
Syahla terpekur di atas kasur sembari melihat layar handphone di tangannya. Beberapa kali ia mencoba mengetik sebuah kalimat, tapi kemudian dihapus kembali. Hal itu terjadi berulang-ulang dalam waktu yang lama, membuatnya frustasi.
"Masih belum juga La?" Anggika muncul sambil membawa nampan berisi buah-buahan. Ia mendekati Syahla yang menggelengkan kepalanya lesu.
"Aku belum siap menerima resikonya Nggi,"
Anggika menghela napas panjang. "Gue kan udah bilang, Pak Amar pasti seneng banget kalau denger kabar itu dari Lo. Udahlah La, nggak usah overthinking dulu."
"Tapi kan," Syahla menjeda ucapannya sejenak, kemudian ia menatap Anggika dengan wajah menahan tangis. "Kenapa sampai sekarang Mas Amar nggak menghubungi aku sama sekali?"
Anggika menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal. Sebenarnya, ia tahu kenapa suami sahabatnya berbuat seperti itu. Ustadz Amar paham sekali sifat istrinya. Kalau sedang marah, istrinya itu sama sekali tidak mau bicara padanya. Maka Ustadz Amar mencari jalan lain untuk menanyakan keadaan Syahla, yaitu dengan menghubungi Anggika.
"Mungkin dia takut Lo makin marah sama dia. Lo kan kalau udah marah biasanya nggak mau buka handphone sama sekali."
Syahla menundukkan kepala. "Iya sih. Tapi, gimana kalau nggak begitu? Gimana kalau ternyata dia malah sudah melupakan aku dan seneng-seneng sama Dasha di sana?"
Anggika lagi-lagi hanya bisa menghela napas panjang. Dirinya pernah membaca, kalau ibu hamil itu memang memiliki ketidakseimbangan hormon yang membuatnya menjadi lebih sensitif. Bisa jadi, Syahla sekarang sedang dalam masa-masa itu.
"Yaudah, ketimbang mikir yang nggak-nggak, mending sekarang istirahat dulu ya?" Anggika mengambil handphone Syahla dan meletakkannya di atas meja. "Daripada Lo stres, mending makan buah, terus tidur yang nyenyak. Lo tadi dengar sendiri kan kata Bu Dokter? Katanya Lo nggak boleh kebanyakan mikir, harus rileks. Udah yuk, dimakan buahnya," Anggika menyuapkan potongan buah apel pada sahabatnya. Memang, untuk memastikan kalau Syahla benar-benar hamil, mereka memutuskan untuk segera pergi ke dokter kandungan. Dan hasilnya, seratus persen Syahla dinyatakan hamil.
Syahla menuruti ucapan Anggika. Dia mengakui kalau akhir-akhir ini sedang banyak pikiran. Mulai dari masalahnya dengan sang suami, penerbitan novel kedua, kehamilan, kuliah, dan lain-lain. Saking banyaknya yang ia pikirkan, bahkan sampai sekarang Syahla belum memberitahukan kabar menggembirakan ini kepada keluarganya. Ia memutuskan untuk mengabari mereka setelah pulang dari umroh.
Setelah memastikan Syahla beristirahat dengan baik, Anggika segera keluar dari kamar dan buru-buru mengambil handphone. Dengan diam-diam, gadis itu membuka halaman chat dengan Ustadz Amar. Tanpa memberikan kalimat apapun, Anggika lantas mengirimkan foto hasil pemeriksaan kandungan Syahla. Dia terpaksa melakukannya demi memperbaiki hubungan sang sahabat dengan suaminya.
__ADS_1
"Semoga setelah ini mereka berdua baikan," doa Anggika sungguh-sungguh.
...----------------...
Syahla bangun dari tidur dengan perasaan segar. Tadi malam ia berusaha mereset semua pikirannya, dan alhasil malam itu ia tidur nyenyak. Sekarang, dia sudah bersiap menghadapi hari-harinya seperti biasa. Yah, terkecuali rasa mual di perutnya yang membuatnya muntah-muntah setiap pagi, termasuk pagi ini.
"Muntah lagi?" tanya Anggika saat Syahla keluar dari kamar dan menyusulnya di dapur. Syahla hanya mengangguk ringan.
"Ternyata jadi Ibu tuh berat banget ya,"
Anggika tersenyum, ia mengusap-usap punggung sahabatnya dengan penuh simpati. "Sabar ya. Lo pasti bisa. Oh ya, Lo mau makan apa buat sarapan? Gue cuma goreng telur doang sih. Lo mau apa? Nanti Gue masakin,"
"Nggak, nggak usah," tolak Syahla. "Aku mau makan roti aja."
"Serius nih? Lo harus makan makanan yang bernutrisi loh, kasian itu bayinya." ujar Anggika sambil menunjuk perut Syahla yang masih datar.
"Oke deh," Anggika menganggukkan kepala. Ia kemudian menoleh ke arah pintu beberapa kali, membuat Syahla mengerutkan kening.
"Kamu lagi nungguin paket, Nggi?"
"Hah? Ng—nggak kok," Anggika menjawab dengan agak tergagap.
"Kenapa liatin pintu terus dari tadi?"
__ADS_1
"Oh? Ah, itu karena aku baru sadar kalau pintu apartemen kita ternyata bagus ya? Modern gitu bentukannya,"
Syahla menoleh ke arah pintu yang dimaksud Anggika. Memperhatikan dengan seksama. Ia sampai menelengkan kepalanya demi melihat bagian mana yang bagus di mata Anggika. Tapi, dilihat selama apapun, tetap tidak ada yang menarik. Pintu itu sama saja seperti pintu apartemen pada umumnya.
Setelah selesai sarapan, kedua gadis itu lantas mulai beraktivitas masing-masing. Anggika mengantarkan Kak Ren ke rumah sakit untuk lepas gips, dan Syahla memilih pergi ke kafe untuk menulis novel keduanya. Ada beberapa bagian dalam novel yang harus direvisi, dan Syahla memilih menulis di kafe untuk mencari suasana baru.
Selama satu jam, Syahla benar-benar fokus dengan laptopnya. Beberapa kali ia mengulang halaman yang sama, demi memastikan kalimat yang ia tulis benar-benar pas untuk dibaca. Kalau dirasa sudah pas, ia akan melanjutkan ke halaman berikutnya. Tapi kalau belum, Syahla akan kembali mengutak-atik kalimat itu sampai sesuai dengan yang ia inginkan.
"Permisi," ucap seseorang yang berdiri di depan Syahla. "Kursi ini kosong nggak Kak?"
Syahla menggelengkan kepalanya tanpa melihat siapa yang bicara. "Sudah ada orangnya Mas," ucapnya bohong. Ia sengaja berkata demikian karena tidak ingin diganggu saat sedang fokus. Apalagi biasanya yang berkata seperti itu adalah laki-laki random yang tiba-tiba meminta nomornya. Syahla memilih untuk mengusir mereka tanpa memberi kesempatan sama sekali.
"Oh ya? Tapi dari tadi saya lihat nggak ada orang tuh Kak,"
"Adaaa," Syahla masih tidak mendongakkan kepalanya. "Belum dateng aja,"
"Memangnya siapa kak yang duduk di sini?"
Syahla menghela napas panjang menahan emosi. Ia lalu menjawab dengan asal, "Suami saya Mas,"
"Berarti, saya boleh dong duduk di sini?"
Kali ini Syahla sudah tidak bisa menahan emosinya. "Masnya paham nggak sih kosakata suami? Itu berarti pasangan dari istri! Dan Masnya bukan suami sa—" Syahla terbelalak saat matanya akhirnya melihat dengan jelas siapa lelaki iseng yang sejak tadi mengganggu aktivitasnya.
__ADS_1
"Mas.. Amar?" ucapnya dengan sedikit terbata-bata.
Ustadz Amar tersenyum lebar. "Halo istriku. Berhubung saya suami kamu, boleh saya duduk di sini?"