USTADZ GALAK

USTADZ GALAK
53. Maafkan Saya


__ADS_3

Suara adzan Ashar yang menggema dari toa masjid membuat Ustadz Amar terhenyak.


"Astaghfirullahalazim," desisnya sembari mengusap wajah. "Aku belum sholat dzuhur."


Tanpa menunda-nunda, Ustadz Amar bangkit dari duduknya, matanya kemudian mencari-cari petugas polisi yang masih berada di sana.


"Permisi Pak," ucapnya pada seorang polisi yang lewat. "Boleh saya keluar sebentar untuk mengambil wudhu? Saya mau sholat ashar."


Polisi itu terdiam sejenak, lantas ia menghampiri temannya yang sesama polisi. Setelah berdiskusi panjang, ia kembali menghampiri Ustadz Amar dan membuka kunci sel. "Silakan, tapi jangan lama-lama,"


"Baik Pak," Ustadz Amar menganggukkan kepala.


Menepati janjinya, seusai membersihkan diri dan berwudhu, Ustadz Amar kembali ke dalam sel untuk melaksanakan sholat. Ia mendirikan sholat ashar terlebih dahulu, baru kemudian mengganti hutang sholat dzuhurnya. Di setiap sujudnya, Ustadz Amar berdzikir lama, berdoa kepada Allah agar diberikan petunjuk.


...----------------...


Pukul sepuluh malam, barulah sel kembali terbuka. Ustadz Amar sedang duduk berdzikir saat itu, maka ia menolehkan kepalanya heran.


"Hasil tes sudah keluar. Anda dinyatakan bebas dari alkohol dan obat-obatan terlarang. Setelah mengurus beberapa dokumen, Anda boleh pulang."


Ustadz Amar mengucap syukur. Ia kemudian mengikuti polisi keluar dari kerangkeng manusia itu.


Setelah menyelesaikan semuanya, Ustadz Amar keluar dari kantor polisi dengan keadaan lesu, letih dan lapar. Ia menghela napas panjang ketika teringat istrinya. Apa yang ia lakukan sekarang? Apakah Syahla sedang menangis sendirian di dalam kamarnya?


"Mas," Ustadz Amar tertegun ketika mendapati sesosok perempuan yang mirip dengan Syahla berdiri di depannya. Ia yakin dirinya sedang bermimpi. Apakah kalau terlalu stres bisa menyebabkan halusinasi?


"Mas," panggil sosok itu lagi. Ustadz Amar tergagap. Astaga, itu bukan khayalannya. Syahla benar-benar berdiri di hadapannya saat ini.


"Syahla," Ustadz Amar memanggil nama istrinya gugup. "Kamu ada di sini dari tadi?"

__ADS_1


"Iya," Syahla mengangguk. "Saya menunggu Mas Suami keluar."


Ustadz Amar menghela napas panjang. "Dari tadi? Sendirian?"


"Iya, saya sudah menyuruh Anggika pulang. Kasihan dia kalau mau ikut menunggu di sini."


Ustadz Amar tiba-tiba merasakan hatinya bagai ditusuk-tusuk oleh pisau yang tajam. Ia merasa hatinya sakit dilanda perasaan bersalah karena sudah memperlakukan istrinya seperti itu.


"Ayo kita pulang. Saya sudah pesan taksi," Syahla sebisa mungkin menahan suaranya agar tidak bergetar. Padahal sebenarnya dia sudah ingin menangis saat ini juga.


Ustadz Amar mengetahui hal itu, maka ia menarik sang istri ke dalam pelukannya. "Maaf, maafkan saya Syahla, Maaf," Ustadz Amar mengulang-ulang kata maaf pada sang istri. "Saya bersalah. Maafkan saya,"


Tangisan Syahla yang sebenarnya sudah tertahan lama akhirnya mau tidak mau pecah juga. Ia menangis tersedu-sedu di pelukan sang suami.


"Mas jahat, jahat banget! Saya benci sama Mas!" ucap Syahla di tengah tangisnya. Ustadz Amar mengeratkan pelukannya, membiarkan Syahla mencaci maki dirinya. Ia memang pantas menerima hal itu.


...----------------...


"Saya sudah keterlaluan," Ustadz Amar menyandarkan kepalanya di atas paha Syahla sambil menciumi punggung tangan sang istri. "Saya memang tidak pantas dimaafkan,"


Syahla menggelengkan kepalanya. "Tidak papa Mas, masalah ini memang berat. Saya nggak tahu hal apa yang Mas dengar tentang saya, tapi saya harap Mas bisa mengatakannya dulu pada saya, karena saya adalah istri Mas."


Ustadz Amar mendongakkan kepalanya, menatap wajah sang istri yang tampak sembab karena terlalu banyak menangis. "Saya nggak tau apa yang harus saya lakukan. Saya tau itu nggak benar, tapi dengan bodohnya saya malah meragukan kamu."


"Memangnya, apa yang sudah Mas dengar tentang saya?"


Ustadz Amar menundukkan kepalanya sejenak. "Rama bilang sama saya kalau.." Ustadz Amar menatap sang istri, ada rasa tidak tega yang muncul di dalam hatinya saat melihat mata jernih Syahla. "Kalau kamu dan dia.."


"Saya dan Kak Rama kenapa?" Syahla mulai merasa tidak sabar. "Bilang saja Mas,"

__ADS_1


Ustadz Amar menelan ludahnya gugup dan berkata lirih. "Katanya, kalian sudah pernah tidur bersama."


"Astaghfirullahalazim!" Syahla sontak bangkit dari duduknya. "Ya Alloh Mas, mana mungkin saya melakukan itu!"


"Iya sayang, saya juga tidak percaya. Makanya saya merasa bodoh karena sempat meragukan kamu." Ustadz Amar kembali meraih tangan sang istri. "Maafkan saya ya?"


Air mata Syahla sudah kembali mengalir deras. "Tega sekali Kak Rama bilang begitu. Demi Alloh Mas, saya dengan dia tidak pernah ada hubungan apa-apa!"


"Iya sayang, iya," Ustadz Amar memeluk Syahla untuk menenangkan. "Saya percaya sama kamu. Makanya, apapun yang terjadi, saya akan jebloskan dia ke penjara. Kalau perlu, saya juga akan menyewa pengacara paling handal di Jakarta. Kita akan baik-baik saja. Pasti."


...----------------...


Ruangan di rumah sakit itu terlihat lengang. Hanya terbaring seorang laki-laki muda dengan perban yang melilit wajahnya. Meski tidak ada luka yang fatal, ia bisa merasakan sakit yang luar biasa pada bekas-bekas pukulan yang ia terima.


"Selamat pagi," Seorang laki-laki tinggi besar tiba-tiba masuk ke dalam ruangan. Kak Rama membuka matanya dan mengernyitkan dahi heran.


"Anda siapa ya?"


"Saya dari kepolisian," pria tinggi besar itu menunjukkan kartu identitas polisinya. "Saya kemari karena mendapat laporan Anda sudah melakukan tindakan spionase, merekam seseorang tanpa izin, serta menyebarkan berita hoax yang menyebabkan kerugian."


"Aduh Pak, kayanya ada salah paham deh." Kak Rama menunjuk wajahnya sendiri. "Bapak nggak lihat kondisi saya bagaimana? Saya justru korban di sini Pak, seharusnya Bapak menangkap orang yang sudah membuat saya masuk rumah sakit!"


"Kami sudah menyelidiki hal itu, dan orang yang bertanggungjawab sudah bersedia menjalani proses hukum. Dia juga menyanggupi untuk membayar denda dan memberi perawatan kepada Anda sebagai korban,"


Kak Rama menghela napas kesal. "Saya nggak terima kalau cuma dihukum denda, dia juga harus di penjara!"


"Itu benar, kalau begitu mari kita sama-sama pergi ke penjara." Ustadz Amar tiba-tiba ikut masuk ke dalam ruangan, membuat mata Kak Rama membulat.


"Ini Pak, orang yang sudah menganiaya saya! Tangkap dia, Pak!" teriak Kak Rama sambil menunjuk-nunjuk Ustadz Amar dengan sengit. "Padahal saya nggak salah apa-apa!"

__ADS_1


"Kita dengarkan penjelasan kamu di pengadilan," Ustadz Amar menyilangkan tangannya di depan dada. "Saya sudah bersedia untuk mengikuti proses pengadilan karena menghajar kamu. Tapi, kamu juga harus melakukan hal yang sama. Bertanggungjawablah dengan apa yang sudah kamu lakukan,"


Ustadz Amar kemudian mendekati Kak Rama dan berbisik di telinganya. "Karena kalau kamu memutuskan untuk kabur, saya nggak ada pilihan lain selain mematahkan leher kamu dan mengirim kamu langsung ke neraka."


__ADS_2