
Syahla dan Ustadz Amar berbaring di atas kasur dengan tubuh saling berhadapan. Meskipun tidak berkata apa-apa, mereka berdua sudah puas dengan saling memandang wajah satu sama lain. Dengan lembut, Ustadz Amar menyusupkan jari jemarinya pada rambut Syahla yang menutupi sebagian wajahnya, menyelipkannya di belakang telinga.
"Saya senang sekali," Syahla meraih tangan sang suami dan menciumnya lembut. "Setelah ini, kita bisa melakukan aktivitas kita seperti biasa. Kita bisa berangkat dan pulang dari kampus bersama-sama lagi."
Ustadz Amar termangu sejenak mendengar ucapan sang istri. Dengan gugup, ia bangkit dari posisi berbaringnya dan duduk dengan wajah cemas.
"Ada apa?" Syahla merasa heran. "Ada yang salah?"
"Eng.." Ustadz Amar tampak beberapa kali menelan ludah, berusaha merangkai kata. "Sebenarnya, ada satu hal yang ingin saya sampaikan sama istri, tapi belum sempat karena banyak hal yang terjadi."
"Hm?" Syahla akhirnya turut bangkit dari posisi berbaringnya, duduk sembari memandang suaminya heran. "Memangnya apa?"
Ustadz Amar memandangi wajah istrinya sejenak, kemudian menghela napas panjang sebelum membuka mulut. "Sepertinya saya sudah tidak bisa mengajar lagi di kampus."
Kedua alis Syahla bertaut. "Kenapa?"
"Sebenarnya, beberapa bulan yang lalu saya mendaftar beasiswa untuk S3, dan minggu ini adalah hari pengumumannya."
"Oh ya?" Wajah Syahla berbinar antusias. "Bagaimana hasilnya?"
Ustadz Amar menganggukkan kepala. "Alhamdulillah, saya diterima."
"Bagus dong!" Syahla bersorak. "Ini kan impian Mas selama ini! Memangnya Mas keterima di Universitas mana? Di Bandung? Yogyakarta? Atau malah di Jakarta?"
Ustadz Amar menggelengkan kepalanya perlahan sambil tersenyum pahit. "Saya.. diterima di Harvard University,"
"Har..vard?" Syahla mengulangi kalimat itu dengan perlahan. "Kalau Harvard berarti?"
"Amerika Serikat," jawab Ustadz Amar sembari menundukkan kepala. "Sebenarnya, saya juga mendaftar ke Universitas dalam negeri juga, tapi kebetulan saya malah diterima di sini. Tapi, saya nggak akan pergi kalau kamu nggak setuju."
__ADS_1
"Syahla?" Ustadz Amar menatap sang istri dengan cemas, karena Syahla sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun.
Berbeda dengan bayangan Ustadz Amar, Syahla malah tersenyum lebar sembari memeluk suaminya gembira. "Bagus dong Mas! Saya bisa pamer ke teman-teman kalau suami saya kuliah di Harvard! Mereka pasti iri sama saya!"
"Tapi.." Ustadz Amar melepaskan pelukan Syahla dan menatap istrinya dalam-dalam. "Kita mungkin akan berpisah."
"Terus kenapa?" Syahla tersenyum lebar. "Saya sangat mendukung kalau Mas Amar mau meraih cita-cita. Saya kan juga bukan anak kecil lagi yang harus dijaga 24 jam. Apalagi sekarang geng samurai sudah tertangkap, saya bisa meneruskan pendidikan di sini seperti sebelumnya."
Ustadz Amar menghela napas lega dan turut tersenyum mendengar jawaban sang istri. "Sepertinya istriku sekarang sudah semakin dewasa. Terimakasih karena sudah mau mengerti,"
Syahla tersenyum, ia kembali memeluk suaminya erat-erat. Di dalam pelukan sang suami, senyumnya perlahan memudar, diam-diam ia menahan air matanya agar tidak jatuh.
...----------------...
"Alhamdulillah.." Umi Zahra, Abah Baharuddin, Gus Sahil dan Hafsa serentak mengucap syukur setelah mendengar kabar dari Ustadz Amar melalui telepon.
"Terus gimana? Kapan mulai berangkat ke sana?" Gus Sahil bertanya penasaran.
"Nggak papa.." Umi Zahra menjawab cepat. "Sekarang kan Jakarta sudah aman, jadi Syahla akan baik-baik saja. Syahla kan juga pasti berani ditinggal sendiri. Iya kan Nduk?"
"Iya Mi," Syahla tersenyum. "Syahla juga sudah bilang sama temen Syahla untuk tinggal bareng di apartemen setelah Mas Amar pergi. Jadi Syahla nggak akan sendirian deh!"
"Oh ya?" Ustadz Amar mengernyitkan dahi. "Teman siapa? Kok saya nggak dikasih tau?"
"Duh, saya kayanya kemarin udah bilang deh Mas! Anggika loh, temen saya yang rambutnya panjang itu!"
"Oh.." Ustadz Amar mengangguk-anggukkan kepalanya. "Anggika bisa nyetir kan? Nanti kalian pulang pergi pakai mobil saya saja,"
"Serius?" Syahla terbelalak kaget. "Memangnya nggak apa-apa?"
__ADS_1
"Ya nggak apa-apa dong, kan sayang kalau mobilnya dianggurin begitu aja."
"Makasih Mas sayang!" Syahla memeluk suaminya mesra. Ustadz Amar membalas pelukannya sembari mengecup kening Syahla.
"Ehem! Ehem!" Gus Sahil terbatuk-batuk. "Masih ada orang nih di sini!" ucapnya mengingatkan.
"Oh iya, lupa," Syahla seketika melepaskan pelukannya sambil tersenyum malu. Ustadz Amar menggaruk-garuk tengkuknya salah tingkah.
"Biarin loh Mas Gus, mereka kan sebentar lagi pisah, jadi mau dipuas-puasin dulu mesra-mesraannya," sahut Hafsa yang dibalas anggukan Umi Zahra.
"Betul itu! Kamu sirik aja Hil!"
Syahla dan Ustadz Amar tertawa. Sementara Gus Sahil terlihat mengerucutkan bibir karena dimarahi dua orang sekaligus.
...----------------...
Tanpa terasa, waktu keberangkatan Ustadz Amar tinggal seminggu lagi. Sebelum hari ini, Syahla turut aktif membantu suaminya mempersiapkan segala hal. Dari menemani sang suami membuat paspor, sampai membelikan berbagai barang kebutuhan selama di Amerika. Umi Zahra juga tidak kalah ikut mengirimkan berbagai macam sambal, katanya agar Ustadz Amar tidak melupakan makanan khas Indonesia.
Sebelumnya, Syahla merasa baik-baik saja saat tau suaminya akan pergi. Tapi, menjelang hari keberangkatannya yang semakin dekat, entah kenapa Syahla malah merasa berat. Ada rasa tidak rela, takut, rindu dan berbagai macam pikiran yang berkecamuk menjadi satu. Perasaannya juga terasa semakin labil, karena dia bisa tiba-tiba gembira, lalu mendadak sedih beberapa detik kemudian.
Ustadz Amar juga bukannya tidak menyadari hal itu. Ia sering memergoki istrinya yang sengaja mengiris bawang merah banyak-banyak agar air matanya keluar, atau sengaja berlama-lama di dalam kamar mandi dan menangis di bawah guyuran shower. Tapi Syahla tidak pernah mengeluh sedikit pun. Hal inilah yang sebenarnya membuat Ustadz Amar merasa resah. Haruskah ia pergi meninggalkan istrinya atau tidak? Atau perlukah ia membawa Syahla ikut ke Amerika bersamanya?
"Saya nggak mau Mas," begitu jawab Syahla saat Ustadz Amar menawarkan opsi terakhir. "Impian saya ada di sini, di kampus yang sekarang. Saya nggak bisa melepaskan mimpi saya begitu saja."
Ustadz Amar menghela napas panjang. "Tapi, saya nggak tega ninggalin kamu sendirian di Jakarta."
"Sebenarnya, saya juga nggak rela Mas pergi," Syahla menundukkan kepalanya. "Tapi, harus ada pengorbanan untuk meraih sesuatu kan? Saya akan berkorban untuk masa depan kita yang lebih baik. Cuma tiga tahun saja kok, nanti tiba-tiba saja kuliah Mas sudah selesai dan kita bisa sama-sama lagi. Saya akan bertahan sampai saat itu tiba,"
Ustadz Amar meraih tubuh sang istri yang terlihat berguncang karena menahan tangis. "Menangis saja sayang, nggak apa-apa. Mumpung masih ada saya di sini yang bisa memeluk kamu."
__ADS_1
Mendengar ucapan Ustadz Amar, tangisan Syahla seketika pecah. Di dalam dekapan hangat sang suami, ia menangis sekencang-kencangnya.