
Syahla sedang menggoreng telur di dapur saat pintu apartemen terbuka. Ustadz Amar masuk dengan wajah lesu. Tangannya terluka akibat meninju gerbang Kos-kosan dengan tangan kosong. Sejenak, Syahla dan Ustadz Amar saling bertatapan, kemudian saling memalingkan muka canggung.
Setelah meletakkan telur gorengnya ke atas piring, Syahla menghampiri Ustadz Amar yang sedang duduk di atas sofa. Perlahan, diraihnya tangan suaminya yang terluka dan dibasuhnya dengan hati-hati menggunakan alkohol.
"Shh.." Ustadz Amar mendesis, lukanya terasa perih. Namun saat melihat Syahla menatapnya dengan tajam, ia membungkam mulutnya dan memilih untuk menahannya di dalam hati.
"Lagian kenapa bisa sampai seperti ini sih?" Syahla mengomel. "Kenapa selalu dapat luka setiap kali keluar dari rumah?".
Ustadz Amar meringis. "Akhir-akhir ini emosi saya sering tidak terkontrol. Maafkan saya,"
Syahla kali ini mengoleskan antibiotik ke luka sang suami. "Memangnya ada masalah apa lagi sampai sampeyan semarah ini?"
Ustadz Amar menundukkan kepalanya sejenak. "Kata polisi, Rama dinyatakan tidak bersalah karena tidak ditemukan bukti apapun."
"Hah?" Syahla terbelalak "Bukannya waktu itu Kak Rama sudah mengaku sendiri?"
"Dia mengaku hanya di depan saya, tapi tidak di depan polisi. Tapi saya janji akan pastikan dia mendekam di penjara."
Syahla mendengus. "Kalau begitu, apa ada kemungkinan Kak Rama bekerjasama dengan orang lain? Misalnya, orang yang paling dekat dengannya?"
Ustadz Amar berpikir sejenak. "Kamu sendiri, tahu tidak siapa yang dekat dengan Rama?"
Syahla menggeleng. "Saya tidak tahu. Saya tidak sedekat itu dengan Kak Rama, apalagi sampai pernah tidur dengannya." Syahla menjawab masam. Ustadz Amar merasa perkataan istrinya itu menusuk dirinya, maka cepat-cepat digenggamnya tangan Syahla.
"Sayang, saya tahu saya nggak pantas dimaafkan. Tapi, izinkan saya untuk mendapatkan kesempatan kedua dari kamu. Saya benar-benar menyesal."
Syahla menghela napas panjang. "Saya sebenarnya juga ingin memaafkan sampeyan dan menganggap ini semua tidak pernah terjadi. Tapi, saya masih sakit hati." Syahla menundukkan kepalanya. "Tapi, saya akan putuskan mulai sekarang. Saya akan menunda kemarahan saya sampai masalah ini selesai."
__ADS_1
"Menunda? Memangnya marah bisa ditunda-tunda?"
"Kenapa? Mas Suami nggak terima?" Syahla melepaskan genggaman tangan suaminya. "Kalau Mas mau saya marah selamanya juga nggak masalah."
"Eh, jangan!" Ustadz Amar langsung memeluk sang istri. "Terimakasih atas pengertiannya ya sayangku. Jadi, malam ini saya sudah boleh tidur di kamar istri?"
"Apa-apaan? Dikasih hati malah minta jantung,"
"Cuma pegang tangan saja kok sayang," bujuk Ustadz Amar
"Iya, pegang tangannya begini," Syahla memegang tangan Ustadz Amar yang terluka sampai laki-laki itu meringis kesakitan.
"Aduh, sakit, sayang!"
"Syukurin!"
...----------------...
Alhasil, Ustadz Amar dan Syahla yang bekerjasama dengan pihak kampus hari ini melaksanakan Konferensi Pers. Pasalnya, berita yang diunggah oleh rektorat tidak kunjung meredam desas-desus yang beredar. Para mahasiswa malah semakin ekstrim dalam membully Syahla yang membuat gadis itu lama-kelamaan merasa tidak tahan juga. Ustadz Amar yang semula berencana melakukan Konferensi Pers setelah pelaku tertangkap akhirnya memilih untuk melakukannya sekarang.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya Amar Maulana Syarief, selalu dosen dari kampus ini dan di sebelah saya, Syahla Nafisa yang merupakan mahasiswi semester dua. Menanggapi rumor yang beredar, kami membantah bahwa saudari Syahla adalah simpanan saya, melainkan dia adalah istri saya yang sah. Kalian bisa melihat dari tanggal yang tercantum pada buku nikah kami,"
Kamera menyorot pada buku nikah yang dipegang Ustadz Amar, dan layar besar di belakangnya menunjukkan hal itu pada para mahasiswa dan dosen-dosen yang berkumpul.
"Selama ini, kami memang memutuskan untuk menutupi hubungan kami demi menjaga profesionalitas, kami tidak menyangka hal tersebut malah memunculkan sebuah fitnah yang tak berdasar."
Layar besar kemudian menunjukkan cuplikan video yang telah diblur.
__ADS_1
"Adapun video ini, direkam diam-diam oleh orang yang tak bertanggungjawab, dan disebarkan pula tanpa sepengetahuan kami. Kami sudah mengantongi nama pelaku, namun butuh proses yang panjang untuk menangkapnya. Maka dengan ini, saya dan istri memohon sebesar-besarnya pada semua orang untuk tidak lagi menyebarkan berita yang tidak benar yang dapat merugikan kami, dan tidak mempercayai berita hoax tersebut. Disini kami juga memohon maaf yang sebesar-besarnya karena telah menyebabkan kekacauan ini."
Para mahasiswa gaduh, saling berdiskusi masing-masing. Syahla menelan ludah gugup, semua mata yang memandangnya membuat jantungnya berdegup cepat dan kakinya terasa lemas.
Ustadz Amar mengetahui gerak-gerik istrinya yang terlihat gelisah, lantas digenggamnya erat-erat tangan sang istri.
"Semuanya akan baik-baik saja," Ustadz Amar tersenyum, membuat hati Syahla terasa tenang seketika. Ia balas tersenyum dan menggenggam tangan sang suami erat-erat.
...----------------...
Setelah Konferensi Pers selesai, Syahla kembali ke kelasnya untuk belajar. Teman-teman sekelasnya yang semula memandang dirinya dengan tatapan mencemooh kali ini hanya bisa memalingkan muka. Tidak ada satupun orang yang meminta maaf, tapi hal itu tidak masalah bagi Syahla.
"La! La!" Anggika menepuk-nepuk bahu Syahla dengan heboh. "Lihat deh!"
"Apa lagi?" Syahla merespons malas. Melihat berita dari media sosial membuatnya trauma. "Ada berita hoax lagi tentang aku?"
"Bukan!" Anggika mengarahkan layar handphonenya tepat di depan wajah Syahla sehingga gadis itu bisa melihat dengan jelas apa yang ia lihat. "Rama! Dia ditemukan pingsan di dalam ruko kosong!"
Syahla buru-buru menyambar handphone dari tangan Anggika. Benar saja. Itu adalah foto Kak Rama yang tergeletak dengan penuh darah, sementara beberapa orang berkumpul di sekelilingnya.
"Daerah Bogor, ada yang kenal? Ditemukan pingsan di dalam ruko kosong. Kakinya patah seperti terkena pukulan. Sekarang sudah dilarikan ke RSUD Bogor." Syahla membaca pesan yang menyertai foto tersebut. Sepertinya foto ini disebar oleh orang yang pertama kali menemukan Kak Rama dan diteruskan berkali-kali hingga sampai ke Anggika.
"Ini beneran Rama kan?" Anggika memastikan. "Meskipun wajahnya bonyok begitu, gue bisa ngenalin kalau itu si Rama."
"Kamu bener Nggi," Syahla buru-buru membereskan alat-alat tulisnya ke dalam tas dan bergegas berdiri. "Aku mau pergi dulu."
"Loh, mau kemana? Kelas sudah mau dimulai loh!"
__ADS_1
"Tentu saja menemui pelaku. Kali ini, dia nggak akan aku biarkan lolos," ucap Syahla sembari mengepalkan tangannya. "Doakan aku ya Nggi,"
"Pasti." Kata Anggika tulus. "Semoga cepat diberikan jalan keluar untuk masalah kalian."