
Saat tersadar, Syahla kebingungan karena keadaan di sekitarnya masih gelap gulita. Ia lalu menyadari kalau matanya tertutup oleh selembar kain. Ketika akan membukanya, ia baru sadar kalau kedua tangannya terikat ke belakang. Syahla berusaha memberontak untuk melepaskan diri, tapi itu sia-sia karena ikatan di tangannya cukup kencang, dan hal itu malah membuat pergelangan tangannya terluka.
Sembari berusaha memutar otak, pendengaran Syahla tiba-tiba menangkap samar-samar suara obrolan para laki-laki. Tampaknya itu adalah para penculiknya. Syahla pun cepat-cepat diam seolah masih pingsan seperti semula.
"Masih belum bangun juga?" kata seorang laki-laki dengan suara berat. "Lo kasih obat tidur berapa kilo?"
"Nggak banyak kok," jawab laki-laki lain. "Kita tunggu aja, sebentar lagi pasti sadar sendiri."
"Gimana mau sadar kalau matanya ditutup begitu?" Syahla merasa heran karena ia mengenali pemilik suara ini. "Coba Lo buka Mal,"
"Oke deh bos," sahut seseorang yang lain. Syahla kemudian merasakan ada tangan yang meraih penutup matanya. Syahla pun bersiap-siap.
Saat penutup mata dibuka, alangkah terkejutnya laki-laki itu karena ternyata mata Syahla sudah terbuka sepenuhnya. Dengan cepat, Syahla segera mengigit tangan laki-laki di depannya dengan sekuat tenaga.
"AKHHH!" teriak lelaki itu kesakitan. "Lepasin Gue!"
Para anggota yang melihat hal tersebut jelas terkejut. Mereka lantas mendekati Syahla dan sang lelaki.
"Bangs*t! Berani-beraninya Lo ngelawan, hah!" Sebuah pukulan tiba-tiba menghantam wajah Syahla, membuatnya mau tidak mau melepaskan gigitannya.
"Tangan Gue! Tangan Gue!" Laki-laki yang tadi tangannya digigit oleh Syahla berteriak histeris. Bagaimana tidak? Bekas gigitan itu meninggalkan luka yang amat dalam. Darah mengucur deras dari tangannya. "Cewek sial*n!"
"Pinter juga Lo," sebuah tangan meraih dagu Syahla dan memaksanya untuk menatap ke depan. Syahla terbelalak karena laki-laki di depannya tak lain dan tak bukan adalah Kak Hasan.
"Kak Hasan!" Syahla berteriak. "Kenapa Kak Hasan lakukan ini ke saya?"
"Kenapa lagi? Tentu saja biar Lo dan suami sialan Lo itu kena batunya! Gara-gara Lo, Anne harus dipenjara! Padahal Gue udah berharap Anne bakalan luluh sama Gue setelah Gue buat Rama cacat! Tapi ternyata, dia tetap memilih Rama sampai akhir!"
Syahla terkesiap mendengar penuturan Kak Hasan. "Jangan-jangan, yang menghajar Kak Rama waktu itu adalah.."
"Itu Gue, dan anak-anak buah Gue!" Kak Hasan menunjuk pada para lelaki di belakangnya. "Gue adalah ketua dari geng samurai yang paling ditakuti di seluruh Jakarta!"
Syahla terbelalak kaget. Jadi, yang malam itu mengejarnya dan melukai Ustadz Amar adalah Kak Hasan dan komplotannya?
__ADS_1
"Eh, bos, setelah gue pikir-pikir, kayanya kita pernah ketemu cewek ini deh. Kalian inget nggak, waktu kita ngejar cewek malem-malem, tapi cewek itu ngelawan dengan mukul bos pake tasnya. Kita kan udah hampir ketangkep polisi waktu itu!"
Bibir Kak Hasan menyeringai. "Oh, ya? Jadi, cewek ini adalah target kita yang kabur? Hahahahaha!" Syahla bisa merasakan kengerian dari balik tawa Kak Hasan. "Kalau gitu kita habisin aja sekalian! Prinsip geng samurai, kalau sudah jadi target, nggak boleh lepas!"
Syahla bergidik ngeri melihat tatapan Kak Hasan yang berkilat mengerikan. Sebuah belati tampak dikeluarkan Kak Hasan dari saku celananya. Sambil tertawa sinting, lelaki itu mengarahkan belati itu ke arah Syahla.
"Bos!" seruan salah satu anak buah Kak Hasan menghentikan pisau itu menyentuh wajah Syahla. "Ada telepon!"
"Ya udah diangkat aja, g*blok!" seru Kak Hasan galak. "Lo ganggu banget sih!"
"Tapi ini dari polisi!" jawaban tersebut lantas membuat semua orang yang berada di sana terkejut.
"SIALAN!" Kak Hasan membanting pisau ke lantai. Syahla bisa menghela napas lega sejenak. Kak Hasan kemudian berjalan menghampiri anak buahnya itu dan merebut handphone dengan kasar.
"Ini dari kepolisian. Serahkan diri kalian dan lepaskan wanita itu!"
"Enak sekali Anda bicara," Kak Hasan berdecih. "Kalau mau dia selamat, berikan uang satu milyar!"
Orang-orang di seberang telepon terlihat saling berbisik, kemudian handphone terdengar berpindah tangan.
Kak Hasan mengernyitkan dahi saat tahu ternyata ada orang yang mengenalnya, tapi kemudian ia tersenyum saat menyadari siapa yang berbicara. "Pak Amar, ya?"
"Lepaskan istri saya sekarang juga!" suara Ustadz Amar terdengar penuh emosi.
"Yah, tidak semudah itu lah pak. Ada uang, ada barang. Berikan saya satu milyar, dan saya akan bebaskan istri Anda sekarang juga!"
Hening sejenak. Kak Hasan tertawa penuh kemenangan. "Ternyata uang lebih berharga dari istri Anda, ya?"
"Oke," jawab Ustadz Amar dengan cepat. "Saya harus temui kamu dimana?"
Kak Hasan kemudian menyebutkan alamat sebuah ruko kosong. "Datang sendiri. Kalau tidak, nyawa istrimu akan dalam bahaya." ancamnya kemudian.
"Sebentar!" ujar Ustadz Amar sebelum telepon ditutup. "Tolong biarkan aku bicara dengan istriku,"
__ADS_1
"Merepotkan," decak Kak Hasan, tapi ia berjalan mendekati Syahla dan berjongkok tepat di depan gadis itu sambil menunjukkan layar handphonenya. "Woy, suami Lo nih,"
Syahla menatap Kak Hasan dengan tatapan sayu. "Lepaskan dulu ikatanku. Bukannya kamu harus memastikan aku baik-baik saja agar mendapat uang tebusan?"
Kak Hasan tampak geram, tapi ia akhirnya membuka ikatan pada pergelangan tangan Syahla. "Awas kalau Lo macam-macam," bisiknya memberi ancaman.
Syahla menelan ludah. Setelah handphone diberikan padanya, ia memindahkan mode telepon ke video call. Saat wajah suaminya terlihat, ia pura-pura tersenyum sumringah.
"Halo, Mas?"
"Syahla! Kamu nggak apa-apa? Apa mereka menyakitimu?" terlihat wajah Ustadz Amar yang terlihat panik.
"Aku baik-baik saja Mas, coba kamu lihat, aku sehat-sehat saja kan?" Syahla diam-diam mengubah tampilan kamera menjadi kamera belakang, hal tersebut membuat Ustadz Amar dapat melihat dengan jelas siapa saja sosok para penculik yang ada di sana.
"Kamu baik-baik ya di sana. Aku akan secepatnya menjemput kamu."
"Iya Mas,"
Handphone direbut dengan cepat dari tangan Syahla, secara reflek gadis itu mematikan sambungan telepon.
"Lama banget," keluh Kak Hasan. "Ayo! Kita harus cepat-cepat ambil duit kita!" ajaknya pada anggotanya yang lain.
"Loh, Bos? Cewek ini gimana?"
"Ya Lo tungguin di sini lah! Terserah mau Lo apain,"
"Beneran Bos?" lelaki yang tangannya berdarah karena tadi digigit Syahla tersenyum senang. "Tenang aja Bos! Dia nggak akan bisa kemana-mana lagi! Gue bakalan membuat dia membayar rasa sakit karena udah ngelukain Gue!"
"Sip, yang penting jangan mati aja," tukas Kak Hasan santai sembari menyulut rokoknya. Syahla menatap kepergian mereka dengan jantung berpacu cepat. Otaknya mulai berpikir apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
Setelah kepergian semua anggota gengnya, lelaki berwajah tirus itu mendekati Syahla sambil tertawa-tawa. "Manis, sini sama Abang, sekarang cuma tinggal kita berdua di sini.."
Syahla mengepalkan tangannya kuat-kuat. Tangan kanannya menggenggam belati yang tadi dilemparkan Kak Hasan ke lantai. Saat lelaki itu semakin mendekat, Syahla dengan kuat menghujamkan benda tajam itu ke bahu sang lelaki.
__ADS_1
"AKHHHH!" jelas saja lelaki itu mengerang kesakitan. Memanfaatkan kesempatan itu, Syahla buru-buru berlari keluar sejauh-jauhnya.