
Hari-hari Syahla berlalu seperti biasa setelah kepergian Ustadz Amar. Ia berangkat kuliah bersama Anggika, pulang kuliah bersama Anggika, kadangkala juga mampir sejenak di kafe untuk sekedar minum kopi dan makan kue. Satu hal yang berbeda dari semua itu tentu saja adalah ketiadaan Ustadz Amar, yang biasanya selalu bersamanya kemana-mana.
"Hah.." Syahla menghembuskan napas panjang, membuat Anggika yang sedang menonton televisi di sebelahnya mengerutkan alis.
"Kenapa sih, La?"
"Mas Amar udah nggak chat aku sejak delapan jam yang lalu," keluh Syahla sembari memandangi ponselnya. "Tuh, kan? Chat ku aja nggak dibaca Nggi,"
"Sibuk kali," respon Anggika santai. "Lagian ya, perbedaan waktu Jakarta-Amerika itu beda 12 jam sendiri loh, kalau sekarang di sini jam 3 sore, di sana masih jam 4 pagi kali,"
Syahla mengerucutkan bibirnya. "Ya tapi kan, biasanya Mas Amar udah chat aku kalau bangun tidur."
"Yaelah, sabar aja lah, baru delapan jam doang kan? Santai aja dulu, eh cowok Gue telepon nih, Gue angkat dulu ya," ujar Anggika dengan wajah berseri-seri, lantas beranjak begitu saja meninggalkan Syahla.
Setelah Anggika pergi, Syahla semakin dibuat merana. Pasalnya, sejak Anggika berpacaran dengan seorang kakak senior di kampus, Syahla jadi makin merasa kesepian. Apalagi kalau sedang melihat Anggika yang menelepon pacarnya sambil tertawa-tawa seperti sekarang, dia jadi merasa iri sekaligus sedih.
Sedang asyik-asyiknya bergalau ria, ponselnya tiba-tiba meraung-raung keras. Syahla buru-buru menyambar benda pipih itu dan terbelalak senang melihat siapa yang menelpon. Ternyata Ustadz Amar.
"Sayang!" Syahla menyambut suaminya dengan ceria. "Baru bangun, ya?"
"Iya sayang," Ustadz Amar mengucek-ucek matanya yang masih setengah terpejam. Rambutnya terlihat acak-acakan. "Kemarin capek banget habis penelitian,"
"Oh gitu," Syahla merasa kasihan. "Sayangku sudah makan?"
Ustadz Amar tersenyum senang mendengar panggilannya yang berubah menjadi 'sayangku'. "Belum sayangku, kan baru bangun.."
"Oh iya ya.." Syahla menepuk dahinya sendiri.
Memang, sejak mereka berpisah dua bulan lalu, Syahla semakin aktif menunjukkan rasa cintanya pada sang suami. Dulu dia merasa malu kalau Ustadz Amar memanggilnya dengan sebutan 'sayang', tapi setelah kepergian suaminya, Syahla sekarang malah sering memanggil Ustadz Amar dengan sebutan 'sayangku' atau 'cintaku'. Kadang-kadang Syahla juga menyebutkannya di depan Anggika, membuat sahabatnya itu bergidik geli setiap kali mendengarnya.
"Udah pulang kuliah ya?" tanya Ustadz Amar yang sekarang tampak beranjak dari tempat tidur dan meminum air.
__ADS_1
"Udah, hari ini pulangnya cepet, jam dua belas udah selesai." Syahla menyandarkan handphonenya pada vas bunga di meja makan sehingga kedua tangannya bisa terbebas untuk mengupas buah apel. "Mau apel nggak Mas?"
"Mau, suapin sini," Ustadz Amar membuka mulutnya minta disuapi. Syahla menanggapinya dengan mengarahkan potongan apel ke layar handphone, seolah-olah menyuapkannya pada sang suami.
"Huek!" ejek Anggika yang melihat peristiwa itu. Sepertinya dia baru selesai menelepon.
"Apa sih?" Syahla merasa kesal sekaligus malu. "Sana mesra-mesraan sama pacarmu sendiri!"
"Emang iya, emang mau ketemu pacar, wlee.." Anggika menjulurkan lidah sambil berjalan terburu-buru menuju kamarnya. Tidak sampai lima menit, gadis itu sudah keluar lagi dengan penampilan yang berbeda.
"Eh, eh, mau kemana?" tanya Syahla heran.
"Ketemu pacar lah! Lo berani kan gue tinggal sendirian? Bye!" ucap Anggika sambil melambaikan tangan. Syahla membalasnya dengan tersenyum kecut.
"Kapan ya kita bisa ketemu lagi Mas?" wajah Syahla kembali berubah lesu.
"Sabar ya sayang, Mas akan usahakan studi Mas selesai dengan cepat, jadi Mas bisa cepat-cepat pulang ke Indonesia. Yang sabar ya?"
"Mau sholat, terus tadarus nunggu subuh, habis subuh mungkin joging bentar, terus sarapan dan berangkat ke kampus. Sayangku udah makan kan?"
"Udah," Syahla menganggukkan kepala, kemudian dahinya mengernyit menyadari sesuatu. "Ngapain sih Mas, joging segala?"
"Lah, memangnya kenapa?" Ustadz Amar menyugar rambutnya ke belakang. "Kan biar sehat sayang,"
"Nggak usah tebar pesona di sana," Syahla cemberut. "Awas aja kalau sampai kecantol cewek lain,"
"Astaghfirullahalazim," Ustadz Amar mengurut-urut dadanya sendiri. "Nggak mungkin lah sayang, mana ada wanita di dunia ini yang lebih cantik dari kamu?"
"Halah gombal," Syahla memalingkan muka, demi menutupi pipinya yang bersemu merah. "Kalau gitu jangan ilang-ilangan terus dong, kabarin saya setiap saat,"
"Iya.." Ustadz Amar tersenyum lembut. "Oh iya, sebenarnya, dua hari ke depan profesornya Mas mau ngajak kemping. Naik bukit gitu. Jadi mungkin untuk dua hari besok Mas nggak bisa chat atau telepon kamu dulu. Nggak papa kan?"
__ADS_1
"Loh, tapi kan besok itu ul—" Syahla menghentikan ucapannya sendiri dan menggelengkan kepalanya, kemudian ia tersenyum. "Iya Mas, nggak apa-apa kok,"
"Beneran? Kamu nggak marah kan sayang?"
"Nggak kok, nggak marah," Syahla menunjukkan senyumnya yang paling manis, membuat Ustadz Amar tersenyum lega.
"I love you sayang,"
"Love you too," balas Syahla sambil tersenyum pahit, kemudian telepon ditutup.
Setelah telepon berakhir, Syahla bisa merasakan nuansa rumahnya menjadi hening seketika karena tidak ada suara sama sekali. Dengan lesu, gadis itu kemudian menjatuhkan kepalanya di atas meja.
"Padahal kan besok ulangtahunku,"
...----------------...
"Selamat ulang tahun Syahla!" Anggika berteriak heboh sembari membawa kue ulang tahun. Saat ini Syahla dan Anggika sedang duduk berdua di kafe, dan Anggika memang menyiapkan kejutan itu untuk mengejutkan Syahla.
"Oh My God," Syahla tersenyum lebar. "Makasih banget loh udah inget ulang tahun aku,"
"Ye.. Mana mungkin sih Gue lupa sama ulang tahun bestie Gue sendiri? Oke, sekarang, tiup lilin. Eh, sebelum itu, make a wish dulu," ucap Anggika antusias. Syahla menuruti saja apa perintah sahabatnya itu. Ia menutup mata sejenak sebelum meniup lilin, berdoa.
...Ya Allah, semoga Mas Amar bisa hadir di hari ulang tahunku saat ini juga. ...
Syahla tahu itu adalah permintaan konyol, tapi apa salahnya berdoa? Setelah memanjatkan harapan itu, ia meniup lilinnya perlahan.
Setelah nyala api pada lilin yang berbentuk angka dua puluh itu padam, Syahla tiba-tiba bisa mendengar suara langkah kaki seseorang yang berada di belakangnya. Senyuman cerah Anggika yang sepertinya melihat seseorang membuat Syahla penasaran, sekaligus berdebar. Mungkinkah permintaannya langsung terkabul?
Saat menoleh ke belakang, Syahla dapat melihat seorang laki-laki dengan pakaian rapi berjalan ke arah mereka dengan membawa sebuket bunga besar.
Mata Syahla terbelalak sejenak saat sosok itu semakin mendekati mereka. Sosok itu kemudian memberikan buket bunga yang ia bawa pada Syahla sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
"Selamat ulang tahun, Syahla.."