
"MASSS!" teriak Syahla dari dalam kamar, yang membuat Ustadz Amar berlari menghampirinya dengan tergesa-gesa.
"Kenapa sayang? Kenapa?" Tanya Ustadz Amar panik. Ia segera memperhatikan keadaan tubuh sang istri, mencoba memperhatikan dengan seksama apakah ada luka di sana. "Kenapa sayang? Perutnya sakit? Hm?"
Syahla menggelengkan kepala. Kemudian ia malah menunjuk ke dirinya sendiri sambil mengerucutkan bibir. "Aku jelek banget Mas,"
Kening Ustadz Amar berkerut demi mendengar ucapan sang istri. Ia perhatikan Syahla dengan lebih seksama lagi. Tapi, dimatanya tetap tidak ada kejelekan seperti yang dikatakan wanitanya itu. "Apanya yang jelek sayang?"
"Aku Mas! Aku!" Syahla menjawab kesal, kemudian ia berbalik menghadap kaca besar yang menempel di dinding. "Tuh, lihat! Bajunya nggak bagus dipake! Aku kelihatan gendut banget! Lenganku tuh! Ya Allah! Kaya gajah!" Belum selesai mengomel, Syahla menghempaskan pantatnya di atas kasur. "Aku pokoknya nggak mau pergi!"
Waduh... Ustadz Amar menggaruk-garuknya tengkuknya bingung. Memang, sekarang usia kandungan Syahla sudah memasuki bulan ke delapan, dan hal itu membuat berat badannya bertambah banyak. Syahla menjadi sering uring-uringan dan malas keluar rumah karena tidak percaya diri dengan bentuk tubuhnya. Masalahnya, hari ini mereka mau menghadiri acara yang sangat penting, yaitu acara pembukaan berdirinya yayasan milik Ustadz Amar. Tidak mungkin kan kalau pemilik yayasannya tidak hadir di acara itu?
"Ayolah sayang," Ustadz Amar mendekati Syahla dan memeluknya dengan lembut. "Memang kamu tidak mau melihat hasil kerja keras saya selama ini? Kamu kan tau sendiri betapa besarnya pengorbanan dan usaha saya untuk membangun yayasan itu. Masa kamu malah tidak mau menghadiri acara pembukaannya? Kamu nggak kasian sama saya?"
Syahla mendengarkan ucapan sang suami sambil berpikir lama. Benar juga sih, suaminya itu sudah berjuang selama berbulan-bulan untuk membangun yayasan pendidikan berbasis agama islam setelah memutuskan tidak melanjutkan beasiswa S3-nya di Amerika. Syahla tau sendiri beratnya perjuangan Ustadz Amar beserta rekan-rekannya. Syahla sebenarnya juga merasa bersalah karena tidak bisa membantu apa-apa karena keadaannya yang sedang hamil. Lalu, masa hanya karena dirinya sedang tidak mood lantas menghancurkan hari bahagia suaminya?
Syahla menoleh ke arah sang suami yang sedang menatapnya dengan intens. Ustadz Amar tersenyum lembut dan mengecup punggung tangan Syahla dengan mesra. "Lagian, siapa sih orang yang berani bilang kalau istri saya ini jelek? Orang-orang yang berkata begitu perlu dicolok matanya biar bisa melihat dengan jelas."
"Ih," Syahla melepaskan tangannya dari genggaman sang suami. "Ya sebenarnya nggak ada sih yang ngomong secara langsung. Cuma, tatapan matanya itu loh. Saya kan jadi nggak pede Mas, saya takut kalau bareng sama Mas nanti malah mempermalukan Mas,"
"Hah?" Ustadz Amar mengorek telinganya untuk memastikan ia tak salah dengar. "Kamu bilang apa sayang? Malu? Maksudnya saya malu gitu kalau bareng sama kamu?"
__ADS_1
Syahla menganggukkan kepalanya perlahan.
"Astaghfirullahalazim.." Ustadz Amar menepuk keningnya sambil mengucap istighfar berulangkali. "Mana ada saya malu kalau bareng sama kamu? Yang ada saya malah merasa seneng, bahagia, dan merasa jadi laki-laki paling istimewa! Memangnya saya serendah itu ya di mata kamu sampai kamu berpikir begitu?"
Syahla menundukkan kepalanya. "Ya kan saya juga insecure Mas. Saya takut Mas nggak cinta saya lagi,"
Ustadz Amar menghela napas panjang. Ia kemudian mengulurkan kedua tangannya dan menangkup wajah sang istri. "Saya harus apa untuk membuktikan rasa cinta saya?"
Syahla terdiam. Entahlah, kalau ditanya seperti itu juga dia tidak tau mau menjawab apa. Sebenarnya Syahla juga sadar kalau pikiran-pikiran buruk itu muncul karena prasangkanya sendiri. Justru suaminya malah bersikap semakin romantis padanya.
Melihat Syahla yang hanya terdiam, Ustadz Amar malah merasa gemas dengan bola mata sang istri yang bergerak-gerak menghindari tatapannya. Dirinya tau betul kalau istrinya sedang salah tingkah dan bingung mau menjawab apa.
Tangan Ustadz Amar menyusup pada pinggang sang istri, menyentuh bagian-bagian tubuh yang menurut sang istri sudah tidak bagus lagi karena tertutup lemak. Meskipun Ustadz Amar sebenarnya tidak mengetahui dengan pasti bagaimana perubahannya, karena menurutnya istrinya masih cantik seperti biasa.
"Mas," Syahla menepuk-nepuk bahu sang suami saat merasa aktivitas mereka terasa semakin panas. Nafasnya juga sudah terengah-engah karena Ustadz Amar tidak memberi jeda sedikit pun untuknya mengambil napas.
"Mas!" Syahla akhirnya mendorong tubuh Ustadz Amar dengan paksa, membuat aktivitas mereka seketika terhenti. Syahla menatap wajah sang suami yang terlihat kebingungan, tapi ia kemudian tertawa saat melihat bibir Ustadz Amar yang belepotan dengan warna merah.
"Hahahahaha!" Syahla tertawa terbahak-bahak. Ustadz Amar jelas semakin bingung dibuatnya. Masih sambil tertawa, Syahla kemudian menunjuk pada cermin, meminta suaminya itu memandang wajahnya sendiri di sana.
"Wahahahahaha!" tawa Ustadz Amar meledak saat ia melihat wajahnya sendiri. "Kenapa jadi begini? Kamu sih, pakai lipstik tebal banget,"
__ADS_1
"Kok jadi saya?" Syahla merasa tidak terima karena disalahkan. "Salah Mas sendiri terlalu agresif."
Ustadz Amar melirik ke arah Syahla dengan bibir manyun. "Habisnya, selama kamu hamil, saya jarang banget disentuh." Ustadz Amar menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Sentuh aku mbak, sentuh!"
"Ih, Ya Alloh Mas! Geli tau! Ih!" Syahla bergidik melihat sang suami yang memasang wajah genit. "Udah ah! Saya mau benerin make-up saya dulu, nanti keburu telat lagi."
Ustadz Amar tersenyum sumringah mendengar ucapan sang istri. "Jadi, udah nggak ngambek lagi nih? Jadi kan, berangkat ke acara pembukaan bareng saya?"
Syahla mematut-matut wajahnya di cermin sambil mengomel. "Udah terlanjur begini, masa nggak jadi berangkat. Sia-sia dong baju barunya,"
Senyum Ustadz Amar semakin lebar mendengar jawaban Syahla. "Alhamdulillah.. Saya senengggg banget. Terimakasih ya sayang," Ustadz Amar merangkulkan kedua tangannya pada pinggang sang istri dari belakang, kemudian dengan gemas menciumi pipi gembul sang istri.
"Aduh Mas, jangan ganggu deh! Nanti lipstik nya kecoret! Duh! Udah sana, cuci muka dulu!"
"Oke sayang," Ustadz Amar tersenyum jahil. "Eh, itu lipstiknya jangan tebel-tebel, saya nggak suka!"
"Iya, iya, ini kan warnanya juga nggak terlalu merah Mas,"
"Muahhh!" Ustadz Amar dengan cepat mencuri ciuman bibir Syahla, membuat lipstik yang baru dipakai ke bibir sang istri kembali menempel padanya. Lalu setelah berbuat demikian, Ustadz Amar segera melesat ke kamar mandi sebelum kemarahan istrinya meledak.
"MAS AMAR!"
__ADS_1