
Ustadz Amar melangkah keluar dari ruangan rektor dengan langkah lesu. Sebenarnya dia sendiri tidak ingin terlalu memikirkan berita tersebut. Hanya saja, mau tidak mau ia jadi kepikiran Syahla. Apakah istrinya akan baik-baik saja? Apalagi video itu menunjukkan dengan jelas wajah mereka berdua. Ustadz Amar takut Syahla akan menerima cemoohan dari orang-orang.
Saat hendak melangkahkan kaki masuk ke kantor dosen, Bu Yesi tiba-tiba menghadangnya dengan tatapan sinis.
"Saya nggak nyangka Pak Amar sukanya begitu," ucapnya sambil mengusap air matanya. "Sebenarnya apa yang Pak Amar lihat dari gadis itu? Dia masih kecil. Kalaupun Pak Amar mau punya simpanan, saya juga mau Pak."
Ustadz Amar menghela napas panjang. "Bu, saya dan Syahla adalah pasangan suami istri yang sah. Tidak ada simpanan atau selingkuhan. Video itu sengaja menyebarkan fitnah. Nanti Bu Yesi akan melihat bantahan dari pihak rektor." Ustadz Amar memijit-mijit kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing. "Saya permisi bu,"
Tanpa memperdulikan tatapan para dosen yang terlihat menghakiminya, Ustadz Amar segera mengambil buku-bukunya dan berjalan menuju kelas pertamanya hari ini.
Saat membuka pintu kelas, Ustadz Amar terkejut karena mahasiswa yang ada di dalam ruangan itu hanya tiga orang saja. Padahal kalau menurut absen yang ia bawa, seharusnya ada tiga puluh orang yang masuk ke kelasnya. Tapi Ustadz Amar berusaha tersenyum dan bersikap profesional.
"Pagi," sapanya sembari duduk di kursi dosen. "Saya lihat pagi ini sepi sekali ya?"
"Iya Pak," Jawab seorang mahasiswa. "Teman-teman pada minta pindah ke kelasnya Pak Restu."
"Ah, begitu ya," Ustadz Amar tersenyum getir. Di lubuk hatinya terasa kekecewaan yang mendalam, tapi ia memutuskan untuk segera mengabaikannya. "Oke, kita mulai saja ya kuliah hari ini."
...----------------...
"Lo yakin masih mau masuk kelas?" Anggika berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Syahla yang melangkahkan kakinya lebar-lebar. "Kenapa nggak coba tenangin diri dulu?"
"Nggak Nggi," Syahla tetap melangkah mantap. "Aku nggak mau kalah dari orang yang sudah memfitnah aku. Aku akan tunjukkan kalau aku bukan orang yang lemah!"
"Iya, Gue tau Lo bukan orang yang lemah, dan berita itu jelas nggak bener! Tapi Lo tau sendiri kan bagaimana orang-orang bertindak selama ini? Benar atau salah, mereka akan tetap menghujat Lo!"
__ADS_1
"Nggi," Syahla menatap Anggika dengan yakin. "Selama kamu, dan orang-orang yang menyayangiku tidak percaya sama berita itu, aku sudah puas. Aku nggak peduli sama omongan orang lain. Jadi, kamu tenang aja ya?"
"Ya tapi kan.." Anggika masih merasa keberatan, tapi melihat tekad Syahla membuatnya mengalah. "Oke, Oke, Gue ngerti maksud Lo. Lo tenang aja. Gue janji, Gue akan jadi orang pertama yang akan membela Lo lebih dari siapapun."
"Makasih Nggi," Syahla tersenyum tulus. Kali ini ia benar-benar merasa beruntung karena memiliki sahabat sebaik Anggika.
Sesuai dugaan Anggika, teman-teman mereka tidak menyambut kedatangan Syahla dengan baik. Mereka dengan terang-terangan berbicara keras-keras tentang berita yang beredar, dan malah menunjuk-nunjuk Syahla sambil mengatainya perempuan simpanan.
"Freak deh Lo semua! Syahla sama Pak Amar itu udah sah jadi suami istri! Kalian tuh mahasiswa, udah semester dua, dan kuliah di kampus terbaik di Jakarta. Masa masih bisa kemakan berita hoax? Aneh banget!" Anggika tidak bisa meredam emosinya lagi. "Mumpung ada orangnya di sini, jangan bisik-bisik sendiri! Tanya langsung dong!"
"Terus, kenapa waktu itu Syahla ngakuin Pak Amar sebagai oomnya? Kenapa nggak ngaku aja kalau sudah suami istri?" tanya seorang mahasiswi.
"Itu—" Anggika kebingungan menjawab. Syahla segera berdiri dari duduknya dan menatap semua orang di kelas itu.
"Halah, dia bilang begitu karena sudah ketahuan aja. Aslinya mah beneran simpanan, sekarang setelah videonya nyebar baru ngaku jadi suami istri!" tukas seorang mahasiswi dengan nada tidak percaya. Para mahasiswi lain kemudian dengan cepat mengamini perkataan itu.
"Masuk akal tuh. Udah lah, nggak usah repot-repot nyangkal segala. Kalian berdua udah cocok kok kalau mau buat video onlyfans. HAHAHAHA!" celetuk seorang mahasiswa yang langsung membuat seisi kelas tertawa terbahak-bahak, tidak termasuk Syahla dan Anggika tentunya.
"Iya, bener! Nanggung amat videonya cuma tiga menit, minimal satu jam lah!"
Syahla memejamkan matanya, berusaha bersabar. Sementara ocehan teman-teman sekelasnya masih menggema di dalam ruangan itu. Untunglah beberapa saat kemudian Pak Dosen datang dan meredam keriuhan itu seketika.
...----------------...
Ustadz Amar melangkah dengan tergesa-gesa menuju Fakultas Sastra yang berada di sebelah gedung tempatnya mengajar. Meski sejak tadi sibuk memberi materi kepada para mahasiswa, pikirannya tertuju pada sang istri. Dia benar-benar khawatir akan kondisi Syahla saat ini dan ingin cepat-cepat memastikan keadaannya.
__ADS_1
Saat sampai di lobi Fakultas Sastra yang luas, ia mendapati Syahla sedang berjalan dengan cepat ke arahnya.
"Syahla!" Ustadz Amar menghampiri dan jelas pemandangan itu langsung menjadi sorotan seluruh mahasiswa yang berada di sana. Beberapa handphone langsung naik ke atas dan bersiap mengabadikan momen dari dua orang yang sedang menjadi trending topik itu.
"Mas Suami ngapain disini?" Syahla bertanya dengan penuh kekhawatiran. "Mas Suami nggak papa kan?"
Ustadz Amar menghela napas berat. "Saya nggak papa. Kamu gimana? Kamu nggak papa kan?"
"Eh, eh, beneran dong ternyata kalau mereka ada hubungan gelap," celetukan seorang mahasiswi membuat Ustadz Amar sontak menoleh. Ia kemudian baru menyadari kalau semua orang sudah berkerumun di sekitar mereka.
"Setelah dilihat-lihat ternyata mereka emang mirip ya sama yang ada di video itu!"
"Ya iyalah. Bukan cuma mirip, tapi itu kan emang mereka!"
"Pak! Part dua nya kapan?" seru seorang mahasiswa dengan kurang ajar. Ustadz Amar mengepalkan tangannya marah, tapi Syahla menahannya.
"Mas, sudah yuk, kita pulang aja." ujar Syahla menenangkan. Ustadz Amar menganggukkan kepala dan merangkul istrinya untuk pergi dari gedung fakultas. Anggika mengikuti mereka dari belakang sambil mengacungkan jari tengah pada semua orang yang berkumpul di sana.
Sepanjang perjalanan menuju parkiran pun, semua mata memandang ke arah mereka. Anggika sibuk memelototi orang-orang itu satu persatu.
"Kamu ikut ya," pinta Ustadz Amar pada Anggika saat mereka sudah berada di depan mobil Ustadz Amar. "Tolong hibur Syahla,"
Anggika menganggukkan kepalanya. "Baik Pak,"
"Terimakasih," Ustadz Amar lantas membukakan pintu mobil untuk kedua gadis itu. Setelah dirasa mereka sudah duduk dengan nyaman, Ustadz Amar menutup pintu dan beralih membuka pintu mobil depan. Sambil menghela napas panjang, diinjaknya pedal gas dan mobilnya meluncur keluar dari parkiran kampus.
__ADS_1