
Di apartemen, Ustadz Amar langsung membuka tabletnya. Ia mengulang kembali video yang telah tersebar luas. Mencoba mencari petunjuk dengan seksama. Sementara Syahla dan Anggika saling menggenggam tangan di kursi meja makan.
"Nih, minum dulu," Anggika menyodorkan segelas air pada Syahla yang masih terlihat lesu. "Tenangin diri Lo,"
Syahla membisikkan ucapan terimakasih dan meneguk minumannya hingga tandas. Ia kemudian mengalihkan pandangan pada Ustadz Amar yang terlihat mondar mandir di depan televisi.
"Angle kameranya dari sini," Ustadz Amar kemudian menggerakkan jarinya ke meja televisi, ia membandingkan posisi kamera yang merekam mereka dengan video yang beredar. Saat telunjuknya berhenti pada sebuah benda, ia menggertakkan giginya menahan marah.
"BAJ*NGAN!" amuknya sambil meraih sebuah boneka beruang yang diletakkan di samping televisi. Dengan langkah gusar, ia bergegas menuju pantry dan meraih pisau. Lalu dengan tidak sabar, ia merobek paksa badan boneka itu dengan pisau di tangannya.
"Mas!" Syahla terkejut dengan apa yang dilakukan suaminya. Anggika juga berseru kaget. Tak berselang lama, buntalan kapas berhamburan keluar dari perut boneka. Ustadz Amar lalu memasukkan tangannya dan mengangkat sebuah benda kecil.
"Hah!" Syahla menutup mulutnya saat melihat apa yang ada di tangan Ustadz Amar. Sebuah kamera kecil berwarna hitam yang besarnya tak lebih dari sebuah kancing.
"BRENGS*K!" Ustadz Amar mengepalkan tinjunya pada boneka malang itu sampai bentuknya menjadi gepeng. "RAMA! PELAKUNYA SI RAMA! Saya sudah curiga sejak dia kirim boneka ini ke kamu!"
Syahla sudah meneteskan air matanya, ia tak menyangka seorang senior yang selama ini ia hormati berbuat bejat seperti itu. "Nggi, aku harus gimana?" ujarnya sembari memeluk Anggika.
Anggika membalas pelukan Syahla dan mengelus-elus punggung gadis itu. Ia sendiri sebenarnya sudah sangat shock, tak menyangka Kak Rama akan berbuat sejauh ini.
"Anggika, tolong jaga Syahla," Ustadz Amar bergegas melangkah ke pintu. Syahla menahan tangan suaminya.
"Mas mau kemana?"
"Saya mau membereskan lelaki bajing*n itu," Ustadz Amar menjawab tanpa memandang sang istri, karena ia tak mau menunjukkan wajah marahnya. "Saya mau kasih dia pelajaran,"
__ADS_1
"Mas, jangan gegabah. Jangan main hakim sendiri. Lebih baik kita laporkan ini semua ke pihak berwajib. Saya takut malah terjadi apa-apa sama Mas,"
Ustadz Amar menghela napas panjang, ia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah sang istri dan mengelus lembut wajah Syahla. "Kamu tenang saja sayang, saya nggak akan melakukan sesuatu yang berbahaya. Saya juga akan melaporkan hal ini ke polisi. Tapi, saya harus bertemu langsung dengan wajah sang pelaku yang sudah mempermalukan kamu."
Ustadz Amar lantas mencium kening Syahla dengan hati-hati. "Kamu tunggu saya di sini dengan baik ya. Saya akan segera kembali,"
Syahla menganggukkan kepala dengan terpaksa. Ia perlahan-lahan melepaskan tangannya dari lengan Ustadz Amar. Ustadz Amar tersenyum dan melangkah keluar dari apartemen. Sementara Syahla hanya bisa memandanginya dengan penuh khawatir.
...----------------...
Tujuan pertama Ustadz Amar apalagi kalau bukan ke kampus. Tapi ia tak bisa sembarangan masuk begitu saja setelah kejadian tadi. Maka ia menunggu dengan sabar sampai target terlihat.
Ustadz Amar tersenyum miring saat ia melihat Kak Rama berjalan menuju parkiran. Ia kemudian mematikan sumbu rokoknya yang sudah terhisap separuh. Sebenarnya Ustadz Amar sangat jarang merokok, kecuali jika sedang stres. Dan saat ini, dirinya sedang stres berat.
Saat Kak Rama mulai menyetir motornya keluar kampus, diam-diam Ustadz Amar mengikuti dari belakang. Ia dengan sabar mengikuti kemanapun lelaki itu pergi. Sepuluh menit kemudian, Kak Rama menghentikan motornya di depan sebuah kos-kosan khusus laki-laki.
Di depan pintu kamar Kak Rama, Ustadz Amar mengetuk pintu dengan keras. Karena tidak kunjung ada jawaban, Ustadz Amar kembali mengetuk dengan lebih keras. Membuat sang pemilik kos berseru marah.
"Iya Anj*ng! Sabar elah!" terdengar seruan Kak Rama dari dalam rumah. Tepat ketika pintu kamar sudah terbuka, Ustadz Amar tanpa berkata apapun langsung menyambut Kak Rama dengan sebuah tinju.
Terang saja tubuh Kak Rama langsung terhuyung ke belakang karena mendapatkan serangan tiba-tiba.
"ANJ*NG!" umpatnya sembari mengusap bibirnya yang berdarah. "Mau Lo apa sih!" Kak Rama lantas berdiri dan melihat dengan seksama siapa penyerangnya. Setelah sadar, ia membelalakkan matanya.
"P-Pak Amar?"
__ADS_1
"Sudah tau kan siapa saya? Jadi saya nggak akan basa-basi lagi," Tidak menunggu waktu lama, tangan Ustadz Amar sudah maju duluan menyerang wajah Kak Rama. Kak Rama kewalahan dan membalas tinjuan itu sampai berhasil membuat sudut bibir lawannya berdarah. Tapi, bukannya berhenti, Ustadz Amar malah semakin memajukan langkah mendekati Kak Rama.
"Tolong!" Kak Rama berteriak ketakutan. "Ada pembunuh!"
Ustadz Amar mencengkram kerah Kak Rama dengan geram. "Selama ini saya sudah bersabar sama kamu karena Syahla. Tapi, kali ini kesabaran saya sudah habis! Apa maksud kamu memasang kamera mata-mata pada boneka itu?"
"Saya nggak melakukan itu! Emang apa buktinya!"
"BOHONG!" Ustadz Amar semakin mengeratkan cengkeramannya sampai-sampai membuat Kak Rama terbatuk-batuk karena sesak napas. "Saya sudah ada buktinya! Kalau kamu butuh bukti yang lebih valid, ayo kita pergi ke kantor polisi!"
Mata Kak Rama membulat. Kalimat kantor polisi membuatnya ketakutan. "Oke! Memang benar saya yang memasang kamera itu! Tapi Anda tau kenapa saya melakukannya? Itu karena istri Anda menggoda saya duluan!"
"Hah?" Ustadz Amar menggertakkan giginya. "Nggak usah bicara macam-macam kamu!"
"Kenapa? Menurut Pak Amar istri Anda itu sangat suci? Pak, asal Anda tahu, Syahla itu sudah pernah tidur sama saya!"
"BAJING*N!" Ustadz Amar kembali melayangkan tinjunya. "JANGAN BICARA YANG TIDAK-TIDAK! ISTRI SAYA NGGAK MUNGKIN BEGITU!"
Kak Rama meludahkan darah dari mulutnya dan menatap Ustadz Amar dengan tatapan sinis. "Emang Bapak tau, apa saja yang sudah kami lakukan? Malam itu, saat Anda telat menjemput Syahla, saya dan dia—"
"DIAM KAMU!" Ustadz Amar sudah tidak bisa menahan emosinya lagi. Ia menyerang Kak Rama dengan membabi buta. Kak Rama sendiri sudah tidak berdaya, ia hanya bisa pasrah ketika pukulan Ustadz Amar membuat wajahnya menjadi babak belur. Di tengah rasa sakit itu, perlahan-lahan ia mulai kehilangan kesadaran.
"Ada apa ini? Ya ampun! Stop! Stop!" Seorang ibu-ibu berdaster menghampiri mereka dan berteriak panik. "Tolong! Tolong! Ada orang berantem!"
Tinju Ustadz Amar melayang di udara. Ia baru sadar kalau dirinya berbuat terlalu jauh. Kak Rama yang berada di bawahnya sudah tergeletak tak berdaya. Dengan napas memburu, Ustadz Amar lantas berlari keluar dari kamar kos itu dan segera masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
"Woy! Jangan kabur woy!" teriak para penghuni kos yang keluar karena mendengar teriakan Ibu-ibu berdaster tadi.
Ustadz Amar tau, tindakannya saat ini sangat tidak bertanggungjawab. Tapi pikirannya sudah benar-benar ruwet, dan pergi dari sana adalah satu-satunya jalan keluar yang bisa ia lakukan.