USTADZ GALAK

USTADZ GALAK
45. Penyelesaian Yang Sederhana


__ADS_3

Usai Sholat Magrib, Abah Ridwan mengajak Ustadz Amar untuk duduk-duduk di ruang televisi. Sementara Syahla dan Ibu Nyai Siti mengobrol di ruang makan yang letaknya hanya bersebelahan dengan ruang televisi.


"Ini lo Mar, rencana asrama yang akan dibangun," Abah Ridwan membentangkan sebuah kertas di atas karpet. "Menurut kamu gimana?"


"Eng.." Ustadz Amar tampak memperhatikan gambaran denah itu lamat-lamat. "Saya tidak terlalu paham soal bangunan Bah, bagaimana kalau kita tanyakan sama Gus Adil?"


"Hm?" Gus Adil yang kebetulan lewat tampak kebingungan karena namanya disebut.


"Kenapa tanya sama Adil Mar?" Abah Ridwan mencoba meminta penjelasan.


"Iya Bah. Soalnya kan saya dengar Gus Adil itu sekarang sedang kuliah jurusan arsitektur. Menurut saya untuk masalah pembangunan ini bisa kita tanyakan langsung pada yang lebih ahli."


Abah Ridwan mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kamu benar juga Mar. Adil, sini Le!" Abah Ridwan melambaikan tangan pada putranya.


Gus Adil ragu-ragu mendekati sang ayah. Ia kemudian duduk di antara Abah Ridwan dan Ustadz Amar.


"Iya, Abah?" Tanyanya bingung . Abah Ridwan kemudian menunjukkan kertas bergambar denah asrama pada putra keduanya itu.


"Ini lo, Abah kan punya rencana buat membangun asrama baru. Kamu kan sekarang sedang kuliah jadi arsitek. Menurut kamu, denah ini bagaimana? Apakah rancangannya sudah pas? Terus kira-kira berapa banyak bahan bangunan yang harus dibeli nantinya?"


Gus Adil kemudian memfokuskan pandangannya pada kertas yang terbentang di tengah-tengah mereka. "Kalau menurut saya begini Bah.." Gus Adil kemudian menjelaskan panjang lebar.


Abah Ridwan dan Ustadz Amar sama-sama mendengarkan penjelasan Gus Adil dengan seksama. Meskipun agak grogi, penjelasan putra kedua Abah Ridwan itu cukup jelas bagi mereka.


"Kamu ternyata pintar juga Le," Abah Ridwan berseloroh. "Kenapa kamu nggak pernah menunjukkan kemampuanmu ini? Abah kira kamu nggak tertarik sama sekali sama keadaan pondok kita."

__ADS_1


Gus Adil tersenyum canggung. Ustadz Amar menepuk-nepuk pundak Gus Adil. "Selama ini Gus Adil sepertinya malu untuk langsung bilang Bah. Mungkin lain kali Abah bisa membahas program pondok sama Gus Adil juga,"


"Iya ya Mar. Soalnya selama ini Adil nggak pernah mau ikut-ikutan kalau Abah membahas tentang pesantren. Jadi Abah kira Adil nggak tertarik sama sekali,"


"Lain kali ditanyain dulu lah Bah," Ibu Nyai Siti turut menyahut dari arah ruang makan. "Tau sendiri gengsinya anak kita itu besar,"


Abah Ridwan dan Ustadz Amar tertawa. Sementara Gus Adil hanya tersipu malu karena apa yang dikatakan ibundanya benar adanya.


***


"Terimakasih Ustadz," Gus Adil menghampiri Ustadz Amar yang sedang duduk santai di teras ndalem. "Saya tau kalau tadi njenengan sengaja biar Abah memanggil saya."


Ustadz Amar tersenyum. "Entahlah. Saya hanya ingin urusan itu ditangani oleh ahlinya."


"Oh ya? Bukankah selama mondok njenengan juga sudah mengurusi pembangunan? Saya sangsi njenengan tidak bisa menguasai hal sesepele itu. Kalau boleh saya tebak, sepertinya njenengan sudah mendengar percakapan saya dengan Syahla."


"Sudah terlanjur juga, mau bagaimana lagi?" Gus Adil mengangkat bahu. "Saya juga minta maaf, karena selama ini sudah membenci njenengan."


Ustadz Amar menolehkan kepalanya, ia sebenarnya tidak terkejut dengan fakta itu, hanya saja ia tak menyangka Gus Adil akan mengucapkannya secara langsung.


"Selama ini, saya selalu berpikir Abah sangat pilih kasih pada kami. Padahal kami bertiga adalah putra kandungnya, tapi apa-apa yang selalu dibanggakan selalu njenengan. Kakak pertama saya sih sepertinya tidak masalah dengan hal itu, tapi saya berbeda. Saya merasa anak kandung Abah yang sebenarnya adalah njenengan, bukan kami. Jadi kadang-kadang saya merasa kesal tanpa sebab pada Abah dan Njenengan,"


Gus Adil menarik napas panjang. "Karena kemarahan tak berdasar itu, saya memutuskan untuk tidak mau mewarisi pesantren yang sudah didirikan oleh Abah dengan susah payah. Saya memilih tidak peduli dengan program atau pembangunan apapun yang terjadi di pesantren ini, toh Abah juga tidak mempercayai saya. Tapi, setelah saya pikir-pikir, ternyata saya juga ingin dianggap penting oleh Abah."


"Ternyata, jalan keluar dari masalah ini cukup sederhana. Saya hanya perlu bicara apa yang saya inginkan pada Abah. Karena seperti yang istri njenengan bilang, mau saya mengeluh sekeras apapun, itu akan percuma kalau tidak di depan orangnya langsung."

__ADS_1


Gus Adil mengalihkan pandangannya dari kolam ikan di depan rumah ke arah Ustadz Amar yang menatap lurus ke depan. "Terimakasih karena sudah memberi saya kesempatan untuk menunjukkan kemampuan saya di depan Abah,"


Ustadz Amar hanya tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya dari ikan-ikan kecil yang sibuk berenang ke sana kemari. "Sama-sama. Saya tidak melakukan sesuatu yang besar. Justru njenengan harus berterimakasih pada istri saya. Dia juga yang membuat saya bertindak seperti itu."


"Itu benar." Gus Adil menganggukkan kepala. "Sepertinya sekarang saya harus mulai mendekati istri njenengan,"


Ustadz Amar sontak menolehkan kepalanya dengan mata melotot. "Apa maksudnya itu?"


"Yah, dia wanita yang menarik. Tidak heran banyak santri putra yang patah hati saat kalian menikah. Sepertinya mulai sekarang saya akan berada dalam barisan sakit hati itu,"


Ustadz Amar serta merta meraih kerah baju Gus Adil sampai wajah mereka berhadapan. "Hati-hati kalau bicara. Selama ini saya menahan diri karena njenengan adalah putra dari Kyai saya. Tapi kalau njenengan melewati batas, saya tidak akan tinggal diam."


"Wah," Bukannya merasa takut, Gus Adil malah berseru takjub. "Baru kali ini saya lihat ekspresi marah njenengan."


"Saya juga manusia, jadi bisa marah."Ustadz Amar melepaskan cengkeramannya dengan kasar. " Makanya jangan buat saya mengeluarkan kemarahan saya."


"Hahahahahah!" Gus Adil malah tertawa terbahak-bahak. "Maaf, maaf. Saya nggak bermaksud begitu. Yah, Syahla memang cantik, tapi gadis yang sudah bersuami bukan tipe saya. Tenang saja Ustadz, Syahla akan sepenuhnya menjadi milik njenengan."


Ustadz Amar mendengus kesal. Gus Adil sepertinya memang sengaja menyulut emosinya. Biasanya Ustadz Amar akan memilih untuk mengabaikannya saja, tapi karena kali ini berkaitan dengan Syahla, dia tidak bisa menahannya lagi.


"Tapi, saya tidak tau sih kalau santri putra yang lain. Soalnya masih ada sekitar dua puluh laki-laki yang menunggu jandanya Syahla,"


Mata Ustadz Amar kembali melotot marah. Melihat gelagat lawan bicaranya, Gus Adil bergegas kabur. "Semangat ya, Ustadz!" teriaknya jail.


"Sabar, Amar, Sabar," Ustadz Amar menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Sebenarnya, Ustadz Amar bukannya tidak mengetahui betapa menariknya sang istri di mata laki-laki lain. Yah, siapa juga yang tidak jatuh cinta pada seorang gadis cantik, pintar dan putri dari seorang kyai besar? Saat masa sekolah dulu, Ustadz Amar sering sekali menyita surat-surat dari para santri putra yang ditujukan untuk Syahla. Tentu saja isinya sebagian besar tentang ungkapan cinta mereka. Bahkan saat dia pergi ke asrama tadi, Ustadz Amar bisa merasakan tatapan para santri yang tampak tidak suka padanya. Sepertinya mereka iri karena Ustadz Amar berhasil merebut wanita pujaan mereka.

__ADS_1


"Aku harus lebih ketat menjaga istriku," Ustadz Amar bertekad sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat.


__ADS_2