
"Istri, tunggu!" Ustadz Amar mengejar Syahla yang keluar dari kafe dengan terburu-buru. Setelah melihat kedatangan sang suami, Syahla malah memilih untuk kabur dan meninggalkan barang-barangnya begitu saja. Ustadz Amar jelas kerepotan karena bingung harus mengejar Syahla dulu atau mengambil barang-barang milik istrinya. Pada akhirnya, Ustadz Amar memilih untuk menitipkannya pada pelayan kafe dan mengejar sang istri.
"Sayang!" Ustadz Amar meraih tangan Syahla, membuat langkah gadis itu otomatis berhenti. "Tunggu! Jangan pergi, please. Dengerin saya,"
Syahla memejamkan matanya sejenak. Rasa takut mulai menjalar di hatinya. Dengan perlahan, ia kemudian membalikkan badan dan memberanikan diri menatap wajah sang suami. "Mas kesini karena mau menceraikan saya?"
"Hah?" Ustadz Amar jelas shock dengan pertanyaan sang istri. "Kenapa kamu bilang begitu, sayang?"
"Jawab saja! Apa Mas mau menceraikan saya?"
"Tidak! Demi Allah! Saya nggak akan pernah menceraikan kamu! Meskipun bumi dan langit terbalik, saya nggak akan menceraikan kamu! Kenapa kamu tanya begitu?"
Syahla menggigit bibir. "Habisnya, selama ini Mas nggak pernah chat saya lagi, nggak pernah nelpon saya lagi, jadi saya kira Mas udah nggak cinta sama saya."
"Astaghfirullahalazim.." Ustadz Amar mengusap wajahnya dengan gusar. "Saya memang salah, seharusnya saya nggak bikin kamu salah paham. Tapi saya bisa jelaskan. Saya tahu betul kalau kamu sedang marah, kamu akan menolak semua panggilan telepon saya, dan nggak akan membaca chat saya. Apalagi kemarin kamu sedang marah besar, saya takut akan membuat kamu semakin marah. Jadi saya memilih untuk membiarkan kamu menenangkan diri sebentar,"
Ustadz Amar meraih kedua tangan Syahla dan menatap mata Syahla dengan sungguh-sungguh. "Sayang, rasa cinta saya sama kamu masih sama besarnya dari sejak pertama kita menikah. Saya nggak akan melepaskan kamu demi wanita lain, saya janji. Lagipula, mana mungkin saya bisa menceraikan ibu dari anak kita?"
"Anak kita?" Syahla merasa ada yang janggal dengan ucapan sang suami. "Mas, Jangan-jangan.. Mas sudah tahu kalau saya.."
Ustadz Amar menganggukkan kepala. "Saya minta maaf. Selama ini saya menghubungi Anggika untuk mencari tahu kabar kamu. Dan kemarin, dia mengirimkan foto hasil pemeriksaan dari dokter kandungan. Kamu tahu, sayang? Setelah mendengar kabar itu, saya langsung sujud syukur di tempat. Saya merasa kalau kehadiran anak ini adalah sebuah anugerah. Hadiah untuk kita berdua yang sudah melewati berbagai cobaan dalam pernikahan kita,"
Syahla menundukkan kepala. Perkataan sang suami membuatnya terharu. Sia-sia saja dirinya berpikir macam-macam tentang Ustadz Amar, nyatanya suaminya itu masih tetap sama seperti biasanya.
__ADS_1
"Sayang," Ustadz Amar mengelus pipi istrinya dengan lembut. "Boleh saya peluk?"
Syahla tidak menjawab apapun, tapi ia tidak menolak saat Ustadz Amar meraih tubuhnya ke dalam pelukan.
"Setiap malam, setelah kepulangan kamu ke Indonesia, saya tidak bisa tidur sama sekali karena memikirkan banyak hal. Saya menyesal karena membuat kamu marah, dan saya lebih marah pada diri saya sendiri karena tidak bisa menjaga perasaan kamu dengan baik. Sekarang, setelah tahu kalau kamu mengandung anak saya, saya jadi makin yakin untuk tidak kembali ke Amerika."
Syahla menguraikan pelukan mereka dan menatap wajah Ustadz Amar dengan heran. "Maksudnya?"
Ustadz Amar tersenyum penuh arti. "Saya akan melepaskan beasiswa saya di sana, dan akan kembali tinggal di sini bersama kamu."
"Apa?" Syahla memundurkan badannya dan memperhatikan wajah Ustadz Amar dengan seksama. Tidak ada sedikit pun keraguan pada wajah lelaki itu. "Mas serius?"
Ustadz Amar mengangguk mantap. "Saya serius."
Ustadz Amar menggelengkan kepalanya. "Bukan gara-gara kamu sayang. Saya sudah berpikir sejak lama, apa mungkin keputusan saya untuk pergi meninggalkan kamu itu sudah tepat? Saya merasa tidak ada keberkahan yang saya dapat selama saya belajar di Amerika. Yang ada hubungan kita berdua malah penuh cekcok, selalu salah paham dan curiga. Belum tepat setahun sejak saya pergi, tapi sudah ada masalah sebesar ini. Jadi bagaimana kalau sampai tiga tahun? Saya takut pada akhirnya kita kembali menjadi orang asing."
Ustadz Amar menggenggam kedua tangan istrinya dan menciumnya dalam-dalam. "Saya tidak ingin meninggalkan kamu, dan saya lebih tidak mau lagi kalau kamu meninggalkan saya. Syahla, bisakah kamu memberi saya kesempatan lagi untuk membuktikan perasaan saya? Saya janji akan memperlakukan kamu lebih baik dari sebelumnya. Saya pastikan tidak akan ada kesalahpahaman seperti ini lagi."
Syahla menatap wajah sang suami yang terlihat bersungguh-sungguh. Dia masih merasa keberatan dengan keputusan sang suami. Tapi, perkataan suaminya barusan benar-benar membuka mata hatinya, bahwa suaminya itu benar-benar tulus mencintainya. Dengan perasaan haru dan bahagia yang menjadi satu, Syahla memeluk erat Ustadz Amar.
"Terimakasih karena selalu berkorban untuk saya. Saya juga berjanji tidak akan meninggalkan Mas Suami dan akan selalu mencintai Mas sampai kapanpun, sampai ajal yang memisahkan kita berdua."
Ustadz Amar tersenyum. Sejak dulu, ia berharap istrinya akan mengatakan hal itu. Tidak menyangka kalau dirinya akan mendengar hal itu secara langsung sekarang.
__ADS_1
"Saya juga sangat mencintai istri. Sangat. Bahkan sebelum istri menyadari perasaan saya, saya sudah sangat mencintai kamu."
...----------------...
Anggika jelas kaget karena saat pulang ke rumah, sudah ada Ustadz Amar yang duduk di sofa televisi bersama sahabatnya. Mereka berdua tengah bermesraan sembari menonton sebuah film romantis. Saking serunya, sampai-sampai tidak menyadari kedatangan Anggika.
"Ehem, ehem, " Anggika sengaja batuk-batuk, untuk mencari perhatian kedua sejoli itu. Benar saja, mereka berdua langsung menoleh ke arah Anggika secara bersamaan.
"Eh, Anggika sudah pulang. Selamat datang Anggika," Ustadz Amar tersenyum lebar.
Berbeda halnya dengan reaksi Ustadz Amar, Syahla malah melipat tangannya kesal dan menatap Anggika dengan tatapan marah. Jelas saja Anggika merasa heran dengan perlakuan sahabatnya itu.
"Eh, kenapa? Gue ada salah ya?"
"Pake nanya lagi! Anggi, kok kamu nggak bilang sih kalau selama ini Mas Suami ternyata kontak-kontakan sama kamu? Kan aku malu karena udah kepikiran yang aneh-aneh!"
"Oh, karena itu toh.." Anggika menghela napas panjang. "Memangnya siapa ya orang yang dulu merebut hapeku waktu Pak Amar nelpon? Kan kamu sendiri yang melarang aku buat nggak nerima telpon suamimu kalau sedang marahan. Terus, menurut kamu, kalau aku bilang Pak Amar menghubungi aku, apa kamu akan menerimanya begitu saja? Kamu pasti bakal marah-marah dan merebut hapeku lagi. Makanya aku memilih nggak ngomong sama sekali."
Syahla hanya bisa mengerucutkan bibir menahan dongkol. Dia baru menyadari kalau sikapnya separah itu. Dan ternyata hal itu pula yang menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.
"Tapi, berkat Anggika, kita kan sekarang udah baikan sayang," Ustadz Amar merangkul sang istri dan mengelus-elus kepala Syahla untuk meredam amarahnya. "Terimakasih ya Anggika, kamu berperan sangat besar dalam hubungan kami. Kalau nggak ada kamu, sepertinya kita berdua masih salah paham terus sampai sekarang."
Anggika mengangkat bahu. "Kalau gitu, saya dikasih bayaran dong Pak. Capek tau ngadepin istri bapak. Dikit-dikit marah, dikit-dikit ngambek. Duh, capek!" godanya yang membuat Syahla sontak membelalakkan mata.
__ADS_1
"Anggika, awas kamu ya!"