USTADZ GALAK

USTADZ GALAK
58. Pengakuan Kak Anne


__ADS_3

Setelah kedua wanita itu masuk ke dalam kamar, Kak Hasan dan Ustadz Amar menunggu di depan pintu. Kak Hasan tampak gelisah dan terus menerus mengintip dari balik jendela.


"Nggak usah khawatir, istri saya nggak akan ngapa-ngapain pacar kamu," Tukas Ustadz Amar.


Kak Hasan mendengus. "Anne bukan pacar saya,"


"Oh, ya? Tapi kalian tinggal bareng?"


"Memang menurut Bapak kalau tinggal bareng sudah pasti pacar? Saya itu tinggal sama dia supaya bisa menjaga dia dari dekat. Kasihan dia nggak punya siapa-siapa, terus sekarang malah hamil pula."


"Sudah tau kasihan, kenapa masih kamu hamili juga?"


Kak Hasan serta merta menatap Ustadz Amar dengan amarah. "Jaga mulut Bapak ya! Saya ini sekali pun nggak pernah menyentuh Anne! Meskipun saya suka sama dia, saya berupaya menjaga kesucian dia! Tapi Anne malah jatuh cinta sama si Rama brengsek itu dan menyerahkan semuanya." Tangan Kak Hasan tampak terkepal.


"Kamu benar. Rama memang brengsek. Wajahnya saja yang kelihatannya baik, tapi dalamnya busuk."


"Makanya," Kak Hasan tersenyum miring. "Aku puas setelah geng samurai menghajar dia habis-habisan,"


Ustadz Amar mengernyitkan dahi. "Kamu tau dari mana kalau yang menghajar dia itu geng samurai?"


Kak Hasan tampak terkejut sejenak mendengar pertanyaan Ustadz Amar, lantas ia tertawa canggung. "Rama sendiri yang bilang kan? Kakinya kan juga pincang karena habis dihajar."


Ustadz Amar kembali mengernyitkan dahi. "Sepertinya berita tentang kakinya belum tersebar deh, kamu tau itu darimana?"


Kak Hasan menelan ludahnya gugup. Ia tidak menjawab dan malah merogoh sakunya untuk mengambil rokok. "Mau rokok?" tawarnya pada Ustadz Amar. Ustadz Amar menggelengkan kepalanya.


"Saya nggak merokok kalau nggak lagi stres,"


"Oh," Kak Hasan bereaksi singkat dan menghisap dalam-dalam nikotin dari batang rokok yang ia pegang. Setelahnya, ia hembuskan asap-asap hasil pembakaran paru-parunya itu ke udara.


Ada yang aneh, batin Ustadz Amar. Tapi ia tidak bertanya apa-apa lagi dan kembali mengalihkan pandangannya melihat daun-daun gugur pohon jambu yang berada di depan kamar kos-kosan.


...----------------...


"Lo ngomong apa sama nenek Gue?" todong Kak Anne pada Syahla. Ia berdiri sembari menyilangkan kedua tangannya di depan dada, sementara Syahla duduk di tepi ranjang. "Lo bilang ke dia kalau gue hamil?"


"Saya cuma bilang minta alamat kak Anne yang ada di Jakarta," jawab Syahla sembari menggelengkan kepalanya. "Saya tidak bicara apa-apa soal kehamilan Kak Anne, maupun soal Kak Anne di DO dari kampus. Karena sepertinya nenek tidak tahu soal itu."

__ADS_1


"Terus, Lo mau ngapain lagi ke sini?"


"Saya cuma mau minta klarifikasi Kak Anne soal video yang beredar. Video yang memfitnah kalau saya adalah simpanan dari suami saya."


"Kenapa Lo tanya itu ke Gue? Cuma perkara video aja Lo sampai bela-belain ke sini. Lagian bukannya masalah udah beres karena kampus udah klarifikasi? Lo nggak liat Gue? Gue juga difitnah, dan nggak ada satupun yang membela Gue!" Kak Anne bicara dengan penuh emosi.


"Itu karena fitnah yang menuduh saya sama sekali nggak benar," Syahla kemudian mengambil handphone dari sakunya. "Lalu, kenapa saya tanya soal video itu ke Kak Anne? Ya karena ini,"


Syahla lantas membuka hasil rekaman pembicaraannya dengan Kak Rama di rumah sakit. Saat mendengar namanya disebut, Kak Anne lantas terduduk lemas.


"Rama! Kenapa Lo lakuin ini ke Gue! Lo bilang bakal menjamin identitas Gue dan nggak bakalan ketangkap!" Kak Anne menangis tersedu-sedu. "Nyesel Gue percaya sama Lo!"


"Kak," Syahla mendekati Kak Anne. "Kak Rama itu bukan cowok baik-baik. Apa Kak Anne diancam sama dia untuk menyimpan video-video itu?"


"Tau apa Lo soal Rama! Justru dia itu adalah satu-satunya orang yang ngebantuin Gue selama di Jakarta! Dia juga ayah dari anak dalam kandungan Gue! Dia bilang dia bakal nikahin Gue kalau berhasil bikin kalian cerai!"


"Astaghfirullah..." Syahla kaget bukan main. "Kenapa kalian lakukan itu?"


"Itu karena kita mau kasih Lo pelajaran, b*tch! Gara-gara Lo, Rama jadi berpaling dari Gue! Dasar cewek murahan!" Kak Anne meraih gelas yang berada di atas meja, kemudian membantingnya sampai terdengar suara kaca pecah. Tidak cukup sampai disitu, Kak Anne juga membanting apapun yang ada di dekatnya, membuat Syahla hanya bisa berteriak histeris.


Kak Anne lantas meraih pecahan gelas dan menggenggamnya sampai tangannya berdarah-darah. Ia lalu berjalan mendekati Syahla sambil mengacungkan pecahan gelas itu.


"Kak, istighfar! Kak Anne!" Syahla berusaha melindungi wajahnya dengan tangan sambil beteriak. Untungkan teriakannya terdengar sampai ke depan dan membuat Ustadz Amar dan Kak Hasan bergegas membuka pintu.


"Anne, hentikan!" Kak Hasan serta merta memeluk Kak Anne sehingga pecahan kaca itu mengenai tubuhnya. "Kamu tenang saja, ada aku di sini."


Kak Anne yang menyadari kalau Kak Hasan terluka lantas melepaskan pelukannya. "San, Lo..."


Kak Anne bergetar saat melihat ujung pecahan gelas yang lancip menancap pada pinggang Kak Hasan.


"SAN!" Kak Anne berteriak histeris. "MAAFIN GUE!"


"It's okay, Anne, it's okay," Kak Hasan malah kembali meraih Kak Anne dalam pelukannya. "Ini nggak seberapa sakit kok,"


Ustadz Amar dan Syahla melihat kejadian itu dengan terdiam. Posisinya Ustadz Amar masih memeluk Syahla yang tadinya ketakutan.


"Bagaimana ini?" bisik Syahla. "Apa perlu kita antarkan ke rumah sakit?"

__ADS_1


"Tidak perlu sayang, dia akan baik-baik saja. Yang lebih penting, kamu nggak papa kan?"


"Iya," Syahla mengganggukkan kepalanya.


"Anne sudah mengakui kalau dia yang melakukan itu?"


Syahla terdiam sejenak dan menatap Kak Anne dan Kak Hasan yang masih berpelukan. "Nanti saya ceritakan di mobil ya,"


"Oke," Ustadz Amar membimbing istrinya keluar dari kamar kos-kosan.


...----------------...


"Tujuannya supaya kita cerai? Wah, gila..." Ustadz Amar menggeleng-gelengkan kepala mendengar penjelasan Syahla. "Memang apa untungnya bagi mereka?"


"Kata Kak Anne, itu untuk memberi saya pelajaran. Dan Kak Anne melakukan semua itu karena Kak Rama berjanji untuk menikahinya."


"Astaghfirullah.." Ustadz Amar mengusap wajahnya kasar. "Apa yang membuat dia sepercaya itu pada Rama?"


"Saya juga tidak tau. Tapi Kak Anne benar-benar marah waktu saya bilang Kak Rama itu bukan cowok baik-baik. Dia malah bilang kalau selama ini yang membantunya selama di Jakarta adalah Kak Rama."


"Jadi, apa dia kelihatan menyesal dan meminta maaf karena sudah memfitnah kita?"


Syahla menggelengkan kepalanya sebagai jawaban 'tidak' dari pertanyaan itu.


"Kalau begitu itu sudah cukup." Ustadz Amar mengangguk mantap. "Kita akan melaporkan Anne sebagai salah satu pelaku dalam masalah ini."


"Tapi," Syahla menggigit bibirnya ragu-ragu. Ustadz Amar tersenyum, lalu diraihnya tangan Syahla dalam genggamannya.


"Saya sudah pernah bilang kan, kalau kejahatan yang dilakukan Anne saat ini sama seperti penyakit. Kalau tidak segera disembuhkan, bisa saja kumat atau malah menular ke orang lain. Lagipula, Anne bisa saja menerima keringanan karena kondisinya yang sedang hamil membuatnya terpaksa melakukan itu."


Syahla menundukkan kepalanya. "Saya tidak mengkhawatirkan Kak Anne. Dia memang pantas menerima hukuman dari perbuatannya. Tapi, saya memikirkan nenek. Bagaimana kalau nenek tau?"


Ustadz Amar menghela napas panjang. "Sebagai wali dari cucunya, nenek jelas harus tau apa saja perbuatan yang dilakukan cucunya selama ini. Dengan begitu, ini juga bisa menjadi tamparan untuk Anne agar tidak melakukannya lagi. Bukankah Anne sangat menyayangi neneknya? Dia pasti merasa bersalah dan menyesal saat tahu neneknya mengetahui semua perbuatan buruknya."


Syahla menganggukkan kepalanya perlahan. Ustadz Amar semakin mengeratkan genggamannya pada sang istri untuk menenangkan.


"Kelak, kalau semuanya sudah selesai, kehidupan kita akan kembali normal seperti semula. Tidak ada lagi rasa sedih, rasa marah, dan rasa malu. Kita akan bahagia bersama."

__ADS_1


Syahla memandangi suaminya, senyuman tulus dari Ustadz Amar terasa menular. Perlahan-lahan, ujung bibirnya terasa naik dan ia tersenyum lebar. Kalau bersama laki-laki ini, ia merasa bisa menyelesaikan masalah sebesar apapun.


__ADS_2