
Hari pertama kuliah di semester dua. Syahla sibuk mematut penampilannya di depan cermin. Hijab sudah tersampir di kepala dengan jarum kecil sebagai pengait. Pakaiannya juga sudah rapi. Ia kali ini menjatuhkan pilihan pada tunik berwarna biru, warna kesukaannya yang dipadukan dengan rok plisket berwarna krem.
"Oke," Syahla menganggukkan kepalanya puas dengan penampilannya hari ini. Tak lupa disambarnya tas ransel yang tergeletak di atas ranjang. Ia sudah tidak sabar ingin menunjukkan novel pertamanya pada Anggika.
"Terimakasih sayang," Seperti biasa, Ustadz Amar mengantarkan Syahla di parkiran, lalu mereka akan masuk ke gedung kampus sendiri-sendiri. Hal itu memang dilakukan untuk menghindari kecurigaan orang-orang. Meskipun Syahla mulai berpikir ulang haruskah ia tunjukkan saja hubungan mereka mulai sekarang.
Baru saja Syahla mengambil handphone untuk menghubungi Anggika, gadis itu malah lebih dulu menelponnya. Syahla tersenyum sumringah, mengangkat telepon dengan gembira. "Halo? Kenapa Nggi? Udah kangen ya sama aku? Pagi-pagi udah nelpon aja,"
"SYAHLA!" Berbeda dengan sambutan ramah Syahla, Anggika malah berseru dari seberang telepon. "Lo dimana?"
"Di kampus lah. Dimana lagi?" Syahla merasa heran karena suara Anggika terdengar panik. "Ada apa sih, Nggi?"
"Ya Gue tau, di kampus sebelah mana? Gue nyusul ke sana!"
"Aku ada di taman sebelum ke fakultas kita. Masih baru jalan soalnya. Kamu mau nyusul aku di sini apa di kelas aja?"
"Disitu aja! Pokoknya Lo tunggu di sana! Jangan kemana-mana! Dan jangan buka hape sampe Gue dateng!"
"Lah, emang kenapa? Halo? Nggi? Halo?" Alis Syahla bertaut karena ternyata Anggika sudah menutup telepon. "Ada apa sih heboh banget pagi-pagi?" Meski merasa heran, Syahla mencari-cari kursi kosong yang ada di taman itu. Baiklah, dia akan menunggu dengan baik demi mendengarkan penjelasan Anggika. Tapi, sepertinya ada yang aneh. Kenapa setiap mahasiswa maupun mahasiswi yang lewat tampak menatap ke arahnya?
"Itu kan? Yang jadi selingkuhan? Ih, nggak nyangka.." Syahla samar-samar mendengar bisikan salah satu mahasiswi. "Kelihatannya anak baik-baik, ternyata.."
"Zaman sekarang mana ada yang namanya anak baik-baik? Casingnya bisa jadi alim, tapi nyatanya dalemnya busuk. Mending kaya kita ya, dari luar busuk dalemnya juga busuk! Hahahaha!" Sahut mahasiswi lain yang disambut gelak tawa teman-temannya.
"Apa sih?" Syahla merasa sia-sia karena mendengarkan percakapan tidak berfaedah itu. Tapi, sebenarnya siapa orang yang mereka bicarakan tadi? Kenapa mereka menunjuk-nunjuk ke arahnya?
Penasaran, Syahla akhirnya menentang perintah Anggika dan memutuskan membuka kembali handphonenya. Dia menekan grup chat kampus yang memang sengaja ia bisukan agar notifnya tidak terlalu berisik. Saat dibuka, terdapat lima ratus pesan yang belum ia baca. Ia membacanya dengan teliti sampai pada sebuah pembahasan yang terlihat ganjil.
__ADS_1
Ada sebuah nomor yang mengirim link video youtube dengan pesan bertuliskan: 'video hot dosen dan mahasiswi'. Syahla awalnya enggan membuka link itu, karena dari judulnya saja sudah bisa ditebak apa isinya. Tapi, yang membuatnya membelalakkan mata adalah pesan-pesan yang membalas pesan si pengirim link.
+6281369***: 'gila! Ini dosen ganteng yang ada di Fakultas MIPA kan?'
+6282678***: 'iya gaes, rill! Doi kan ngajar di kelas gw. Jadi gw hapal bener bentukannya gmana. Fix sih ini pasti pak A!'
+6281273***: 'pak A siapa? Yg jelas ngapa? Gw ga kenal dosen2 di mipa!'
+6281790***: 'pak amar'
+6281273***: 'terus ceweknya siapa?'
+6281790***: 'syahla. Anak sastra Indonesia semester 2'
Syahla bagaikan tersambar petir di siang bolong saat melihat namanya dan suami ikut terseret dalam percakapan itu. Dengan tangan gemetar, ia kembali ke percakapan paling atas dan menekan link yang sudah tersebar.
"Astaghfirullah.." Syahla mendadak merasa kakinya terlalu lemas sampai tidak sanggup menopang tubuh. Dengan napas tersengal-sengal, ia jatuh terduduk dengan lutut di atas tanah. Handphone yang semula ia pegang terjatuh begitu saja.
Syahla hanya bisa terdiam mendengar omelan Anggika. Anggika kemudian membantunya kembali duduk di atas kursi taman.
"Nggi," Air mata Syahla sudah mengalir deras. "Kenapa ada videoku sama Mas Amar.."
Anggika menghela napas panjang. "Gue juga baru tau hari ini. Tadi pagi grup chat kampus heboh. Sebenarnya Gue pengen cepet-cepet hubungi Lo, cuma Gue terlalu bingung harus gimana. Gue kira Lo udah tau. Gue baru sadar kalau Lo jarang buka grup chat."
Anggika mengelus-elus pundak sahabatnya yang kelihatan shock berat. "Tenangin diri Lo. Gue yakin masalah ini bakalan cepat selesai. Pihak kampus secepat mungkin akan mengonfirmasi kebenaran berita itu."
Syahla sudah tidak tahu harus menjawab apa. Akhirnya dia hanya bisa menangis tersedu-sedu di pelukan Anggika. Anggika mengusap-usap punggung Syahla berusaha menguatkan.
__ADS_1
...----------------...
"Coba kamu jelaskan ini," Seorang wanita bertubuh gempal dengan kacamata bertengger di hidung menunjukkan sebuah video pada Ustadz Amar. Tatapannya terlihat mengintimidasi. Siapapun akan ciut jika berhadapan dengan rektor dari Universitas terbaik di Jakarta itu.
Ustadz Amar menghela napas panjang. Saat ini Ia sedang disidang di dalam ruangan rektor karena sebuah insiden yang melibatkan dirinya. Selain Ustadz Amar dan sang rektor, ada juga beberapa wakil rektor yang duduk di sampingnya. Dengan ragu-ragu, Ustadz Amar meraih handphone dari atas meja dan mulai menekan tombol play.
Ustadz Amar merasa dadanya sesak saat ia melihat video itu pada detik pertama. Terlihat di sana ada dirinya dan Syahla yang sedang bermesraan di sofa depan televisi. Video itu berdurasi tiga menit, dengan mereka yang saling berciuman sebagai penutup video.
"Apa benar itu kamu?" sang rektor yang lebih akrab dipanggil Bu Retno menginterogasi. "SAYA TANYA APA ITU KAMU?"
"Benar," Ustadz Amar menelan ludah. "Itu saya dan istri saya."
"Istri? Jadi kamu sudah menikah dengan mahasiswi ini?"
"Benar Bu," Ustadz Amar menganggukkan kepalanya. "Saya dan Syahla memang sudah menikah selama hampir setengah tahun. Tapi saya tidak tahu siapa orang kurang ajar yang sudah merekam dan menyebarkan video kami."
"Jadi kamu mau bilang kalau tuduhan kamu memiliki simpanan itu tidak benar?" Di balik kacamatanya yang bundar, Ustadz Amar bisa merasakan tatapan tajam Bu Retno.
"Iya Bu. Tuduhan itu adalah fitnah, karena faktanya Syahla bukanlah simpanan saya, tapi istri sah saya."
Bu Retno menyandarkan punggungnya pada sofa dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Kamu ada buktinya?"
"Kami menikah dengan izin agama dan negara Bu. Kalau berbicara tentang bukti, tentu saya punya. Saya bisa tunjukkan buku nikah kami berdua."
Bu Retno tampak berpikir sejenak. "Sebenarnya saya percaya sama kamu. Selama bekerja di sini, kamu sudah menunjukkan performa yang luar biasa. Sayangnya, itu semua tidak berguna kalau tidak disertai kepercayaan publik."
"Sekarang, saya akan mengunggah bantahan atas tuduhan terhadap kamu. Hanya saja, saya tidak yakin para mahasiswa akan menerima atau tidak. Apa kamu ingin mengajukan cuti dulu atau langsung mengajar saja seperti biasa?"
__ADS_1
"Saya akan mengajar bu," Jawab Ustadz Amar mantap. "Saya ingin menunjukkan kepada orang-orang bahwa saya tidak salah. Dan orang yang tidak salah tidak perlu takut pada berita yang tidak berdasar seperti itu."
Bu Retno mengangguk-anggukkan kepala. "Bagus. Tapi kamu harus tahu, kalau bukan cuma kamu yang terkena imbasnya. Istrimu, yang juga adalah mahasiswi di kampus ini, juga akan menerima hal yang sama." Bu Retno kemudian beranjak dari duduknya dan menepuk-nepuk pundak Ustadz Amar. "Saya harap kalian berdua bisa menjadi suami istri yang saling menguatkan satu sama lain, sampai masalah ini selesai."