
Syahla masih tetap mendiamkan Ustadz Amar meskipun saat ini dirinya sudah berada di bandara untuk pulang ke Indonesia. Meskipun didiamkan sang istri, Ustadz Amar tetap menyiapkan segala keperluan sang istri dengan penuh perhatian. Apalagi kali ini perjalanan delapan belas jam itu akan dilewati istrinya sendirian, jelas dirinya merasa harus mempersiapkan segalanya semaksimal mungkin.
"Istri, kamu yakin mau pulang sendiri? Perjalanan Amerika ke Indonesia itu jauh sekali loh. Belum lagi harus transit ke beberapa negara. Kamu yakin bisa sendirian?"
Syahla merebut kopernya dari tangan sang suami, kemudian ia mengangguk malas. Ia masih marah pada suaminya, bahkan sekarang untuk menatap wajahnya pun rasanya tak sudi.
Tak lama kemudian, terdengar pengumuman dalam bahasa Inggris yang menyuruh para penumpang untuk segera masuk ke dalam pesawat. Syahla segera menyeret kopernya dan bersiap pergi. Tapi Ustadz Amar terlebih dulu menahan tangannya.
"Hati-hati. Kabari saya kapanpun. Jangan berpikiran aneh-aneh. Saya akan menyusul sebentar lagi."
Syahla mendengarkan suaminya berbicara tanpa berbalik ke belakang. Dengan menghela napas panjang, gadis itu lantas melepaskan tangannya dari genggaman sang suami, kemudian melangkah ke depan tanpa menoleh sama sekali.
Ustadz Amar memandang kepergian sang istri dengan perasaan campur aduk. Ia merasa sedih, tapi juga marah pada dirinya sendiri karena sudah membuat istrinya semarah itu.
"Tunggu saya di sana, Syahla." bisik Ustadz Amar lirih.
...----------------...
Syahla menikmati perjalanan delapan belas jamnya dengan lebih banyak diam. Meskipun ini merupakan pengalaman pertamanya naik pesawat sendirian, ia merasa tidak bersemangat sama sekali. Pikirannya sibuk memutar ulang memori menyakitkan saat dirinya memergoki sang suami bersama dengan Dasha.
Mengingat kembali hal itu membuat dadanya terasa sesak. Alhasil, sepanjang perjalanan, Syahla diam-diam menangis. Ia lakukan diam-diam karena tidak mau mengganggu penumpang yang berada di sebelahnya. Tapi, mau bagaimanapun ia menahan, tetap saja isak tangisnya terdengar oleh wanita tua yang duduk di sampingnya itu.
"Nak," wanita itu menyodorkan sapu tangan kepada Syahla. "Kamu tidak apa-apa?"
__ADS_1
Syahla terperanjat mendengar ucapan wanita itu. Yang pertama, ia terkejut karena tangisnya ternyata terdengar. Yang kedua, ia terkejut karena wanita dengan wajah khas orang Eropa itu bisa berbahasa Indonesia.
"Terimakasih Nek," Syahla menerima uluran sapu tangan wanita itu. "Maaf kalau saya mengganggu nenek."
"Ah, tidak masalah." Wanita tua itu mengibaskan tangan. "Waktu seumur kamu, nenek malah jauh lebih banyak menangis. Jadi, menangislah sepuasnya, nenek tidak akan melarang."
Syahla tersenyum mendengar ucapan sang nenek. Hatinya terasa hangat karena mendapatkan perhatian dari seseorang yang bahkan tidak ia kenal. "Maaf nek. Kalau boleh tau, apa nenek asli orang Indonesia?"
"Kenapa? wajah nenek tidak kelihatan seperti orang Indonesia ya?" wanita tua itu terkekeh sambil memegang wajahnya sendiri. "Nenek ini asli orang Indonesia loh. Ori! Nenek saja lahir di Yogyakarta. Hanya saja, orangtua nenek memang bukan asli orang pribumi sana. Tapi, kewarganegaraan nenek tetap Indonesia kok,"
Syahla mengangguk-anggukkan kepalanya. "Pantas. Nenek kelihatan fasih sekali bicara bahasa Indonesia. Jadi, sekarang nenek tinggal di Amerika atau di Indonesia?"
"Lima tahun lalu, nenek pindah ke Amerika karena mau mengurus orang tua nenek yang sudah sakit-sakitan. Tapi, satu bulan yang lalu mereka sudah meninggal. Jadi, sekarang nenek mau cepat-cepat kembali ke Indonesia karena cucu-cucu nenek sudah menunggu di sana. Kamu mau lihat tidak?"
Syahla menganggukkan kepalanya antusias. Wanita tua itu kemudian mengambil selembar foto di dalam tas dan menunjukkannya pada Syahla.
"Iya nak. Mereka cantik kan? Dulu sih umur mereka masih lima tahun, tapi kalau sekarang, mungkin mereka sudah kelas empat SD. Nenek sudah tidak sabar mau melihat mereka pakai seragam sekolah."
Syahla tersenyum melihat mata nenek yang terlihat berbinar-binar membicarakan cucunya. "Kalau suami nenek? Sekarang masih di Indonesia?"
Wanita tua itu terdiam sejenak mendengar pertanyaan Syahla. Sambil menghela napas panjang, wanita itu berkata lirih. "Tiga tahun setelah pernikahan kami, suami nenek yang bekerja sebagai Angkatan Darat dikirim ke medan perang. Lalu setelah itu, nenek tidak pernah mendengar kabarnya lagi."
Syahla terhenyak mendengar jawaban sang nenek yang tidak ia duga. "Ah, maafkan saya Nek. Saya tidak tau."
__ADS_1
"Tidak apa-apa nak. Waktu itu memang rasanya berat, tapi sekarang nenek memilih untuk menghargai semua kenangan yang tersisa bersama suami nenek. Meskipun singkat, nenek senang karena itu membahagiakan. Makanya, sekarang nenek ingin menghargai waktu bersama dengan orang-orang yang nenek cintai. Kamu juga harus begitu ya nak, hargailah waktu bersama orang yang kamu cintai, sebelum semuanya terlambat."
Syahla tertegun. Ucapan wanita itu terasa menusuk tepat di jantungnya. Ungkapan tentang orang-orang yang dicintai membuatnya langsung teringat pada Ustadz Amar. Ah, dia jadi menyesal sekarang. Seharusnya ia lebih dulu mendengarkan penjelasan sang suami dan tidak langsung mengambil keputusan yang tergesa-gesa. Tapi, semuanya sudah terlambat. Ia hanya berharap jarak di antara mereka bisa memperbaiki semua kesalahpahaman ini.
...----------------...
Ustadz Amar masuk ke dalam kelas dengan langkah terburu-buru. Lalu dengan cepat, ia segera menarik Dasha kuat-kuat, memaksanya keluar dari kelas.
"Amar! Lepaskan! sakit!" teriak Dasha yang sama sekali tidak digubris oleh Ustadz Amar. Barulah saat mereka sudah keluar dari kelas dan berada di tempat yang sepi, Ustadz Amar melepaskan cengkeramannya.
"Mar, apa-apaan kamu? Kenapa kamu kasar dengan saya?" Dasha memegangi pergelangan tangannya yang memerah.
"Justru seharusnya aku yang tanya. Apa-apaan kamu? Kenapa kamu mengundang istriku malam itu dan menciptakan situasi yang membuatnya salah paham?" Ustadz Amar mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Aku tidak mengerti maksud kamu Amar, aku tidak—"
"Jangan mengelak!" Ustadz Amar meninju tembok yang berada di belakang Dasha dengan tangan kosong. Wajahnya merah padam menahan marah.
"Jangan pura-pura. Kamu pikir aku tidak tau kalau kamu sejak awal sudah berniat mengganggu istriku? Sebenarnya apa rencanamu, hah?"
Napas Dasha terdengar naik turun. Sejujurnya, gadis itu sangat ketakutan sekarang. Selama ini ia belum pernah melihat kemarahan Ustadz Amar yang begitu memuncak, apalagi kali ini sampai menggunakan tinjunya untuk menggertak.
"Aku.. Aku melakukan itu karena iri pada istrimu, Amar.." Dasha tergagap. "Aku ingin berada di posisi istrimu. Aku ingin.. dicintai oleh kamu.."
__ADS_1
Dasha kemudian memberanikan diri mendongakkan kepala, menatap langsung manik mata laki-laki dingin di hadapannya.
"Amar, tidak bisakah kamu melihat ketulusanku? Kalaupun kamu tidak bisa menjadikan aku satu-satunya, aku tidak masalah. Aku bisa menjadi istri keduamu. Bukankah agama yang kamu anut memperbolehkan hal itu? Aku bisa masuk islam kalau kamu mau Amar. Asalkan kamu bisa menjadi milikku."