USTADZ GALAK

USTADZ GALAK
66. Selamat Ulang Tahun


__ADS_3

"Selamat ulang tahun Syahla.."


Syahla menerima buket bunga besar itu dengan senyum yang memudar. "Thankyou ya Kak,"


Laki-laki itu tersenyum lebar, Anggika serta merta menghambur ke pelukan sang lelaki. "Aku kira kamu nggak dateng!"


"Dateng dong, kan aku udah janji," lelaki itu mengelus puncak kepala Anggika dengan gemas.


Syahla melihat pemandangan itu dengan tersenyum tipis. Lelaki yang barusan datang adalah Kak Ren, pacar Anggika. Syahla memang sudah dikenalkan pada Kak Ren sejak hari pertama mereka jadian. Seringkali mereka bertiga juga pergi kemana-mana bersama. Jadi bisa dibilang Syahla menjadi obat nyamuk yang berada di antara Anggika dan Kak Ren.


"Senyum dong La, jangan cemberut terus! Sayangku udah capek-capek bawain bunga loh!" hardik Anggika ketika melihat wajah Syahla yang masih terlihat masam.


"Iya, iya, kan Aku udah bilang makasih tadi.." sungut Syahla sembari menekuri kembali handphone miliknya.


"Nggak apa-apa loh, sayang.. Syahla kan juga kasian karena masih LDR sama suaminya," Kak Ren menenangkan pacarnya yang terlihat masih ingin mengomel. "Kita makan aja yuk. Kamu mau pesen apa?"


"Apa aja yang penting disuapin kamu," tukas Anggika yang membuat Syahla yang mendengarnya berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepala.


...----------------...


Selesai makan, Syahla langsung pulang ke apartemen, sementara Anggika dan Kak Ren hendak berjalan-jalan dulu berdua. Pada akhirnya Syahla naik taksi seorang diri menuju apartemennya.


Selama perjalanan, Syahla tak henti-hentinya menghela napas panjang. Tak dipedulikannya ocehan pak supir yang bercerita kalau putrinya berhasil kuliah di luar negeri dan sekarang bekerja di kementerian. Itu sebenarnya cerita yang menarik, tapi Syahla sedang tidak bersemangat untuk mendengarnya sekarang.


Saat memasuki pintu apartemen, Syahla menyadari kalau keadaan apartemen menjadi agak kacau dibandingkan sebelum ia pergi. Televisi menyala dan menayangkan sinetron yang sedang banyak dibicarakan akhir-akhir ini. Tapi, bukankah dia sudah mematikannya tadi?


Mata Syahla makin terbelalak saat melihat ada beberapa piring kotor yang berada di wastafel cuci piring. Ini sih sudah tidak beres. Syahla yakin keadaan wastafel itu sudah bersih sebelum ia pergi, karena dia sendiri yang mencuci piring-piring kotor itu dan menatanya di rak piring.


BRAK!


Dada Syahla terasa berdesir. Suara itu berasal dari dalam kamarnya. Seperti ada seseorang yang berada di dalam sana. Dengan langkah pelan, Syahla meraih teflon yang berada di dapur, kemudian berjalan menuju kamarnya.


Syahla berhitung sembari berkomat-kamit membaca doa. Baiklah, apapun yang ada di dalam sana, akan langsung ia pukul. Apapun bentuknya.


Satu..


Syahla memegang kenop pintu.


Dua..


Syahla memutar kenop pintu.

__ADS_1


Tiga!


Pintu terbuka. Syahla langsung mengayunkan teflon di tangannya sampai membuat bunyi yang keras karena sepertinya berhasil memukul seseorang.


"ADUH! Sakit! Kenapa aku dipukul sih?"


Syahla lantas membuka matanya saat menyadari kalau ia mengenal suara barusan. "Mas Sahil?"


"Iya! Ini aku! Mas-mu satu-satunya! Baru ketemu udah dibuat benjol aja!" keluh Gus Sahil sambil mengusap-usap dahinya.


Syahla lantas menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Mas! Ngapain di sini? Aku kira maling loh!"


"Yah, kejutannya gagal deh," sahut seorang wanita yang berada di balik pintu. Syahla makin membelalakkan mata melihat siapa wanita itu.


"Mbak Hafsa?"


"Hai.." Hafsa tersenyum lebar, sementara kedua tangannya membawa kue tart berwarna cokelat.


"Loh, loh, sejak kapan kalian di sini?"


"Baru..lima belas menit yang lalu? Kita memang mau kasih kejutan, makanya nggak ngabarin kalau mau kesini. Selamat ulang tahun Dek Syahla!" Hafsa menyodorkan kue tart di depan Syahla.


Mendengar hal itu, air mata Syahla spontan merebak. Bukannya meniup lilin yang ada di atas kue tart, Syahla malah menangis tersedu-sedu.


"Jangan diomelin to Mas Gus.. Sini sayang, biar mbak peluk," Hafsa akhirnya turun tangan, ia meletakkan kue itu di atas kasur dan memeluk Syahla erat-erat.


...----------------...


"Pasti berat banget ya LDR sama suami," Hafsa menatap adik iparnya dengan prihatin. "Apalagi sekarang di hari yang paling spesial dia malah nggak hubungi sama sekali. Mbak ngerti kok apa yang kamu rasakan dek,"


Syahla menganggukkan kepalanya sambil mengusap air matanya yang masih mengalir. "Iya mbak! Makanya Syahla kesel banget! Nggak peka banget jadi suami!"


"Hmm..." Hafsa meraih kedua pipi Syahla, lalu mengarahkan wajah Syahla agar menatap wajahnya. "Yakin suamimu nggak peka? Menurut kamu, kenapa kita berdua bisa ada di sini sekarang?"


Syahla menggelengkan kepalanya bingung. "Bukannya mbak sama mas mau kasih kejutan?"


"Iya, awalnya sih kita memang mau kirim kado aja buat kamu. Tapi, suami kamu sejak satu bulan yang lalu sudah telepon kami. Dia bilang kami harus bisa datang ke Jakarta saat ulang tahun kamu, dia takut kamu merasa kesepian. Suamimu itu bahkan membiayai perjalanan kami bolak-balik demi kamu," jelas Hafsa yang membuat Syahla terbelalak.


"Serius Mbak?"


"Iya, makanya Mas bela-belain ke sini meskipun sibuk, ya itu karena suamimu memohon-mohon. Tapi, sayangnya Umi sama Abah nggak bisa ikut, karena ada kesibukan di pondok." ucap Gus Sahil.

__ADS_1


Air mata Syahla terasa hendak ke luar lagi mendengar penjelasan kedua kakaknya itu. "Kenapa Mas Amar nggak bilang ke aku? Kan aku jadi jengkel tanpa alasan ke dia,"


"Laki-laki memang begitu sifatnya dek. Mereka kelihatannya cuek dan nggak peduli, tapi ternyata di belakang diam-diam bikin rencana sendiri. Suami mbak juga sering begitu. Gengsi katanya kalau ngomong langsung sama istrinya,"


"Ehem! Ehem! Nyindir nih, ceritanya?" Gus Sahil yang sedang mengompres dahinya yang benjol dengan es batu ikut menyahut. Hafsa terkekeh dan kembali mengalihkan pandangannya pada sang adik ipar.


"Jangan terlalu benci suamimu ya, dia itu sayang sekali sama kamu Dek."


Syahla menundukkan kepalanya. "Aku malah jadi makin kangen sama Mas Amar mbak,"


"Saya juga kangen sekali sayang,"


Syahla mendongakkan kepala mendengar suara yang paling ia rindukan itu. Gus Sahil mendekat sambil mengarahkan layar handphonenya pada Syahla. "Nih, suamimu tercinta."


Syahla menerima handphone itu dengan tangan bergetar. Tampak di layar, Ustadz Amar yang tengah tersenyum ke arahnya. Sepertinya dia sedang berada di dalam tenda.


"Selamat ulang tahun ke dua puluh ya istriku,"


"Mas! Kenapa nggak bilang sama saya kalau Mas Sahil sama Mbak Hafsa mau dateng?" semprot Syahla kesal. "Mana dari tadi ditungguin nggak ngucapin sama sekali. Aku kesel tau, nggak!"


Ustadz Amar terkekeh. "Kalau saya bilang nggak jadi kejutan dong. Terus, kenapa saya baru hubungi sekarang, itu karena baru ada sinyal di sini. Dari tadi sama sekali nggak ada. Saya minta maaf ya karena melewatkan hari spesial kamu,"


Syahla masih bersungut-sungut, tapi jauh di lubuk hatinya merasa lega luar biasa. "Ucapan doang nih, nggak ada hadiah apa-apa?"


"Ada dong," Ustadz Amar tersenyum misterius. "Kan sudah saya titipkan kadonya sama Gus Sahil,"


Syahla lantas menolehkan kepalanya pada Gus Sahil. "Kado apa Mas?"


"Nih!" Gus Sahil menyerahkan sebuah kotak misterius. Syahla menerimanya dengan ragu-ragu.


"Apa ini?"


"Dibuka dong, sayang.." Ustadz Amar menyahut dengan senyum lebar.


Syahla membuka kotak itu dengan penasaran. Saat berhasil di buka, ia berteriak kaget karena ada sebuah benda yang tiba-tiba melompat ke arahnya.


"AKHHH!" Syahla terjatuh dari sofa dalam keadaan terlentang. Ia melihat ke atas tubuhnya yang terasa berat karena dijadikan pijakan oleh sesosok berbulu.


"Kucing?" Syahla mengangkat tubuh kucing berwarna putih itu yang melihatnya dengan tatapan tajam. "Kenapa kucing?"


"Kucing itu bisa jadi pengganti saya selama saya nggak ada. Biar sayangku nggak kesepian lagi," jelas Ustadz Amar. "Gimana? Kamu suka?"

__ADS_1


"Suka sih," Syahla bangkit dari posisinya dan menatap kucing itu dengan sangsi. "Tapi, masa sih makhluk gendut ini bisa menemani aku?"


"Meow," sahut kucing itu seolah menjawab pertanyaan Syahla, membuat semua orang yang mendengarnya tertawa terbahak-bahak.


__ADS_2