
Saat Syahla dan Ustadz Amar keluar dari mobil yang mereka tumpangi, tampak seorang lelaki berlari tergopoh-gopoh ke arah mereka dengan wajah panik.
"Astaghfirullah! Amar! Kok ya lama sekali sampainya. Ini sudah ditunggu sama para tamu dari tadi loh!" celoteh lelaki itu. Syahla memperhatikan lelaki itu dengan seksama. Ia mengernyitkan dahi karena merasa kenal dengan orang yang sedang memarahi suaminya itu.
"Ustadz Yasir?"
Sontak lelaki itu menoleh ke arah Syahla. Dahinya tampak mengerut sejenak sebelum kemudian matanya terbelalak setelah menyadari sesuatu.
"Loh, Syahla ya?" Ustadz Yasir mengacungkan telunjuknya tepat di wajah Syahla, membuat Ustadz Amar segera meraih jari lelaki itu dan menurunkannya dengan kasar.
"Nggak sopan nunjuk-nunjuk istri orang,"
"Hehehe, maaf Mar, aku terlalu senang ketemu teman lama. Halo Syahla, apa kabar? Wah, kamu bikin pangling ya? Sudah setahun nggak ketemu kayanya badan kamu makin—hmph!" Ustadz Amar buru-buru membekap mulut Ustadz Yasir sebelum sahabatnya semasa mondok itu menyelesaikan ucapannya.
"Jaga bicaramu Yasir. Kamu mau ada Perang Dunia ketiga di sini?" bisik Ustadz Amar memberi peringatan. Mendengar ucapan Ustadz Amar, langsung saja Ustadz Yasir menganggukkan kepala dan menyadari kesalahannya. Ia hampir saja membuat bencana besar karena membahas perihal berat badan di depan wanita.
"Kok Ustadz Yasir bisa ada di sini?" Untunglah sepertinya keadaan mood Syahla tidak buruk, sehingga perkataan Ustadz Yasir barusan bisa beralih dengan cepat.
"Oh, saya memang belum pernah bilang sama kamu. Yasir ini jadi salah satu investor di yayasan kami. Sebenarnya ide berdirinya yayasan ini juga berasal dari Yasir. Hanya saja dia sedang banyak kesibukan di Al-Raudhah, jadi tidak sempat membantu saya dalam pembangunan yayasan." .
"Oh begitu.." Syahla tersenyum sumringah. Pembicaraan mereka lantas harus terhenti karena pihak panitia yang membantu terselenggaranya acara ini memberitahu kalau acara akan segera dimulai. Syahla, Ustadz Amar dan Ustadz Yasir lantas bergegas menuju tempat yang telah disediakan.
__ADS_1
Acara pembukaan yayasan dimulai dengan penyampaian visi misi yayasan yang disampaikan oleh Ustadz Amar dan tim. Kemudian acara dilanjutkan dengan ceramah dari seorang ustadz muda yang cukup terkenal, setelah itu menyanyikan lagu sholawat bersama-sama dengan sebuah grup band yang cukup kondang. Ustadz Amar memang berharap acara ini dapat menarik minat dari para kaum milenial yang ingin menimba ilmu agama tanpa menghilangkan jiwa modern mereka.
Di akhir acara, Ustadz Amar bersama para pihak-pihak penting melakukan pemotongan pita sebagai simbol dibukanya yayasan, yang diberi nama Al-Ma'arif Islamic School. Al-Ma'arif sendiri artinya pengetahuan, dan diharapkan berdirinya yayasan ini bisa menjadi ladang ilmu pengetahuan bagi para murid yang datang ke sana.
Syahla bertepuk tangan dengan bangga melihat sang suami yang berada di depan sana bersama orang-orang penting. Selain para pejabat daerah, Ustadz Amar juga mengundang beberapa kyai, termasuk Abah Ridwan, pendiri dari Ponpes Al-Raudhah tempat mereka mondok dulu.
"Selamat ya Le," Abah Ridwan menjabat tangan Ustadz Amar dengan bangga. "Abah do'akan semoga yayasan ini bisa berkembang dengan pesat, dan bisa menjadi pusat yayasan islam modern di Indonesia."
"Aamiin ya Allah.. Terimakasih atas do'anya Abah," Ustadz Amar mencium tangan sang kyai dengan takzim. Syahla juga turut mencium tangan ibu nyai Siti yang saat itu juga hadir mendampingi Abah Ridwan.
"Oh iya, sekalian di sini, Abah mau mengundang kalian untuk datang ke acara pernikahan Ahmad. Masih lama sih, mungkin sekitar lima bulan lagi. Tapi Abah mau memastikan kalian berdua mengosongkan jadwal untuk acara hari itu." Ahmad adalah putra pertama dari Abah Ridwan.
"MasyaAllah.. Gus Ahmad sudah mau nikah? Apa pendidikannya di Turki sudah selesai Bah?"
"Iya Mar.. Kamu tau nggak, setelah Ahmad bilang begitu, kita sekeluarga langsung pergi ke Turki mendatangi calon istrinya Ahmad. Aduh, Umi masih ingat waktu itu kopernya Abah ketinggalan di rumah saking buru-burunya," Ibu Nyai Siti bercerita dengan sangat ekspresif, membuat Syahla dapat mengetahui bagaimana kacaunya suasana hari itu.
"Oh ya, kalau nak Syahla, kandungannya sudah berapa bulan? HPL-nya kapan? Sudah diperiksa belum jenis kelaminnya? Mau melahirkan di sini atau di Darul Quran?"
Syahla gelagapan karena mendapatkan pertanyaan dari Ibu Nyai Siti yang bertubi-tubi. "Anu, Umi.. Usia kandungan saya sekarang sudah delapan bulan, jenis kelaminnya laki-laki, perkiraan lahirnya sekitar satu bulan lagi. Rencananya sih saya mau melahirkan di Jakarta saja Mi,"
"Oalah, begitu toh. Alhamdulillah.. Umi sudah ndak sabar mau lihat Amar junior. Loh, terus Umi sama Abahmu gimana? Mereka sudah datang kesini buat mendampingi kamu lahiran?"
__ADS_1
"InsyaAllah datangnya dua minggu sebelum lahiran Umi,"
"Oh begitu.. Yasudah, sehat-sehat ya Nduk.. Ealah, Umi sampai lupa. Umi kan juga bawakan oleh-oleh buat kalian. Sebentar ya, biar Umi ambilkan dulu di mobil,"
"Ya Alloh Umi, repot-repot segala. Umi sama Abah kesini saja kami sudah senang,"
"Ya ndak bisa begitu to Mar, kami juga mau ikut menyambut kelahiran calon cucu kami. Nanti Mar, kalau anakmu sudah lahir, suruh panggil Abah sama Umi pakai Kakung dan Uti saja ya.."
Ustadz Amar tersenyum lebar. "Akan saya ingat Bah," Ustadz Amar kemudian mengalihkan pandangan pada Syahla dan mengelus lembut perut sang istri. "Alhamdulillah.. Jagoan kita sudah banyak yang sayang.."
...----------------...
Selesai acara, Syahla dan Ustadz Amar bergegas pulang ke apartemen karena mereka memang sudah capek. Apalagi Syahla. Dia merasa perutnya mulas sekali, padahal sepertinya ia tidak makan terlalu banyak tadi. Saat mobil mereka hampir memasuki pelataran gedung apartemen, Syahla merasa ada cairan yang mengalir di kakinya.
"Mas, Mas, berhenti dulu Mas," Syahla menepuk-nepuk bahu sang suami. "Ini air apa ya Mas? Kok mengalir banyak sekali? Apa saya ngompol ya?"
Ustadz Amar melihat ke arah yang ditunjuk Syahla dan terbelalak melihat cairan bening kekuningan yang mengalir pada kaki sang istri.
"MasyaAllah! Jangan-jangan ini ketuban sayang! Kita langsung ke rumah sakit!"
"Tapi, kan usia kandungan saya baru delapan bulan Mas!"
__ADS_1
"Mas juga nggak tahu Sayang, yang penting kita ke rumah sakit dulu!"
Ustadz Amar lantas menginjak pedal gas, membuat mobil mereka seketika meluncur kembali ke jalan raya, bergegas menuju rumah sakit.