
...“Kabar baik untuk warga Jakarta. Komplotan geng samurai yang meresahkan masyarakat akhirnya tertangkap semalam. Polisi berhasil meringkus ketua geng beserta anak buahnya. Saat ini, polisi sedang melakukan penyelidikan lebih lanjut mengenai para wanita yang selama ini dikabarkan hilang. Kami akan terus memberi informasi tentang perkembangan kasus ini selanjutnya.”...
Syahla menghela napas lega saat mendengar berita tersebut melalui televisi yang tertempel di dinding rumah sakit. Meskipun syahla berungkali mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja, tetapi Ustadz Amar bersikeras untuk tetap membawanya periksa di rumah sakit. Suami syahla itu sepertinya benar-benar khawatir dan ingin memastikan bahwa istrinya baik-baik saja setelah peristiwa penculikan itu.
"Loh, kok sudah bangun? Tidur lagi sana." Ustadz Amar muncul dari balik pintu, kedua tangannya membawa plastik besar supermarket. Setelah meletakkan semua barang-barang belanjaannya di atas meja, ia kemudian mengupaskan buah pir untuk sang istri.
"Capek tau kalau tidur terus," Syahla memajukan bibir. Ia reflek memundurkan badan saat Ustadz Amar hendak menyuapinya buah. "Ih, saya tuh sehat-sehat aja loh Mas. Bisa makan sendiri,"
"Ya nggak apa-apa, kan tetap saja kamu itu pasien. Nih," Ustadz Amar bersikeras menyuapi sang istri.
"Nggak mau, ah! Bisa makan sendiri!"
Dering suara telepon dari handphone Ustadz Amar menghentikan perdebatan mereka. Ustadz Amar langsung memberikannya pada Syahla. Syahla melotot melihat nama sang penelepon. Rupanya Umi Zahra.
"Mas, ini kok Umi video call ya? Mas nggak bilang apa-apa kan sama Umi?" Syahla bertanya panik. Ia memang berencana untuk tidak memberitahukan peristiwa kemarin kepada keluarganya, takut membuat mereka cemas.
"Eng.." Ustadz Amar menggaruk tengkuknya. "Sebenarnya, tadi waktu saya habis ke supermarket Umi telepon. Beliau tanya kok nomor kamu nggak bisa dihubungi. Terus saya bilang handphone kamu rusak karena jatuh. Eh Umi malah tanya kok saya ada di rumah sakit, saya jawab saja kamu masuk rumah sakit."
"Waduh," Syahla menepuk jidat. "Nanti Umi pasti heboh. Jangan-jangan Mas juga bilang tentang saya diculik sama Umi?"
"Nggak," Ustadz Amar langsung menggeleng. "Saya tau kamu paling nggak mau membuat Umi khawatir. Jadi saya nggak bilang apa-apa soal kemarin."
"Oke deh, bagus," Syahla mengacungkan jempolnya sesaat sebelum kemudian mengatur napas dan menekan tombol hijau pada layar. Setelah tersambung, Syahla dapat melihat wajah Umi Zahra dan Abah Baharuddin yang terlihat khawatir.
"Halo Umi, Abah," Sapa Syahla ceria. "Assalamu'alaikum,"
"Nduk," Karena terlalu cemas, Umi Zahra sampai tidak menjawab salam dari Syahla. "Kamu kenapa kok bisa masuk rumah sakit?"
"Oh, jadi.. Syahla itu.." Syahla mulai berpikir sebuah alasan yang masuk akal. "Oh, itu! Tipes! Iya! Jadi kan akhir-akhir ini kuliah lagi sibuk-sibuknya Mi, jadi Syahla lupa makan. Kena tipes deh, hehehe!"
__ADS_1
"Ya Allah.." Umi Zahra menghela napas panjang. "Kamu itu mbok ya makannya dijaga. Kamu tau nggak nduk, semingguan ini, Umi tuh kok perasaannya nggak enak terus. Kepikiran kamu terus sampai Abah marahin Umi. Katanya Syahla itu sudah gede, sudah punya suami, sudah ada yang jaga. Eh, kemarin waktu Umi nelpon malah handphone mu nggak aktif. Umi makin panik lah!"
Syahla tertawa nyengir mendengar ucapan uminya. Seperti kata orang, insting seorang ibu memang tidak pernah salah.
"Tapi sekarang buktinya Syahla juga baik-baik saja to," ucap Abah Baharuddin pada Umi Zahra.
"Baik-baik saja gimana to Bah? Orang masuk rumah sakit begitu loh!" debat Umi Zahra tak mau kalah.
"Tapi kan dia sehat-sehat saja. Iya kan La?" Abah Baharuddin mencari pembelaan pada Syahla.
"Iya Umi, nih lihat, Syahla udah nggak apa-apa kok!" Syahla dengan bergaya mengangkat lengan, seolah-olah memamerkan otot. "Besok kata dokter Syahla udah boleh pulang. Kalau nggak percaya, tanya aja sama Mas Amar,"
"Betul Umi, Abah," Ustadz Amar ikut muncul ke kamera. "Besok insyaallah sudah boleh pulang."
"Alhamdulillah.." Umi Zahra terlihat menghela napas lega. "Umi tuh jadi tenang kalau ingat kamu yang jadi suaminya Syahla. Bisa diandalkan banget. Nduk Syahla, kamu harus nurut terus sama suamimu lo ya,"
"Waalaikumsalam.." Umi Zahra dan Abah Baharuddin gantian melambaikan tangan mereka.
Setelah video call ditutup, baik Syahla maupun Ustadz Amar saling berpandangan sambil menghembuskan napas lega.
"Sebenarnya, saya merasa nggak enak sama Umi dan Abah. Mereka kira saya menjaga kamu dengan baik, padahal kamu sudah melewati berbagai macam hal mengerikan selama bersama saya." Ustadz Amar menundukkan kepalanya. "Saya merasa gagal jadi suami kamu."
"Apa sih, Mas..." Syahla mendekati sang suami yang tiba-tiba terlihat emosional. "Yang terpenting, kita bisa melewati semuanya bersama-sama kan? Saya juga baik-baik saja kok sampai sekarang. Jadi, jangan suka menyalahkan diri sendiri begitu,"
"Tapi, saya merasa kalau—"
Ucapan Ustadz Amar terputus karena Syahla sudah membungkamnya duluan dengan sebuah ciuman. Awalnya Ustadz Amar terbelalak kaget, tapi tidak menunggu waktu lama sampai ia memejamkan mata dan malah memimpin permainan mereka. Dalam waktu singkat, suami istri yang sudah melalui berbagai cobaan hidup itu saling berpelukan dengan bibir yang masih menempel satu sama lain.
"Mas!" Syahla serta merta memukul tangan sang suami yang mulai meraba-raba tubuhnya. "ini masih di rumah sakit loh!"
__ADS_1
...----------------...
Esoknya, dokter benar-benar memperbolehkan Syahla pulang karena kondisi tubuhnya yang baik-baik saja. Mereka pun segera kembali ke apartemen.
"Kasurku!" Syahla langsung merebahkan diri di atas ranjang setelah sampai di rumah. Rasanya lega sekali berbaring di sana dengan keadaan hati yang damai.
"Beresin dulu dong barangnya," Ustadz Amar masuk ke dalam kamar dengan susah payah. Kedua tangannya membawa dua tas besar. Lantas ia meletakkan tas itu ke lantai dan mulai mengeluarkan isinya satu persatu.
"Nggak mau ah, salah siapa bawa barang banyak banget!" Syahla mencibir. Memang benar, saat Syahla masuk rumah sakit, Ustadz Amar langsung pulang ke apartemen untuk mengambil barang-barang yang dibutuhkan. Namun, karena dia bingung harus membawa yang mana, pada akhirnya ia membawa semua pakaian Syahla yang ada di lemari. Padahal Syahla hanya masuk rumah sakit satu hari saja.
Awalnya Syahla ingin mencoba tidak perduli pada suaminya, tapi lama-lama ia merasa tidak tega. Syahla kemudian turun dari ranjang dan merangkul manja sang suami dari belakang.
"Kalau nggak mau bantu, tidur saja sana," suruh Ustadz Amar karena memang Syahla hanya memeluknya tanpa berbuat apa-apa.
"Nggak ngantuk," jawab Syahla sembari masih memeluk sang suami. "Udah ah, nanti lagi aja beresinnya," rayunya sembari memainkan jarinya pada wajah sang suami.
"Aduh," Ustadz Amar tiba-tiba menghentikan aktivitasnya saat jari Syahla sampai di lehernya. "Kamu jangan begitu,"
"Kenapa?" Syahla mengernyitkan dahi.
"Seolah-olah kamu mau menggoda saya,"
"Hm? Saya kan memang menggoda Mas Suami,"
Ustadz Amar langsung menoleh pada Syahla. "Memangnya kamu sudah sembuh?"
"Memangnya saya sakit?" Syahla tertawa. Lantas ia merangkul sang suami yang sudah beralih menghadapnya. "Yuk sayang,"
Ustadz Amar tersenyum sumringah. Dengan cepat, digendongnya tubuh Syahla dan dibawanya sang istri menuju kasur. Perlahan, jarak di antara mereka terkikis. Dengan kedua bibir mereka yang berciuman, Ustadz Amar mulai membuka satu persatu kancing pakaian Syahla. Lalu, mereka berdua segera memulai ibadah suami istri mereka.
__ADS_1