USTADZ GALAK

USTADZ GALAK
74. Puncak


__ADS_3

Mereka akhirnya sampai ke puncak gunung meski harus menghabiskan waktu tiga jam, yang berarti satu jam lebih lambat dari waktu yang telah ditentukan.


Sebenarnya, baik Kak Ren, Gian, Kenny maupun Fina tidak ada yang mempermasalahkan hal tersebut karena mereka memaklumi Anggika dan Syahla yang memang masih pemula. Sayangnya, lain halnya dengan Vilo yang mengoceh terus sepanjang perjalanan.


"Kalau kaya gini kan jadi lambat semuanya, belum lagi ntar pulangnya buru-buru. Buang-buang waktu aja!" omel Vilo di depan semua orang. Meski tak langsung dimarahi, Anggika dan Syahla juga paham kalau omongan Vilo ditujukan pada mereka berdua.


"Kami minta maaf ya Kak," ucap Syahla memberanikan diri. "Terimakasih juga karena sudah mau mengajak kami yang masih pemula untuk ikut ke sini."


Vilo hanya memutarkan bola mata tanpa menjawab apa-apa. Ia lantas berlalu begitu saja meninggalkan teman-temannya.


"Aduh, ngambek lagi tuh anak," Fina menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Nggak usah diambil hati ya guys, kalian nikmati aja waktu kalian di sini. Biar gue nyusul dia dulu." Fina melangkahkan kaki menyusul Vilo setelah berkata demikian. Syahla dan Anggika hanya bisa menghela napas panjang.


Kegiatan mereka setelah sampai di puncak gunung tentu saja berswafoto. Syahla dan Anggika yang baru pertama kali naik ke puncak segera saja pergi ke tempat-tempat terbaik dan mengambil selfie sebanyak mungkin. Sesekali mereka berdua juga bergantian memotret satu sama lain. Sementara Kak Ren, Gian dan Kenny asyik membakar jagung untuk dimakan bersama-sama.


"Fotoin Gue La!" Anggika duduk di atas batu besar dan mulai berpose. Syahla dengan sigap segera mengambil beberapa gambar sahabatnya itu.


"Sayang! Jangan foto berdua doang dong! Foto bareng juga!" Kak Ren berteriak dari tempatnya. Syahla dan Anggika tertawa, lalu berlari menghampiri mereka, lantas mengarahkan kamera mengajak selfie.


"Cisss!"


Setelah puas memotret, Syahla segera mengirimkan hasil fotonya pada Ustadz Amar. Dia memang sudah berjanji pada suaminya untuk memberikan kabar apapun saat sedang naik gunung.


Sementara itu, di Amerika, Ustadz Amar yang sedang duduk santai di kafe tersenyum lebar saat melihat notifikasi handphone. Istrinya mengirimkan beberapa foto saat berada di puncak gunung. Sambil tersenyum, diunduhnya satu persatu foto yang dikirimkan sang istri demi melihat wajah cantik yang sangat ia rindukan itu.


Satu foto, dua foto, tiga foto, tidak ada yang aneh. Tapi, saat membuka foto ke empat, punggung Ustadz Amar langsung menegak.


Terlihat di foto itu Syahla sedang berfoto bersama Anggika dan tiga orang laki-laki. Salah satu laki-laki itu pasti Ren, pacar Anggika yang pernah diceritakan Syahla sebelumnya. Tapi, siapa laki-laki yang sejak tadi melihat ke arah istrinya terus menerus itu?


Ustadz Amar yang merasa terganggu dengan tatapan sang lelaki, segera menggeser foto berikutnya. Benar saja, foto berikutnya juga tak kalah membuatnya geram. Kali ini tatapan laki-laki itu benar-benar lurus memandang sang istri, dengan senyum seolah mendambakan orang yang ditatap. Tanpa sadar, jemari Ustadz Amar perlahan menggenggam kencang gelas jus yang ada di tangannya.

__ADS_1


"Woy!" sebuah tepukan di pundaknya membuat Ustadz Amar seketika terkejut. Adi datang bersama Dasha, langsung menatapnya dengan heran. "What's wrong Dude?"


Ustadz Amar menghembuskan nafas sejenak. "Kayanya aku harus pulang ke Indonesia."


"Hah? Kok tiba-tiba? Proyek kita gimana?" protes Adi.


"Aku janji nggak akan lama. Paling lama seminggu." Ustadz Amar lantas memasukkan laptop yang semula ada di atas meja ke dalam tasnya.


"Kenapa sih? Ada masalah di Indonesia? Jangan-jangan, keluarga Lo ada yang meninggal?"


"Nggak," geleng Ustadz Amar. "Tapi ini sama pentingnya." Ustadz Amar segera beranjak dari kursi dan menepuk pundak Adi sambil setengah berlari.


"Kalian kumpulin dulu aja materinya, ntar yang lain biar aku yang urus!"


"Hey, tunggu, Amar!" teriakan Dasha sama sekali tidak menghentikan Ustadz Amar. Karena lelaki itu terus berlari tanpa menoleh ke belakang lagi.


...----------------...


"Mau?" Gian menawarkan mie instan buatannya pada Syahla. Syahla hendak menolak, tapi Gian buru-buru berkata. "Aku udah masak dua. Sayang kan kalau cuma dimakan satu?"


Pada akhirnya, Syahla menerima mie instan itu karena merasa tak enak hati.


"Sayang, aku mau ke sana dulu ya." Kak Ren beranjak dari duduknya dan berpamitan pada Anggika.


"Mau kemana?" Anggika mengerutkan kening.


"Buang air kecil," jawab Kak Ren sambil mengusap puncak kepala Anggika. "Kenapa? Mau ikut?"


"Ih, ogah lah," Anggika mengerucutkan bibir, kemudian ia kembali memakan jagungnya yang baru dimakan separuh.

__ADS_1


Setelah itu, mereka mulai bersenang-senang. Kenny yang memang piawai memetik gitar segera membuat suasana menjadi menyenangkan. Mereka asyik mengobrol sambil menikmati cemilan yang mereka bawa.


"Eh, kok Kak Ren nggak balik-balik ya?" Anggika mulai celingak-celinguk. "Katanya cuma pipis,"


"Loh, emang dia kemana?" Syahla ganti bertanya.


"Katanya sih mau buang air kecil," Anggika kemudian menepuk-nepuk celananya yang kotor dan mulai berdiri menoleh ke kanan dan ke kiri. "Tapi kok nggak balik-balik?"


"Jangan-jangan kesasar?" Syahla berpikir sejenak, tapi kemudian ia menggelengkan kepala. "Ah, nggak mungkin. Kak Ren kan udah sering bolak-balik ke sini."


"Kenapa?" Gian bertanya saat melihat kedua gadis itu gelisah. Kenny yang sedang memetik gitar dan Fina yang semula asyik bernyanyi segera menghentikan aktivitas mereka, mengalihkan pandangan pada mereka berdua.


"Eh, itu, Kak Ren tadi pamit mau pipis doang. Tapi anehnya sampai sekarang belum balik-balik." jawab Anggika.


"Loh, ngomong-ngomong, Vilo juga kemana?" Fina tersentak saat menyadari sesuatu. "Tadi Gue kira dia tidur di tenda. Tapi kok nggak ada ya?"


"Tenang, nggak usah panik." Gian berusaha menenangkan suasana. "Nggi, Ren udah pergi berapa lama?"


"Kira-kira sih, sekitar satu jam yang lalu kak." Anggika menghitung dengan jarinya. Gian lantas menganggukkan kepalanya.


"Oke, kita cari dulu di sekitar puncak. Karena nggak mungkin mereka berdua bakal kesasar, karena mereka udah bolak-balik dateng ke sini. Syahla, Anggika, kalian ikut gue. Kenny, Fina, kalian bisa kan berdua?"


"Bisa," Kenny dan Fina menjawab bebarengan. Tak menunggu lama, mereka berlima pun segera mencari Kak Ren dan Vilo di sekitar puncak.


"Kak Ren!" Anggika berteriak panik. Gian dan Syahla juga melakukan hal yang sama. Sayangnya, meski sudah setengah jam mencari, tetap tidak ada tanda-tanda keberadaan mereka.


"Kita lapor aja kali ya Kak," Syahla mulai merasa ada yang tidak beres. "Takutnya terjadi apa-apa sama mereka."


"Iya." Angguk Gian. "Kita turun aja dulu. Lo tenangin diri Lo ya Nggi," Gian mengelus punggung Anggika yang sudah hampir menangis.

__ADS_1


"GIAN!!" suara teriakan Kenny membuat mereka sontak mengalihkan pandangan. "Ren udah ketemu! Ada di dalam jurang!"


Tanpa menunggu waktu lama, mereka bertiga segera menghampiri Kenny. Anggika melangkahkan kaki dengan sedikit berlari sambil menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Pikirannya terus berkecamuk. Kenapa? Kenapa Kak Ren bisa di dalam jurang? Apa yang terjadi?


__ADS_2