USTADZ GALAK

USTADZ GALAK
42. Masa Lalu Bulek


__ADS_3

"Sayang, bangun yuk, subuh.." Ustadz Amar mengecup kening sang istri untuk membuatnya bangun. Syahla hanya menggeliat sebentar sambil menggumam.


"Saya lagi haid.."


"Oke," Ustadz Amar akhirnya beranjak dari kasur dan keluar untuk melaksanakan sholat subuh. Membiarkan istrinya tertidur untuk menyembuhkan badan yang lelah.


Pukul enam pagi, Syahla baru benar-benar membuka matanya. Dilihatnya sang suami sudah tidak berada di sampingnya, mungkin sedang lari pagi seperti kebiasaannya selama di Jakarta. Ia lalu bergegas meraih jilbab dan keluar dari kamar.


"Huh, cah wedok jam segini baru bangun!"


Mata Syahla memicing mendengar suara omelan yang sudah sangat familiar di telinganya. Bulek tampak berada di dapur sambil sibuk mengulek bumbu, sementara Ibu di sampingnya sedang menggoreng tempe.


"Pagi Nduk," Berbanding terbalik dengan Bulek, Ibu menyapa Syahla dengan ramah. "Cuci muka dulu sana, nanti baru bantuin Ibu masak."


Syahla menurut. Ia memang berniat untuk pergi ke kamar mandi tadi, hanya saja kamar mandi berada di ujung rumah, sehingga harus melewati dapur.


Setelah selesai mencuci muka, Syahla merasa matanya sudah terbuka sepenuhnya. Sebelum keluar dari kamar mandi, ia terlebih dulu menepuk-nepuk kedua pipinya.


"Ayo, semangat Syahla, semangat!" gumamnya menyemangati diri sendiri.


...----------------...


Tidak ada yang istimewa pagi itu selain Bulek yang tetap mengomel dengan semua tindakan Syahla. Apa saja yang ia lakukan tak pernah lepas dari komentar.


"Kalau bilas baju itu jangan di mesin cuci, tapi disiram langsung di bawah keran!" omelan Bulek berawal dari Syahla yang hendak membantu mencuci baju. "Terus nanti waktu jemurin bajunya di balik! Kalau nggak di balik nanti warnanya rusak!"


Baiklah, masih masuk akal. Meski kata-katanya memekakkan telinga, setidaknya Syahla mengetahui di mana kesalahannya.


"Kalau nyapu itu yang sat set! Tuh, kolong meja masih kotor! Harus dibersihkan!"


Syahla sudah hampir mengumpat. Padahal dirinya sedang susah payah berjongkok untuk meraih kotoran di bawah meja, tapi Bulek sudah bilang begitu seolah dia tidak mengerti sama sekali.


"Kalau nyuci piring itu mbok ya yang keset! Minyaknya masih ada dimana-mana itu loh!"

__ADS_1


Astaghfirullah, tidak terhitung berapa banyak Syahla mengucap istighfar hari ini. Lama-lama dirinya tidak tahan juga. Mungkin, kalau mereka bertahan di rumah itu seminggu lamanya, telinganya benar-benar bisa tuli.


"Om Suami.." Syahla memeluk manja Ustadz Amar setelah suaminya selesai sholat maghrib.


"Kenapa sayang? Hm?" Ustadz Amar mengelus-elus rambut Syahla.


"Saya nggak tahan kalau lama-lama di sini,"


Ustadz Amar terdiam sejenak. Dia bukannya tidak tahu bagaimana perlakuan Bulek pada istrinya. Hanya saja ia pikir Syahla bisa mengatasinya dengan baik. Tapi memang dipikir-pikir lagi ucapan Bulek keterlaluan, wajar kalau sampai istrinya mengeluh begitu.


"Kalau begitu besok kita langsung ke Al-Raudhah saja ya?"


"Hah?" Syahla tak menyangka suaminya akan memberi penawaran itu. Meski ia berkata seperti itu, sebenarnya niatnya hanya ingin mengeluh saja.


"Memangnya tidak apa-apa?" Syahla merasa tidak enak hati. "Om Suami memangnya nggak kangen sama Papa dan Ibu?"


"Sebenarnya saya kan sejak dulu tinggalnya sama Mama, terus sebelum Mama ke Australia saya juga sudah di pondok. Jadi, meski hubungan saya dan Papa baik-baik saja, sebenarnya kami juga tidak sedekat itu." Ustadz Amar kembali mengusap kepala istrinya. "Kalau istri tidak nyaman ada disini, saya nggak apa-apa kok kalau pulang lebih cepat dari jadwal kita."


"Tapi.." Syahla menggigit bibirnya ragu. "Gimana bilangnya sama Ibu?"


Syahla menggelengkan kepalanya. "Tetap saja, saya harus bilang sendiri." Syahla kemudian mengecup pipi sang suami. "Terimakasih ya, sayang."


"Sama-sama," Ustadz Amar sudah mencuri kesempatan untuk mencium bibir istrinya. "Coba kalau kamu lagi nggak haid,"


"Apaan sih?" Syahla langsung menjauhkan diri dari sang suami. "Udah ah! Saya mau bilang dulu ke Ibu!"


Ustadz Amar terkekeh. Menjahili istrinya tetap saja seseru itu.


...----------------...


Syahla berdiri di balik tembok yang menjadi pembatas antara ruang tengah dan dapur. Ada Ibu, bulek, dan Simbah yang duduk-duduk di sana. Mulut Syahla berusaha menghafalkan kata-kata yang ia jadikan alasan kepulangannya besok.


"Mbok ya jangan keras-keras begitu to sama Syahla, kasihan dia dimarahin terus," Suara Ibu menghentikan niat Syahla untuk bergabung bersama mereka.

__ADS_1


"Aku nggak bermaksud begitu mbak, itu reflek aku lakukan setiap melihat dia. Entah kenapa, aku selalu merasa melihat diriku sendiri setiap kali melihat Nduk Syahla," Suara Bulek terdengar menjawab dengan lirih.


"Ya tapi nggak begitu juga caranya. Syahla itu nggak tahu apa-apa, masa kamu lampiaskan kemarahanmu sama Syahla?"


"Maaf Mbak, aku beneran nggak pernah bermaksud begitu. Aku cuma takut, kalau Syahla nanti akan bernasib sama sepertiku." Suara Bulek terdengar menahan tangis. Syahla mengernyitkan dahi karena belum pernah ia mendengar nada suara Bulek yang lemah begitu.


"Dulu, aku juga menikah ketika umurku masih muda. Aku belum bisa apa-apa, dan selalu dimarahi sama mertuaku. Dulu aku menganggapnya cerewet, rusuh sekali menggangguku setiap hari. Aku diomeli kalau masak sedikit nggak bisa, bersih-bersih nggak becus, makanya aku selalu berusaha menjadi yang terbaik supaya suamiku dan keluarganya menyukaiku."


"Awalnya semuanya baik-baik saja, tapi lama kelamaan suamiku mulai menunjukkan gelagat aneh. Dia sering pulang terlambat, menolak untuk makan di rumah, dan selalu berangkat kerja pagi-pagi buta. Aku pikir itu hal yang wajar, mungkin kantornya sedang sibuk. Tapi ternyata aku menemukan fakta kalau dia sudah lama menjalin hubungan dengan wanita lain."


Syahla menghela napas berat. Astaga, seberat itu kah kehidupan Bulek?


"Aku marah Mbak, jelas. Mbak sendiri yang menyaksikan aku melabrak wanita itu sambil menangis dan mengamuk. Mbak juga ingat kan, apa kata suamiku waktu itu? Katanya aku tidak becus jadi istri. Katanya masakan ku tidak seenak buatan selingkuhannya. Katanya aku tidak bisa memuaskan keinginan dia,"


Syahla bisa mendengar suara Bulek terdengar patah-patah menahan tangis.


"Sejak kejadian itu. Aku berusaha lebih keras untuk menyenangkan suamiku. Aku memutuskan untuk menerimanya kembali, siapa tahu dia akan berubah. Nyatanya, lima tahun yang lalu, dia memutuskan untuk pergi bersama perempuan itu."


"Makanya aku tidak ingin Syahla mengalami hal yang sama mbak. Meskipun hanya sebentar, aku ingin mendidik dia sebagai istri yang sempurna, agar kelak dia tidak ditinggalkan. Meskipun aku tahu Amar adalah lelaki yang baik, makanya dulu aku selalu getol menjodohkan dia dengan Karin. Tapi, tetap saja, trauma masa laluku membuat aku terlalu keras pada Syahla."


"Ya Alloh Nduk, malangnya nasibmu," Simbah sudah menangis tersedu-sedu. Sementara Syahla yang mendengarkan percakapan mereka di balik tembok memutuskan untuk melangkah kembali ke kamarnya.


"Sudah? Loh, kenapa nangis?" Ustadz Amar yang melihat kedatangan istrinya dengan air mata yang mengalir di pipi segera bangkit dari posisi tidurnya. "Sayang, kamu kenapa? Dimarahin Bulek lagi?"


"Nggak," Syahla menggelengkan kepalanya masih sambil menangis. "Om Suami janji nggak akan ninggalin saya, kan?"


"Hah?" Ustadz Amar bingung karena pertanyaan itu muncul begitu saja. "Tentu saja saya nggak akan meninggalkan kamu. Kenapa tanya begitu?"


"Bener ya? Meskipun saya nggak bisa masak, nggak jago bersih-bersih, dan nggak bisa melayani sampeyan dengan sempurna, Om Suami tetap mencintai saya kan?"


"Iya sayang.. Iya.. Saya janji.. Tapi kenapa tiba-tiba tanya begitu? Kamu dengar apa dari sana?"


Syahla hanya menggelengkan kepalanya sambil memeluk suaminya dengan haru. "Kita jangan pulang dulu ya. Saya nggak papa kok bertahan sampai lima hari lagi,"

__ADS_1


Ustadz Amar membalas pelukan istrinya dengan erat. Meskipun masih kebingungan, dia mengangguk saja. Apapun itu, asalkan bisa membuat Syahla bahagia, dia akan menurutinya.


__ADS_2