
Seminggu berlalu dengan cepat. Selama itu, Bulek memang masih mengomel dan sering memarahi Syahla, tapi Syahla memilih untuk diam dan menerimanya dengan lapang dada. Lagipula satu minggu bukan waktu yang panjang, jadi dia memutuskan untuk tidak membesar-besarkan masalah.
Tak terasa, hari ini sudah waktunya Syahla dan Ustadz Amar pergi dari rumah itu. Sebelum pergi, mereka berpamitan dengan seluruh orang rumah.
"Saya pamit dulu Bulek," Syahla memeluk Bulek, yang pastinya membuat semua orang terkejut. "Terimakasih karena sudah membimbing Syahla selama ini."
Bulek awalnya hanya mampu mengedipkan matanya dengan cepat saking terkejutnya. Namun, ia kemudian membalas pelukan Syahla dengan erat. "Maafkan Bulek ya Nduk,"
Ah, Syahla jadi merasa terharu. Ternyata hanya dengan mendengar perkataan maaf dari orang yang menyakitinya membuat hatinya selega itu.
"Saya juga minta maaf karena sering membuat Bulek marah,"
"Jangan kapok ya datang ke sini lagi,"
"Tidak akan, Bulek. Saya akan datang lagi," Syahla tersenyum lembut. Setelah berpamitan, ia dan Ustadz Amar kemudian pergi dengan menggunakan taksi. Mereka menolak tawaran Papa yang ingin mengantarkan mereka karena takut merepotkan.
"Saya bangga sama kamu," ucap Ustadz Amar setelah taksi yang mereka tumpangi berjalan jauh. "Kamu bisa memaafkan Bulek yang sering memarahi kamu,"
Syahla menghela napas panjang. "Bulek pasti punya alasan kenapa jadi seperti itu. Kadangkala kita hanya melihat seseorang dari luarnya saja, tanpa mengetahui sudah berapa banyak pil pahit yang dia telan sepanjang hidupnya. Saya tidak sengaja mengetahui pil pahit Bulek, dan akhirnya memutuskan untuk memakluminya."
Ustadz Amar menatap istrinya dengan bangga. "Saya rasa, kamu jadi lebih dewasa sekarang."
"Oh ya?" Syahla menangkup kedua pipinya yang terasa panas. "Apa Om Suami suka dengan pesona dewasa saya?"
"Suka, suka sekali," Ustadz Amar hendak mengecup kening istrinya sampai ia menyadari supir taksi itu memperhatikan mereka.
"Ekhem," Supir taksi merasa salah tingkah karena ketahuan menguping. "Maaf, saya kira kalian itu om dan keponakan,"
"Haha, itu wajar Pak. Jarak umur kami berdua memang lumayan jauh," Ustadz Amar menjawab canggung.
"Oh, pantesan, soalnya kelihatan istrinya masih kecil banget. Rasanya nggak cocok saja kalau disebut suami istri,"
__ADS_1
"Eh, Pak! Jangan sembarangan bicara, ya! Saya ini sudah dewasa! Sudah kuliah! Lagian suami saya ini masih muda, masih dua puluhan! Wajahnya juga jauh lebih ganteng dari anak muda kebanyakan! Mungkin malah lebih ganteng dari anak bapak!" Semprot Syahla kesal.
"Eh, eh, kenapa bicaranya begitu sih? Nggak sopan," Ustadz Amar langsung membekap mulut sang istri dan menoleh pada pak supir. "Maafkan istri saya ya Pak,"
Untungnya, berkat semprotan Syahla, Pak Supir memilih diam sepanjang perjalanan dan tidak mengomentari mereka lagi.
...----------------...
Beberapa jam berlalu, dan akhirnya mereka sampai di depan gerbang pesantren Al-Raudhah setelah berjuang melewati jalanan yang tidak bisa disebut jalan. Sepertinya pemimpin daerah itu sengaja membuat program jalan dengan seribu lubang untuk melatih daya tahan tubuh masyarakatnya.
"Aduh, punggungku," Syahla menggeliatkan tubuhnya sampai pinggangnya berbunyi saking kakunya. Sementara Ustadz Amar langsung membuka bagasi mobil dan mengeluarkan barang bawaan mereka.
"Terimakasih ya Pak," ucapnya pada supir taksi sebelum masuk ke gerbang pondok.
Syahla menghela napas panjang sebelum melangkahkan kakinya masuk. Mungkin, kalau mereka berdua kemari empat bulan yang lalu, Syahla tidak akan sudi masuk berdampingan dengan suaminya itu. Mau ditaruh dimana mukanya? Hampir semua teman-teman seangkatannya tahu betapa Syahla membenci Ustadz Amar. Pasti mereka semua akan heboh mengejek dirinya yang seperti terkena karma. Tapi, sekarang Syahla memilih untuk tidak memperdulikan hal itu.
"Selamat datang putraku," Abah Ridwan, pengasuh pondok pesantren Al-Raudhah yang menyambut langsung kedatangan mereka. Ibu Nyai Siti, istri Abah Ridwan juga ikut menyambut dengan antusias.
"Yuk, masuk, mbak santri sudah siapkan masakan spesial untuk kalian," Abah Ridwan sudah merangkul Ustadz Amar dengan erat seolah tidak rela santri kesayangannya itu direbut orang lain. Syahla juga mengikuti Ibu Nyai Siti yang menggandengnya masuk ke dalam rumah.
Syahla duduk di kursi meja makan dengan canggung. Ustadz Amar duduk di sampingnya, sementara Abah Ridwan dan Ibu Nyai Siti duduk di hadapan mereka. Selain mereka berempat, ada juga Gus Adil, putra kedua Abah Ridwan yang hanya berbeda satu angkatan dengan Syahla, serta Gus Ridho, putra Abah Ridwan yang masih kecil, baru kelas lima SD.
"Ayo, silahkan dimakan Nduk," Ibu Nyai Siti mempersilahkan. Syahla menganggukkan kepalanya canggung dan mengambil sedikit sayur dan lauk. Bukannya dia tidak menyukai makanan yang dihidangkan, hanya saja ini pertama kalinya ia berada dalam satu meja makan bersama kyai-nya, maka dia ingin menjaga imagenya sebagai seorang santri yang santun.
Ustadz Amar sepertinya memperhatikan tingkah istrinya, ia kemudian berinisiatif mengambilkan satu potong paha ayam goreng besar kepada sang istri.
"Makan yang banyak, kamu kan belum makan dari tadi."
Syahla melotot. Aduh, nggak peka banget sih jadi suami!
"Ya ampun, romantisnya ya Mi," Ujar Abah Ridwan yang memperhatikan mereka. "Dulu waktu kita masih jadi pengantin baru juga romantis kaya gitu."
__ADS_1
"Apa iya sih, Bah? Kok Umi nggak merasa Abah romantis ya sama Umi?" Ibu Nyai Siti tampak mengingat-ingat.
"Ya Alloh, sayangku, cintaku. Apa selama ini masih kurang perhatian suamimu ini kepadamu?" Abah Ridwan menatap istrinya dengan tatapan sendu, dan kedua tangannya berada di depan dada. "Apa perlu aku belah dadaku untuk membuktikan rasa cintaku padamu?"
"Aduh, Abah! Lebay!" Ibu Nyai Siti menutup wajahnya. "Malu sama Amar dan Syahla!"
Ustadz Amar tertawa. Dirinya sih sudah terbiasa dengan pemandangan itu, sementara Syahla hanya bisa tertawa kecil, dia baru kali ini melihat sisi lain dari Kyai dan Ibu Nyai yang paling dihormatinya itu.
"Kalian nanti mau tidur di mana? Kebetulan kamar tamu masih kosong, kalian tidur di sini saja ya?"
"Eng..." Syahla menoleh ke arah suaminya mendengar pertanyaan Ibu Nyai. Sebenarnya mereka sudah menduga akan terjadi hal seperti ini, maka mereka sudah berunding selama di perjalanan.
"Kami mau tidur di asrama saja Bu," Ustadz Amar menolak dengan halus. "Kami lumayan rindu dengan teman-teman di pesantren dulu."
"Ah, sayang sekali," Ibu Nyai Siti menggumam kecewa. "Padahal kamarnya sudah kami persiapkan sejak jauh-jauh hari."
Syahla dan Ustadz Amar saling berpandangan. Bagaimanalah ini? Kalau Ibu Nyai sudah bicara begitu, tentu mereka tidak punya kesempatan untuk menolak sama sekali.
"Kalau begitu, kita menginap di sini saja Bu," Syahla akhirnya mengalah. "Lagipula ketemu teman-teman bisa kapan saja. Sepertinya kamar asrama juga sudah penuh, takutnya kalau ketambahan kita akan makin sempit. Iya kan Mas?"
"Ah, iya benar," Ustadz Amar tergagap. Ia terkejut sejenak karena panggilan 'Mas' yang disematkan Syahla padanya. "Kita tidur di sini saja,"
"Alhamdulillah!" raut wajah Ibu Nyai Siti berubah senang. "Biar Ibu bilang ke mbak-mbak ndalem untuk membersihkan kamarnya sekarang! Sebenarnya tadi pagi sudah dibersihkan sih, tapi takutnya ada debu yang tertinggal!" Ibu Nyai Siti langsung melangkah pergi tanpa sempat dicegah.
"Nanti kita ngobrol tentang program ngaji ya Le," ujar Abah Ridwan setelah kepergian istrinya. "Abah sudah menyiapkan program baru, Abah butuh pendapat kamu."
"Baik Bah," Ustadz Amar tersenyum. Abah Ridwan sama sekali tidak berubah. Selalu senang membahas progam untuk para santri dengannya.
"Yah, karena anak kandung sudah datang, anak angkat pergi dulu," Gus Adil yang sedari tadi diam saja beranjak dari kursinya. "Monggo Gus," ucapnya pada Ustadz Amar, kemudian berbalik pergi meninggalkan meja makan. Sementara Abah Ridwan, Ustadz Amar dan Syahla melihat kepergian Gus Adil dengan heran.
"Nggak usah dipikirkan," ucap Abah Ridwan kemudian. "Dari dulu dia memang begitu to? Nah, kita lanjutkan saja pembahasan kita. Sampai mana tadi, ya? Oh iya, program yang baru itu begini..."
__ADS_1
Syahla hanya mendengarkan percakapan kedua lelaki itu sambil mengangguk-anggukkan kepala. Pikirannya masih tertuju pada ucapan Gus Adil tadi. Kenapa dia merasa sepertinya Gus Adil tidak suka dengan kehadiran Ustadz Amar? Atau itu hanya perasaannya saja?