USTADZ GALAK

USTADZ GALAK
47. Kembali ke Jakarta


__ADS_3

"Sedang apa, Mas Suami?" Syahla keluar dari kamar mandi dan mendekati suaminya yang sedang duduk di tepi ranjang. Ia membetulkan posisi handuk yang melilit kepala untuk membantu rambutnya kering lebih cepat.


"Sebentar deh," Mata Ustadz Amar memicing. "Sepertinya panggilan saya berubah?"


"Hehe," Syahla tertawa nyengir. "Saya ubah aja deh. Soalnya repot kalau mau ganti panggilan di depan orang-orang,"


"Kenapa? Apa sekarang di mata kamu saya bukan om-om lagi?"


"Masih sih," Syahla menghempaskan pantatnya di sebelah sang suami. "Cuma saya sudah mulai menerima kenyataan saja."


"Apa?" Ustadz Amar pura-pura kesal. "Jadi kamu masih menganggap saya om-om?"


"Iya, om-om ganteng," Syahla tahu saja bagaimana melunakkan hati Ustadz Amar, karena dia sudah mengecup pipi suaminya itu duluan. "Om-om kesayangan aku,"


"Kalau ada yang dengar, orang-orang bisa mengira kamu itu simpanan saya."


Syahla tertawa, matanya kemudian beralih pada benda yang sedang dipegang Ustadz Amar. "Lagi ngapain sih?"


Ustadz Amar mendekatkan benda di tangannya yang ternyata adalah album foto. "Mau lihat foto-foto masa kecil istri,"


"Hah? Dapat ini darimana?" Syahla merebut album foto itu dari tangan suaminya. "Yaampun, saya saja nggak pernah tau ada album ini!"


"Abah yang kasih," Ustadz Amar menunjuk sebuah foto di dalam album. "Kamu dari dulu aktif banget ya."


Syahla tertawa. Foto yang ditunjuk Ustadz Amar adalah foto saat dirinya sedang memanjat pohon belimbing di depan rumah. Entah kapan Abah memfotonya, yang jelas hal itu membawanya bernostalgia pada masa kecilnya yang manis.


"Ini siapa?" Mata Ustadz Amar membulat saat mereka sampai pada sebuah halaman. "Anak ini bukan Gus Sahil waktu kecil kan?"


Syahla memperhatikan dengan seksama foto pada halaman tersebut. Terlihat seorang anak laki-laki yang sedang mencium pipi seorang gadis kecil yang tidak lain dan tidak bukan adalah Syahla.

__ADS_1


"Oh, dia!" Syahla berseru senang. "Ini Gus Yahya, putranya Kyai Hamid. Dulu kami akrab sekali. Kalau kemana-mana selalu bareng. Kyai Hamid saja kalau pergi ke luar kota menitipkan Gus Yahya ke sini."


Syahla melanjutkan sambil menerawang. "Yaampun, imut banget. Sayang sekali kita harus berpisah karena dia pergi ke Mesir setelah lulus SD."


"Sayang?" Mata Ustadz Amar memicing. "Sesayang itu kamu sama Gus Yahya?"


"Eh," Syahla menangkap sinyal-sinyal kemarahan suaminya. "Maksud saya, kita kan sudah jadi teman dekat sejak kecil. Sekarang karena sudah berpisah lama takutnya jadi canggung. Memangnya Mas Suami nggak pernah punya teman masa kecil gitu?"


"Nggak, saya nggak punya." Ustadz Amar menjawab yakin. "Saya sejak dulu nggak ada waktu untuk cinta-cintaan monyet seperti itu."


Syahla menelan ludahnya karena kehabisan kata. Ustadz Amar kemudian menutup album foto dengan kesal dan langsung menutupi tubuhnya dengan selimut sambil membelakangi sang istri.


"Mas marah?" Syahla melontarkan rayuannya. Ia memeluk sang suami dari belakang. "Cemburu banget ya? Aduh, maaf deh. Kan saya cuma teringat masa lalu. Ayolah, jangan marah-marah. Senyum dong sayang, senyum..."


Syahla menusuk-nusuk pipi Ustadz Amar dengan jari telunjuk. Tapi suaminya tidak bergeming dan masih setia menutup matanya.


"Kalau nggak bangun, saya cium nih. Ayo, bangun dong," Syahla menggoyang-goyangkan bahu Ustadz Amar yang tetap bergeming. "Huh, begitu aja marah. Dasar om-om pemarah! Ya udah, kalau nggak mau bicara sama saya, saya tak pergi saja!" Syahla melayangkan jurus andalan setiap wanita kalau suaminya sedang merajuk, yaitu ganti merajuk sampai suaminya merasa bersalah. Ia kemudian beranjak bangun dari kasur, tapi Ustadz Amar sudah keburu memeluknya dari belakang.


"Halah," Syahla memberengut. "Saya nggak suka ah kalau suami sering ngambekan begini."


"Ya gimana?" Ustadz Amar semakin mengeratkan pelukannya. "Kenapa sih istri saya ini cantik sekali? Jadi banyak laki-laki yang menempel terus sama dia."


Tak dipungkiri, Syahla tersipu mendengar pujian dari sang suami. "Ah, Mas Suami bisa aja."


"Saya serius," Wajah Ustadz Amar kali ini sudah mendekati tengkuk sang istri. "Terlalu cantik sampai-sampai saya ingin mengurungnya terus di dalam rumah."


Syahla sudah tidak mampu menjawab karena bibir sang suami sudah menyapu lehernya. Tak seberapa lama, posisi Syahla sudah berpindah dari yang semula duduk menjadi berbaring di bawah kungkungan Ustadz Amar. Selama beberapa saat, Syahla membiarkan suaminya menjelajahi setiap inci tubuhnya dan membuat beberapa tanda ciuman di sana.


"Mas," Syahla mencegah Ustadz Amar melakukan hal yang lebih dari sebelumnya. "Sudah pakai pengaman belum?"

__ADS_1


Ustadz Amar merobek sebuah bungkus plastik berwarna hitam menggunakan mulutnya.


"Sudah sayang,"


Syahla tersenyum dan mengeratkan pelukannya pada sang suami. Ia bersiap untuk menyatukan tubuh mereka dengan niat ibadah. Ibadah antara suami dan istri yang pahalanya besar sekali.


...----------------...


Rasa senang Syahla karena bisa tidur tenang di rumah orangtuanya sendiri tidak berlangsung lama. Tiba-tiba saja satu minggu sudah berlalu cepat, dan hari ini sudah saatnya mereka kembali ke Jakarta.


"Syahla pamit ya Umi," Syahla memeluk erat ibundanya seperti saat mereka baru datang. "Doakan Syahla semoga semua urusan Syahla lancar,"


"Aamiin.." Umi Zahra tulus mendoakan putrinya. "Makan yang benar. Turuti apa kata suami. Sekarang ini, surgamu ada di ridho suamimu."


Syahla menganggukkan kepala. Setelah selesai berpamitan pada seluruh keluarga, ia lalu memasuki mobil dimana Ustadz Amar dan Gus Sahil sudah menunggunya.


"Liburan semester depan saya janji akan membawa kamu pulang ke sini lebih lama. Maaf karena saya nggak mendiskusikan dulu rencana liburan kita sama kamu. Kamu jadi kesusahan begini," Ustadz Amar mengelus-elus lembut kepala sang istri.


"Nggak papa Mas, yang penting kan kita berdua terus." Syahla menyandarkan kepalanya pada bahu sang suami. "Mau Mas Suami kemanapun, saya akan dengan senang hati mengikuti."


"Ekhem!" suara deheman Gus Sahil dari bangku depan mengganggu percakapan mereka. "Halo? Mbak? Saya nggak kelihatan ya? Saya ini bukan supir taksi loh," protesnya panjang lebar. "Bukan cuma kalian loh yang sudah punya pasangan."


"Apaan sih? Sirik aja," Syahla menjulurkan lidahnya. "Salah siapa mau pergi sama pengantin baru."


"Hah? Aku disini buat mengantarkan kalian ya. Kalau gitu, turun sana! Jangan pakai mobilku!" Gus Sahil bersungut-sungut. "Tau gitu lebih baik aku di rumah saja sama istri dan putriku tercinta!"


"Dih, gitu aja kok ngambek! Kenapa sih laki-laki di sekitarku itu sering banget ngambek?


Ustadz Amar salah tingkah karena ia merasa Syahla turut menyindirnya soal ngambek. Berbeda halnya dengan Gus Sahil yang malah mengoceh panjang lebar. Syahla memilih untuk menutup kedua telinganya dan pura-pura tidak mendengarkan.

__ADS_1


"Dasar adik laknat!"


__ADS_2