya. Matanya sudah berkaca-kaca menahan tangis. Dia belum pernah dikatai seperti itu di depan mukanya oleh orang terdekatnya sendiri. Terlebih lagi ini Anggika, sahabatnya selama kuliah di Jakarta.
__ADS_1
"Gue ngomong begini, supaya Lo bisa intropeksi diri. Gue nggak masalah kalo Lo mau marah sama Gue. Tapi, yang paling penting, omongan Gue bisa bikin Lo berubah." Setelah berkata seperti itu, Anggika langsung pergi menuju apartemen. Meninggalkan Syahla yang sedang berusaha mati-matian menahan air matanya agar tidak jatuh.